9 Ciri Orang yang Menyimpan Barang Bekas Bertahun-tahun Menurut Psikologi

Ciri orang yang menyimpan barang bekas bertahun-tahun adalah kondisi kompleks yang memengaruhi 3-6% populasi, sering dipicu trauma.

Diterbitkan 27 Agustus 2026, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang menyimpan barang bekas bertahun-tahun bisa terlihat dari alasan di balik kebiasaan tersebut. Benda lama mungkin dipertahankan karena memiliki kenangan, masih dianggap berguna, atau terasa sayang untuk dibuang. Kebiasaan ini masih wajar selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam psikologi, ciri orang yang menyimpan barang bekas bertahun-tahun menjadi lebih kompleks ketika seseorang terus menumpuk benda dan sulit melepaskannya. Barang yang jarang digunakan pun dapat dianggap penting karena adanya keterikatan emosional.

Ciri orang yang menyimpan barang bekas bertahun-tahun juga bisa berkaitan dengan kesulitan mengambil keputusan, mengatur barang, atau rasa cemas saat harus membuangnya. Meski begitu, kebiasaan menyimpan barang tidak selalu berarti hoarding disorder karena perlu melihat tingkat penumpukan dan dampaknya.

Berikut Liputan6.com merangkum dari Mayo Clinic Health System dan Ben Rose tentang ciri orang yang menyimpan barang bekas bertahun-tahun, Kamis (27/8/2026).

1. Sulit Membuang Barang yang Sudah Tidak Terpakai

Salah satu ciri yang paling terlihat adalah kesulitan melepaskan barang, bahkan ketika benda tersebut sudah jarang digunakan atau tidak memiliki fungsi yang jelas. Ada perasaan bahwa barang tersebut mungkin masih dibutuhkan pada suatu saat nanti sehingga keputusan untuk membuangnya menjadi sulit.

Bagi sebagian orang, membuang barang juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman karena merasa sedang menyia-nyiakan sesuatu. Pemikiran seperti "siapa tahu nanti berguna" atau "sayang kalau dibuang" dapat membuat barang terus disimpan selama bertahun-tahun.

2. Menganggap Barang Lama Memiliki Nilai Khusus

Barang bekas yang terlihat biasa saja bagi orang lain bisa memiliki arti berbeda bagi pemiliknya. Mereka mungkin menganggap benda tersebut unik, sulit ditemukan kembali, atau mempunyai nilai tertentu yang tidak dapat digantikan.

Keyakinan bahwa suatu benda memiliki kegunaan atau makna khusus dapat membuat seseorang semakin enggan melepaskannya. Akibatnya, barang yang awalnya hanya beberapa buah perlahan bisa bertambah dan memenuhi tempat penyimpanan.

3. Memiliki Keterikatan Emosional dengan Barang

Keterikatan emosional menjadi salah satu alasan seseorang sulit membuang barang lama. Benda tertentu mungkin mengingatkan pada masa kecil, orang terdekat, pengalaman penting, atau momen yang dianggap berharga.

Karena memiliki kenangan di baliknya, barang tersebut tidak lagi dipandang hanya sebagai benda. Melepaskannya dapat terasa seperti kehilangan bagian dari pengalaman atau kenangan pribadi sehingga proses memilah barang menjadi lebih berat.

4. Sulit Mengambil Keputusan tentang Barang

Orang yang memiliki kecenderungan menyimpan berlebihan dapat mengalami kesulitan menentukan barang mana yang masih diperlukan dan mana yang sebenarnya sudah tidak berguna. Hal kecil seperti memilih antara menyimpan, memberikan kepada orang lain, mendaur ulang, atau membuang barang bisa membutuhkan waktu lama.

Keraguan tersebut akhirnya membuat proses merapikan terus ditunda. Ketika tidak ada keputusan yang dibuat, barang lama tetap berada di tempatnya dan jumlahnya semakin bertambah.

5. Terus Menyimpan Barang dengan Alasan Akan Digunakan Nanti

Pemikiran bahwa suatu barang mungkin berguna di masa depan juga dapat menjadi alasan seseorang mempertahankan benda lama. Barang yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan tetap dianggap berpotensi memiliki fungsi suatu hari nanti.

Padahal, semakin banyak barang yang disimpan tanpa penggunaan nyata, semakin besar pula kemungkinan ruang menjadi penuh. Kebiasaan ini dapat membuat seseorang kesulitan menentukan batas antara barang yang benar-benar diperlukan dan benda yang hanya disimpan karena kemungkinan penggunaan di masa depan.

6. Cenderung Menghindari Proses Merapikan Barang

Selain sulit membuang, seseorang dapat memilih menghindari kegiatan memilah dan merapikan barang. Tumpukan benda dibiarkan begitu saja karena proses menentukan mana yang harus dipertahankan terasa melelahkan atau membuat tidak nyaman.

Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, kondisi ruangan bisa semakin berantakan. Dalam kasus yang lebih serius, tumpukan barang bahkan dapat mengganggu fungsi ruangan dan membuat area tertentu tidak lagi nyaman digunakan.

7. Merasa Cemas Ketika Harus Membuang Barang

Keputusan untuk membuang barang dapat memunculkan rasa cemas, takut menyesal, atau perasaan kehilangan. Semakin kuat keterikatan terhadap suatu benda, semakin sulit pula proses melepaskannya.

Karena itu, ajakan untuk langsung membuang seluruh barang terkadang justru terasa berat. Proses memilah perlu dilakukan secara bertahap, terutama jika kebiasaan tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

8. Barang Semakin Menumpuk dari Waktu ke Waktu

Kebiasaan menyimpan biasanya tidak selalu langsung terlihat sebagai masalah. Barang dapat bertambah sedikit demi sedikit hingga akhirnya memenuhi lemari, gudang, kamar, atau area lain di rumah.

Penumpukan menjadi perhatian ketika ruang yang seharusnya digunakan untuk aktivitas sehari-hari mulai kehilangan fungsinya. Misalnya, meja tidak bisa digunakan karena dipenuhi barang atau area berjalan menjadi semakin sempit.

9. Menjadi Lebih Tertutup soal Kondisi Rumah

Ketika tumpukan barang sudah sulit dikendalikan, seseorang mungkin merasa malu atau tidak nyaman jika orang lain melihat kondisi rumahnya. Akibatnya, mereka dapat menghindari mengundang teman atau keluarga ke rumah.

Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang semakin menarik diri dari lingkungan. Rasa malu dan keinginan menyembunyikan barang juga dapat membuat masalah penumpukan berlangsung lebih lama tanpa mendapatkan bantuan.

Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Menyimpan Barang Bekas 

Apa itu gangguan penimbunan (hoarding disorder)?

Gangguan penimbunan adalah kondisi kompleks yang membuat seseorang sulit membuang barang, disertai tekanan emosional dan kesulitan mengambil keputusan. Kondisi ini berbeda dari sekadar hobi mengoleksi benda.

Apa saja ciri utama gangguan penimbunan?

Ciri-cirinya meliputi sulit membuang barang, menumpuk benda dalam jumlah berlebihan, keterikatan emosional yang kuat, kesulitan mengatur barang, serta rasa cemas saat harus melepaskannya.

Apa bedanya hoarding dengan kolektor atau pack rat?

Kolektor biasanya mengumpulkan benda berdasarkan minat tertentu, sedangkan pack rat menyimpan banyak barang tanpa selalu mengganggu kehidupan sehari-hari. Pada hoarding, tumpukan barang dapat membuat ruang tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Apa risiko gangguan penimbunan?

Penumpukan berlebihan dapat menyebabkan ruang menjadi sulit digunakan, meningkatkan risiko jatuh, memicu isolasi sosial, serta menimbulkan masalah keuangan dan kebersihan.

Bagaimana gangguan penimbunan ditangani?

Terapi perilaku kognitif (CBT) menjadi salah satu pendekatan utama. Penanganannya berfokus pada mengubah pola pikir dan perilaku, melatih kemampuan mengatur barang, serta membantu seseorang lebih mampu mengambil keputusan untuk menyimpan atau membuang benda.