8 Ciri Orang yang Sering Meminta Maaf Meski Tidak Bersalah Menurut Psikologi, Tak Sekadar Kebiasaan

Yuk mengenali ciri orang yang sering meminta maaf meski tidak bersalah menurut psikologi, dan kenali kapan waktu terbaik mengucapkannya.

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang sering meminta maaf meski tidak bersalah menurut psikologi ternyata berakar dari berbagai macam karakter. Meminta maaf merupakan bentuk kepedulian terhadap perasaan orang lain. Namun, kebiasaan meminta maaf secara berlebihan, terutama untuk sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahan kita, justru bisa menjadi masalah.

Contohnya, tidak sengaja bersenggolan dengan seseorang lalu langsung reflek berkata, "Maaf." Atau ketika seseorang berbicara kasar kepada kita, tetapi kita malah meminta maaf karena merasa terlalu sensitif saat merespons. Berikut adalah ciri orang yang sering meminta maaf meski tidak bersalah menurut psikologi dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (25/8/2026).

1. Ingin Menyenangkan Orang Lain dan Takut Konflik

Melansir laman Psychology Today, meminta maaf menjadi cara untuk meredakan ketegangan, mencegah pertengkaran, atau membuat seseorang terlihat rendah hati dan bertanggung jawab. Dalam situasi yang membuat tidak nyaman, meminta maaf bahkan dapat memberikan perasaan seolah-olah dirinya masih bisa mengendalikan keadaan. Masalahnya, jika dilakukan terus-menerus, seseorang bisa terbiasa mengorbankan kebutuhan dan perasaannya sendiri demi menjaga kenyamanan orang lain.

2. Perfeksionis

Orang yang perfeksionis sering menetapkan standar yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, mereka merasa telah gagal dan menganggap dirinya perlu meminta maaf, meskipun sebenarnya tidak ada kesalahan yang perlu diperbaiki.

Kecenderungan ini bahkan bisa membuat seseorang mengambil tanggung jawab atas kesalahan orang lain. Mereka merasa harus memperbaiki semuanya agar keadaan kembali sempurna.

3. Rendah Diri

Melansir laman Mission Connection Healthcare, orang yang rendah diri sering kali dianggap merepotkan oleh dirinya sendiri. Ketika seseorang tidak yakin dengan nilai dirinya, kebutuhan pribadi bisa terasa seperti beban bagi orang lain. Ia mungkin merasa bahwa emosinya terlalu banyak, kebutuhannya terlalu besar, atau keberadaannya terlalu menghabiskan ruang.

Akhirnya, meminta maaf menjadi cara untuk membenarkan keberadaan diri sendiri. Misalnya:

"Maaf sudah mengambil waktumu."

"Maaf merepotkan.""Maaf aku membutuhkan bantuan."

"Maaf sudah bertanya."

Padahal, memiliki kebutuhan, meminta bantuan, atau membutuhkan perhatian bukanlah sesuatu yang secara otomatis harus disesali.

4. Sangat Peka terhadap Emosi Orang Lain

Ciri orang yang sering meminta maaf meski tidak bersalah juga terlihat dari kepekaan emosionalnya yang tinggi. Perubahan kecil pada nada bicara atau ekspresi wajah orang lain bisa langsung ditangkap dan diartikan sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan dirinya. Kepekaan yang berlebihan ini membuatnya terus-menerus memindai suasana hati sekitarnya, sehingga permintaan maaf keluar secara otomatis begitu ada tanda-tanda ketegangan, meski hal itu sama sekali tidak berkaitan dengannya.

5. Kecenderungan Codependency

Codependency adalah pola hubungan antarpribadi yang tidak sehat, di mana seseorang terlalu menggantungkan harga diri, emosi, dan kebahagiaannya pada orang lain, biasanya pasangan, anggota keluarga, atau teman. Pola pikirnya kurang lebih seperti ini: "Kalau aku bisa menjaga semuanya tetap tenang, dia tidak akan marah dan tidak akan meninggalkanku." Akibatnya, permintaan maaf bukan lagi sekadar pengakuan atas kesalahan. Kata tersebut berubah menjadi semacam benang pengikat yang digunakan untuk mempertahankan hubungan.

6. Terbentuk dari Pengalaman Masa Kecil yang Penuh Tekanan

Kebiasaan meminta maaf berlebihan sering kali bukan muncul begitu saja, melainkan terbentuk sejak kecil. Seseorang yang tumbuh di lingkungan yang tidak stabil, penuh kritik, atau emosinya sulit ditebak, biasanya belajar bahwa meminta maaf lebih cepat dapat meredakan suasana dan menjaga keselamatan emosionalnya. Strategi bertahan hidup ini kemudian terbawa hingga dewasa, terutama dalam hubungan-hubungan yang dekat dan intens.

7. Terbiasa Menomorduakan Suara dan Kebutuhan Diri Sendiri

Lambat laun, orang dengan kebiasaan ini belajar bahwa menyuarakan pendapat atau kebutuhannya berisiko menimbulkan gesekan. Akibatnya, meminta maaf berubah menjadi strategi untuk menjaga kedamaian, bahkan ketika yang sebenarnya ia butuhkan hanyalah didengarkan. Pola ini membuat seseorang terbiasa meredam suaranya sendiri demi menghindari kemungkinan konflik, meski hal itu berarti mengorbankan kejujuran atas perasaannya.

8. Menjadi "Penjaga Kedamaian" Secara Otomatis

Sebagian orang merasa bertanggung jawab menjaga suasana tetap tenang di sekitar mereka, seolah-olah ketenteraman emosional orang lain adalah tugas pribadinya. Begitu muncul sedikit saja ketegangan, respons pertama yang keluar adalah permintaan maaf, bahkan sebelum sempat berpikir apakah situasi tersebut benar-benar berkaitan dengan dirinya. Kebiasaan ini membuat mereka selalu siaga terhadap potensi konflik, sekecil apa pun itu.

Kapan Sebaiknya Meminta Maaf?

Setelah memahami ciri orang yang sering meminta maaf meski tidak bersalah, penting juga mengetahui kapan permintaan maaf sebenarnya diperlukan. Meminta maaf sebaiknya dilakukan ketika memang ada kesalahan nyata yang berdampak pada orang lain, bukan sekadar refleks untuk meredakan ketegangan atau menghindari ketidaknyamanan.

Sebelum mengucapkan kata "maaf", ada baiknya bertanya pada diri sendiri: apakah ini benar-benar kesalahan saya, atau hanya kebiasaan lama yang muncul secara otomatis? Dengan mengenali pola ini, seseorang bisa mulai belajar merespons situasi dengan lebih jujur, tanpa harus terus-menerus mengorbankan perasaan dan kebutuhannya sendiri hanya demi menjaga kenyamanan orang lain.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Sering Meminta Maaf Meski Tidak Bersalah Menurut Psikologi

1. Mengapa seseorang sering meminta maaf padahal tidak bersalah?

Umumnya karena rasa takut konflik, perfeksionisme, rendah diri, kepekaan emosi yang tinggi, atau kecenderungan codependency dalam hubungan.

2. Apakah kebiasaan ini berkaitan dengan pengalaman masa kecil?

Ya, banyak kasus terbentuk dari lingkungan masa kecil yang tidak stabil atau penuh kritik, sehingga meminta maaf menjadi cara bertahan yang terbawa hingga dewasa.

3. Apa dampak dari kebiasaan meminta maaf berlebihan?

Kebiasaan ini bisa membuat seseorang mengorbankan kebutuhan dan perasaannya sendiri, serta lama-kelamaan menggerus rasa percaya diri.

4. Apa hubungan antara codependency dan kebiasaan meminta maaf?

Bagi orang dengan kecenderungan codependency, permintaan maaf sering digunakan sebagai cara untuk mempertahankan hubungan, bukan sekadar mengakui kesalahan.

5. Kapan sebaiknya seseorang benar-benar meminta maaf?

Permintaan maaf sebaiknya diucapkan hanya ketika memang ada kesalahan nyata yang berdampak pada orang lain, bukan sebagai respons otomatis untuk menghindari konflik.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6