10 Ciri Orang yang Tidak Pernah Memakai Emoji saat Chat Menurut Psikologi, Ada Alasan di Baliknya

Tidak memakai emoji saat chat bisa berkaitan dengan gaya komunikasi, kebiasaan, usia, hingga cara mengekspresikan emosi.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 17:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada orang yang hampir selalu menambahkan emoji ketika mengirim pesan, tetapi ada pula yang bisa berbulan-bulan berkirim chat tanpa menggunakan satu emoji pun. Pesan mereka biasanya hanya terdiri atas kata-kata, tanda baca seperlunya, kemudian selesai. Bagi orang lain yang terbiasa memakai emoji, gaya semacam ini terkadang terlihat serius, datar, bahkan dianggap sedikit dingin.

Padahal, kebiasaan tidak menggunakan emoji tidak otomatis menunjukkan seseorang kurang ramah atau tidak mempunyai emosi. Dalam komunikasi digital, emoji terutama berfungsi membantu menggantikan sebagian petunjuk nonverbal yang hilang ketika percakapan berpindah dari tatap muka ke teks, seperti ekspresi wajah, gestur, dan intonasi suara. Karena itu, keputusan untuk jarang atau tidak pernah memakainya dapat dipengaruhi banyak hal, mulai dari preferensi komunikasi hingga konteks hubungan.

1. Lebih Nyaman Menyampaikan Maksud Secara Literal

Salah satu ciri yang mungkin terlihat pada orang yang tidak pernah memakai emoji saat chat adalah kecenderungan mengandalkan kata-kata untuk menyampaikan maksud. Alih-alih menambahkan simbol untuk memperhalus ucapan, mereka mungkin memilih kalimat seperti "baik, terima kasih" atau "senang mendengarnya" karena merasa kata-kata tersebut sudah cukup jelas.

Pilihan seperti ini berkaitan dengan gaya komunikasi yang lebih literal dan berorientasi pada isi pesan. Mengutip dari laman Psychology Today, emoji sebenarnya berperan seperti petunjuk nonverbal dalam komunikasi digital, membantu memberikan konteks emosional yang dalam percakapan langsung biasanya disampaikan melalui mimik wajah, gestur, atau nada suara. Tidak semua orang merasa membutuhkan tambahan petunjuk tersebut.

Akibatnya, percakapan mereka mungkin terlihat sederhana: pertanyaan dijawab secara langsung, informasi disampaikan tanpa banyak simbol, dan percakapan berakhir ketika tujuan komunikasi tercapai. Bagi teman dekat yang sudah mengenal gaya tersebut, pesan semacam ini biasanya tidak terasa aneh. Kesalahpahaman justru lebih mudah muncul ketika penerimanya belum mengenal kebiasaan komunikasinya.

2. Bisa Lebih Mengutamakan Efisiensi dalam Percakapan

Tidak menggunakan emoji juga dapat mencerminkan kebiasaan berkomunikasi secara praktis. Orang dengan gaya seperti ini mungkin membuka aplikasi pesan terutama untuk bertukar informasi, menentukan jadwal, menjawab pertanyaan, atau menyelesaikan suatu urusan sehingga mereka tidak merasa perlu menghias pesan dengan simbol tambahan.

Misalnya, ketika seseorang bertanya, "Besok jadi ketemu jam 10?", jawaban "Jadi, sampai ketemu besok" sudah dianggap lengkap. Bagi pengirim, menambahkan emoji tidak mengubah informasi utama. Sikap tersebut bukan berarti mereka menolak keakraban, tetapi media chat diperlakukan sebagai alat komunikasi yang efisien.

Penggunaan emoji berbeda-beda di antara individu dan dipengaruhi berbagai faktor, sehingga banyak atau sedikitnya emoji bukan ukuran sederhana mengenai kemampuan seseorang dalam berkomunikasi. Ada orang yang ekspresif melalui simbol, sementara yang lain lebih nyaman menyampaikan semuanya lewat susunan kata.

3. Ekspresi Emosinya Lebih Banyak Dituangkan Lewat Kata-Kata

Seseorang yang tidak memakai emoji belum tentu kesulitan mengungkapkan perasaan. Mereka mungkin justru terbiasa menyebutkan emosinya secara eksplisit. Ketika senang, misalnya, mereka memilih menulis "aku senang mendengarnya", sedangkan ketika bersimpati mereka menulis "semoga keadaanmu segera membaik" tanpa menambahkan simbol wajah atau hati.

Cara tersebut bisa membuat komunikasi emosional menjadi lebih verbal. Emoji memang dapat memberikan petunjuk tentang suasana hati pengirim, tetapi fungsi tersebut juga dapat digantikan dengan pemilihan kata, tanda baca, panjang kalimat, maupun konteks percakapan. Dalam komunikasi tatap muka, manusia memperoleh banyak petunjuk emosional dari suara dan ekspresi; ketika beralih ke teks, masing-masing orang dapat mempunyai strategi berbeda untuk menggantikannya.

Karena itu, menilai kemampuan seseorang menunjukkan kasih sayang hanya berdasarkan jumlah emoji bisa menyesatkan. Seseorang mungkin sama sekali tidak menggunakan simbol hati kepada pasangan atau keluarganya, tetapi tetap mampu memberikan respons panjang, perhatian, serta dukungan emosional melalui kata-kata.

4. Lebih Berhati-hati terhadap Makna Emoji yang Bisa Ambigu

Emoji terlihat sederhana, tetapi interpretasinya tidak selalu sama bagi setiap orang. Sebuah simbol dapat memiliki arti berbeda tergantung usia, budaya internet, hubungan antara pengirim dan penerima, bahkan konteks kalimat tempat emoji tersebut digunakan.

Emoji dapat menimbulkan salah komunikasi karena maknanya terkadang ambigu serta tampilan simbol dapat berbeda antaraplikasi atau perangkat. Artinya, menambahkan emoji tidak selalu menjamin pesan menjadi lebih mudah dipahami.

Orang yang pernah mengalami kesalahpahaman semacam itu mungkin merasa lebih aman menggunakan kalimat biasa. Daripada memakai simbol yang dapat dibaca sebagai sindiran, bercanda, marah, atau pasif-agresif, mereka memilih mengatakan maksudnya secara terang. Dalam situasi tersebut, tidak memakai emoji justru bisa menjadi bentuk kehati-hatian dalam berkomunikasi.

5. Cenderung Menyesuaikan Gaya Chat dengan Tingkat Formalitas

Sebagian orang mempunyai batas yang cukup jelas antara komunikasi santai dan komunikasi formal. Ketika berkirim pesan dengan rekan kerja, atasan, klien, atau orang yang belum terlalu dikenal, mereka mungkin mempertahankan gaya tulisan yang lebih rapi dan menghindari emoji meskipun dalam percakapan bersama teman sebenarnya lebih santai.

Hal ini membuat kebiasaan penggunaan emoji sebaiknya selalu dilihat berdasarkan konteks. Seseorang yang tidak pernah menggunakan emoji dalam grup kerja belum tentu melakukan hal yang sama ketika berbicara dengan pasangan atau sahabat. Bahkan satu orang bisa mempunyai beberapa gaya komunikasi digital sekaligus.

Kecenderungan menjaga formalitas juga dapat membuat pesan terasa lebih terstruktur. Kalimat ditulis lengkap, tanda baca digunakan secara konsisten, dan simbol visual dikurangi. Bagi pengirim, cara tersebut dapat membantu mempertahankan batas profesional dan mengurangi kemungkinan nada pesannya ditafsirkan terlalu santai.

6. Bisa Dipengaruhi Kebiasaan Generasi dan Pengalaman Menggunakan Teknologi

Usia dan pengalaman seseorang dengan teknologi juga dapat ikut membentuk kebiasaan menggunakan emoji. Melansir dari Psychology Today, penggunaan emoji dapat berbeda menurut usia, dan pengguna yang lebih muda secara umum lebih akrab dengan berbagai bentuk komunikasi emosional singkat di ruang digital.

Namun, perbedaan generasi tidak berarti orang yang lebih tua pasti tidak menggunakan emoji atau generasi muda selalu menggunakannya. Ada banyak pengecualian. Kebiasaan komunikasi juga dibentuk oleh lingkungan sosial, pekerjaan, aplikasi yang sering digunakan, serta sejak kapan seseorang terbiasa menggunakan pesan teks.

Dengan demikian, seseorang yang hampir tidak pernah memakai emoji mungkin sekadar mempunyai kebiasaan komunikasi digital yang terbentuk pada lingkungan atau periode berbeda.

7. Tidak Terlalu Bergantung pada Petunjuk Visual untuk Memberikan Nada Pesan

Salah satu fungsi penting emoji adalah memberikan lapisan emosional pada teks. Kalimat sederhana seperti "oke" dapat terasa berbeda tergantung simbol yang mengikutinya atau ketika dikirim tanpa simbol sama sekali. Emoji memberikan konteks tambahan yang membantu penerima memperkirakan bagaimana sebuah kalimat seharusnya dibaca.

Emoji dapat menjalankan sebagian fungsi yang dalam komunikasi langsung dilakukan oleh ekspresi wajah, bahasa tubuh, maupun intonasi. Karena itu, orang yang memilih berkomunikasi tanpa emoji mungkin lebih mengandalkan konteks percakapan dan kalimat itu sendiri dalam menyampaikan nada.

Mereka juga bisa berasumsi bahwa orang lain dapat menangkap maksud berdasarkan hubungan yang sudah terbentuk. Seorang sahabat, misalnya, mungkin sudah mengetahui bahwa jawaban "sip, beres" berasal dari seseorang yang sebenarnya sangat santai meskipun tidak ada simbol tambahan di belakangnya.

8. Mungkin Memiliki Gaya Digital yang Lebih Terkendali

Sebagian orang secara sadar menyaring cara mereka tampil dalam komunikasi digital. Mereka tidak selalu menuliskan setiap respons spontan, tidak menggunakan banyak singkatan, dan jarang menambahkan emoji hanya karena lawan bicara menggunakannya.

Gaya tersebut dapat membuat pesan terlihat lebih terkendali atau reserved, tetapi tidak semestinya langsung diterjemahkan sebagai karakter tertutup. Hubungan antara kebiasaan menggunakan emoji dan kepribadian jauh lebih kompleks daripada anggapan bahwa orang yang ekspresif pasti banyak memakai emoji sedangkan orang pendiam pasti tidak memakainya.

Bahkan pembahasan mengenai riset kepribadian dan penggunaan emoji menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya tidak selalu sesuai stereotip sederhana. Sebuah ulasan tahun 2025, misalnya, membahas temuan bahwa penggunaan emoji yang lebih sering dapat berkaitan dengan aspek tertentu dari pengelolaan kesan dan karakteristik kepribadian tertentu. Ini semakin menunjukkan bahwa banyak atau sedikit emoji tidak bisa digunakan sendirian untuk membaca karakter seseorang.

9. Bisa Lebih Memprioritaskan Kejelasan daripada Nuansa Emosional

Bagi sebagian orang, fungsi utama chat adalah memastikan pesan dipahami dengan tepat. Mereka mungkin lebih memperhatikan apakah informasi sudah lengkap, kalimat tidak membingungkan, dan penerima mengetahui apa yang harus dilakukan setelah membaca pesan tersebut.

Emoji memang dapat membantu memperjelas nada emosional tertentu. Namun, simbol yang sama juga bisa menambahkan interpretasi yang tidak dimaksudkan oleh pengirim. Manusia sering terlalu percaya diri menganggap orang lain akan memahami maksud komunikasi digital seperti yang ada di pikiran pengirim, padahal kenyataannya interpretasi penerima bisa berbeda.

Karena alasan tersebut, beberapa orang merasa pilihan paling sederhana adalah menghindari simbol dan mengatakan semuanya secara langsung. Terutama ketika topiknya penting, mereka mungkin lebih memilih "Saya setuju dengan usulan tersebut" daripada hanya memberikan simbol singkat yang dalam kondisi tertentu bisa dipahami sekadar sebagai tanda sudah membaca pesan.

10. Tidak Berarti Dingin, Cuek, atau Tidak Menyukai Lawan Bicara

Ini merupakan hal yang paling penting ketika mencoba memahami orang yang tidak pernah memakai emoji saat chat. Tidak adanya emoji bukan bukti bahwa seseorang sedang marah, kehilangan minat, kurang empati, atau sengaja menjaga jarak.

Kesan tersebut mudah muncul karena pesan teks kehilangan banyak petunjuk yang tersedia saat berbicara langsung. Tanpa suara, ekspresi wajah, dan gestur, penerima harus menebak sebagian nada dari kata-kata yang tersedia. Emoji memang bisa membantu mengisi kekosongan tersebut, tetapi tidak semua orang terbiasa menggunakannya.

Karena itu, pola komunikasi yang lebih luas jauh lebih berguna untuk diperhatikan. Apakah orang tersebut tetap merespons dengan baik, mengingat hal-hal penting, bertanya balik, menyediakan waktu ketika dibutuhkan, dan konsisten mempertahankan komunikasi? Hal-hal seperti itu memberikan konteks yang jauh lebih berarti daripada sekadar menghitung berapa banyak emoji yang muncul dalam ruang chat.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Tidak Pernah Memakai Emoji

1. Apakah orang yang tidak memakai emoji berarti orangnya dingin?

Tidak. Penggunaan emoji adalah bagian dari gaya komunikasi digital dan tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang hangat, dingin, ramah, atau tidak peduli.

2. Mengapa seseorang menjawab chat tanpa emoji sama sekali?

Penyebabnya bisa berupa kebiasaan, preferensi komunikasi yang lebih langsung, konteks formal, faktor usia, atau sekadar merasa kata-kata sudah cukup menyampaikan maksud.

3. Apakah tidak menggunakan emoji termasuk tanda introvert?

Tidak bisa disimpulkan demikian. Frekuensi penggunaan emoji saja tidak dapat digunakan untuk menentukan seseorang introvert atau ekstrovert.

4. Mengapa chat tanpa emoji terkadang terasa jutek?

Teks kehilangan intonasi, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh sehingga penerima mempunyai lebih sedikit petunjuk untuk membaca emosi pengirim. Emoji sering digunakan untuk membantu mengisi petunjuk tersebut.

5. Apakah seseorang perlu menggunakan emoji agar chat terasa ramah?

Tidak harus. Keramahan juga bisa disampaikan melalui pilihan kata, respons yang penuh perhatian, kalimat yang jelas, dan cara seseorang menjaga percakapan.