8 Ciri Orang yang Lebih Suka Kirim Stiker daripada Mengetik Chat, Bisa Ungkap Kepribadiannya

Sering membalas chat dengan stiker daripada mengetik? Kebiasaan ini bisa berkaitan dengan cara seseorang mengekspresikan emosi dan berkomunikasi.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 15:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernah mendapat balasan chat hanya berupa stiker, padahal pertanyaan yang dikirim cukup panjang? Bagi sebagian orang, mengirim stiker terasa lebih praktis daripada harus mengetik beberapa kata.

Stiker juga bisa menjadi cara untuk menunjukkan tawa, rasa senang, bingung, kesal, hingga sekadar menandakan bahwa seseorang sudah membaca pesan. Namun, apakah kebiasaan sering mengirim stiker daripada mengetik benar-benar bisa menunjukkan kepribadian seseorang?

Lantas, apa saja ciri yang mungkin terlihat dari orang yang lebih suka mengirim stiker daripada mengetik? Berikut ulasan Liputan6.com

1. Lebih suka cara berkomunikasi yang praktis

Orang yang sering mengirim stiker mungkin menyukai cara berkomunikasi yang sederhana dan cepat.

Daripada mengetik “Aku juga ikut senang mendengarnya” atau “Wah, lucu banget”, seseorang bisa memilih stiker yang dianggap sudah mewakili reaksinya.

Stiker memang dapat menyampaikan pesan yang lebih kompleks secara visual. Penelitian mengenai komunikasi visual melalui aplikasi pesan instan menemukan bahwa penggunaan stiker berkaitan dengan kebutuhan untuk mengekspresikan diri dan memberikan pengalaman komunikasi yang lebih menarik.

Karena itu, bagi sebagian orang, stiker bukan sekadar hiasan dalam percakapan, melainkan jalan pintas untuk menyampaikan respons.

2. Cenderung ekspresif dalam menunjukkan emosi

Ada orang yang mungkin tidak banyak mengetik, tetapi sangat aktif mengirim stiker dengan berbagai ekspresi.

Misalnya, ketika mendapat kabar menyenangkan, ia mengirim stiker karakter yang sedang melompat kegirangan. Saat kecewa, ia memilih stiker dengan ekspresi menangis atau merajuk.

Penelitian Liu dan Sun dalam Frontiers in Psychology menemukan bahwa sifat agreeableness berkaitan dengan penggunaan stiker untuk mengekspresikan emosi, memperjelas pesan, mencairkan suasana, dan menunjukkan humor.

Artinya, penggunaan stiker dapat menjadi salah satu cara seseorang menambahkan unsur emosional yang sulit terlihat dalam percakapan berbasis teks.

3. Suka mencairkan suasana dengan humor

Coba perhatikan stiker yang paling sering digunakan seseorang. Jika sebagian besar berupa karakter lucu, ekspresi berlebihan, atau meme, bisa jadi ia memang senang membawa unsur humor dalam percakapan.

Penelitian yang sama menemukan hubungan antara ekstraversi dan penggunaan stiker untuk menunjukkan rasa humor. Sebaliknya, orang yang lebih pemalu dalam penelitian tersebut cenderung menggunakan stiker untuk menghindari kecanggungan dibandingkan untuk menunjukkan humor.

Jadi, stiker yang digunakan juga penting diperhatikan. Orang yang sama-sama sering mengirim stiker belum tentu memiliki alasan yang sama.

4. Bisa menggunakan stiker untuk menghindari kecanggungan

Tidak semua stiker dikirim untuk bercanda.

Dalam percakapan tertentu, stiker bisa menjadi penyelamat ketika seseorang bingung harus menjawab apa. Misalnya, setelah mendapat pujian, ia memilih mengirim stiker malu daripada mengetik panjang.

Penelitian Liu dan Sun menemukan bahwa sifat pemalu berkorelasi dengan penggunaan stiker untuk menghindari kecanggungan dan mengakhiri percakapan. Sifat neurotisisme juga menunjukkan hubungan dengan kedua alasan penggunaan tersebut.

Namun, temuan tersebut sebaiknya tidak diterjemahkan secara sederhana menjadi “orang yang suka stiker berarti pemalu”. Hubungan yang ditemukan dalam penelitian tidak berarti setiap orang yang sering memakai stiker mempunyai sifat tersebut.

5. Memperhatikan suasana dan lawan bicara

Orang yang sering menggunakan stiker mungkin tidak menggunakannya secara sembarangan.

Ada yang memilih stiker berbeda ketika berbicara dengan sahabat, pasangan, keluarga, rekan kerja, atau berada di grup percakapan.

Penelitian Liu dan Sun juga menemukan bahwa sebagian pengguna menyesuaikan frekuensi penggunaan emoji dan stiker berdasarkan siapa lawan bicaranya dan apakah percakapan berlangsung secara pribadi atau dalam grup. Pola tersebut berkaitan dengan perbedaan karakteristik kepribadian tertentu.

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan stiker dapat menjadi bagian dari cara seseorang menyesuaikan diri dengan konteks sosial.

6. Lebih nyaman menyampaikan pesan secara visual

Tidak semua orang mudah menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.

Stiker memberikan alternatif karena ekspresi wajah, gerakan tubuh, tulisan, dan karakter visual dapat membantu menyampaikan maksud tanpa harus menjelaskannya dengan banyak kata.

Dalam komunikasi digital, unsur nonverbal seperti ekspresi wajah dan intonasi tidak hadir secara langsung. Emoji maupun stiker kemudian dapat berfungsi sebagai tambahan informasi emosional dalam pesan tertulis.

Penelitian lain mengenai emoji juga menemukan bahwa emoji yang sesuai dengan isi pesan dapat membantu pemahaman terhadap pesan dan memengaruhi bagaimana emosi pengirim dipersepsikan.

Penelitian berjudul "From memes to mobile visual language: understanding Generation Z's sticker use on WeChat" yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 2026 terhadap 420 pengguna muda WeChat menemukan bahwa penggunaan stiker didorong oleh kebutuhan praktis, sosial, dan hiburan. Temuan ini menunjukkan bahwa stiker tidak hanya berfungsi sebagai pengganti kata-kata, tetapi juga menjadi bagian dari cara pengguna membangun interaksi dan mengekspresikan diri.

7. Bisa menunjukkan gaya komunikasi yang santai

Penggunaan stiker sering membuat percakapan terasa lebih ringan dibandingkan kalimat formal.

Misalnya, seseorang membalas “Oke” dengan stiker karakter yang mengacungkan jempol. Secara isi, pesannya mungkin sama, tetapi nuansanya terasa lebih santai dan personal.

Penelitian tentang penggunaan stiker karakter LINE juga menemukan bahwa respons berupa kombinasi teks dan stiker maupun stiker saja dapat berhubungan dengan pengalaman keintiman dalam komunikasi seluler.

Karena itu, stiker dapat menjadi bagian dari gaya komunikasi seseorang, terutama ketika berbicara dengan orang yang sudah dekat.

8. Tidak selalu berarti malas mengetik

Kebiasaan mengirim stiker sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda seseorang malas membalas pesan.

Ada kalanya stiker justru dipilih karena dianggap lebih tepat daripada kata-kata.

Contohnya, ketika seseorang mengirim kabar lucu, balasan berupa stiker tertawa mungkin terasa lebih natural daripada mengetik “HAHAHAHA, lucu banget”. Dalam situasi lain, stiker juga dapat digunakan untuk menambahkan emosi pada jawaban yang sebenarnya singkat.

Penggunaannya memiliki berbagai tujuan, mulai dari mengekspresikan emosi, memperjelas pesan, mencairkan suasana, menunjukkan humor, sampai menghindari kecanggungan.

Jadi, apakah orang yang suka kirim stiker punya kepribadian tertentu?

Belum tentu. Kebiasaan menggunakan stiker memang dapat berkaitan dengan beberapa aspek kepribadian, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan karakter seseorang hanya dari cara membalas chat.

Penelitian Liu dan Sun menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan stiker dengan beberapa karakter seperti ekstraversi, agreeableness, neurotisisme, dan sifat pemalu. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa alasan seseorang menggunakan stiker berbeda-beda.

Dengan kata lain, stiker yang dikirim dan konteks penggunaannya sama pentingnya dengan seberapa sering seseorang menggunakannya.

Seseorang mungkin sering mengirim stiker karena suka bercanda. Orang lain melakukannya karena ingin menghindari percakapan yang canggung. Ada pula yang memang merasa stiker lebih mudah digunakan untuk menunjukkan emosi.

Jadi, lain kali ketika seseorang membalas chat panjang hanya dengan sebuah stiker, jangan buru-buru menganggapnya tidak mau membalas. Bisa saja, bagi orang tersebut, satu gambar memang sudah mampu mengatakan banyak hal.

Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Lebih Suka Kirim Stiker daripada Mengetik Chat

1. Apakah orang yang sering mengirim stiker berarti pemalu?

Tidak selalu. Penelitian memang menemukan hubungan antara sifat pemalu dan penggunaan stiker untuk menghindari kecanggungan atau mengakhiri percakapan, tetapi penggunaan stiker juga memiliki banyak tujuan lain.

2. Apakah stiker bisa menunjukkan kepribadian seseorang?

Penggunaan stiker dapat berkaitan dengan beberapa karakter kepribadian, tetapi tidak bisa dijadikan alat untuk menentukan kepribadian seseorang secara pasti. Konteks, hubungan dengan lawan bicara, dan tujuan komunikasi juga berpengaruh.

3. Kenapa orang lebih memilih stiker daripada mengetik?

Alasannya bisa beragam, mulai dari ingin menghemat waktu, mengekspresikan emosi, membuat percakapan lebih santai, menunjukkan humor, memperjelas pesan, hingga menghindari kecanggungan.