7 Ciri Orang yang Suka Ngemil saat Bekerja Berdasarkan Penelitian Ilmiah Psikologi Okupasi

Temukan 7 ciri lengkap orang yang suka ngemil saat bekerja berdasarkan riset psikologi okupasi dan perilaku organisasi.

Diterbitkan 23 Agustus 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena ngemil di tengah jam kerja bukan sekadar urusan memuaskan rasa lapar fisik, melainkan sebuah cerminan dari kondisi psikologis, biologis, dan dinamika lingkungan kerja yang dihadapi seseorang setiap hari. Berdasarkan tinjauan literatur psikologi organisasi, aktivitas mengonsumsi makanan ringan di luar jam makan utama menyumbang sekitar 15 hingga 20 persen dari total asupan harian, yang sebagian besar justru terjadi di lingkungan profesional. Memahami kebiasaan ini secara mendalam menuntut kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar pilihan makanan, melainkan mengidentifikasi pola perilaku dan kondisi mental karyawan.

Dalam dunia kerja modern, tekanan untuk tetap produktif sering kali berbenturan dengan realitas pekerjaan yang repetitif, monoton, kelelahan emosional, hingga faktor lingkungan kantor yang mendukung. Berdasarkan penelitian dalam jurnal Occupational Health Science oleh Vasiļjeva dkk. (2023, 2024), kebiasaan ngemil tidak sehat sering kali bukan dipicu oleh rasa lapar murni, melainkan sebagai mekanisme koping otomatis untuk mengatasi stres, kejenuhan, atau merespons rangsangan eksternal di tempat kerja.

Melalui pendekatan psikologi okupasi, karakteristik individu yang gemar ngemil ini dapat dikelompokkan ke dalam tujuh ciri komprehensif berikut, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Minggu (23/8/2026).

1. Pekerja yang Menghadapi Tugas Rutin dan Monoton (Job Monotony)

Salah satu ciri utama orang yang suka ngemil saat bekerja adalah mereka yang sehari-harinya dihadapkan pada tugas-tugas repetitif atau kurang variasi. Berdasarkan optimal arousal theory (Hebb, 1955), manusia membutuhkan tingkat stimulasi mental yang optimal agar dapat berfungsi secara efektif. Jika tingkat stimulasi terlalu rendah, individu akan merasa bosan dan termotivasi untuk mencari rangsangan eksternal. Penelitian Vasiļjeva dkk. (2024) mengonfirmasi bahwa daily job monotony memiliki kaitan positif yang kuat terhadap munculnya rasa bosan di tempat kerja, yang pada gilirannya memicu peningkatan perilaku ngemil tidak sehat sebesar 12% hingga 23% sebagai bentuk pelarian psikologis.

Orang dengan karakteristik ini biasanya merasa waktu berjalan sangat lambat ketika mengerjakan tugas administratif yang berulang-ulang. Untuk mengusir kejenuhan tersebut, otak secara otomatis mencari kompensasi sensorik yang instan melalui makanan, khususnya camilan tinggi gula, garam, atau lemak seperti keripik dan cokelat yang dianggap lebih 'menarik' dan merangsang indra.

2. Individu dengan Tingkat Kesadaran Diri (Trait Mindfulness) yang Rendah

Karakteristik berikutnya berkaitan erat dengan kemampuan regulasi emosi dan tingkat kesadaran diri seseorang terhadap pengalaman saat ini atau yang dikenal sebagai trait mindfulness. Individu yang memiliki tingkat mindfulness rendah cenderung lebih reaktif secara impulsif ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, termasuk rasa bosan atau stres ringan di kantor. Mereka kurang mampu menciptakan jarak psikologis antara stimulus (seperti rasa bosan atau kelelahan) dan respons perilaku, sehingga dorongan untuk langsung meraih makanan ringan muncul secara otomatis tanpa pertimbangan matang.

Sebaliknya, individu dengan trait mindfulness tinggi memiliki toleransi yang lebih baik terhadap kondisi emosional yang kurang menyenangkan tanpa harus langsung melampiaskannya pada makanan. Mereka mampu mengenali perasaan bosan atau lelah secara objektif dan memilih strategi regulasi diri yang lebih adaptif, seperti mengambil jeda sejenak untuk bernapas atau berjalan kaki.

3. Pekerja yang Mengalami Kelelahan Emosional (Emotional Exhaustion)

Kelelahan emosional akibat tuntutan pekerjaan yang intensif merupakan pemicu utama lain yang melekat pada profil orang yang suka ngemil. Dalam kerangka homeostatic dan hedonic pathway, ketika energi emosional seseorang terkuras habis oleh beban kerja yang berat atau konflik interpersonal di kantor, tubuh secara alami mencari cara untuk memulihkan keseimbangan energi (jalur homeostatik) atau mencari kesenangan instan guna memperbaiki suasana hati (jalur hedonic). Makanan padat energi sering kali dipilih karena memberikan kepuasan sensorik instan.

Penelitian Vasiļjeva dkk. (2023) menemukan bahwa pada individu dengan tingkat mindfulness rendah, kelelahan emosional yang menumpuk di kantor berlanjut menjadi dorongan kuat untuk mengonsumsi camilan tidak sehat di malam hari (after-work hours) sebagai bentuk pelampiasan stres. Pekerja dengan ciri ini menggunakan makanan sebagai 'penghibur' instan untuk menetralisir sisa-sisa frustrasi dari tempat kerja.

4. Pekerja dengan Beban Kerja Rendah atau Waktu Luang Berlebih di Kantor

Temuan yang cukup mengejutkan dari riset psikologi okupasi adalah bahwa kebiasaan ngemil tidak sehat ternyata tidak hanya dipicu oleh kesibukan ekstrem, tetapi juga justru lebih menonjol pada hari-hari dengan beban kerja yang rendah (low workload). Analisis kuadratik yang dilakukan oleh Vasiļjeva dkk. (2023) menunjukkan adanya hubungan kurvilinear di mana hari-hari dengan tingkat pekerjaan yang longgar justru memicu peningkatan asupan camilan tidak sehat, terutama pada periode setelah jam kerja. Ketiadaan aktivitas yang menuntut konsentrasi penuh memberikan kesempatan fisik dan waktu yang lebih longgar bagi individu untuk mengakses makanan sebagai pengisi kebosanan situasional.

5. Pekerja dengan Pola Kerja Multitasking yang Tinggi

Individu yang terbiasa melakukan banyak tugas sekaligus (multitasking) sering kali menjadikan aktivitas ngemil sebagai pelengkap ritme kerja mereka. Ketika perhatian terbagi antara berbagai layar atau dokumen, otak mengalami kelelahan kognitif (cognitive fatigue) lebih cepat. Mengunyah makanan ringan menjadi bentuk "stimulan otomatis" yang dipercaya sebagian pekerja dapat membantu mereka mempertahankan fokus superfisial di tengah gempuran informasi yang padat, meskipun hal ini justru mengaburkan kesadaran mereka atas jumlah kalori yang dikonsumsi.

6. Pekerja yang Mengalami Gangguan Pola Tidur (Sleep Deprivation)

Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk memiliki korelasi biologis langsung dengan peningkatan hormon ghrelin (hormon pemicu rasa lapar) dan penurunan leptin (hormon pengatur rasa kenyang). Pekerja yang sering kurang tidur akibat lembur atau stres kerja cenderung mencari makanan padat energi, khususnya yang tinggi karbohidrat dan gula, sebagai mekanisme kompensasi biologis instan untuk mendongkrak energi tubuh yang lemas dan menstabilkan suasana hati.

7. Pekerja yang Terpapar Budaya Kantor dengan Akses Makanan Mudah (Pantry Culture)

Faktor lingkungan fisik kantor memegang peranan besar dalam membentuk kebiasaan ini. Pekerja yang mejanya berdekatan dengan pantry, atau perusahaan yang secara rutin menyediakan stoples berisi camilan manis dan gurih di area terbuka, memiliki probabilitas jauh lebih tinggi untuk ngemil secara repetitif. Dalam hal ini, kebiasaan ngemil bukan lagi murni karena faktor emosional internal semata, melainkan karena dorongan visual dan kemudahan akses (proximity cue) yang memicu respons otomatis setiap kali mereka melewati area tersebut.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Suka Ngemil saat Bekerja

Q: Apakah ngemil saat bekerja selalu berdampak buruk bagi kesehatan?

A: Tidak selalu. Ngemil bisa berdampak positif jika camilan yang dipilih adalah makanan bergizi seimbang seperti buah segar, kacang-kacangan tanpa garam, atau yogurt. Namun, ngemil saat bekerja umumnya menjadi masalah ketika didorong oleh kebosanan, stres, atau faktor lingkungan, yang berujung pada konsumsi makanan tinggi gula dan kalori berlebih.

Q: Bagaimana cara membedakan antara lapar fisik dan lapar karena bosan saat bekerja?

A: Lapar fisik biasanya datang secara bertahap, disertai sensasi kosong di perut, dan dapat dipuaskan oleh makanan apa saja. Sebaliknya, lapar karena bosan atau stres datang secara tiba-tiba, spesifik menginginkan makanan tertentu yang manis atau gurih, dan sering kali muncul segera setelah seseorang merasa jenuh atau lelah secara mental.

Q: Apakah pelatihan mindfulness efektif untuk mengurangi kebiasaan ngemil di kantor?

A: Ya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis mindfulness dapat meningkatkan kesadaran seseorang terhadap dorongan impulsif saat merasa stres atau bosan. Dengan melatih kesadaran diri, seseorang dapat menunda respons otomatis untuk makan dan memilih strategi pengelolaan stres yang lebih sehat.

Q: Apa peran perusahaan dalam mengatasi masalah ngemil tidak sehat di tempat kerja?

A: Perusahaan dapat berperan melalui perancangan ulang tugas (job enrichment) untuk mengurangi tingkat monotoni pekerjaan, mengatur ulang tata letak ruang kerja atau pantry agar tidak terlalu memicu akses makanan instan, serta menyediakan opsi camilan sehat bagi karyawan.

Daftar Sumber (Referensi)

Hebb, D. O. (1955). "Drives and the C.N.S. (Central Nervous System)." Psychological Review, 62(4), 243–254. (Landasan teori Optimal Arousal Theory terkait kebutuhan stimulasi mental manusia untuk menghindari kebosanan).

Vasiļjeva, J., dkk. (2023). "Emotional Exhaustion, Low Workload, and After-Work Unhealthy Snacking Behavior." Journal of Occupational and Organizational Psychology, Vol. 96, No. 3, hlm. 512–534. (Membahas dampak kelelahan emosional, hari kerja dengan beban rendah / low workload, serta pelampiasan konsumsi camilan tidak sehat pada jam setelah bekerja).

Vasiļjeva, J., dkk. (2024). "The Role of Daily Job Monotony and Mindfulness in Unhealthy Snacking at Work." Occupational Health Science, Vol. 8, hlm. 45–68. (Membahas kaitan antara daily job monotony, tingkat trait mindfulness, serta peningkatan perilaku ngemil tidak sehat di lingkungan kerja).

Â