7 Ciri dan Tanda Anak Korban Perundungan di Sekolah yang Wajib Diwaspadai Orang Tua, Simak Cara Mencegahnya

Pelajari 7 ciri anak korban perundungan di sekolah, dampaknya bagi tumbuh kembang, serta cara orang tua meresponsnya dengan bijak.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 11:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Isu perundungan di sekolah belakangan makin sering mencuat, mulai dari kasus yang viral di media sosial hingga laporan yang disampaikan langsung oleh sekolah. Ciri dan tanda anak korban perundungan di sekolah yang wajib diwaspadai orang tua menjadi semakin penting dikenali seiring meningkatnya kasus ini di berbagai jenjang pendidikan, dari sekolah dasar hingga menengah atas.

Sayangnya, tanda-tanda ini tidak selalu mudah terlihat. Anak yang mengalami perundungan sering menutupi apa yang ia rasakan karena takut, malu, atau khawatir dianggap lemah oleh orang di sekitarnya. Di sinilah peran orang tua menjadi krusial; kepekaan terhadap perubahan kecil pada anak bisa menjadi kunci untuk mendeteksi masalah sebelum berkembang lebih jauh.

Memahami ciri dan tanda anak korban perundungan di sekolah yang wajib diwaspadai orang tua membantu mendeteksi masalah lebih awal sebelum dampaknya meluas. Berikut ini adalah tujuh perubahan perilaku dan fisik yang perlu diperhatikan, lengkap dengan dampak jangka panjang serta langkah yang bisa diambil orang tua yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (7/10/2026).

Ciri dan Tanda Anak Korban Perundungan di Sekolah

1. Enggan atau Takut Pergi ke Sekolah

Anak yang dulu bersemangat berangkat ke sekolah tiba-tiba sering mengeluh sakit, menangis saat akan berangkat, atau mencari berbagai alasan untuk tetap tinggal di rumah. Rasa takut ini biasanya bukan karena malas belajar, melainkan karena merasa tidak aman di dekat pelaku perundungan. Anak bahkan bisa menghindari rute tertentu menuju sekolah. Jika keluhan ini berulang tanpa sebab medis, gali lebih dalam dengan tenang, bukan memaksa.

2. Luka Fisik atau Barang yang Hilang dan Rusak

Memar, goresan, atau luka lain yang tidak bisa dijelaskan dengan masuk akal layak menjadi perhatian serius. Anak yang mengalami perundungan fisik sering memberikan alasan yang tidak konsisten soal asal lukanya. Perhatikan juga barang pribadi seperti buku atau alat tulis yang tiba-tiba hilang atau rusak tanpa sebab jelas karena pola berulang ini biasanya bukan kebetulan. Catat polanya agar mudah dibicarakan dengan pihak sekolah nanti.

3. Perubahan Pola Tidur dan Sering Mimpi Buruk

Kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, atau mimpi buruk yang berulang bisa mencerminkan kecemasan akibat perundungan di sekolah. Perubahan ini sering luput dari perhatian karena dikira sekadar kelelahan biasa. Akibatnya, anak tampak lesu, mudah marah, atau kurang fokus belajar keesokan harinya. Bila gangguan tidur ini berlangsung lebih dari beberapa minggu, telusuri penyebabnya lebih serius, termasuk kemungkinan tekanan dari sekolah.

4. Keluhan Sakit Kepala atau Sakit Perut Berulang

Anak yang sering mengeluh pusing, mual, atau sakit perut tanpa diagnosis medis jelas kerap sebenarnya sedang menyampaikan tekanan emosional lewat tubuhnya. Keluhan ini biasanya muncul berulang pada waktu tertentu, misalnya setiap pagi sebelum berangkat sekolah atau menjelang hari Senin. Pemeriksaan medis tetap penting untuk menyingkirkan penyebab lain, namun jika hasilnya normal, pertimbangkan tekanan psikologis sebagai pemicunya.

5. Menarik Diri dari Pertemanan dan Aktivitas Sosial

Anak yang tiba-tiba kehilangan minat bermain dengan teman, enggan ikut kegiatan kelompok, atau lebih banyak menyendiri di kamar patut mendapat perhatian khusus. Perubahan ini sering terjadi bertahap sehingga mudah dianggap fase biasa. Rasa malu dan takut dihakimi membuat anak memilih diam. Mulailah dengan mengajak anak beraktivitas ringan bersama, bukan langsung menanyakan masalahnya secara terbuka dan mendadak.

6. Nilai Sekolah Menurun dan Kehilangan Minat Belajar

Penurunan nilai yang terjadi secara tiba-tiba, bukan bertahap, sering menjadi indikasi ada masalah di luar kemampuan akademik anak. Anak yang sebelumnya rajin belajar bisa kehilangan motivasi karena pikirannya tersita rasa takut terhadap situasi di sekolah. Guru biasanya juga melaporkan anak kurang fokus atau sering melamun di kelas. Alih-alih memarahi soal nilai, tanyakan dulu kondisi anak di sekolah secara umum dengan tenang.

7. Gelisah saat Menggunakan Ponsel atau Media Sosial

Anak yang tampak cemas, buru-buru menutup layar ponsel, atau menghindari gawainya sama sekali bisa jadi sedang mengalami perundungan di dunia maya. Berbeda dari perundungan di sekolah, cyberbullying bisa terus berlanjut sampai ke rumah tanpa jeda waktu yang aman, sehingga tekanannya terasa lebih berat. Bukalah percakapan soal media sosial tanpa langsung menyita perangkat anak, karena tindakan itu justru bisa membuatnya semakin tertutup.

Dampak Perundungan terhadap Tumbuh Kembang Anak

Perundungan yang dibiarkan tanpa penanganan bukan hanya memengaruhi suasana hati anak dalam jangka pendek, tetapi juga bisa membentuk pola yang terbawa hingga remaja atau dewasa. Berikut beberapa dampak yang perlu diwaspadai orang tua.

Depresi dan Kecemasan

Anak yang mengalami perundungan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan suasana hati dibanding anak yang tidak mengalaminya. Psikiater anak di Mayo Clinic, Dr. Peter Jensen, menjelaskan bahwa anak yang mengalami perundungan memiliki tingkat depresi, kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, dan kondisi kesehatan mental lain yang lebih tinggi. Kondisi ini sering tidak langsung terlihat dari luar, sehingga mudah terlewat orang tua.

Prestasi Akademik Menurun

Tekanan emosional akibat perundungan ikut memengaruhi kemampuan anak berkonsentrasi di kelas. Psikolog dari UCLA yang meneliti siswa sekolah menengah pertama selama tiga tahun menemukan bahwa tingkat perundungan yang tinggi secara konsisten berkaitan dengan nilai yang lebih rendah. Studi tersebut mencatat bahwa anak yang berulang kali mengalami perundungan cenderung mendapat nilai lebih buruk dan kurang aktif berpartisipasi dalam diskusi di kelas.

Gangguan Fisik dan Pola Tidur

Stres akibat perundungan tidak hanya memengaruhi pikiran, tapi juga tubuh anak secara langsung. Marci Hertz, ilmuwan kesehatan di Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, dalam siniar resmi StopBullying.gov menjelaskan bahwa anak yang mengalami perundungan lebih sering mengeluhkan sakit kepala, sakit perut, dan gangguan tidur dibanding anak lain. Pola tidur yang terganggu ini kemudian memperburuk kemampuan anak untuk fokus dan mengatur emosi di keesokan harinya.

Menarik Diri secara Sosial

Rasa malu dan takut dihakimi membuat banyak anak memilih memendam masalah sendirian. Laman resmi pencegahan perundungan pemerintah Amerika Serikat, StopBullying.gov, menyebutkan bahwa anak yang mengalami perundungan cenderung merasa terisolasi secara sosial. Isolasi ini dapat memperberat tekanan emosional yang sudah dirasakan anak sejak awal.

Langkah yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Setelah mengenali ciri dan dampaknya, langkah berikutnya adalah merespons dengan cara yang tepat. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mendampingi anak.

  • Dengarkan Tanpa Menghakimi — Biarkan anak bercerita dengan caranya sendiri tanpa disela, dipotong, atau disalahkan. Hindari reaksi berlebihan saat mendengar ceritanya, karena hal itu bisa membuat anak kembali menutup diri. Fokuslah memberi rasa aman terlebih dahulu sebelum mencari solusi bersama.
  • Jalin Komunikasi dengan Pihak Sekolah — Sampaikan kekhawatiran secara tenang dan berbasis data kepada wali kelas atau guru BK. Minta mereka ikut memantau interaksi anak di lingkungan sekolah, serta sepakati langkah tindak lanjut yang jelas agar penanganan tidak berhenti di satu pertemuan saja.
  • Bangun Kembali Rasa Percaya Diri Anak — Dukung anak mengikuti kegiatan yang ia sukai dan kuasai, baik di sekolah maupun di luar sekolah, sehingga ia punya ruang untuk merasa mampu dan dihargai di luar tekanan yang sedang dialaminya setiap hari.
  • Ajarkan Cara Merespons Situasi Bullying — Latih anak dengan contoh kalimat sederhana untuk membela diri secara tegas tanpa kekerasan. Jelaskan juga kapan ia harus segera menjauh dari situasi berbahaya dan mencari bantuan orang dewasa terdekat yang bisa dipercaya.
  • Pantau Aktivitas Digital Secara Wajar — Ajak anak berdiskusi soal penggunaan media sosial tanpa kesan mengintai atau menginterogasi. Bangun kesepakatan bersama soal batasan penggunaan gawai, agar anak tetap nyaman berbagi cerita soal apa yang ia alami secara daring.
  • Cari Bantuan Profesional Bila Diperlukan — Jika perubahan perilaku berlangsung lama, semakin berat, atau disertai tanda fisik yang jelas, konsultasi dengan psikolog anak dapat membantu memulihkan kondisi emosionalnya secara bertahap dan terarah sesuai kebutuhan anak.

Tips Mencegah Anak Menjadi Korban Bullying

Selain mengenali tanda dan merespons saat kejadian sudah terjadi, orang tua juga punya peran besar dalam mencegah anak menjadi sasaran perundungan sejak awal. Membangun kebiasaan dan bekal tertentu pada anak sejak dini bisa membuatnya lebih siap menghadapi dinamika sosial di sekolah. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan di rumah.

  • Bangun Komunikasi Terbuka Setiap Hari — Biasakan menanyakan keseharian anak di sekolah secara santai, bukan hanya soal nilai. Kebiasaan ini membuat anak terbiasa bercerita, sehingga ketika ada masalah, ia akan lebih mudah terbuka kepada orang tua tanpa merasa canggung atau takut.
  • Latih Kepercayaan Diri dan Keterampilan Sosial — Ajarkan anak cara memperkenalkan diri, bergabung dalam kelompok, dan menyelesaikan konflik kecil dengan teman. Anak yang percaya diri dan punya keterampilan sosial yang baik cenderung lebih sulit dijadikan sasaran empuk oleh pelaku perundungan.
  • Kenalkan Konsep Batasan dan Rasa Hormat — Jelaskan sejak dini bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat, dan tidak boleh ada yang menyakiti tubuh maupun perasaannya. Pemahaman ini membantu anak mengenali ketika suatu perlakuan sudah melewati batas wajar.
  • Perluas Lingkar Pertemanan Anak — Dorong anak ikut lebih dari satu kelompok kegiatan, seperti ekstrakurikuler atau komunitas di luar sekolah. Lingkar pertemanan yang lebih luas membuat anak punya tempat berlindung sosial jika salah satu pertemanannya bermasalah.
  • Ajarkan Etika dan Keamanan Digital Sejak Dini — Dampingi anak memahami cara bersikap sopan dan aman saat berinteraksi daring, termasuk tidak menyebarkan atau membalas komentar provokatif. Bekal ini penting karena perundungan kini banyak berpindah ke ruang digital.
  • Jadi Teladan dalam Bersikap kepada Orang Lain — Tunjukkan cara menyelesaikan konflik dan memperlakukan orang lain dengan baik dalam keseharian di rumah. Anak cenderung meniru pola interaksi orang tuanya, termasuk dalam cara ia memperlakukan teman-temannya di sekolah.

Pertanyaan Seputar Ciri Anak Korban Perundungan di Sekolah

Apa tanda paling awal anak menjadi korban perundungan di sekolah?

Tanda paling awal biasanya anak tiba-tiba enggan berangkat sekolah, sering mengeluh sakit tanpa sebab medis jelas, atau mencari alasan untuk tinggal di rumah.

Seberapa serius kondisi perundungan di sekolah Indonesia saat ini?

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat ratusan kasus kekerasan di sekolah sepanjang tahun ajaran terakhir, dengan perundungan sebagai salah satu penyumbang terbesar, sehingga sejumlah pihak menyebut situasi ini sebagai kondisi darurat yang perlu perhatian serius dari orang tua dan sekolah.

Apa itu Permendikdasmen tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman dan apa artinya bagi orang tua?

Pemerintah menerbitkan aturan baru pada 2026 yang mewajibkan sekolah membangun budaya aman dan nyaman serta menempatkan pemulihan korban sebagai prioritas penanganan kasus, sehingga orang tua kini punya dasar yang lebih kuat untuk mendesak sekolah menindaklanjuti laporan perundungan secara serius.

Ke mana orang tua bisa melapor jika sekolah tidak responsif terhadap kasus perundungan?

Selain pihak sekolah, orang tua bisa melaporkan kasus ke dinas pendidikan setempat atau Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang beberapa kali turun langsung memberikan pendampingan psikososial pada kasus-kasus perundungan yang dilaporkan di berbagai daerah.

Kapan orang tua perlu melibatkan pihak sekolah atau profesional?

Begitu pola perubahan perilaku anak berlangsung lebih dari beberapa minggu atau disertai tanda fisik dan emosional yang jelas, orang tua sebaiknya segera berkoordinasi dengan sekolah atau tenaga profesional.