10 Ciri Orang yang Sering Meragukan Diri Sendiri, dari Takut Gagal hingga Sulit Mengakui Kelebihan

Ciri orang yang sering meragukan diri sendiri dapat terlihat dari kebiasaan mencari validasi, takut mengambil keputusan, hingga sulit mengakui kemampuan diri.

Diterbitkan 22 Agustus 2026, 10:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meragukan diri sendiri sesekali merupakan hal yang wajar, terutama ketika seseorang menghadapi situasi baru, tuntutan besar, atau keputusan penting. Namun, ciri orang yang sering meragukan diri sendiri dapat terlihat ketika keraguan tersebut muncul berulang kali hingga membuat seseorang mempertanyakan kemampuan, nilai diri, bahkan keputusan yang sebenarnya sudah dipertimbangkan dengan baik.

Seseorang mungkin tampak tenang dan percaya diri dari luar, tetapi terus berdebat dengan pikirannya sendiri. Ia takut salah bicara, merasa tidak cukup pintar, khawatir gagal, atau menganggap keberhasilan yang diraih hanya terjadi karena keberuntungan.

Jika berlangsung terus-menerus, keraguan terhadap diri sendiri dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, menghadapi tantangan, menjalin hubungan, dan menilai pencapaiannya. Karena itu, mengenali tanda-tandanya penting agar keraguan tidak berkembang menjadi pola yang justru membatasi diri. Berikut ulasan Liputan6.com, Sabtu (22/8/2026).

1. Sering Mempertanyakan Kemampuan Sendiri

Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah kebiasaan mempertanyakan kemampuan diri, bahkan ketika sebenarnya seseorang memiliki pengalaman atau keterampilan yang cukup.

Misalnya, seseorang mendapat tugas yang pernah dikerjakannya beberapa kali. Alih-alih berpikir bahwa ia mampu mengerjakannya, pikirannya justru dipenuhi pertanyaan seperti, “Benarkah aku bisa?”, “Bagaimana kalau hasilnya buruk?” atau “Jangan-jangan selama ini aku hanya beruntung?”

Robert M. Arkin dari Ohio State University menjelaskan bahwa self-doubt berkaitan dengan ketidakpastian terhadap kompetensi diri. Seseorang yang meragukan kemampuannya dapat merasa tidak yakin apakah kompetensi yang dimiliki bisa kembali diandalkan pada kesempatan berikutnya.

2. Takut Mencoba Hal Baru karena Membayangkan Kegagalan

Orang yang sering meragukan diri sendiri cenderung melihat tantangan baru sebagai sesuatu yang mengancam. Sebelum mencoba, ia sudah membayangkan kemungkinan gagal.

Pola tersebut dapat membuat seseorang lebih memilih bertahan di zona nyaman. Bukan karena tidak memiliki keinginan untuk berkembang, melainkan karena rasa takut terhadap kegagalan terasa lebih kuat daripada keinginan untuk mencoba.

Menurut Brenner, self-doubt memang dapat membuat seseorang menghindari hal baru karena merasa dirinya tidak mampu berhasil. Keraguan juga dapat muncul ketika seseorang sedang menghadapi perubahan atau ketidakpastian.

3. Terlalu Memikirkan Kesalahan Kecil

Kesalahan kecil bisa terasa sangat besar bagi seseorang yang memiliki keraguan terhadap dirinya. Setelah melakukan kesalahan, ia mungkin terus mengingat kejadian tersebut dan membayangkan berbagai kemungkinan buruk.

Satu kesalahan dalam presentasi, misalnya, dapat membuat seseorang berpikir bahwa dirinya memang tidak cocok menjadi pembicara. Satu kritik dari atasan juga dapat membuatnya merasa tidak kompeten, meskipun selama ini mendapatkan banyak penilaian positif.

Pola ini terlihat dalam contoh Andy yang dibahas Psychology Today. Ia menerima evaluasi kerja yang berisi berbagai umpan balik, tetapi justru terpaku pada satu komentar mengenai kemampuan Excel. Kritik tersebut membuatnya langsung menyimpulkan bahwa pekerjaan itu mungkin bukan untuknya. Dalam kasus seperti ini, kurangnya self-knowledge membuat seseorang sulit melihat gambaran dirinya secara utuh.

4. Sulit Menerima Pujian

Orang yang sering meragukan diri sendiri tidak selalu mudah percaya ketika mendapat pujian. Ketika seseorang mengatakan bahwa pekerjaannya bagus, ia mungkin menjawab, “Ah, kebetulan saja,” atau “Sebenarnya tidak sebagus itu.”

Pujian yang seharusnya menjadi penguat justru dianggap tidak sepenuhnya valid. Keberhasilan sering dikaitkan dengan faktor eksternal, seperti keberuntungan, bantuan orang lain, situasi yang mendukung, atau kebetulan.

Penelitian yang dibahas Arkin menunjukkan bahwa orang yang mengalami self-doubt dapat kesulitan menghubungkan keberhasilan dengan kemampuan dirinya sendiri. Akibatnya, keberhasilan tidak selalu membuat keyakinan terhadap kompetensi meningkat.

5. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Perbandingan sosial juga dapat memperkuat keraguan terhadap diri sendiri. Seseorang mungkin melihat pencapaian orang lain sebagai bukti bahwa dirinya tertinggal.

Masalahnya, perbandingan tersebut biasanya tidak dilakukan secara seimbang. Seseorang membandingkan kelemahan dirinya dengan kelebihan orang lain yang terlihat dari luar.

Brenner mencatat bahwa kebiasaan terus-menerus memperhatikan pencapaian orang lain lalu membandingkannya dengan pengalaman diri sendiri dapat memunculkan ketidaknyamanan, kecemburuan, atau rasa tidak puas.

6. Terlalu Banyak Mencari Validasi

Keraguan terhadap diri sendiri juga dapat membuat seseorang membutuhkan kepastian dari orang lain sebelum merasa yakin.

Ia mungkin bertanya kepada banyak orang sebelum mengambil keputusan sederhana. Setelah memutuskan, ia kembali mencari pendapat lain untuk memastikan bahwa pilihannya benar.

Meminta saran tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, jika seseorang merasa tidak mampu mempercayai pertimbangannya sendiri tanpa persetujuan orang lain, pola tersebut patut diperhatikan. Salah satu persoalan yang mungkin mendasarinya adalah rendahnya kepercayaan terhadap penilaian diri sendiri.

7. Menunda Pekerjaan karena Takut Hasilnya Tidak Sempurna

Keraguan diri tidak selalu terlihat sebagai kemalasan. Pada beberapa orang, keraguan justru muncul dalam bentuk penundaan.

Seseorang bisa terus menunda mengirim tulisan, melamar pekerjaan, mengajukan ide, atau memulai proyek karena merasa hasilnya belum cukup bagus. Ia terus menunggu waktu yang dianggap tepat, padahal sebenarnya ketakutan terhadap penilaian atau kegagalan yang membuatnya sulit memulai.

Arkin menjelaskan bahwa self-doubt dapat berhubungan dengan self-handicapping, yaitu strategi perlindungan diri ketika seseorang tidak yakin terhadap peluang keberhasilannya. Bentuknya dapat berupa menahan usaha, memilih tugas yang sulit, atau melakukan penundaan sehingga kegagalan nantinya memiliki alasan yang dapat digunakan untuk melindungi harga diri.

8. Ada Juga yang Justru Bekerja Terlalu Keras

Menariknya, orang yang meragukan dirinya tidak selalu menghindari pekerjaan. Sebagian justru bekerja jauh lebih keras untuk memastikan dirinya tidak gagal.

Arkin menyebut pola ini sebagai overachievement. Dari luar, seseorang mungkin terlihat sangat berprestasi, disiplin, dan ambisius. Namun, dorongan di balik kerja keras tersebut bisa berupa ketakutan bahwa dirinya sebenarnya tidak cukup mampu.

Penelitian Arkin menunjukkan bahwa orang yang memiliki pola overachievement dapat lebih merasakan kelegaan daripada kegembiraan setelah berhasil. Mereka juga dapat mengalami emosi negatif yang kuat ketika gagal.

9. Merasa Tidak Cukup Baik meski Memiliki Pencapaian

Keraguan diri juga dapat muncul ketika seseorang tidak mampu menjadikan pencapaian sebagai bukti bahwa dirinya kompeten.

Ada orang yang sudah menyelesaikan banyak tugas, mendapatkan penghargaan, atau berhasil mencapai target, tetapi tetap merasa belum cukup baik. Pencapaian berikutnya justru dianggap sebagai standar baru yang harus dipenuhi.

Psychology Today membedakan self-confidence, self-worth, self-esteem, dan self-knowledge. Self-confidence berkaitan dengan keyakinan terhadap kemampuan melakukan sesuatu, sedangkan self-worth menyangkut perasaan mengenai nilai diri sebagai manusia. Self-esteem berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai dirinya dalam berbagai aspek, sementara self-knowledge berkaitan dengan seberapa baik seseorang memahami kemampuan, kelemahan, kebutuhan, preferensi, dan karakter dirinya sendiri.

Perbedaan ini penting karena seseorang bisa saja memiliki kemampuan tertentu tetapi tetap memiliki keraguan terhadap nilai dirinya.

10. Suara Kritik dalam Kepala Terasa Lebih Kuat daripada Fakta

Orang yang sering meragukan diri sendiri dapat memiliki “inner critic” yang sangat aktif. Suara batin tersebut terus menyoroti kekurangan, kesalahan, dan kemungkinan buruk.

Brenner menjelaskan bahwa inner critic dapat mempertahankan self-doubt melalui negative self-talk. Pikiran tersebut mempertanyakan kemampuan dan nilai diri hingga dapat menurunkan motivasi serta self-esteem.

Akibatnya, fakta positif mengenai diri sendiri sering kalah oleh satu pikiran negatif. Seseorang mungkin menerima sepuluh pujian dan satu kritik, tetapi sepanjang hari justru memikirkan kritik tersebut.

Apa Itu Meragukan Diri Sendiri?

Self-doubt atau keraguan terhadap diri sendiri adalah perasaan tidak yakin terhadap kemampuan, kompetensi, keputusan, atau kualitas diri. Brad Brenner, Ph.D., psikolog dan pendiri Therapy Group of DC, menjelaskan bahwa self-doubt ditandai oleh ketidakpastian mengenai satu atau beberapa aspek diri. Pengalaman tersebut dapat muncul ketika seseorang menghadapi pekerjaan baru, hubungan baru, atau perubahan besar dalam hidup.

Keraguan tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Dalam kadar tertentu, rasa ragu dapat membuat seseorang lebih berhati-hati, mau mengevaluasi diri, dan mempersiapkan diri sebelum mengambil tindakan. Masalah muncul ketika seseorang terus mempertanyakan kemampuannya sampai sulit bergerak maju.

Menurut Brenner, self-doubt yang berlangsung secara kronis dapat membuat seseorang terus-menerus mempertanyakan dirinya dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Kondisi ini juga dapat memengaruhi self-esteem, self-worth, dan keyakinan terhadap kemampuan diri.

Mengapa Seseorang Bisa Sering Meragukan Dirinya?

Penyebab self-doubt tidak selalu sama pada setiap orang. Pengalaman gagal, kritik yang terus-menerus, tekanan untuk berprestasi, kebiasaan membandingkan diri, dan pola self-talk negatif dapat berkontribusi terhadap munculnya keraguan. Brenner juga menyebut pengalaman negatif sebelumnya dan tekanan sosial sebagai beberapa faktor yang dapat memperkuat self-doubt.

Sementara itu, Psychology Today menyoroti kemungkinan hubungan antara keraguan diri dengan pengabaian emosional pada masa kanak-kanak. Menurut artikel tersebut, ketika emosi anak tidak cukup dilihat, dihargai, atau divalidasi, anak dapat tumbuh tanpa pemahaman yang kuat mengenai dirinya sendiri. Pola tersebut kemudian dapat berhubungan dengan rendahnya self-confidence, self-esteem, self-worth, dan self-knowledge.

Penjelasan tersebut tidak berarti setiap orang yang meragukan diri sendiri pasti mengalami pengabaian emosional saat kecil. Pengalaman manusia sangat beragam dan self-doubt dapat memiliki banyak faktor.

Bagaimana Mengurangi Kebiasaan Meragukan Diri Sendiri?

Langkah pertama adalah mengenali pola pikiran yang muncul. Ketika muncul pikiran “aku pasti gagal”, seseorang dapat berhenti sejenak dan bertanya apakah pikiran tersebut benar-benar didukung fakta.

Mencatat pencapaian dan kemampuan yang pernah dimiliki juga dapat membantu seseorang melihat dirinya secara lebih utuh. Tujuannya bukan memaksa diri selalu berpikir positif, melainkan menyeimbangkan perhatian terhadap kekurangan dengan bukti mengenai kemampuan yang memang dimiliki.

Brenner merekomendasikan self-compassion, mengenali kekuatan diri, menetapkan tujuan yang realistis, serta mengambil langkah kecil untuk membangun kembali rasa percaya diri. Dukungan dari orang-orang yang dipercaya juga dapat membantu seseorang melihat kualitas dirinya ketika ia sedang kesulitan melihatnya sendiri.

Jika keraguan diri sudah sangat mengganggu pekerjaan, hubungan, aktivitas sehari-hari, atau membuat pikiran negatif terasa sulit dikendalikan, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan. Brenner mencatat bahwa psikoterapi, termasuk pendekatan seperti cognitive behavioral therapy atau CBT, dapat membantu seseorang mengenali dan menantang pola pikiran negatif.

Pada akhirnya, memiliki keraguan tidak otomatis berarti seseorang lemah atau tidak mampu. Keraguan adalah pengalaman manusia yang dapat muncul dalam situasi tertentu. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika keraguan tersebut terus mengambil alih penilaian terhadap diri sendiri hingga membuat seseorang tidak lagi mampu melihat kemampuan, pengalaman, dan nilai dirinya secara proporsional.

Pertanyaan Seputar Meragukan Diri Sendiri

1. Apakah sering meragukan diri sendiri berarti memiliki rasa percaya diri yang rendah?

Belum tentu. Self-doubt berkaitan dengan ketidakpastian terhadap kemampuan atau kompetensi diri, sedangkan self-confidence lebih spesifik pada keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan sesuatu. Keduanya memang dapat saling berkaitan, tetapi tidak selalu identik.

2. Apakah meragukan diri sendiri merupakan hal yang normal?

Ya. Keraguan dapat muncul ketika seseorang menghadapi situasi baru, perubahan besar, atau tantangan yang belum pernah dialami. Yang perlu diperhatikan adalah intensitas dan dampaknya. Jika keraguan terus muncul hingga menghambat aktivitas sehari-hari, persoalannya perlu mendapat perhatian lebih serius.

3. Mengapa orang yang berprestasi juga bisa sering meragukan dirinya?

Prestasi tidak selalu membuat seseorang yakin terhadap kemampuan dirinya. Sebagian orang justru menganggap keberhasilan terjadi karena kerja keras, keberuntungan, atau bantuan orang lain, bukan karena kemampuan yang dimiliki. Dalam penelitian Arkin, self-doubt bahkan dapat muncul pada orang yang menunjukkan pola overachievement.

4. Bagaimana cara berhenti membandingkan diri dengan orang lain?

Mulailah dengan mengubah fokus dari pencapaian orang lain menuju perkembangan diri sendiri. Ketika membandingkan diri, ingat bahwa seseorang biasanya hanya melihat bagian tertentu dari kehidupan orang lain. Menetapkan tujuan pribadi yang realistis dan mencatat perkembangan dari waktu ke waktu dapat membantu membangun penilaian diri yang lebih seimbang.

5. Kapan seseorang perlu mencari bantuan profesional?

Pertimbangkan bantuan profesional ketika keraguan diri berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, pengambilan keputusan, atau kehidupan sehari-hari. Konsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu mengidentifikasi pola pikiran dan pengalaman yang mungkin mempertahankan keraguan tersebut.