7 Kepribadian Orang yang Sering Menyilangkan Tangan saat Berbicara Menurut Bahasa Tubuh

Kepribadian orang yang sering menyilangkan tangan saat berbicara ternyata mengungkap banyak hal, mulai dari sikap submisif hingga cara menghadapi stres.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menyilangkan tangan saat berbicara sering dianggap sebagai sinyal menutup diri. Padahal, ahli bahasa tubuh menilai gestur ini menyimpan makna psikologis yang lebih dalam. Penelitian tentang kepribadian orang yang sering menyilangkan tangan saat berbicara menunjukkan kebiasaan ini berkaitan erat dengan cara seseorang menghadapi tekanan sosial dan rasa aman diri sendiri.

Gestur sederhana ini ternyata bukan sekadar kebiasaan tanpa arti dalam komunikasi sehari-hari. Sejumlah studi menemukan hubungan antara posisi tangan menyilang dengan sikap submisif, kecenderungan menghindar, hingga cara otak merespons rasa cemas. Fenomena ini menarik perhatian karena terjadi tanpa disadari, namun tetap konsisten muncul dalam berbagai situasi sosial sehari-hari.

Berikut ini adalah beberapa kepirbadian orang yang sering menyilangkan tangan saat berbicara menurut bahasa tubuh yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (6/10/2026). Mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

1. Cenderung Submisif dalam Interaksi Sosial

Orang yang terbiasa menyilangkan tangan saat berbicara kerap menunjukkan sikap submisif dalam hubungan antarpribadi. Mereka cenderung mengalah dan menghindari konfrontasi langsung dengan lawan bicara. Pola ini muncul berulang dalam berbagai situasi sosial, baik di lingkungan kerja maupun pertemanan sehari-hari, tanpa mereka sadari sepenuhnya.

Penelitian oleh Adam Fetterman, Jessica Bair, dan Michael Robinson yang dikutip dari di ResearchGate terhadap 124 mahasiswa menemukan bahwa frekuensi menyilangkan tangan berkaitan positif dengan skor submisif pada skala kepribadian interpersonal. Semakin sering seseorang menyilangkan tangan tanpa sadar, semakin tinggi pula kecenderungan sikap mengalah yang mereka tunjukkan.

Hasil ini diperkuat lewat eksperimen lanjutan dari tim peneliti yang sama. Ketika partisipan diminta menyilangkan tangan selama beberapa menit, mereka melaporkan pandangan diri yang lebih submisif dibanding kelompok yang tidak melakukannya. Gestur ini ternyata tidak hanya mencerminkan kepribadian, tapi juga bisa memengaruhi cara seseorang memandang dirinya.

2. Mudah Menghindar dari Interaksi Sosial

Selain submisif, kebiasaan menyilangkan tangan juga berkaitan dengan kecenderungan menghindar dari interaksi sosial secara umum. Orang dengan kebiasaan ini sering merasa kurang nyaman berada di tengah keramaian atau situasi yang menuntut mereka tampil terbuka di depan banyak orang yang belum dikenal.

Penelitian yang sama mencatat partisipan yang diminta menyilangkan tangan menunjukkan pikiran dan perasaan menghindar yang lebih tinggi dibanding kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan serupa. Kondisi ini mirip dengan gejala kecemasan sosial, meski tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan psikologis tertentu.

Kecenderungan menghindar ini biasanya muncul tanpa disadari oleh orang yang mengalaminya sendiri, bahkan dalam situasi yang sebenarnya tidak berbahaya. Seseorang mungkin tidak sadar bahwa posisi tangannya ikut membentuk suasana hati yang membuatnya makin enggan memulai percakapan atau mendekati orang baru.

3. Lebih Memilih Kabur Daripada Melawan saat Terancam

Ciri lain yang muncul pada orang dengan kebiasaan ini adalah kecenderungan memilih strategi menghindar ketika menghadapi situasi yang terasa mengancam. Mereka lebih sering memikirkan cara menjauh dari masalah dibanding menghadapinya secara langsung, bahkan ketika situasi tersebut sebenarnya masih bisa dikendalikan dengan tenang.

Dalam eksperimen skenario ancaman yang dirancang Fetterman, Bair, dan Robinson, partisipan yang menyilangkan tangan lebih banyak memilih opsi melarikan diri dibanding menyerang balik. Sebaliknya, kelompok kontrol tanpa menyilangkan tangan lebih sering memilih merespons ancaman secara aktif dan konfrontatif terhadap situasi yang dihadapi.

Pola ini menunjukkan bahwa menyilangkan tangan bisa mengaktifkan cara berpikir yang lebih waspada dan protektif. Otak seolah bersiap untuk menghindar lebih dulu sebelum mempertimbangkan opsi lain, saat seseorang berhadapan dengan situasi yang dirasa berisiko bagi keselamatan dirinya sendiri.

4. Mencari Kenyamanan Diri Sendiri

Tidak semua orang menyilangkan tangan karena merasa terancam. Sebagian orang melakukannya justru untuk memberi rasa nyaman pada diri sendiri, terutama saat berada di tempat umum atau menunggu giliran berbicara di depan orang banyak dalam suasana formal.

Psychology Today menyebut gestur ini sebagai bentuk "pelukan diri sendiri". Orang yang melakukannya biasanya tidak bermaksud menjauhkan orang lain, melainkan sekadar mencari kenyamanan saat menunggu presentasi dimulai atau mendengarkan pembicara di sebuah acara yang ramai dihadiri banyak orang.

Kebiasaan ini lebih sering muncul di ruang publik dibanding saat seseorang berada sendirian di rumah. Ketika ditanya langsung, kebanyakan orang mengaku merasa nyaman dengan posisi tangan menyilang, bukan sedang berusaha menutup diri dari lingkungan di sekitarnya.

5. Rentan terhadap Stres dan Kecemasan

Orang yang sering menyilangkan tangan saat berbicara juga cenderung menunjukkan tanda-tanda stres dan kecemasan yang lebih mudah terbaca orang lain. Kebiasaan ini sering muncul bersamaan dengan gestur lain, seperti menyentuh area leher atau bahu sendiri secara berulang.

Sumber yang sama menjelaskan bahwa menyilangkan tangan sambil memijat lengan sendiri dianggap sebagai cara menenangkan diri, mirip dengan kebiasaan meremas tangan saat gugup. Gestur semacam ini kerap terlihat pada murid saat ujian atau karyawan yang menunggu hasil evaluasi kerja.

Meski terlihat sepele, kebiasaan ini memberi sinyal yang cukup jelas bagi orang di sekitarnya bahwa ada ketegangan yang sedang dirasakan. Guru dan atasan kerap memanfaatkan sinyal ini untuk mengenali kondisi emosional orang yang mereka hadapi di tempat kerja maupun ruang kelas.

6. Menyembunyikan Rasa Tidak Percaya Diri

Rasa tidak percaya diri juga kerap tersembunyi di balik kebiasaan menyilangkan tangan. Orang yang merasa rendah diri atau terintimidasi oleh lawan bicara sering tanpa sadar menutup tubuhnya dengan posisi tangan menyilang sebagai bentuk perlindungan dari tekanan yang dirasakannya.

Psychology Today mencontohkan sikap Richard Nixon yang menyilangkan tangan ketika berbicara dengan John F. Kennedy di luar sesi debat presiden tahun 1960. Menurut biografernya, Nixon kerap merasa minder di hadapan orang yang dianggapnya berasal dari kalangan elite, meski status politiknya saat itu sudah tinggi.

Rasa tidak aman ini biasanya muncul di situasi tertentu saja, bukan sepanjang waktu. Seseorang bisa tampak percaya diri di satu momen, lalu menyilangkan tangan begitu berhadapan dengan orang atau topik yang membuatnya merasa kurang yakin terhadap dirinya sendiri.

7. Gigih dan Fokus Menyelesaikan Masalah Sulit

Di sisi lain, menyilangkan tangan juga punya sisi positif yang jarang disadari banyak orang. Kebiasaan ini bisa menjadi tanda seseorang sedang berusaha keras dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan yang rumit, baik dalam pekerjaan, tugas sekolah, maupun urusan pribadi sehari-hari.

Psikolog dan pakar bahasa tubuh Janine Driver, dalam tulisannya di Psychology Today, mengutip penelitian Ron Friedman dan Andrew Elliot yang terbit di European Journal of Social Psychology tahun 2008. Penelitian itu menemukan partisipan yang menyilangkan tangan saat mengerjakan teka-teki kata sulit lebih sering bertahan dan berhasil menyelesaikan tugas.

Gestur ini disebut mengirim isyarat ke otak untuk tetap fokus dan tidak mudah putus asa. Meski begitu, orang lain bisa saja menafsirkan gestur yang sama sebagai tanda bosan, sehingga bahasa tubuh tetap perlu dibaca bersama konteks yang menyertainya.

Pertanyaan Seputar Kepribadian Orang yang Sering Menyilangkan Tangan saat Berbicara

Apakah menyilangkan tangan selalu berarti menutup diri?

Tidak selalu. Gestur ini bisa berarti mencari kenyamanan diri sendiri, meredakan stres, atau sekadar posisi yang terasa santai, bukan selalu tanda penolakan terhadap lawan bicara.

Apakah menyilangkan tangan tanda orang pemalu?

Kebiasaan ini sering dikaitkan dengan sikap submisif dan inhibisi sosial, namun tidak otomatis menandakan seseorang pemalu secara keseluruhan.

Bisakah menyilangkan tangan membantu fokus bekerja?

Penelitian Friedman dan Elliot menunjukkan menyilangkan tangan saat mengerjakan tugas sulit berkaitan dengan ketekunan yang lebih tinggi dalam menyelesaikan masalah.

Apakah pria dan wanita menyilangkan tangan dengan alasan yang sama?

Frekuensi menyilangkan tangan tidak berbeda signifikan antara pria dan wanita, meski respons terhadap situasi mengancam bisa berbeda antara keduanya.

Bagaimana cara membaca bahasa tubuh menyilangkan tangan dengan tepat?

Gestur ini perlu dibaca bersama konteks, ekspresi wajah, dan gestur lain yang menyertainya, bukan ditafsirkan sendirian sebagai sinyal tunggal.