Liputan6.com, Jakarta - Introvert sering dianggap tidak suka bergaul karena memilih menjauh dari keramaian. Padahal, alasan introvert tidak suka keramaian lebih berkaitan dengan cara mereka menerima rangsangan dan memulihkan energi setelah bersosialisasi.
Melansir dari Cornell Chronicle, Universitas Cornell, Amerika Serikat, studi di jurnal Frontiers in Human Neuroscience (2013) menemukan bahwa sistem penghargaan otak orang ekstrovert lebih peka dibandingkan introvert. Sementara itu, teori gairah kortikal psikolog Hans Eysenck dalam buku The Biological Basis of Personality (1967) menyebut introvert cenderung lebih mudah terangsang oleh lingkungan.
Keramaian yang terasa menyenangkan bagi sebagian orang dapat terasa melelahkan bagi introvert. Berikut adalah alasan introvert tidak suka keramaian dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (5/10/2026).
Advertisement
Memahami Siapa Itu Introvert
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334158/original/001130400_1787822403-pexels-cottonbro-7707081.jpg)
Berdasarkan materi pembelajaran Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada laman LMS SPADA, introvert adalah tipe kepribadian yang minatnya lebih mengarah ke dalam pikiran dan pengalaman sendiri. Sebaliknya, ekstrovert lebih banyak dipengaruhi oleh dunia luar.
Istilah introvert dan ekstrovert dipopulerkan oleh psikiater asal Swiss, Carl Gustav Jung, dalam buku Psychological Types (1921). Keduanya kini lebih tepat dipahami sebagai spektrum, bukan dua kelompok yang sepenuhnya terpisah.
Banyak orang memiliki karakteristik yang berada di antara introvert dan ekstrovert. Kondisi ini sering disebut ambivert.
Introvert juga bukan gangguan kejiwaan. Sifat tersebut merupakan salah satu kecenderungan kepribadian yang membuat setiap orang memiliki cara berbeda dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Advertisement
1. Keramaian Lebih Cepat Menguras Energi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6209974/original/021020400_1779088134-pexels-doci-2215518-11963474.jpg)
Alasan introvert tidak suka keramaian yang paling umum adalah energi sosial lebih cepat terkuras. Berada di tengah banyak orang berarti harus menerima berbagai suara, percakapan, gerakan, dan tuntutan untuk berinteraksi dalam waktu bersamaan.
Kondisi tersebut dapat membuat introvert merasa lelah meski sebenarnya menikmati acara yang dihadiri. Setelahnya, mereka biasanya membutuhkan waktu sendiri untuk mengembalikan energi.
Kebutuhan untuk menyendiri bukan berarti membenci orang lain. Waktu tenang justru menjadi cara bagi sebagian introvert untuk kembali merasa nyaman.
2. Lebih Peka terhadap Banyak Rangsangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332902/original/078138300_1787722874-javier-gonzalez-fotografo-Jlg0mKCYaPo-unsplash.jpg)
Teori gairah kortikal Hans Eysenck dalam The Biological Basis of Personality (1967) mengusulkan bahwa introvert memiliki tingkat gairah kortikal yang lebih tinggi dalam kondisi tertentu. Mereka tidak selalu membutuhkan banyak rangsangan tambahan dari lingkungan.
Penelitian Elaine Aron dan Arthur Aron dalam Journal of Personality and Social Psychology (1997) juga membahas hubungan antara kepekaan terhadap rangsangan sensorik, introversi, dan emosionalitas.
Suasana pesta, pusat perbelanjaan, konser, atau acara keluarga besar dapat menghadirkan banyak rangsangan sekaligus. Suara keras, cahaya, percakapan, dan pergerakan orang yang terus berlangsung dapat membuat sebagian introvert merasa kewalahan.
3. Sistem Penghargaan Otak Tidak Merespons Keramaian dengan Cara yang Sama
Perbedaan respons terhadap lingkungan juga berkaitan dengan sistem penghargaan otak. Melansir Cornell Chronicle, penelitian Universitas Cornell menunjukkan bahwa peserta yang lebih ekstrovert lebih kuat mengaitkan konteks tertentu dengan penghargaan.
Peserta yang lebih introvert menunjukkan bukti pengondisian terhadap penghargaan yang lebih sedikit. Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa lingkungan yang penuh aktivitas sosial dapat terasa lebih menarik bagi ekstrovert dibandingkan introvert.
Temuan ini bukan berarti otak introvert tidak dapat merasakan kesenangan. Respons setiap orang terhadap lingkungan tetap dipengaruhi banyak faktor.
Advertisement
4. Lebih Menyukai Hubungan yang Mendalam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5174781/original/014053800_1742962814-young-couple-walking-together-christmas_1303-25964.jpg)
Introvert umumnya tidak berarti tidak memiliki banyak hubungan sosial. Mereka dapat memilih lingkaran pertemanan yang lebih kecil dengan hubungan yang dianggap dekat dan bermakna.
Keramaian sering membuat percakapan berlangsung singkat karena seseorang harus berpindah dari satu lawan bicara ke orang lain. Situasi seperti ini kurang sesuai bagi orang yang lebih menikmati percakapan mendalam.
Pertemuan dengan beberapa teman dekat karena itu bisa terasa lebih nyaman daripada pesta dengan puluhan orang.
5. Basa-Basi Bisa Terasa Melelahkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346091/original/084704300_1789109831-16796.jpg)
Introvert bukan berarti tidak suka berbicara. Mereka dapat menikmati percakapan panjang ketika topiknya menarik atau memiliki makna bagi mereka.
Masalahnya muncul ketika harus melakukan basa-basi dengan banyak orang dalam waktu singkat. Percakapan ringan yang terus berganti dapat membutuhkan energi lebih besar.
Introvert biasanya lebih menikmati pembicaraan yang memberikan kesempatan untuk mendengarkan, berpikir, dan memberikan respons secara lebih mendalam.
6. Membutuhkan Waktu untuk Memproses Informasi
Sebagian introvert cenderung membutuhkan waktu sebelum memberikan respons. Mereka dapat berpikir terlebih dahulu sebelum menyampaikan pendapat.
Situasi ramai sering membuat percakapan bergerak cepat. Topik dapat berubah sebelum mereka selesai memproses informasi atau menyusun jawaban.
Waktu sendiri setelah bersosialisasi membantu mereka mengolah kembali berbagai percakapan dan pengalaman yang baru saja terjadi.
Advertisement
7. Lebih Nyaman dengan Pertemuan yang Terencana
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978108/original/042143000_1648535623-pexels-alexander-suhorucov-6457544.jpg)
Acara yang direncanakan jauh hari dapat terasa lebih nyaman bagi introvert. Mereka memiliki waktu untuk mempersiapkan diri dan mengatur energi sosial.
Sebaliknya, ajakan mendadak dapat terasa lebih berat. Pertemuan spontan membuat mereka harus mengubah rencana dan menggunakan energi yang sebelumnya tidak disiapkan untuk bersosialisasi.
Kondisi ini bukan berarti introvert tidak fleksibel. Mereka hanya cenderung lebih nyaman ketika mengetahui apa yang akan dihadapi.
8. Tidak Nyaman dengan Tekanan untuk Banyak Bicara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5191138/original/093575100_1744937793-students-chatting-classroom_1098-2844.jpg)
Introvert sering mendapat dorongan untuk lebih aktif berbicara ketika berada dalam kelompok. Mereka mungkin diminta lebih terbuka, ikut bercanda, atau menjadi pusat perhatian.
Tekanan tersebut justru dapat membuat situasi sosial terasa semakin melelahkan. Introvert sebenarnya dapat berkomunikasi dengan baik tanpa harus menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Memberikan kesempatan untuk berinteraksi sesuai kenyamanan dapat membuat mereka lebih mudah terlibat dalam percakapan.
9. Lebih Suka Menjadi Pengamat
Di tengah keramaian, introvert tidak selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sebagian lebih nyaman mengamati orang dan situasi di sekitarnya.
Mereka dapat memperhatikan percakapan, suasana ruangan, atau perilaku orang lain tanpa banyak terlibat secara langsung. Sikap tersebut sering dianggap sebagai tanda tidak tertarik.
Padahal, mengamati merupakan salah satu cara seseorang menikmati lingkungan sosial tanpa harus terus-menerus menjadi bagian paling aktif di dalamnya.
Advertisement
10. Membutuhkan Waktu Sendiri untuk Mengisi Energi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366496/original/041550700_1791269199-pexels-pavel-danilyuk-6549198.jpg)
Susan Cain dalam buku Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking (2012) menggambarkan introvert sebagai orang yang cenderung berkembang lebih baik dalam lingkungan yang tenang dan tidak terlalu penuh rangsangan.
Karena itu, setelah menghadiri acara ramai, introvert mungkin memilih pulang dan melakukan aktivitas sendiri. Membaca, menonton film, berjalan santai, atau sekadar beristirahat dapat membantu mereka merasa lebih segar.
Waktu sendiri bukan bentuk penolakan terhadap orang lain. Bagi sebagian introvert, aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses memulihkan energi.
Introvert Bukan Antisosial dan Bukan Sombong
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4214339/original/091099200_1667532891-pexels-skitterphoto-798_1_.jpg)
Salah satu kesalahpahaman yang paling umum adalah menyamakan introvert dengan orang pemalu atau antisosial. Ketiganya sebenarnya memiliki pengertian berbeda.
Susan Cain dalam Quiet menjelaskan bahwa rasa malu berkaitan dengan ketakutan terhadap penilaian orang lain. Introversi lebih berkaitan dengan preferensi terhadap lingkungan dengan rangsangan yang lebih rendah.
Seorang introvert dapat percaya diri berbicara di depan umum, tetapi tetap membutuhkan waktu sendiri setelah acara. Sebaliknya, orang ekstrovert juga dapat memiliki sifat pemalu.
Sikap diam atau memilih menyendiri juga tidak otomatis berarti sombong. Seseorang mungkin hanya sedang mengatur energi dan mencari suasana yang lebih nyaman.
Ciri-Ciri Introvert saat Berada di Keramaian
Beberapa perilaku berikut dapat terlihat ketika introvert berada dalam suasana ramai:
- Memilih duduk di bagian ruangan yang lebih tenang.
- Lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
- Memilih percakapan satu lawan satu.
- Sesekali keluar dari ruangan untuk mencari suasana tenang.
- Sering mengecek waktu karena ingin segera pulang.
- Lebih aktif ketika pembicaraan menyentuh topik yang disukai.
- Membutuhkan waktu sendiri setelah acara selesai.
Perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang bosan atau tidak menghargai acara. Bisa jadi energi sosial mereka sudah mulai berkurang.
Advertisement
Kapan Tidak Suka Keramaian Perlu Diwaspadai?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5547513/original/098524300_1775461049-2149692384.jpg)
Menyukai ketenangan berbeda dengan mengalami kecemasan sosial. Introversi merupakan kecenderungan kepribadian, sedangkan kecemasan sosial dapat melibatkan rasa takut yang berlebihan terhadap situasi sosial dan penilaian orang lain.
Jika seseorang menghindari keramaian karena ketakutan yang sangat kuat, merasa cemas secara berlebihan, atau mengalami gejala fisik seperti jantung berdebar, kondisinya perlu diperhatikan.
Terlebih jika kondisi tersebut mulai mengganggu sekolah, pekerjaan, hubungan keluarga, atau aktivitas sehari-hari. Konsultasi dengan psikolog, dokter, atau tenaga kesehatan jiwa dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.
Tips agar Introvert Tetap Nyaman di Keramaian
Introvert tidak perlu memaksa diri menjadi ekstrovert agar dapat menikmati acara sosial. Beberapa cara sederhana dapat membantu mengurangi rasa lelah.
Pertama, tentukan batas waktu berada di acara. Datang sesuai kebutuhan dan pulang ketika energi mulai menipis merupakan pilihan yang wajar.
Kedua, cari tempat yang lebih tenang ketika suasana mulai terlalu ramai. Mengobrol dengan satu teman dekat juga dapat menjadi pilihan dibandingkan bergabung dengan kelompok besar.
Ketiga, berikan waktu untuk beristirahat setelah acara. Aktivitas sederhana di rumah dapat membantu mengembalikan energi.
Cara Orang Sekitar Memahami Introvert
Keluarga, teman, dan rekan kerja dapat membantu dengan tidak memaksa introvert untuk selalu aktif. Berikan informasi mengenai rencana acara lebih awal agar mereka memiliki waktu untuk mempersiapkan diri.
Dalam rapat atau kelas, kesempatan memberikan pendapat secara tertulis juga dapat membantu. Cara tersebut memberi ruang bagi mereka untuk berpikir sebelum menyampaikan pandangan.
Keputusan pulang lebih awal juga sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bentuk penolakan. Setiap orang memiliki batas energi sosial yang berbeda.
Alasan introvert tidak suka keramaian berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari kepekaan terhadap rangsangan, cara memulihkan energi, hingga preferensi terhadap hubungan sosial yang lebih mendalam.
Introversi bukan kekurangan dan bukan pula tanda seseorang antisosial atau sombong. Memahami perbedaan tersebut dapat membantu introvert dan ekstrovert berinteraksi dengan lebih nyaman.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang Introvert
1. Apakah introvert sama dengan pemalu?
Tidak. Introvert lebih berkaitan dengan preferensi terhadap lingkungan yang minim rangsangan, sedangkan pemalu berkaitan dengan rasa takut terhadap penilaian orang lain.
2. Mengapa introvert cepat lelah setelah bersosialisasi?
Interaksi sosial dan banyaknya rangsangan dapat menguras energi lebih cepat. Karena itu, introvert biasanya membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan tenaga.
3. Apakah introvert tidak punya banyak teman?
Tidak. Introvert tetap dapat memiliki banyak teman, tetapi sebagian lebih nyaman dengan lingkaran pertemanan yang kecil dan dekat.
4. Apakah introvert bisa menjadi ekstrovert?
Seseorang dapat melatih keterampilan sosial dan menjadi lebih nyaman dalam situasi sosial. Namun, kecenderungan dasar kepribadian tidak selalu berubah sepenuhnya.
5. Kapan menghindari keramaian perlu diperhatikan?
Jika menghindari keramaian disebabkan rasa takut atau cemas berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366610/original/070754600_1791272536-cek_fakta_wayan_koster.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497006/original/077149700_1770612558-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T114656.423.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3579753/original/089827300_1632296561-InternetMati1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5561710/original/027708500_1776757647-cek_fakta_bansos_ibu_hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366495/original/028565700_1791269199-pexels-ivan-s-6799972.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355803/original/063065800_1790142086-01M34AZNKW0QQF91EBP9MVK7VH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358312/original/037026900_1790330955-Ciri_Orang_yang_Selalu_Memilih_Duduk_di_Pojok_Kafe_Menurut_Psikologi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356080/original/066106300_1790152350-Untitled1.jpg)