8 Perilaku yang Langsung Membuat Seseorang Terlihat Jahat, Ada yang Kerap Dilakukan Tanpa Sadar

Perilaku yang langsung membuat seseorang terlihat jahat bisa muncul dari kebiasaan kecil saat berinteraksi.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kesan seseorang tidak hanya terbentuk dari penampilan atau cara berbicara, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain. Beberapa perilaku tertentu bahkan dapat membuat seseorang terlihat kejam, tidak berempati, atau sengaja ingin menyakiti orang lain.

Meski begitu, satu tindakan saja belum tentu cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang benar-benar memiliki karakter buruk. Konteks, motif, hubungan antarpihak, serta apakah perilaku tersebut dilakukan berulang kali tetap perlu diperhatikan sebelum menilai karakter seseorang.

Berikut ulasan mengenai perilaku yang langsung membuat seseorang terlihat jahat, dihimpun Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (5/10).

1. Sengaja Merendahkan atau Mempermalukan Orang Lain

Orang yang sengaja merendahkan orang lain, terutama di depan banyak orang, dapat dengan cepat memberikan kesan buruk. Bentuknya bisa berupa menghina kemampuan, mengejek kekurangan, memberikan julukan yang menyakitkan, atau membuat seseorang menjadi bahan lelucon untuk mendapatkan perhatian.

Perilaku seperti ini berbeda dengan candaan biasa karena ada unsur meremehkan atau menjatuhkan orang lain. Sikap menghina, mempermalukan, mengintimidasi, dan meremehkan juga termasuk bentuk perilaku yang dapat muncul dalam kekerasan emosional.

Dalam hubungan sosial, perilaku merendahkan juga dapat mencerminkan contempt, yaitu kecenderungan memandang orang lain lebih rendah, menjaga jarak, atau menganggap mereka tidak layak dihargai. Penelitian menemukan bahwa kecenderungan tersebut berkaitan dengan berbagai pola interpersonal yang tidak sehat.

2. Mengancam atau Sengaja Menakut-nakuti Orang

Seseorang juga bisa langsung terlihat jahat ketika menggunakan ancaman untuk membuat orang lain takut atau tunduk. Ancaman tersebut tidak harus selalu berupa kekerasan fisik, tetapi dapat berupa ancaman meninggalkan, menyebarkan rahasia, merusak reputasi, atau memberikan konsekuensi tertentu jika keinginannya tidak dituruti.

Perilaku mengintimidasi dan menakut-nakuti termasuk bentuk perilaku nonfisik yang dapat digunakan untuk mengontrol orang lain. Ketika dilakukan untuk membuat seseorang merasa tidak aman atau tidak berdaya, perilaku tersebut menjadi jauh lebih serius daripada sekadar menunjukkan kemarahan.

Agresi juga dapat muncul dalam bentuk verbal maupun fisik. Dalam konteks perundungan, misalnya, ancaman, serangan secara verbal, serangan fisik, dan tindakan agresif lain dapat menjadi bagian dari pola perilaku yang merugikan, terutama ketika terdapat ketimpangan kekuatan dan perilaku tersebut berulang.

3. Sengaja Mengucilkan Seseorang untuk Menyakiti

Mengucilkan seseorang dengan sengaja juga dapat membuat seseorang terlihat sangat tidak berempati. Contohnya adalah sengaja tidak mengajak seseorang, membuatnya merasa tidak diterima dalam kelompok, atau menggunakan pertemanan sebagai alat untuk menghukum dan mengendalikan orang lain.

Dalam psikologi sosial, pengucilan dan manipulasi hubungan termasuk bentuk relational aggression. Bentuk agresi ini dapat dilakukan secara tidak langsung melalui pengucilan sosial, penyebaran rumor, maupun manipulasi hubungan.

Karena tidak selalu terlihat seperti serangan langsung, perilaku semacam ini terkadang dianggap sepele. Padahal, penelitian menemukan bahwa berbagai bentuk perundungan, termasuk pengucilan sosial, berkaitan dengan tekanan psikologis dan penurunan kesejahteraan emosional.

4. Menyebarkan Rumor untuk Merusak Reputasi

Menyebarkan rumor atau cerita yang merugikan seseorang dengan tujuan menjatuhkan reputasinya juga dapat membuat pelakunya terlihat kejam. Apalagi jika informasi tersebut disebarkan secara sengaja tanpa memastikan kebenarannya atau digunakan untuk membuat orang lain menjauhi target.

Perilaku seperti ini termasuk agresi relasional, yakni bentuk agresi yang menyerang hubungan sosial atau posisi seseorang dalam kelompok. Penyebaran rumor dan manipulasi hubungan termasuk bentuk agresi tidak langsung yang telah dibahas dalam penelitian mengenai perilaku agresif.

Dampaknya juga tidak berhenti pada reputasi. Studi mengenai agresi relasional menemukan bahwa pengalaman berupa penyebaran rumor, pengkhianatan sosial, dan isolasi dapat menimbulkan perasaan terluka serta kemarahan pada orang yang menjadi sasaran.

5. Memutarbalikkan Fakta agar Orang Lain Meragukan Dirinya

Salah satu perilaku yang dapat membuat seseorang terlihat manipulatif adalah sengaja membuat orang lain meragukan ingatan, pengalaman, atau penilaiannya sendiri. Misalnya, seseorang terus menyangkal kejadian yang sebenarnya terjadi atau mengubah cerita agar pihak lain merasa dirinya yang salah.

Perilaku tersebut dapat masuk dalam kategori gaslighting ketika dilakukan untuk memanipulasi seseorang hingga meragukan persepsi, pengalaman, atau pemahamannya mengenai suatu peristiwa. Istilah ini memang sering digunakan secara luas, sehingga penggunaannya sebaiknya tidak sembarangan untuk setiap perbedaan pendapat.

Manipulasi sendiri secara umum merujuk pada perilaku yang dirancang untuk mengeksploitasi, mengendalikan, atau memengaruhi orang lain demi keuntungan tertentu. Karena itu, tindakan sengaja memutarbalikkan kenyataan demi mendapatkan kendali dapat memberikan kesan buruk yang kuat dalam sebuah hubungan.

6. Memperlakukan Orang Lain dengan Penuh Penghinaan

Tatapan meremehkan, komentar sinis, ejekan berulang, atau sikap seolah-olah orang lain tidak pantas dihargai dapat membuat seseorang terlihat jahat bahkan tanpa melakukan kekerasan. Kesan tersebut semakin kuat ketika perilaku itu ditujukan kepada orang yang dianggap lebih lemah atau tidak memiliki posisi untuk melawan.

Contempt atau penghinaan memiliki karakter yang berbeda dari kemarahan biasa. Kemarahan cenderung berkaitan dengan respons menyerang dalam jangka pendek, sedangkan penghinaan lebih berkaitan dengan penolakan dan pengucilan terhadap orang lain.

Kecenderungan memandang rendah orang lain juga dapat muncul dalam berbagai hubungan sosial. Dalam penelitian mengenai dispositional contempt, kecenderungan tersebut dikaitkan dengan sikap dingin, merasa lebih superior, serta sejumlah kecenderungan interpersonal yang tidak menyenangkan.

7. Menggunakan Kelemahan Orang Lain untuk Mengendalikannya

Seseorang juga bisa terlihat jahat ketika sengaja mencari titik lemah orang lain lalu menggunakannya untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, mengetahui rahasia seseorang kemudian menjadikannya alat untuk menekan, mengancam, atau membuat orang tersebut mengikuti keinginannya.

Manipulasi pada dasarnya berkaitan dengan upaya mengeksploitasi, mengendalikan, atau memengaruhi orang lain demi keuntungan tertentu. Karena itu, tindakan memanfaatkan kerentanan seseorang secara sengaja dapat memberikan kesan bahwa pelaku tidak memperhatikan batasan dan kesejahteraan orang lain.

Pola semacam ini juga dapat muncul dalam hubungan yang tidak sehat bersama perilaku seperti kontrol, manipulasi emosional, gaslighting, penghinaan, kecemburuan berlebihan, dan agresi relasional. Namun, penilaian terhadap sebuah hubungan tetap perlu melihat pola perilakunya secara keseluruhan, bukan hanya satu kejadian.

8. Sengaja Bersikap Agresif kepada Orang yang Tidak Mengancam

Perilaku agresif yang muncul tanpa alasan yang jelas juga dapat membuat seseorang langsung dipandang buruk. Bentuknya bisa berupa membentak, mengancam, mendorong, merusak barang, atau sengaja menunjukkan tindakan yang membuat orang lain merasa terancam.

Agresi tidak hanya berkaitan dengan tindakan fisik. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara agresi dan kecenderungan memandang orang lain secara lebih bermusuhan, sehingga perilaku agresif dapat menjadi bagian dari pola interaksi yang merugikan.

Namun, kemarahan sesaat tetap perlu dibedakan dari pola perilaku agresif. Satu ledakan emosi tidak otomatis menunjukkan seseorang memiliki karakter jahat, sedangkan perilaku yang terus berulang, disengaja, dan diarahkan untuk menyakiti orang lain tentu memberikan gambaran yang berbeda.

Pada akhirnya, perilaku yang membuat seseorang terlihat jahat biasanya bukan sekadar tindakan yang kasar, melainkan cara seseorang memperlakukan orang lain secara sengaja dan berulang. Merendahkan, mengintimidasi, memanipulasi, mengucilkan, atau menyakiti orang lain dapat menjadi tanda adanya pola interaksi yang tidak sehat, tetapi tetap diperlukan konteks sebelum karakter seseorang benar-benar dinilai.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Perilaku yang Langsung Membuat Seseorang Terlihat Jahat

Apakah satu perilaku buruk langsung menunjukkan seseorang itu jahat?

Tidak. Satu tindakan saja belum cukup untuk menilai karakter seseorang. Konteks, motif, frekuensi, dan pola perilaku perlu dipertimbangkan sebelum menarik kesimpulan.

Apa perilaku yang paling mudah membuat seseorang terlihat jahat?

Perilaku seperti sengaja merendahkan, mengancam, mempermalukan, menyebarkan rumor, mengucilkan, atau memanipulasi orang lain dapat dengan cepat memberikan kesan buruk karena melibatkan tindakan yang merugikan atau mengendalikan orang lain.

Apakah orang yang melakukan perilaku tersebut pasti memiliki karakter buruk?

Belum tentu. Perilaku tertentu memang dapat menunjukkan pola interaksi yang tidak sehat, tetapi penilaian karakter sebaiknya tidak didasarkan pada satu kejadian. Perlu dilihat apakah perilaku tersebut disengaja, berulang, dan menjadi pola dalam memperlakukan orang lain.