Alasan Orang Sering Membuka HP saat Sedang Mengantre, Peneliti Ungkap Bukan Sekadar Bosan

Bosan, takut ketinggalan kabar, atau sekadar kebiasaan? Ini alasan orang sering membuka hp saat sedang mengantre menurut berbagai penelitian ilmiah dunia.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Antrean di kasir, loket, atau ruang tunggu hampir selalu dipenuhi orang yang menunduk menatap layar ponsel. Kebiasaan ini memunculkan pertanyaan tentang alasan orang sering membuka hp saat sedang mengantre, padahal belum tentu ada urusan mendesak di dalamnya.

Melansir dari University of Michigan, penelitian Daniel Kruger yang dimuat di Journal of Technology in Behavioral Science menemukan bahwa 62 persen orang yang sedang menunggu memakai ponsel untuk mengisi waktu. Studi Timothy D. Wilson dan kawan-kawan berjudul Just Think: The Challenges of the Disengaged Mind (2014) di jurnal Science juga menunjukkan bahwa banyak orang kurang nyaman bila harus diam bersama pikirannya sendiri.

Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 72,78 persen penduduk telah mengakses internet pada 2024, sedangkan 68,65 persen penduduk sudah memiliki telepon seluler. Berikut adalah alasan orang sering membuka hp saat sedang mengantre dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (5/10/2026).

Mengenal Kebiasaan Membuka HP saat Mengantre

Kebiasaan membuka hp saat mengantre kini terlihat hampir di mana saja, mulai dari bank, minimarket, hingga halte bus. Ponsel selalu ada di saku atau tas, sehingga orang tinggal merogohnya ketika harus menunggu giliran.

Menurut data BPS dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2025, telepon seluler menjadi perangkat yang paling banyak dipakai untuk mengakses internet, yaitu sebesar 99,08 persen. Hiburan juga tercatat sebagai tujuan utama penggunaan internet, dengan angka 87,53 persen pengguna.

Karena itu, wajar bila ponsel menjadi pilihan pertama untuk mengisi waktu kosong. Meski begitu, ada beberapa alasan lain yang lebih dalam, baik dari sisi psikologis maupun kebiasaan sehari-hari.

1. Mengusir Rasa Bosan

Alasan yang paling mudah dikenali adalah rasa bosan. Melansir dari CNN pada 2012, survei Pew Internet & American Life Project menunjukkan bahwa 42 persen pengguna ponsel mengaku memakai ponselnya untuk hiburan saat merasa bosan.

Antrean adalah tempat yang pas untuk munculnya rasa bosan. Orang harus berdiri atau duduk dalam waktu yang sering tidak pasti, dan tidak bisa pergi begitu saja. Ponsel menawarkan video, permainan, dan pesan yang bisa dibuka dalam hitungan detik.

Studi Albert Ksinan dan rekan-rekannya (2021) dari University of Kentucky terhadap 532 dewasa muda, sebagaimana diulas Psychology Today, juga menemukan bahwa rasa bosan berperan dalam penggunaan ponsel yang kompulsif pada kelompok tertentu. Dalam kuesioner penelitian itu, ada pernyataan tentang rasa gelisah ketika harus menunggu, misalnya saat mengantre.

2. Tidak Nyaman Berdiam dengan Pikiran Sendiri

Alasan kedua berkaitan dengan cara kerja pikiran manusia. Dalam penelitian Timothy D. Wilson dan kawan-kawan berjudul Just Think: The Challenges of the Disengaged Mind (2014) di jurnal Science, para peserta diminta duduk sendirian selama 6 sampai 15 menit tanpa melakukan apa pun selain berpikir. Hasilnya, kebanyakan peserta tidak menikmati waktu itu dan lebih senang melakukan kegiatan sederhana di luar pikiran.

Dalam salah satu percobaan, sebagian peserta, terutama pria, bahkan memilih memberi diri sendiri sengatan listrik ringan agar punya kegiatan. Padahal sebelumnya mereka mengaku bersedia membayar agar tidak disetrum lagi. Wilson menduga pikiran manusia memang terbiasa memantau lingkungan sekitar, sehingga sulit untuk terus-menerus berfokus ke dalam.

Meski begitu, tidak semua peneliti sepakat dengan cara membaca temuan tersebut. Sebuah komentar ilmiah di Frontiers in Psychology (2014) menilai sebagian klaim Wilson kurang didukung data. Karena itu, temuan ini lebih tepat dipandang sebagai salah satu penjelasan, bukan satu-satunya.

3. Waktu Terasa Lebih Cepat Berlalu

Ponsel membantu orang merasa waktu tunggu lebih singkat. Pakar manajemen layanan David Maister dalam tulisannya The Psychology of Waiting Lines (1985) menyebut bahwa waktu yang terisi kegiatan terasa lebih pendek daripada waktu yang kosong. Prinsip ini berlaku di mana saja, termasuk di antrean.

Penelitian modern mendukung gagasan tersebut. Studi di Taipei, Taiwan, pada penumpang bus menemukan bahwa penggunaan ponsel untuk hal yang tidak berkaitan dengan perjalanan dapat mengurangi waktu tunggu yang dirasakan. Efeknya lebih terasa pada penumpang muda dan mereka yang tidak mendapat informasi kedatangan bus.

Peneliti Washington State University dalam Journal of Economic Behavior and Organization juga menemukan bahwa orang meminta kompensasi lebih besar untuk menunggu tanpa ponsel dibandingkan dengan menunggu sambil memegang ponsel. Artinya, ponsel membuat waktu menunggu terasa kurang membebani.

4. Takut Ketinggalan Informasi

Alasan berikutnya adalah rasa takut ketinggalan kabar atau yang dikenal dengan istilah fear of missing out (FoMO). Istilah ini diteliti oleh Andrew K. Przybylski, Kou Murayama, Cody R. DeHaan, dan Valerie Gladwell dalam artikel berjudul Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out (2013) di jurnal Computers in Human Behavior.

Seseorang yang merasa takut ketinggalan akan cenderung sering mengecek media sosial dan pesan masuk. Saat mengantre, ada jeda yang terasa pas untuk memastikan tidak ada kabar penting yang terlewat.

Sebuah studi University of Wurzburg, Jerman, bersama Nottingham Trent University, Inggris, atas permintaan perusahaan keamanan siber Kaspersky juga menunjukkan hal serupa. Astrid Carolus dari University of Wurzburg menyebut bahwa semakin sering peserta memakai ponsel, semakin besar pula rasa takut ketinggalan ketika tidak memegangnya.

5. Sudah Menjadi Kebiasaan yang Nyaris Otomatis

Banyak orang membuka ponsel tanpa benar-benar memutuskan untuk melakukannya. Dalam pengamatan Kruger, separuh orang yang memakai ponsel saat menunggu sudah memegangnya sejak tiba. Dari separuh sisanya, 55 persen mulai memakai ponsel dalam 10 detik setelah tiba.

Studi Kaspersky bersama dua universitas tadi memperlihatkan pola yang mirip. Peserta yang ditinggal sendirian di ruang tunggu selama 10 menit rata-rata hanya bertahan 44 detik sebelum menyentuh ponsel. Pria rata-rata bertahan 21 detik, sedangkan wanita 57 detik.

Peserta juga keliru memperkirakan waktu. Kebanyakan mengira mereka baru meraih ponsel setelah dua sampai tiga menit. Selisih ini memberi gambaran bahwa membuka ponsel sering terjadi di luar kesadaran.

6. Ponsel Menyediakan Banyak Kebutuhan dalam Satu Genggaman

Ponsel kini bukan hanya alat telepon. Di dalamnya ada pesan kerja, pemesanan makanan, pembayaran, kalender, peta, hingga hiburan. Saat mengantre, orang bisa memanfaatkan waktu untuk mengurus hal-hal kecil yang tertunda.

Karena kemudahan itu, membuka ponsel sering terasa lebih bermanfaat daripada hanya menunggu. Seseorang bisa membalas pesan, membayar tagihan, atau memeriksa jadwal sambil menunggu giliran dipanggil.

Temuan Penelitian tentang Penggunaan HP saat Menunggu

Beberapa penelitian yang telah dibahas dapat dilihat pada tabel berikut.

Penelitian Cara Penelitian Temuan
University of Michigan (Daniel Kruger) Pengamatan 55 sesi di 18 lokasi di Ann Arbor, Amerika Serikat 62 persen orang yang menunggu memakai ponsel
University of Wurzburg dan Nottingham Trent University Peserta menunggu sendirian selama 10 menit Rata-rata 44 detik sebelum menyentuh ponsel
Washington State University 82 orang dewasa, membandingkan menunggu 30 menit dengan dan tanpa ponsel Menunggu tanpa ponsel dinilai lebih berat
Wilson dan kawan-kawan (Science, 2014) 11 studi, peserta sendirian 6 sampai 15 menit Banyak peserta kurang menikmati waktu hanya untuk berpikir

Apakah Pria dan Wanita Berbeda?

Hasil penelitian tidak selalu sejalan. Dalam pengamatan di tempat umum, Kruger menemukan bahwa wanita lebih sering memakai ponsel saat menunggu daripada pria. Namun, dalam percobaan ruang tunggu Kaspersky, pria justru lebih cepat menyentuh ponsel.

Perbedaan ini bisa terjadi karena situasi penelitiannya berbeda. Satu penelitian mengamati orang di tempat umum, sedangkan yang lain menempatkan peserta sendirian di ruangan. Jadi, kebiasaan membuka ponsel tampaknya dipengaruhi banyak hal, bukan hanya jenis kelamin.

Manfaat dan Risiko Membuka HP saat Mengantre

Membuka ponsel saat mengantre tidak selalu buruk. Penelitian Jun Hyeong Jeong, Jong-Oh Lee, dan Sunro Lee (2014) di Korea Selatan menemukan bahwa pengguna ponsel punya pengalaman menunggu yang lebih positif daripada mereka yang membaca koran atau majalah, menonton televisi, maupun tidak melakukan apa-apa.

Meski begitu, ada sisi yang perlu diwaspadai. Kemenkes RI menyebut paparan gawai yang terlalu lama dapat menimbulkan sakit kepala, pegal di sekitar alis, pelipis, dahi, atau leher, mata lelah, penglihatan berbayang, mata berair, hingga penglihatan buram. Kemenkes menyarankan untuk mengurangi waktu penggunaan gawai dan segera memeriksakan diri ke dokter mata bila gejala muncul.

Kruger juga mengkhawatirkan dampak sosialnya. Menurutnya, bila semua orang sibuk dengan layar, kesempatan berinteraksi dengan orang di sekitar bisa berkurang. Informasi ini bukan pengganti konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Tips Mengatur Kebiasaan Membuka HP saat Mengantre

Ada beberapa cara sederhana agar kebiasaan ini tetap sehat. Pertama, sadari dulu kapan tangan mulai meraih ponsel tanpa tujuan jelas. Kedua, pakai waktu antre untuk hal yang benar-benar berguna, seperti membalas pesan penting atau memeriksa jadwal.

Ketiga, sesekali angkat kepala dan perhatikan sekitar atau ajak orang di sebelah berbincang singkat. Keempat, istirahatkan mata dengan melihat ke tempat yang jauh setelah beberapa saat menatap layar. Dengan begitu, ponsel tetap menjadi alat bantu, bukan satu-satunya cara mengisi waktu.

Pertanyaan dan Jawaban Orang Sering Membuka HP saat Sedang Mengantre

1. Apa alasan orang sering membuka hp saat mengantre?

Alasan utamanya adalah rasa bosan, ketidaknyamanan berdiam dengan pikiran sendiri, dan keinginan agar waktu terasa lebih cepat. Selain itu, ada rasa takut ketinggalan informasi dan kebiasaan yang berjalan hampir otomatis.

2. Seberapa banyak orang memakai ponsel saat menunggu?

Pengamatan peneliti University of Michigan menemukan 62 persen orang yang sedang menunggu memakai ponsel. Angka ini berasal dari pengamatan di tempat umum di Ann Arbor, Amerika Serikat.

3. Apakah memakai ponsel membuat waktu tunggu terasa lebih singkat?

Beberapa penelitian menunjukkan demikian. Studi pada penumpang bus di Taipei dan percobaan Washington State University menemukan bahwa ponsel dapat mengurangi beban menunggu.

4. Apa itu FoMO?

FoMO atau fear of missing out adalah rasa takut tertinggal kabar atau kegiatan orang lain. Perasaan ini mendorong seseorang sering mengecek ponsel agar tidak melewatkan informasi.

5. Bagaimana agar tidak terlalu sering membuka ponsel saat mengantre?

Sadari dorongan untuk meraih ponsel, gunakan ponsel hanya untuk keperluan penting, dan sesekali perhatikan sekitar. Jika mata terasa lelah atau kepala pusing, kurangi penggunaan dan periksakan diri ke dokter.