Ciri Orang yang Selalu Cek Saldo Rekening Tiap Hari Menurut Psikologi, Kamu Termasuk?

Kenali ciri orang yang selalu cek saldo rekening tiap hari menurut psikologi, mulai dari penyebab, dampak ke mental, hingga cara menyeimbangkannya.

Diterbitkan 04 Oktober 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pernah nggak kamu membuka aplikasi bank hanya untuk melihat angka yang belum berubah sejak sejam lalu? Kebiasaan kecil ini ternyata punya penjelasan menarik, dan jadi dasar untuk mengupas ciri orang yang selalu cek saldo rekening tiap hari menurut psikologi.

Buat sebagian orang, mengecek saldo adalah cara menjaga kontrol dan rasa aman. Buat sebagian lain, kebiasaan itu justru sinyal dari kecemasan finansial yang lebih dalam.

Dilansir dari Simply Psychology, kecemasan finansial ditandai oleh kekhawatiran berlebihan, rasa takut, dan penghindaran, serta kewaspadaan berlebih yang membuat seseorang memantau uang dan mengecek saldo secara kompulsif. Dari sudut pandang inilah kita bisa memahami ciri orang yang selalu cek saldo rekening tiap hari menurut psikologi secara lebih utuh.

Apa Arti Kebiasaan Cek Saldo Setiap Hari dalam Psikologi

Secara sederhana, cek saldo tiap hari berarti rutin memantau uang yang masuk dan keluar dari rekeningmu. Pada porsi yang sehat, kebiasaan ini justru bagus, kamu jadi sadar arus kas dan cepat menyadari transaksi mencurigakan.

Bedanya, sebagian orang mengecek karena dorongan cemas yang sulit ditahan, bukan karena butuh data baru. Marter, pakar kesehatan dan kesejahteraan finansial, dikutip dari Discover menyatakan, "Kecemasan finansial adalah tekanan emosional jangka panjang terkait uang dan utang, biasanya berlangsung enam bulan atau lebih." 

Berdasarkan uraian Choosing Therapy, kecemasan uang bisa memicu perilaku obsesif-kompulsif, seperti terus memikirkan saldo dan tagihan lalu mengecek akun finansial berulang kali. Di titik ini, aktivitas yang tampak sepele bisa berubah jadi ritual yang menyita energi.

Ciri Orang yang Selalu Cek Saldo Rekening Tiap Hari Menurut Psikologi

Ciri paling kentara adalah dorongan mengecek berulang demi rasa aman, bukan demi informasi baru. Kamu tahu angkanya tidak berubah, tapi tetap membuka aplikasi karena butuh kepastian bahwa uang masih ada, dan itu terjadi berkali-kali dalam sehari.

Ciri kedua, saldo diperlakukan seperti rapor harga diri. Banyak orang tanpa sadar mengaitkan saldo rekening dengan nilai diri, angka tinggi terasa seperti "aku baik-baik saja", angka rendah terasa seperti "aku gagal".

Amanda Clayman, seorang terapis keuangan, dikutip dari Vice menyatakan, "Karena uang menyentuh begitu banyak aspek hidup kita, kita memproyeksikan begitu banyak makna pribadi ke dalamnya."

Ciri berikutnya bersifat fisik dan emosional. Perut mendadak mules saat aplikasi bank terbuka, badan menegang, tidur terganggu, dan gampang lelah adalah tanda tubuhmu ikut bereaksi terhadap angka di layar. 

Yang menarik, banyak ciri orang yang selalu cek saldo rekening tiap hari menurut psikologi tetap muncul meski kondisi keuangan sebenarnya aman. Dorongan mengecek sulit ditahan walau kamu tahu tidak ada yang berubah, dan kebiasaan memantau terus-menerus justru bukan menenangkan kecemasan, melainkan diam-diam memperbesarnya.

Akar Psikologis di Balik Kebiasaan Ini

Dari mana pola ini berasal? Sering kali akarnya jauh ke masa kecil. Stres soal uang biasanya punya "cerita" yang tertanam kuat sejak lama, kerap berasal dari sesuatu yang seseorang amati sepanjang masa kecilnya, misalnya melihat orang tua kesulitan membayar tagihan. Di sebagian keluarga, aturan "kita tidak membicarakan uang" justru menumbuhkan rasa malu, kerahasiaan, dan kecemasan.

Penelitian psikologi juga menunjukkan bahwa perilaku uang kerap "diwariskan" dari pengalaman kecil. Jika kamu tumbuh di rumah yang penuh ketegangan soal uang, sistem sarafmu belajar mengasosiasikan "keuangan" dengan "bahaya." Orang dengan kelekatan cemas terhadap uang cenderung mengecek rekening bukan karena perlu, melainkan demi penenang bahwa uangnya masih ada.

 Itu sebabnya orang berpenghasilan besar pun bisa tetap waswas. Sebagaimana dikutip dari Psychology Today, menambah uang sering kali tidak menyelesaikan pertanyaan lebih dalam yang sejak awal kita lekatkan pada uang.

Kapan Cek Saldo Berubah Jadi Tanda Masalah

Bagaimana membedakan kebiasaan wajar dari tanda masalah? Kuncinya ada pada dorongan dan rasa lega yang cuma sesaat. Kamu merasa tertarik ke ritual mengecek, logika sempat membantu, tetapi kecemasan benar-benar mereda hanya setelah kamu mengecek, itu pun sementara. Untuk kecemasan finansial yang menetap, akar persoalannya kerap bukan angka.

Riset menunjuk pada intolerance of uncertainty, yaitu sulitnya menoleransi kondisi "tidak tahu". Kekhawatiran ini bisa masuk kategori klinis bila berlangsung hampir tiap hari selama enam bulan atau lebih, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari. 

Ada juga istilah money dysmorphia, yaitu merasa bokek padahal kondisi keuangan objektifnya baik-baik saja. Mengacu pada survei Credit Karma, 82% orang yang mengalaminya merasa tertinggal secara finansial, padahal hampir seperempatnya punya tabungan di atas 30.000 dolar AS.

 Kalau kecemasan sudah mengganggu tidur dan konsentrasi, jangan diremehkan. Dr. Brad Klontz, psikolog finansial, dikutip dari CNBC menyatakan, "Kemungkinan besar situasi keuanganmu tidak akan membunuhmu, tetapi stres finansialmu bisa."

 

Dampak ke Kesehatan Mental dan Dompet

Dampaknya nyata, terutama ke kesehatan mental. Joseph Trunzo, psikolog klinis dan profesor psikologi, dikutip dari Bryant News menyatakan, "Kecemasan uang yang kronis dapat mengikis harga diri, memicu rasa malu, dan berujung pada isolasi."

Secara fisik, kamu bisa mengalami sulit tidur, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, sakit kepala, gangguan pencernaan, atau kelelahan.

Ironisnya, terlalu sering mengecek saldo dan berita ekonomi bisa membuat otak terus siaga, sehingga makin sulit berpikir jernih dan mengelola emosi.

Kamu tidak sendirian menghadapi ini. Sebagaimana disampaikan American Psychiatric Association, sekitar 59% orang dewasa mengaku cemas soal keuangan pribadi mereka.

Cara Menyeimbangkan Kebiasaan Cek Saldo Tanpa Cemas

Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa ditata ulang. Langkah pertama, tetapkan jadwal, cukup cek saldo sekali sehari dan sediakan "jendela khawatir" sekitar 15 menit khusus untuk urusan uang.

Langkah kedua, matikan notifikasi yang tidak penting dan sisakan hanya peringatan krusial, seperti indikasi penipuan atau saldo minus. Langkah ketiga, tunda keputusan finansial besar setidaknya 24 jam setelah lonjakan cemas, supaya emosimu sempat mereda dan kamu bisa berpikir lebih rasional. Langkah keempat, saat panik datang, coba aktivitas menenangkan seperti mengatur napas, berjalan sebentar, atau menulis jurnal agar sistem sarafmu kembali tenang.

Kalau pola ini terus mengganggu, tidak ada salahnya minta bantuan profesional seperti terapis keuangan. Salah satu pertanyaan yang bisa kamu ajukan ke diri sendiri adalah apakah kamu merasa nyaman dengan hubunganmu dengan uang, dan jika jawabannya tidak, itu sinyal untuk bicara ke ahli. Wasserman, seorang terapis keuangan, dikutip dari Yahoo Finance menyatakan, "Sama seperti saat butuh perbaikan dalam hubungan, pola makan, atau olahraga, kamu berkonsultasi dengan ahli; begitu pula dengan hubunganmu dengan uang."

Pada akhirnya, memahami ciri orang yang selalu cek saldo rekening tiap hari menurut psikologi membantumu jujur pada diri sendiri, apakah kebiasaan itu menenangkan atau justru menguras. Kalau masih dalam batas sehat, pertahankan sebagai bentuk kesadaran finansial. Namun bila sudah dikendalikan rasa cemas, latih pelan-pelan untuk membiarkan angka itu terasa cukup tanpa harus menunggu rasa takut ikut menyetujuinya.