Liputan6.com, Jakarta Pernahkah kamu menunda checkout hanya untuk membuka tab baru dan mengetik kata "kupon"? Kebiasaan kecil itu ternyata punya penjelasan menarik, dan cari tahu tentang ciri orang yang selalu cari kode promo belanja menurut psikologi.
Bagi sebagian orang, menemukan potongan harga terasa seperti kemenangan kecil, bukan sekadar menghemat uang. Di titik inilah perilaku berburu diskon mulai berhubungan erat dengan cara kerja otak dan tipe kepribadian.
Berdasarkan data Statista, sekitar 68 persen pembeli mengaku membeli barang yang tidak mereka rencanakan hanya karena barang tersebut sedang diskon. Fakta itu membuka jalan untuk memahami ciri orang yang selalu cari kode promo menurut psikologi secara lebih utuh.
Advertisement
Apa Itu Kebiasaan Berburu Kode Promo sebelum Belanja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315628/original/030907400_1785844084-10054.jpg)
Sebelum masuk ke cirinya, kamu perlu paham dulu istilah dasarnya. Berburu kode promo adalah kecenderungan konsumen untuk aktif mencari potongan harga, kupon, atau voucher sebelum menyelesaikan pembelian, bukan menerima harga apa adanya.
Dalam kajian pemasaran, kecenderungan ini dikenal sebagai coupon proneness. Riset dalam Journal of Promotion Management membahas perilaku konsumen dalam mencari informasi promosi serta penggunaan kupon, termasuk karakteristik dan motivasi pengguna kupon.
Contoh sederhananya, bayangkan kamu hendak membeli sepatu. Sebelum membayar, kamu mengecek marketplace lain, membandingkan harga sebelum membeli, lalu meluangkan waktu untuk menemukan cara mendapatkan promo belanja yang masih berlaku. Perilaku itulah yang menjadi inti pembahasan kita.
Advertisement
Ciri Orang yang Selalu Cari Kode Promo sebelum Belanja Menurut Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365224/original/050281700_1791161913-pexels-karola-g-4968388.jpg)
Ciri pertama justru berlawanan dengan asumsi umum bahwa mereka boros. Menurut teori psikologi, orang lebih mungkin menukar kupon jika mereka lebih tinggi pada sifat keteraturan, disiplin diri, dan kehati-hatian, serta lebih rendah pada sifat kurang menahan diri. Jadi, ciri orang yang selalu cari kode promo sebelum belanja menurut psikologi sering kali melekat pada pribadi yang terencana dan cermat mengelola uang.
Ciri kedua, mereka menikmati sensasi "menang". Bukan cuma soal angka yang hemat, tetapi juga perasaan pintar karena berhasil mendapat harga terbaik, dan banyak dari mereka senang membagikan temuan diskon ke teman atau media sosial sebagai bentuk pengakuan sosial yang memperkuat rasa suka mereka terhadap penawaran bagus. Kebiasaan ini bukan sekadar iseng; sebagian menjadikannya rutinitas untuk berburu promo secara cermat.
Ciri ketiga adalah sensitif terhadap harga sekaligus terhadap waktu. Menariknya, ketertarikan terhadap kupon dapat berbeda pada setiap konsumen. Seperti dikutip dari Inc., Susan Lee menyebut bahwa orang yang menghargai waktunya belum tentu ingin menghabiskannya untuk menggunting kupon. Lee mengelompokkan pembeli berdasarkan apa yang paling mereka hargai, yaitu waktu, pengalaman merek, atau harga murah itu sendiri.
Ciri keempat, diskon membantu meredakan rasa bersalah saat berbelanja. Kupon atau diskon membantu meredakan perasaan negatif seperti rasa bersalah yang mudah muncul ketika seseorang mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Konsekuensinya, pemburu diskon cenderung lebih mudah berpindah merek asalkan ada potongan harga yang menarik. Ciri orang yang selalu cari kode promo menurut psikologi ini pun bisa muncul lintas usia, dari mahasiswa hingga kepala keluarga.
Kenapa Otak Mudah Tergoda Saat Melihat Diskon
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5322655/original/038668700_1755751548-pexels-n-voitkevich-6214476.jpg)
Alasan utamanya ada pada sistem penghargaan otak. Sebagaimana dijelaskan Rockland Trust, diskon saat berbelanja dapat memicu pelepasan dopamin, neurotransmiter yang berperan dalam sistem penghargaan otak dan menimbulkan rasa senang serta kepuasan. Bahkan, riset ekonomi perilaku menunjukkan bahwa menghemat uang melepaskan dopamin dan oksitosin, zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan percaya.
Faktor kedua adalah anchoring. Otak manusia buruk dalam menilai nilai absolut, tetapi sangat jago menilai nilai relatif dengan membandingkan satu angka dengan angka lain, sebuah konsep yang dipelajari mendalam oleh psikolog Amos Tversky dan Daniel Kahneman. Harga awal yang dicoret menjadi jangkar, sehingga harga baru terasa jauh lebih murah.
Ada juga sisi "rasa sakit" saat membayar. Harga yang tinggi bisa mengaktifkan bagian otak yang memproses rasa sakit, dan ketika harga dipangkas, aktivitas di area itu menurun. Ditambah rasa takut ketinggalan alias FOMO, keyakinan bahwa kita mungkin kehilangan penawaran bagus memicu kecemasan yang justru mendorong pembelian, dan pemasar memanfaatkannya lewat prinsip kelangkaan seperti frasa penawaran terbatas. Karena itu, memahami menghitung diskon dengan benar sangat membantu agar tidak mudah terkecoh.
Terakhir, ada efek framing. Sejumlah riset pemasaran menunjukkan bahwa format diskon dapat memengaruhi daya tarik suatu penawaran. Diskon dalam bentuk persentase cenderung lebih menarik untuk barang berharga lebih rendah, sedangkan potongan nominal dapat lebih efektif pada barang dengan harga lebih tinggi. Inilah kenapa "diskon 10 persen" dan "potongan sekian ratus ribu" bisa terasa berbeda meski nilainya sama.
Advertisement
Manfaat dan Sisi Positif dari Kebiasaan Ini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5322656/original/064757800_1755751550-pexels-cottonbro-5076511.jpg)
Manfaat utama kebiasaan ini bagi pengguna adalah penghematan yang nyata jika dijalankan dengan disiplin. Dalam praktiknya, generasi milenial memandang kupon dan kode promo sebagai bagian dari strategi belanja cerdas, bukan sekadar bonus, sehingga mereka menjadi pemburu diskon yang proaktif. Kamu bisa menerapkan pola serupa dengan mempelajari trik belanja lebih murah di platform favoritmu.
Manfaat kedua, kebiasaan ini membuat konsumen lebih berani mencoba hal baru. Sekitar 80 persen konsumen mengaku mau mencoba merek baru bila ditawari diskon, karena diskon menekan rasa enggan seseorang terhadap ketidakpastian. Artinya, kode promo bisa menjadi jembatan untuk menemukan produk yang lebih cocok atau lebih murah.
Mengutip survei RetailMeNot, 94 persen pembeli online mencari diskon atau penawaran, sementara hampir 20 persen responden mengaku mendapatkan sebuah deal membuat mereka sama antusiasnya seperti saat merencanakan liburan. Angka itu menegaskan bahwa memburu potongan harga dan cashback sudah menjadi kebiasaan mayoritas pembeli, bukan perilaku segelintir orang.
Ketika Berburu Kode Promo Berubah Jadi Jebakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4501395/original/089102500_1689244651-laptop-shopping-bags-online-shopping-concept.jpg)
Sisi lain yang perlu kamu waspadai adalah pembelian berlebih. Tawaran seperti beli tiga gratis satu atau diskon saat membeli banyak membuat konsumen mudah membeli jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan hanya demi mendapatkan potongan itu. Hemat di harga satuan, tapi total pengeluaran justru membengkak.
Merujuk survei Consumer Reports terhadap 1.021 konsumen perempuan di Amerika Serikat, 23 persen mengaku terkadang membeli barang yang tidak mereka butuhkan hanya karena sedang diskon. Sebanyak 80 persen juga tetap akan berburu penawaran meski uang bukan masalah bagi mereka. Ini menandakan dorongannya sering bersifat emosional, bukan murni kebutuhan.
Dilansir dari Psychology Today, riset menunjukkan bahwa orang cenderung menikmati penawaran menarik meski tidak selalu memperoleh keuntungan finansial. Rasa antusias terhadap sebuah bargain juga dapat mengganggu kemampuan menilai apakah penawaran tersebut benar-benar menguntungkan. Karena itu, biasakan menghitung persen diskon agar tahu berapa penghematan yang sesungguhnya kamu dapat.
Advertisement
Tips Belanja Cerdas biar Kode Promo Tetap Menguntungkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3132819/original/013121200_1589889541-buy-3692440_1920.jpg)
Langkah pertama memahami cara belanja yang sehat adalah menyadari mekanismenya. Cara terbaik melindungi diri adalah kesadaran, karena ketika kamu paham kenapa sebuah diskon terasa menyenangkan, kamu bisa berhenti sejenak dan menimbang apakah barang itu benar-benar layak dibeli atau hanya sensasi menghemat semata.
Tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu menginginkan barangnya atau sekadar diskonnya. Selanjutnya, beri jarak sebelum memutuskan. Salah satu tips sederhana yang efektif adalah menunggu sekitar 24 jam sebelum membeli sesuatu secara impulsif. Setelah itu, bandingkan harga antartoko, cek cara menggunakan kode promo yang benar, dan buru kode promo dari kreator saat momen live atau flash sale supaya potongannya maksimal.
Pada akhirnya, kebiasaan mencari kode promo bukanlah hal buruk selama kamu memegang kendali, bukan sebaliknya. Kenali dorongan dopamin, jangkar harga, dan tekanan FOMO di balik setiap tawaran, lalu jadikan pemahaman itu senjata untuk berbelanja lebih cerdas dan tetap sesuai kebutuhan.
Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Selalu Cari Kode Promo Belanja
Apa yang membuat orang tertarik membeli barang saat diskon?
Diskon dapat memberikan rasa senang dan kepuasan karena konsumen merasa mendapatkan keuntungan. Penawaran menarik juga dapat memicu rasa antusias, bahkan ketika barang tersebut sebenarnya tidak termasuk dalam rencana belanja.
Mengapa diskon bisa mendorong pembelian yang tidak direncanakan?
Harga yang lebih rendah dapat membuat konsumen merasa sayang melewatkan kesempatan. Rasa urgensi dan keinginan mendapatkan keuntungan membuat seseorang lebih mudah membeli barang secara spontan tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya.
Apakah semua orang tertarik menggunakan kupon atau berburu diskon?
Tidak. Ketertarikan terhadap kupon dan diskon berbeda pada setiap orang. Konsumen yang lebih menghargai waktu dapat menganggap mencari atau menggunakan kupon tidak sepadan dengan waktu yang harus mereka keluarkan.
Apakah mendapatkan diskon selalu berarti konsumen lebih hemat?
Tidak selalu. Diskon hanya menghemat uang jika barang tersebut memang dibutuhkan atau sudah direncanakan untuk dibeli. Membeli barang yang tidak diperlukan hanya karena murah tetap dapat membuat pengeluaran bertambah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539200/original/068068000_1774593463-sapi_kambing_-_klaim_bantuan_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365296/original/064675400_1791170200-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-05T101528.852.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365046/original/083732600_1791097921-cek_fakta_sapi_bebek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360863/original/067393500_1758767787-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-09-25T090726.096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356325/original/041325700_1790159452-01M36SKZJW250TAK5TJFJ42VY5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356333/original/002243700_1790159460-01M36SSAKJWMP57KN5HA0JPKYF.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353861/original/015618900_1789981288-gga2vPoAcsKfT8VxjFihwODoQjS4YxUn1mxCRclR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355802/original/070320200_1790142085-01M34AZ24SD7Q65STMSKGSB2H6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361588/original/049427200_1790739307-HL_Kamar_mandi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5453549/original/060206800_1766481138-Picture1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354889/original/020452800_1790065311-3KdzJ6jXvIEyfiQZxNMEUOXAoCHuuL1k9cVIeUDf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354870/original/097544400_1790065290-2V4wSFwlEnYo3Z1zGjAsA9UVycIZWe3eJRVup8hV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364585/original/093768200_1791010339-204211.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355796/original/004239800_1790142080-01M34AVN741WBX7GD3V20W7WEA.jpg)