7 Ciri Orang yang Enggan Pakai Paylater meski Mampu Menurut Psikologi

Kenali ciri orang yang enggan pakai paylater meski mampu menurut psikologi, mulai dari kontrol diri, orientasi jangka panjang, hingga cara melatihnya.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pernah bertanya-tanya kenapa ada orang dengan saldo cukup, tetapi tetap menolak tombol "bayar nanti" saat checkout? Fenomena ini punya penjelasan menarik, dan mengenali ciri orang yang enggan pakai paylater meski mampu menurut psikologi bisa membuka cara pandang baru soal uang.

Layanan cicilan modern memang dirancang supaya terasa ringan. Berdasarkan laporan Fast Company, layanan bayar-nanti memanfaatkan kecenderungan manusia untuk meremehkan kerugian di masa depan dan melebih-lebihkan kepuasan saat ini.

Namun ada kelompok yang seolah kebal terhadap godaan itu. Lewat ulasan ini, kamu akan mengenali ciri orang yang enggan pakai paylater meski mampu menurut psikologi sekaligus cara melatih pola pikir yang serupa.

Apa Itu Paylater dan Kenapa Sebagian Orang Menolaknya

Sebelum membahas cirinya, pahami dulu istilahnya. Paylater atau buy now, pay later (BNPL) pada dasarnya adalah utang jangka pendek tanpa bunga yang memungkinkanmu membayar sebuah pembelian secara mencicil. Konsepnya sederhana, kamu menikmati barang lebih dulu dan pembayarannya dipecah menjadi beberapa bagian kecil.

Menariknya, tidak semua orang tergoda, sebagian justru menolak paylater walau rekeningnya sanggup. Dalam konteks utang, kecenderungan menghindari kerugian bisa bekerja menguntungkan dan mendorong seseorang untuk tidak berutang sejak awal. Bagi mereka, menghindari cicilan bukan soal tidak punya uang, melainkan sebuah pilihan sadar.

Ciri Orang yang Enggan Pakai Paylater meski Mampu Menurut Psikologi

Ada beberapa pola kepribadian yang khas pada orang seperti ini. Mengenalinya membantumu memahami apakah kamu termasuk tipe tersebut atau ingin menirunya.

Ciri pertama adalah kontrol diri dan kehati-hatian yang tinggi. Dalam psikologi kepribadian, sifat teliti membuat seseorang mampu menahan dorongan sesaat. Tingkat kehati-hatian yang tinggi terbukti menekan kecenderungan belanja sembrono. Dr. Gayle MacBride, psikolog, dikutip dari Parade menyatakan jika saat dewasa, orang-orang ini umumnya mampu menahan pembelian impulsif dan fokus pada prioritas yang lebih besar.

Ciri berikutnya, mereka sangat sensitif terhadap "rasa sakit membayar". Rasa berat saat berpisah dengan uang ini sebenarnya adalah rem psikologis yang menahan seseorang dari belanja berlebihan. Orang yang enggan berutang justru mempertahankan rem itu, sementara paylater dirancang untuk melumpuhkannya.

Mereka juga berorientasi pada tujuan jangka panjang. Orang yang berhasil memenuhi tujuan finansial masa depan umumnya punya dua ciri, yaitu kejelasan tentang apa yang ingin dicapai dan keterlibatan emosional terhadap tujuan itu. Contoh sederhananya, bayangkan kamu sedang menabung untuk dana darurat, godaan cicilan gadget baru jadi terasa tidak sepadan dengan tujuan besar tadi.

Ciri lain yang menonjol adalah ketegasan membedakan kebutuhan dan keinginan. Dengan menyadari bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga, kamu bisa memilah mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang sekadar hasrat sesaat. Barang yang tidak masuk kategori kebutuhan biasanya langsung mereka lewati tanpa drama.

Terakhir, mereka jarang belanja demi gengsi atau validasi. Iklan terus-menerus mengirim pesan bahwa kita butuh pakaian, riasan, atau barang terbaru agar merasa layak dan dicintai. Orang yang enggan pakai paylater cenderung kebal terhadap pesan semacam itu dan tidak menjadikan barang sebagai ukuran harga diri.

Alasan Psikologis di Balik Penolakan Paylater

Kenapa otak sebagian orang menolak sesuatu yang tampak memudahkan? Jawabannya ada pada cara mereka memproses "biaya" dari sebuah pembelian. Kunci pertamanya soal rasa sakit membayar tadi. Abigail Sussman, psikolog kognitif dan konsumen dari University of Chicago, dikutip dari American Psychological Association menyebut jika belanja menjadi lebih mudah ketika rasa sakit saat membayar diperkecil. Paylater bekerja dengan menunda dan memecah pembayaran, sehingga otak nyaris tidak merasakan kehilangan.

Efek pemecahan cicilan ini bukan kebetulan. Joyce Marter, psikoterapis, dikutip dari Psychology Today menyebut jika secara psikologis, empat kali cicilan membuat harga yang mahal terdengar lebih ringan karena tawaran potongan yang terasa terjangkau. Orang yang waspada menyadari trik ini, sehingga tetap melihat harga totalnya, bukan angka cicilannya.

Sifat kepribadian juga berperan besar. Menurut model Big Five, conscientiousness adalah kemampuan mengendalikan impuls dan menunda kepuasan, berorientasi pada tujuan, serta mengikuti norma yang berlaku. Semua ini bermuara pada satu keterampilan mental, yaitu menunda kepuasan. Mengutip St. Louis Fed, menunda kepuasan adalah tindakan menahan dorongan untuk mengambil imbalan yang langsung tersedia demi memperoleh imbalan yang lebih bernilai. Kemampuan inilah yang membuat sebagian orang santai melewatkan promo cicilan.

Manfaat Kebiasaan Ini bagi Kondisi Keuangan dan Mental

Menolak paylater meski mampu ternyata membawa keuntungan nyata. Manfaat utamanya terasa pada dua sisi sekaligus, yaitu dompet dan ketenangan pikiran. Dari sisi keuangan, disiplin ini berhubungan langsung dengan kekayaan. Mengacu pada riset yang dimuat Journal of Economic Psychology, individu dengan skor kontrol diri lebih tinggi mengumpulkan tabungan yang jauh lebih banyak dan memiliki utang kartu kredit yang lebih rendah. Uang yang seharusnya habis untuk cicilan bisa kamu alihkan ke tabungan atau investasi.

Dari sisi mental, hidup tanpa beban cicilan mengurangi kecemasan. Sikap hemat bisa menumbuhkan rasa aman karena ada cadangan untuk keadaan darurat, sekaligus membantu keluarga terhindar dari utang. Contoh nyatanya, saat ada tagihan mendadak, kamu tidak perlu panik mencari dana karena arus kasmu tidak tersandera banyak cicilan.

Cara Melatih Pola Pikir Anti-Paylater

Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dilatih, bukan bakat bawaan. Langkah pertama adalah mengenali pemicu belanja impulsifmu, entah itu stres, bosan, atau promo dadakan. Selanjutnya, beri jarak antara dirimu dan godaan. Menghapus metode pembayaran yang tersimpan di toko online atau dompet digital bisa meredam belanja impulsif. Bahkan hal sesederhana meluangkan waktu untuk berpikir sejenak sebelum memutuskan sudah cukup membuat perbedaan.

Tips praktis berikutnya, biasakan hanya membeli yang sanggup kamu bayar tunai. Alternatif yang lebih sehat daripada paylater adalah membeli hanya yang bisa dibayar tunai dan melunasi kartu kredit secara penuh.

Terakhir, kunci semuanya dengan tujuan finansial yang jelas, karena penting untuk punya kejelasan tentang tujuanmu dan bagaimana tujuan itu mencerminkan nilai-nilai yang kamu pegang.

Waspada, Enggan Berutang Bisa Berubah Jadi Berlebihan

Meski positif, sikap ini punya sisi ekstrem yang perlu diwaspadai. Ketika keinginan akan rasa aman finansial menjadi berlebihan, kondisinya justru bisa mengganggu kestabilan mental. Tandanya bisa berupa kecemasan berlebih setiap kali harus mengeluarkan uang.

Sebagian orang mengalami kecemasan saat mengambil keputusan finansial, karena penghematan yang terlalu ketat mengirim pesan bahwa menabung itu bermoral sedangkan berbelanja itu salah atau berisiko, dan itu memicu stres. Sisi gelapnya, kebiasaan ini bisa berujung pada rasa bersalah hanya karena memanjakan diri, padahal kamu mampu dan barang itu memang berguna. Jadi, kuncinya ada pada keseimbangan.  

Pada akhirnya, enggan memakai paylater meski mampu bukan soal pelit, melainkan cara seseorang menjaga kendali atas uangnya. Kalau kamu ingin meniru pola pikir ini, mulailah dari langkah kecil, kenali godaanmu, beri jeda sebelum membeli, dan pastikan setiap pengeluaran selaras dengan tujuanmu, tanpa harus menyiksa diri saat sesekali menikmati hasil kerja kerasmu.