Liputan6.com, Jakarta - Media sosial memberi kebebasan untuk memilih apa yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Namun, kebebasan tersebut juga membuat seseorang memiliki kendali besar terhadap citra dirinya, mulai dari memilih foto, menyunting keterangan, hingga menghapus unggahan yang dianggap sudah tidak lagi sesuai. Karena itu, kebiasaan sering menghapus postingan terkadang dapat mencerminkan cara seseorang merespons penilaian sosial dan memandang dirinya sendiri.
Meski begitu, tidak tepat menganggap setiap orang yang sering menghapus unggahan sebagai pribadi yang tidak percaya diri atau memiliki masalah psikologis. Alasannya bisa sangat sederhana, seperti perubahan selera, menjaga privasi, merapikan profil, atau merasa unggahan tersebut sudah tidak relevan. Dalam sudut pandang psikologi, perilaku ini lebih menarik ketika dilakukan berulang karena kekhawatiran terhadap bagaimana orang lain melihat dirinya. Berikut penjelasan selengkapnya yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (5/10).
8 Ciri Orang yang Sering Menghapus Postingan di Media Sosial Menurut Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365660/original/059374400_1791187783-323897aa-49b5-4f8c-aaf8-751cdd7dfa8d.jpg)
1. Sangat Memperhatikan Kesan yang Ditimbulkan pada Orang Lain
Orang yang sering menghapus postingan mungkin memiliki perhatian besar terhadap kesan yang muncul dari setiap unggahan. Setelah sebuah foto atau tulisan dipublikasikan, ia dapat kembali melihatnya dari sudut pandang orang lain dan mempertanyakan apakah konten tersebut sudah menggambarkan dirinya dengan tepat.
Kondisi tersebut berkaitan dengan konsep self-presentation, yaitu usaha seseorang mengatur bagaimana dirinya dipersepsikan oleh orang lain. Media sosial membuat proses ini jauh lebih mudah karena pengguna dapat memilih, mengedit, mengganti, bahkan menghilangkan konten yang menurut mereka kurang sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan.
Karena itu, penghapusan postingan tidak selalu berarti seseorang menyesal. Dalam beberapa situasi, tindakan tersebut bisa menjadi bagian dari upaya mengendalikan kesan sosial agar profil terlihat lebih sesuai dengan identitas yang ingin ditampilkan.
2. Cenderung Perfeksionis terhadap Penampilan Diri
Sebagian orang memiliki standar yang sangat tinggi terhadap bagaimana mereka ingin terlihat di hadapan orang lain. Foto harus terlihat bagus, tulisan harus terasa tepat, bahkan detail kecil seperti ekspresi wajah, pencahayaan, atau jumlah respons dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum sebuah unggahan dipertahankan.
Perfeksionisme semacam ini tidak selalu buruk karena dorongan untuk melakukan sesuatu dengan baik dapat membantu seseorang menghasilkan konten yang lebih teratur. Persoalan muncul ketika standar yang tinggi membuat seseorang sulit merasa puas dan terus menemukan kekurangan pada sesuatu yang sebenarnya sudah cukup baik.
Psychology Today membahas hubungan antara perfeksionisme dan kecemasan sosial, terutama ketika seseorang terlalu khawatir terhadap kemungkinan dinilai negatif oleh orang lain. Pola tersebut dapat membuat individu lebih kritis terhadap dirinya sendiri dan lebih banyak memikirkan apakah dirinya sudah memberikan kesan yang tepat.
3. Mudah Memikirkan Kembali Keputusan Setelah Mengunggah
Ada orang yang merasa yakin ketika menekan tombol unggah, tetapi beberapa menit atau jam kemudian mulai meragukan keputusannya. Ia melihat kembali foto, membaca ulang caption, memperhatikan respons orang lain, lalu mulai bertanya-tanya apakah sebaiknya postingan tersebut tetap tersedia.
Kebiasaan semacam ini dapat menunjukkan pola overthinking, terutama ketika penghapusan dilakukan bukan karena alasan praktis, melainkan karena pikiran terus mencari kemungkinan bahwa unggahan tersebut akan menimbulkan kesan yang keliru. Seseorang bisa membayangkan komentar negatif yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat menjadi siklus: unggah, meragukan, menghapus, merasa lega, kemudian kembali melakukan hal serupa pada unggahan berikutnya. Semakin besar perhatian yang diberikan pada kemungkinan penilaian orang lain, semakin sulit seseorang merasa benar-benar yakin terhadap keputusan yang sudah dibuat.
4. Sensitif terhadap Respons dan Penilaian Sosial
Jumlah likes, komentar, reaksi, maupun respons tertentu dapat menjadi faktor yang memengaruhi keputusan untuk mempertahankan sebuah postingan. Bagi sebagian orang, unggahan yang tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan bisa menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana dirinya diterima oleh lingkungan sosial.
Penelitian yang dimuat dalam Frontiers in Psychology menemukan hubungan antara kecemasan sosial, harga diri yang bergantung pada Instagram, serta perilaku mengontrol konten seperti menyunting caption dan foto atau video sebelum maupun ketika membagikan unggahan. Studi tersebut tidak secara khusus membuktikan bahwa menghapus postingan disebabkan kecemasan sosial, tetapi menunjukkan bahwa kebutuhan mengendalikan tampilan diri secara digital memang dapat berkaitan dengan faktor psikologis tertentu.
Karena itu, kebiasaan menghapus postingan sebaiknya tidak langsung ditafsirkan sebagai tanda masalah psikologis. Yang lebih relevan adalah melihat alasan di balik perilaku tersebut, misalnya apakah seseorang sekadar tidak menyukai isi unggahan atau merasa cemas karena memikirkan penilaian dari orang lain.
5. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial membuat perbandingan sosial semakin mudah dilakukan. Seseorang dapat melihat pencapaian teman, penampilan orang lain, perjalanan, pekerjaan, hubungan, hingga gaya hidup hanya dalam beberapa menit.
Perbandingan tersebut terkadang membuat seseorang menilai ulang konten miliknya sendiri. Foto yang sebelumnya dianggap bagus bisa terasa kurang menarik setelah melihat unggahan orang lain yang dianggap lebih estetik atau lebih mendapatkan perhatian. Akhirnya, postingan sendiri dihapus karena terasa tidak cukup baik.
Penelitian yang terdapat dalam American Psychological Association menjelaskan perbandingan sosial di media sosial dan kaitannya dengan berbagai pengalaman psikologis, termasuk cara seseorang menilai dirinya sendiri. Dampaknya tentu berbeda pada setiap individu sehingga hubungan antara media sosial dan kesejahteraan psikologis tidak bisa disederhanakan menjadi satu pola untuk semua orang.
6. Memiliki Kekhawatiran Berlebihan terhadap Penampilan
Sebagian pengguna mungkin lebih sering menghapus foto daripada jenis konten lainnya. Hal tersebut dapat terjadi ketika seseorang sangat memperhatikan bagaimana wajah, tubuh, pakaian, atau penampilannya akan dinilai oleh orang lain.
Kekhawatiran seperti ini dapat mendorong seseorang memilih hanya foto yang dianggap paling aman untuk dipublikasikan. Bahkan setelah unggahan muncul, ia mungkin kembali memperbesar gambar, memperhatikan detail tertentu, lalu merasa ada bagian yang terlihat kurang ideal dan akhirnya menghapusnya.
Riset yang diterbitkan melalui ScienceDirect membahas hubungan antara perbandingan penampilan di media sosial, kecemasan mengenai penampilan, serta perilaku korektif dalam presentasi diri, termasuk penyuntingan swafoto.
7. Ingin Menjaga Privasi dan Mengontrol Informasi Pribadi
Tidak semua alasan menghapus postingan berkaitan dengan rasa tidak percaya diri. Ada orang yang memang semakin selektif terhadap informasi apa saja yang ingin tetap terlihat di internet.
Setelah beberapa waktu, seseorang bisa merasa sebuah foto terlalu pribadi, tidak lagi sesuai dengan kehidupannya, atau memberikan terlalu banyak informasi mengenai aktivitas maupun lingkaran sosialnya. Dalam situasi seperti itu, menghapus postingan justru dapat menjadi keputusan sadar untuk memperketat batas privasi.
Perubahan prioritas juga dapat memengaruhi perilaku tersebut. Orang yang dahulu aktif membagikan kehidupan sehari-hari mungkin kemudian menyadari bahwa tidak semua pengalaman perlu diketahui publik. Jadi, frekuensi menghapus postingan harus dipahami bersama konteks kehidupan dan alasan personal yang menyertainya.
8. Sedang Mengubah Cara Memandang Diri Sendiri
Media sosial juga menjadi tempat seseorang membangun dan memperbarui identitas digital. Ketika pandangan terhadap diri sendiri berubah, postingan lama dapat terasa tidak lagi merepresentasikan siapa dirinya saat ini.
Misalnya, seseorang yang dahulu gemar membagikan aktivitas tertentu bisa menghapus sebagian unggahan setelah memiliki minat, lingkungan sosial, pekerjaan, atau gaya hidup yang berbeda. Ia mungkin ingin membuat profilnya lebih selaras dengan identitas yang sekarang.
Dalam perspektif ini, menghapus postingan justru bisa menjadi bentuk penataan ulang identitas. Perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan rasa tidak aman karena seseorang bisa saja merasa lebih nyaman setelah mengurangi konten lama yang sudah tidak memiliki relevansi dengan dirinya.
Advertisement
Apakah Sering Menghapus Postingan Berarti Tidak Percaya Diri?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219497/original/074308200_1747216220-medium-shot-girl-holding-smartphone.jpg)
Belum tentu. Frekuensi menghapus postingan tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan apakah seseorang percaya diri, cemas, perfeksionis, atau memiliki kondisi psikologis tertentu.
Hal yang lebih penting adalah alasan dan pola di balik perilakunya. Menghapus foto karena kualitas gambar buruk jelas berbeda dengan menghapus foto karena berulang kali takut ditertawakan, takut dianggap tidak menarik, atau terus-menerus merasa penampilan diri tidak cukup baik.
Konteks juga memiliki peran besar. Seseorang mungkin sangat selektif di media sosial tetapi tetap percaya diri dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, orang yang jarang menghapus postingan pun belum tentu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Karena itu, perilaku digital sebaiknya dilihat sebagai salah satu bagian kecil dari pola psikologis seseorang, bukan sebagai alat untuk memberikan label.
Kapan Kebiasaan Menghapus Postingan Perlu Diperhatikan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227870/original/095342200_1747824429-steptodown.com663981.jpg)
Kebiasaan tersebut lebih layak diperhatikan ketika mulai mengganggu aktivitas atau membuat seseorang mengalami tekanan emosional yang berulang. Misalnya, seseorang menghabiskan banyak waktu memeriksa unggahan, terus-menerus mengedit foto, merasa sangat cemas setelah mendapatkan sedikit respons, atau menghindari berbagi sesuatu karena takut dinilai.
Perhatian juga diperlukan apabila harga diri semakin bergantung pada respons digital. Ketika jumlah likes atau komentar mulai menentukan apakah seseorang merasa dirinya berharga, diterima, atau cukup menarik, media sosial dapat menjadi sumber tekanan yang lebih besar.
Dalam kondisi seperti itu, langkah awal yang bisa dilakukan adalah memperhatikan pola pemicunya. Catat apa yang biasanya membuat ingin menghapus postingan, pikiran apa yang muncul setelah mengunggah, dan apakah keputusan menghapus benar-benar berasal dari keinginan pribadi atau lebih banyak didorong rasa takut terhadap penilaian orang lain.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Sering Menghapus Postingan di Media Sosial
Apakah sering menghapus postingan merupakan tanda insecure?
Tidak selalu. Kebiasaan tersebut bisa disebabkan banyak hal, termasuk perubahan selera, menjaga privasi, mengatur tampilan profil, perfeksionisme, atau kekhawatiran terhadap penilaian sosial.
Mengapa seseorang menghapus postingan setelah mendapat sedikit likes?
Respons yang rendah dapat membuat sebagian orang mempertanyakan bagaimana kontennya diterima. Namun, tidak semua orang memaknai jumlah likes dengan cara yang sama.
Apakah perfeksionisme bisa membuat seseorang sering menghapus foto?
Bisa saja, terutama ketika seseorang memiliki standar sangat tinggi terhadap penampilan atau citra dirinya dan sulit merasa puas dengan hasil yang dianggap belum sempurna.
Apakah menghapus postingan berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan?
Tidak. Satu perilaku saja tidak cukup untuk menunjukkan adanya gangguan kecemasan karena diperlukan pemahaman terhadap gejala, intensitas, durasi, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Bagaimana cara berhenti terlalu memikirkan postingan yang sudah diunggah?
Cobalah menentukan alasan yang jelas sebelum menghapus, membatasi kebiasaan mengecek respons, dan menerima bahwa tidak semua unggahan harus memenuhi standar sempurna atau disukai semua orang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4854795/original/015060900_1717646117-cek_fakta_antam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365462/original/088186900_1791179107-HOAX__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173559/original/021886800_1742872977-cek_fakta_jemput.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539200/original/068068000_1774593463-sapi_kambing_-_klaim_bantuan_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365659/original/019005300_1791187719-838f35a7-684a-42b6-9bda-81c5d7af9ae5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)