Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda merasa tidak nyaman setelah mengobrol dengan seseorang? Bisa jadi penyebabnya adalah ucapan orang kecerdasan sosial rendah yang tanpa sadar menyinggung, meremehkan, atau membuat lawan bicara merasa tidak didengar sama sekali.
Kecerdasan sosial adalah kemampuan membaca situasi, memahami perasaan orang lain, dan menyesuaikan cara bicara. Ketika kemampuan ini lemah, kalimat yang keluar cenderung defensif, menghakimi, atau sekadar menutup percakapan dengan cepat.
Ulasan psikologi di OKDiario dan Eluxe Magazine menyebut bahwa pola kalimat tertentu dapat mengungkap tingkat kepercayaan diri, empati, dan kesadaran sosial seseorang. Mari kenali daftarnya agar Anda bisa menghindarinya dan berkomunikasi dengan lebih bijak, Liputan6.com, Rabu (7/10/2026).
Advertisement
1. "Terserah" (Whatever)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5214924/original/068790900_1746783889-upset-man-apologizing-woman-white.jpg)
Kata ini terdengar sepele, tetapi dampaknya besar. OKDiario menjelaskan bahwa kata ini biasanya dipakai untuk menghindar saat seseorang tidak ingin terlibat, sehingga tampak apatis. Lawan bicara pun merasa pendapatnya tidak penting.
Jika Anda lelah atau butuh jeda, katakan terus terang: "Saya perlu waktu untuk memikirkan ini, bisa kita lanjutkan nanti?" Kalimat itu jauh lebih sopan daripada satu kata yang dingin.
2. "Saya Bukan Tipe Orang yang Suka Bergaul"
Kalimat ini sering dipakai sebagai alasan menghindari interaksi. Padahal, menurut OKDiario, ungkapan ini justru bisa membuat pembicaranya makin terisolasi di lingkungan seperti tempat kerja atau acara komunitas.
Label seperti ini menjadi pembenaran untuk berhenti belajar. Keterampilan sosial bisa dilatih. Mulailah dari menyapa rekan kerja, mengajukan satu pertanyaan, atau mendengarkan cerita orang lain sampai selesai.
3. "Itu Bukan Urusan Saya"
Ucapan ini terdengar tegas, tetapi sering terasa dingin. Eluxe Magazine menilai kalimat ini mencerminkan kurangnya empati dan tanggung jawab, sehingga orang lain merasa tidak didukung dan terisolasi.
Tidak semua masalah harus Anda selesaikan, tetapi Anda bisa menolak tanpa terkesan tidak peduli: "Saya mungkin tidak bisa membantu langsung, tapi saya paham ini berat buatmu."
Advertisement
4. "Tenang Dong" atau "Jangan Lebay"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4570090/original/095771400_1694341012-brooke-cagle-g1Kr4Ozfoac-unsplash.jpg)
Orang yang sedang emosi biasanya makin kesal saat disuruh tenang. Eluxe Magazine menyarankan agar kita mengakui perasaan orang tersebut dan menunjukkan empati, karena cara ini cenderung menghasilkan percakapan yang lebih tenang dan konstruktif.
Coba ganti dengan, "Aku lihat kamu sangat kesal, ceritakan apa yang terjadi." Dengan begitu, orang merasa dipahami sebelum diajak mencari solusi.
5. "Terserah Kamu Saja"
Kalimat ini tampak seperti mengalah, tetapi sering menyimpan nada sinis. Pengucapnya biasanya ingin mengakhiri perdebatan tanpa benar-benar menerima pendapat lawan bicara.
Sebagai gantinya, Eluxe Magazine menawarkan alternatif seperti "I respect your viewpoint" atau "Let's agree to disagree". Dalam bahasa kita: "Saya menghargai pandangan Anda" atau "Mari kita sepakat untuk berbeda pendapat."
6. "Bukan Maksud Menyinggung, Tapi..."
Frasa ini sering dianggap sebagai pelindung sebelum melontarkan kritik. Seorang konselor yang menulis di Eluxe Magazine menyebut kalimat ini pada dasarnya adalah peringatan bahwa sesuatu yang menyinggung akan segera menyusul.
Begitu lawan bicara merasa diserang, ia berhenti mendengarkan. Fokuslah pada situasinya, bukan pribadinya: "Saya melihat laporan ini belum lengkap, bisa kita cek bersama?"
7. "Kamu Terlalu Sensitif"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348457/original/081284100_1789444660-anthony-tran-3B6RfJQKBEM-unsplash.jpg)
Kalimat ini memindahkan kesalahan dari pembicara kepada pendengar. Alih-alih bertanya mengapa ucapannya melukai, orang justru menyalahkan reaksi lawan bicaranya, sehingga orang enggan terbuka lagi.
Kecerdasan sosial berarti menyadari bahwa dampak ucapan sama pentingnya dengan niatnya. Tanyakan dengan tulus, "Bagian mana yang menyakitkan?" Langkah ini menunjukkan tanggung jawab dan memperbaiki hubungan lebih cepat.
8. "Itu Bukan Salah Saya"
Tidak ada yang suka disalahkan, tetapi mengucapkan kalimat ini secara refleks bisa jadi masalah. Artikel Eluxe Magazine tentang 10 frasa komunikasi buruk menyebutnya sebagai tanda keterampilan sosial yang kurang, karena percakapan jadi berpusat pada diri sendiri dan menempatkan pembicara sebagai korban.
Orang yang matang secara sosial mengakui perannya, sekecil apa pun. Misalnya, "Saya ikut berkontribusi pada masalah ini, mari kita cari jalan keluarnya."
9. "Saya Tidak Peduli"
Kalimat "I don't care" mungkin diucapkan santai, tetapi bisa juga menjadi tanda keterampilan sosial yang buruk. Dalam konteks diskusi atau curhat, ucapan ini terdengar seperti penolakan terhadap orang yang berbicara.
Jika Anda memang tidak punya preferensi, ungkapkan secara hangat: "Saya fleksibel, kamu maunya bagaimana?" Pesannya sama, tetapi lawan bicara tetap merasa dihargai.
Advertisement
10. "Itu Gila Banget!" (Diucapkan Berulang)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4570833/original/042949300_1694414623-Ilustrasi_pasangan_bertengkar__cuek.jpg)
Reaksi spontan memang wajar, tetapi menjadikan satu respons sebagai jawaban untuk segala cerita punya risiko tersendiri. Eluxe Magazine mencatat bahwa pemakaian berlebihan frasa "That's crazy" adalah tanda lain dari keterampilan sosial yang lemah.
Respons yang seragam membuat lawan bicara merasa ceritanya tidak benar-benar disimak. Tanggapi dengan pertanyaan lanjutan seperti, "Terus kamu rasanya bagaimana waktu itu?" supaya percakapan terasa hidup.
11. "Kamu Ngerti Maksudku, Kan?"
Frasa ini tampak ramah, tetapi bila dipakai terus-menerus, pembicara cenderung tidak menjelaskan pikirannya dengan jelas dan menyerahkan beban menafsirkan kepada pendengar. Artikel Eluxe Magazine memasukkannya sebagai contoh pertama dalam daftar frasa yang sering dipakai orang dengan keterampilan sosial buruk.
Latihlah menyampaikan gagasan secara utuh dan runtut. Jika ingin memastikan pesan sampai, tanyakan, "Ada bagian yang perlu saya jelaskan lagi?"
12. "Aku Memang Begini Orangnya"
Kalimat ini sering dipakai untuk membenarkan sikap yang menyakiti orang lain. Alih-alih menjadi pernyataan jujur tentang diri sendiri, ucapan ini menutup pintu bagi perubahan dan membuat orang sekitar harus selalu memaklumi.
Kecerdasan sosial tumbuh dari kemauan menyesuaikan diri. Cobalah berkata, "Saya sadar caraku kadang kurang enak didengar, saya akan mencoba memperbaikinya."
Cara Memperbaiki Kebiasaan Bicara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978108/original/042143000_1648535623-pexels-alexander-suhorucov-6457544.jpg)
Kabar baiknya, semua kebiasaan di atas bisa diubah. OKDiario mencatat bahwa mengganti frasa yang meremehkan atau defensif dengan kalimat yang lebih bijak akan menumbuhkan empati, akuntabilitas, dan rasa percaya diri.
Mulailah dengan menyadari kalimat apa yang sering Anda ucapkan secara otomatis. Jeda sejenak sebelum menjawab, dengarkan sampai selesai, lalu pilih kata yang mengakui perasaan lawan bicara. Hampir semua orang pernah mengucapkan kalimat-kalimat ini, jadi tidak perlu merasa buruk. Yang terpenting adalah kemauan untuk memperbaikinya.
Pertanyaan Seputar Ucapan Orang Kecerdasan Sosial Rendah
Apa itu kecerdasan sosial?
Kecerdasan sosial adalah kemampuan memahami perasaan dan situasi orang lain, lalu menyesuaikan cara bicara dan bersikap agar interaksi berjalan nyaman bagi semua pihak.
Apakah mengucapkan kalimat-kalimat di atas pasti berarti seseorang berkecerdasan sosial rendah?
Tidak. Hampir semua orang pernah mengucapkannya. Yang perlu diwaspadai adalah pola yang terus berulang dan menjadi kebiasaan, bukan satu-dua kali ucapan spontan.
Bagaimana cara melatih kecerdasan sosial?
Latih mendengarkan dengan penuh perhatian, ajukan pertanyaan terbuka, akui perasaan lawan bicara, dan minta masukan dari orang terdekat tentang cara Anda berkomunikasi.
Apa yang sebaiknya dilakukan jika lawan bicara sering memakai ucapan seperti ini?
Tetap tenang, sampaikan dampak ucapannya dengan kalimat "saya merasa...", dan tetapkan batasan yang jelas. Ingat bahwa sering kali itu hanya kebiasaan yang belum disadari.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3102139/original/023566000_1586872671-buayo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360581/original/027882600_1758710334-prabowo_anies.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367654/original/007339100_1791359633-HOAX__32_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367806/original/093780900_1791362859-purbaya_KPK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362886/original/022410600_1790834282-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340390/original/087807200_1788504640-FiLNlN0ENwwYVbfSGnrTm5OXmHxiT2XtSPmWccU5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4715888/original/059240700_1705282403-smart-lady-reading-near-window.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8579206/original/079892900_1782538343-pexels-cottonbro-3661452__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314471/original/034135700_1785748238-HUsnqotk5DX3cWYxq7v8MHT43bJEUNAeJplFE0kE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314473/original/038948000_1785748241-1JFGZbDUrY4zBknopmjb5EtxEnebp1sGO5Ra18S8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318552/original/079156900_1786103547-hl1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5259026/original/079297100_1750408255-jcomp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310879/original/004508500_1785378889-pexels-shvets-production-7176296.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309592/original/022970700_1785231674-oI7Bsw0hjFwhsJnuRyTkDL4MhsPTyba2rhG9kIr5.jpg)