Liputan6.com, Jakarta - Empati menjadi salah satu aspek penting dalam membangun hubungan sosial sehat, baik dalam pertemanan, keluarga, maupun hubungan asmara. Kemampuan memahami perasaan dan sudut pandang orang lain, membantu seseorang merespons situasi secara lebih bijaksana. Sebaliknya, kurangnya kepekaan emosional dapat memicu kesalahpahaman hingga konflik berkepanjangan. Oleh sebab itu, mengenali ciri orang yang minim empati akan membantu memahami pola interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian orang mungkin kesulitan memahami sudut pandang berbeda, cenderung meremehkan perasaan, atau kurang menunjukkan kepedulian saat orang lain menghadapi masalah. Respons tersebut bisa membuat lawan bicara merasa tidak dihargai, terutama jika terjadi berulang kali. Meski begitu, perilaku tertentu tidak selalu menandakan rendahnya empati. Mengenali ciri orang yang minim empati perlu dilakukan melalui pengamatan terhadap pola perilaku dan konteks interaksi secara menyeluruh.
Dalam psikologi, empati mencakup kemampuan memahami pikiran dan perasaan orang lain, termasuk respons emosional terhadap pengalaman mereka. Kedua aspek tersebut dapat muncul pada tingkat berbeda dalam diri setiap individu. Faktor pengalaman hidup, kondisi emosional dan kebiasaan berkomunikasi juga memengaruhi cara seseorang merespons lingkungan sosialnya. Lantas, apa saja ciri orang yang minim empati dan bagaimana cara menghadapinya secara tepat?Â
Advertisement
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (9/10/2026).
1. Sulit Memahami Sudut Pandang Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4844845/original/7212000_1716872091-ignorant-bossy-asian-woman-high-standarts-look-dismay-arrogant-act-snobbish-complaining-bad-service-raise-hand-full-disbelief-cannot-stand-nonsense-stand-annoyed-blue-background.jpg)
Salah satu ciri orang yang minim empati adalah kesulitan melihat situasi dari perspektif orang lain. Mereka cenderung menilai suatu peristiwa berdasarkan pengalaman, keyakinan, atau pemikiran pribadi tanpa mempertimbangkan alasan di balik reaksi orang lain.
Misalnya, ketika seorang teman merasa kecewa akibat perkataan tertentu, orang dengan kecenderungan ini mungkin menganggap temannya terlalu sensitif. Ia kesulitan memahami bahwa perkataan yang dianggap biasa oleh dirinya bisa terasa menyakitkan bagi orang lain.
Padahal, setiap orang memiliki pengalaman hidup dan batasan emosional berbeda. Kemampuan memahami perbedaan tersebut merupakan salah satu aspek penting dalam empati. Menurut American Psychological Association (APA), empati berkaitan dengan kemampuan memahami orang lain berdasarkan kerangka acuan mereka, termasuk perasaan, persepsi, dan pikiran yang dimiliki.
2. Sering Meremehkan Perasaan Orang Lain
Ciri berikutnya dapat terlihat dari kebiasaan mengecilkan atau mengabaikan emosi orang lain. Ketika seseorang sedang sedih, kecewa, atau merasa terluka, respons yang diberikan justru membuatnya merasa tidak dipahami. Contohnya, seseorang yang sedang menghadapi masalah mungkin mendengar komentar seperti, "Begitu saja dipikirkan," atau, "Kamu terlalu baper."
Ucapan tersebut dapat membuat orang yang sedang bercerita merasa bahwa emosinya tidak dianggap penting. Jika terus berulang, pola komunikasi seperti ini berpotensi menurunkan rasa aman dalam hubungan.
Perlu dipahami bahwa memiliki pendapat berbeda tidak otomatis menunjukkan rendahnya empati. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah seseorang tetap mampu menghargai perasaan orang lain meskipun tidak sepenuhnya memahami atau menyetujui reaksinya.
Advertisement
3. Kurang Menunjukkan Kepedulian saat Orang Lain Mengalami Kesulitan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4844844/original/061111000_1716872088-face-expression-emotional-people-concept.jpg)
Orang yang cenderung minim empati mungkin terlihat kurang responsif ketika orang lain sedang menghadapi masalah. Mereka bisa saja mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami kesulitan, tetapi tidak menunjukkan perhatian atau dukungan yang sesuai dengan situasi.
Misalnya, ketika seorang teman kehilangan pekerjaan, respons yang muncul hanya berupa komentar singkat tanpa upaya memahami kondisi emosionalnya. Dalam situasi tertentu, mereka juga mungkin segera mengalihkan pembicaraan ke pengalaman pribadi.
Meski demikian, kurangnya ekspresi emosional tidak selalu berarti seseorang tidak peduli. Ada orang yang kesulitan mengungkapkan perasaan atau tidak tahu bagaimana memberikan dukungan yang tepat. Karena itu, penting untuk melihat keseluruhan perilaku, termasuk apakah orang tersebut bersedia mendengarkan, menawarkan bantuan, atau menunjukkan kepedulian melalui tindakan.
4. Terlalu Cepat Memberikan Solusi tanpa Mendengarkan
Ketika seseorang mencurahkan isi hati, ia tidak selalu membutuhkan saran atau jalan keluar. Terkadang, hal yang paling dibutuhkan hanyalah kesempatan untuk bercerita dan merasa didengarkan. Namun, orang yang kurang peka terhadap kebutuhan emosional orang lain mungkin langsung memberikan solusi, menyalahkan keputusan, atau menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan.
Sebagai contoh, seseorang yang sedang bercerita tentang konflik di tempat kerja mungkin justru mendapat respons berupa kritik atas keputusannya. Padahal, ia belum tentu meminta pendapat atau saran. Memberikan solusi bukanlah sesuatu yang salah. Akan tetapi, mendengarkan terlebih dahulu dapat membantu seseorang memahami dukungan seperti apa yang dibutuhkan lawan bicaranya.
Respons sederhana seperti, "Kamu pasti capek menghadapi situasi itu. Mau cerita lebih lanjut?" dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih empatik.
5. Kurang Mempertimbangkan Dampak Perilakunya terhadap Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4913377/original/007902600_1723180157-confused-young-pretty-woman-holding-looking-mobile-phone-showing-empty-hand-isolated-olive-green-background.jpg)
Empati tidak hanya berkaitan dengan perasaan, tetapi juga dapat tercermin dalam tindakan sehari-hari. Seseorang yang kurang mempertimbangkan perspektif orang lain mungkin lebih berfokus pada kepentingan pribadi tanpa memikirkan dampak perilakunya.
Misalnya, ia membuat lelucon tentang hal sensitif, memotong pembicaraan, atau mengambil keputusan yang memengaruhi orang lain tanpa mempertimbangkan perasaan mereka. Perilaku tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan, terutama jika dilakukan berulang kali. Orang di sekitarnya mungkin merasa tidak dihargai atau kesulitan menyampaikan kebutuhan mereka.
Meski demikian, mengutamakan kepentingan diri sendiri tidak selalu menunjukkan rendahnya empati. Setiap orang berhak memiliki batasan dan memenuhi kebutuhannya. Perbedaannya terletak pada cara menyampaikan keputusan dan kesediaan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.
6. Mengulangi Perilaku yang Sudah Diketahui Menyakiti Orang Lain
Ciri orang yang minim empati juga dapat terlihat ketika seseorang terus mengulangi tindakan yang telah diketahui membuat orang lain merasa terluka.
Sebagai contoh, seseorang sudah diberi tahu bahwa komentar tertentu terasa merendahkan, tetapi ia tetap melontarkan komentar serupa tanpa berusaha memahami dampaknya.
Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang berulang kali melanggar batasan pribadi orang lain meskipun batasan tersebut telah disampaikan secara jelas.
Dalam kondisi ini, persoalannya bukan semata-mata ketidaktahuan. Orang tersebut sudah mendapatkan informasi tentang dampak tindakannya, tetapi belum menunjukkan perubahan perilaku yang berarti.
Namun, perubahan kebiasaan tidak selalu berlangsung seketika. Karena itu, perhatikan apakah seseorang bersedia mendengarkan masukan, mengakui kesalahan, dan berusaha memperbaiki perilakunya.
Advertisement
7. Memahami Emosi secara Logis, tetapi Sulit Meresponsnya secara Emosional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4961215/original/078308700_1728197998-IMG-20241006-WA0007.jpg)
Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa orang yang minim empati sama sekali tidak mampu memahami perasaan orang lain. Padahal, empati memiliki beberapa aspek yang berbeda.
Dalam psikologi, cognitive empathy merujuk pada kemampuan memahami atau memperkirakan pikiran dan perasaan orang lain. Sementara itu, affective empathy berkaitan dengan respons emosional terhadap pengalaman orang tersebut.
Kedua aspek ini tidak selalu muncul dalam tingkat yang sama. Seseorang mungkin mampu memahami alasan temannya bersedih, tetapi tidak merasakan respons emosional yang kuat atau kesulitan menunjukkan dukungan.
Sebaliknya, seseorang dapat ikut merasakan kesedihan orang lain, tetapi belum tentu memahami perspektif dan kebutuhan orang tersebut secara tepat.
Oleh karena itu, empati tidak sebaiknya dinilai hanya dari ekspresi wajah, pilihan kata, atau seberapa emosional seseorang terlihat. Cara memahami situasi, merespons kebutuhan orang lain, dan berperilaku dalam hubungan sehari-hari juga perlu dipertimbangkan.
Bagaimana Menghadapi Orang yang Minim Empati?
Berinteraksi dengan orang yang kerap mengabaikan perasaan dapat melelahkan, terutama jika pola tersebut terjadi dalam hubungan dekat. Ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan untuk menjaga komunikasi dan kesejahteraan emosional.
1. Sampaikan perasaan secara jelas: Jelaskan perilaku yang membuat Anda tidak nyaman beserta dampaknya. Gunakan contoh konkret agar pesan lebih mudah dipahami.
2. Tetapkan batasan pribadi: Anda berhak membatasi pembicaraan atau interaksi yang terus membuat Anda merasa direndahkan maupun tidak dihargai.
3. Perhatikan respons terhadap masukan: Kesediaan mendengarkan, meminta maaf, dan memperbaiki perilaku dapat menjadi petunjuk bahwa seseorang bersedia membangun hubungan yang lebih sehat.
4. Jangan memaksakan perubahan: Anda dapat menyampaikan kebutuhan dan harapan, tetapi tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain meresponsnya.
5. Cari dukungan jika diperlukan: Jika interaksi tersebut terus mengganggu kesejahteraan emosional, berbicaralah dengan orang tepercaya atau tenaga profesional untuk memperoleh perspektif dan dukungan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Minim Empati
Apa saja ciri orang yang minim empati?
Orang yang minim empati cenderung kesulitan memahami perasaan orang lain, kurang peka terhadap perubahan emosi, sering meremehkan masalah orang lain, atau lebih mengutamakan sudut pandangnya sendiri. Pola tersebut biasanya terlihat secara berulang dalam interaksi sehari-hari.
Bagaimana cara mengetahui seseorang memiliki empati rendah?
Perhatikan cara orang tersebut merespons saat orang lain sedang sedih, kecewa, atau membutuhkan dukungan. Jika ia berulang kali mengabaikan perasaan, enggan mendengarkan, atau menyalahkan orang lain tanpa berusaha memahami situasi, hal itu bisa menjadi petunjuk rendahnya empati.
Apakah orang yang minim empati selalu bersikap kasar?
Tidak. Sebagian orang tetap berbicara sopan dan bersikap ramah, tetapi kesulitan memahami kebutuhan emosional orang lain. Rendahnya empati lebih berkaitan dengan kemampuan memahami dan merespons perasaan, bukan semata-mata gaya bicara atau sikap di depan umum.
Mengapa seseorang bisa memiliki empati rendah?
Berbagai faktor dapat memengaruhinya, seperti pola asuh, pengalaman masa lalu, kebiasaan komunikasi, tekanan emosional, atau kesulitan mengenali perasaan diri sendiri. Penyebabnya berbeda pada setiap individu sehingga tidak tepat menyimpulkan kondisi seseorang hanya dari satu perilaku.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4403399/original/021681200_1682044577-cek_fakta_mesin_cuci.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362168/original/042983100_1790759666-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_8.42.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485280/original/014174300_1769501374-IMG-20260127-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4844711/original/0342600_1716864366-stop-thats-anough-dont-want-hear-reluctant-girl-waves-hand-rolls-eyes-from-annoyance-being-uninterested-bored-quit-talking-unwilling-speak-continue-conversation-white-background.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369928/original/078656600_1791540457-laura-chouette-YpoczNsZYts-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5110626/original/086902500_1737976278-Kontrol_anak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369516/original/043424300_1791526757-53053880-a09e-431e-a88b-27a50f2e4acd.jpg)