Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan anak tidak selalu bisa diukur dari nilai rapor, kemampuan berhitung, atau seberapa cepat mereka memahami pelajaran di sekolah. Ada kemampuan lain yang tidak kalah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak, yaitu kecerdasan emosional atau kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri sekaligus merespons perasaan orang lain.
Menariknya, kemampuan ini bisa terlihat melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, anak berusaha menenangkan diri ketika kecewa, mau mendengarkan cerita temannya, atau mulai memahami bahwa setiap orang bisa memiliki perasaan dan sudut pandang yang berbeda. Kebiasaan tersebut bukan berarti anak selalu bersikap tenang atau tidak pernah menangis, melainkan menunjukkan proses belajar dalam menghadapi berbagai situasi emosional.
Mengenali kebiasaan anak dengan kecerdasan emosi tinggi dapat membantu orang tua memahami perkembangan buah hati secara lebih menyeluruh. Lantas apa saja kebiasaan anak dengan kecerdasan emosi tinggi? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (9/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Mampu Mengenali dan Mengungkapkan Perasaannya Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4954434/original/072655900_1727411016-young-boy-being-shocked-with-copy-space.jpg)
Salah satu kebiasaan yang patut diperhatikan adalah kemampuan anak mengenali perasaan yang sedang dialaminya. Anak yang mulai mengembangkan kecerdasan emosional biasanya perlahan mampu membedakan perasaan sedih, marah, takut, kecewa, malu, atau bahagia. Mereka juga mulai belajar menyampaikan perasaan tersebut melalui kata-kata, bukan hanya melalui tangisan atau perilaku spontan.
Sebagai contoh, ketika mainannya dipinjam tanpa izin, anak mungkin mengatakan bahwa dirinya merasa kesal karena barang tersebut digunakan tanpa persetujuannya. Kemampuan mengungkapkan perasaan seperti ini membantu orang tua memahami penyebab perilaku anak sekaligus mengajarkan cara berkomunikasi yang lebih sehat. Namun, pada usia tertentu, anak masih mungkin kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan emosinya.
Orang tua dapat membantu dengan memberikan nama pada emosi yang muncul tanpa menghakimi perasaan anak. Ketika anak menangis karena kecewa, misalnya, orang tua bisa mengatakan bahwa dirinya memahami kekecewaan tersebut sambil membantu anak mencari cara untuk menghadapinya. Dengan demikian, anak belajar bahwa semua perasaan boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan yang muncul akibat emosi dapat dibenarkan.
Advertisement
2. Berusaha Menenangkan Diri Ketika Marah atau Kecewa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5536575/original/051898300_1774330677-pexels-elly-fairytale-3806962.jpg)
Anak dengan kemampuan emosional yang berkembang baik dapat mulai belajar mengelola reaksi ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Mereka mungkin mencoba menarik napas, meminta waktu untuk menenangkan diri, mencari bantuan orang dewasa, atau menjauh sebentar dari situasi yang membuatnya kewalahan.
Kebiasaan ini bukan berarti anak tidak pernah mengalami tantrum, menangis keras, atau menunjukkan kemarahan. Kemampuan mengatur emosi masih berkembang sepanjang masa kanak-kanak, sehingga respons anak bisa berbeda-beda bergantung pada usia, kelelahan, lingkungan, dan situasi yang dihadapi. Anak yang sesekali kehilangan kendali bukan berarti memiliki kecerdasan emosional yang rendah.
Peran orang tua sangat penting dalam membantu anak mempraktikkan strategi pengelolaan emosi. Ketika anak mulai marah karena kalah bermain, orang tua dapat membantunya mengenali perasaan tersebut, mengambil jeda, lalu membicarakan kejadian setelah suasana lebih tenang. Pendampingan yang konsisten membuat anak memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi kekecewaan tanpa harus melampiaskannya dengan menyakiti diri sendiri atau orang lain.
3. Menunjukkan Empati terhadap Perasaan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8222497/original/059953300_1781082528-pexels-gustavo-fring-7156021.jpg)
Empati merupakan kemampuan untuk memahami atau mencoba melihat pengalaman dari sudut pandang orang lain. Pada anak, kemampuan ini dapat terlihat ketika mereka menyadari temannya sedang sedih, bertanya mengapa seseorang menangis, atau berusaha memberikan bantuan kepada orang yang terlihat kesulitan.
Contohnya, ketika seorang teman tidak diajak bermain dan tampak murung, anak mungkin mendekatinya atau mengajaknya bergabung. Ada pula anak yang mencoba menghibur saudaranya setelah berselisih atau menunjukkan perhatian ketika orang tuanya sedang merasa lelah. Respons sederhana semacam ini dapat menjadi kesempatan untuk mengamati perkembangan kepedulian sosial anak.
Meski demikian, empati tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang langsung terlihat. Sebagian anak mungkin memahami perasaan orang lain, tetapi belum mengetahui apa yang harus dilakukan untuk membantu. Orang tua dapat mengembangkan kemampuan ini dengan mengajak anak membicarakan perasaan tokoh dalam cerita, mendiskusikan akibat suatu tindakan, dan menunjukkan contoh perilaku peduli dalam kehidupan sehari-hari.
Advertisement
4. Mau Mendengarkan dan Memahami Sudut Pandang yang Berbeda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5522847/original/014551300_1772778502-2238.jpg)
Anak yang mulai mengembangkan kecerdasan emosional dapat menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan pendapat orang lain, meskipun pendapat tersebut berbeda dari keinginannya sendiri. Mereka perlahan memahami bahwa orang lain memiliki pengalaman, kebutuhan, dan alasan yang tidak selalu sama dengan dirinya.
Kebiasaan ini dapat terlihat ketika anak berdiskusi dengan saudara, menyelesaikan perselisihan saat bermain, atau mencoba memahami alasan seorang teman memilih permainan yang berbeda. Anak mungkin masih mempertahankan pendapatnya, tetapi mulai bersedia mendengar penjelasan sebelum mengambil keputusan. Kemampuan tersebut membantu anak membangun komunikasi yang lebih baik dalam hubungan sosial.
Orang tua dapat melatihnya dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara tanpa langsung dipotong atau disalahkan. Setelah itu, ajak anak mempertimbangkan sudut pandang lain melalui pertanyaan sederhana, seperti mengapa temannya mungkin merasa kecewa atau apa yang bisa dilakukan agar semua pihak merasa didengarkan. Dengan latihan yang sesuai usia, anak dapat belajar bahwa perbedaan pendapat tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran.
5. Berani Mengakui Kesalahan dan Belajar Memperbaikinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7241470/original/028422800_1780026700-medium-shot-children-playing-memory-game_1_.jpg)
Kebiasaan lain yang patut diperhatikan adalah kesediaan anak mengakui kesalahan serta mencoba memperbaiki akibat tindakannya. Anak yang sedang mengembangkan tanggung jawab emosional dapat mulai memahami bahwa perilakunya memiliki dampak terhadap perasaan dan kenyamanan orang lain.
Sebagai contoh, ketika tidak sengaja merusak hasil karya temannya, anak mungkin bersedia meminta maaf dan membantu memperbaikinya. Ketika ketahuan berkata kasar saat marah, anak dapat belajar mengakui perkataannya tidak tepat dan mencoba menyampaikan perasaan dengan cara berbeda. Proses ini membutuhkan waktu karena anak masih belajar memahami hubungan antara tindakan, akibat, dan tanggung jawab.
Orang tua sebaiknya tidak menuntut anak untuk selalu mengakui kesalahan secara spontan. Rasa takut dimarahi terkadang membuat anak memilih diam atau menyangkal kejadian yang sebenarnya. Alih-alih langsung memberikan hukuman, orang tua dapat mengajak anak membahas apa yang terjadi, siapa yang terdampak, dan bagaimana cara memperbaiki keadaan. Pendekatan ini membantu anak belajar bertanggung jawab tanpa merasa bahwa kesalahan membuat dirinya menjadi anak yang buruk.
Advertisement
6. Mampu Meminta Bantuan Ketika Menghadapi Kesulitan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6493173/original/065334200_1779350750-pexels-cottonbro-4569910.jpg)
Anak yang memiliki keterampilan emosional yang berkembang baik tidak harus selalu menyelesaikan masalah sendirian. Justru, kemampuan mengenali batas diri dan meminta bantuan ketika dibutuhkan merupakan bagian penting dari proses belajar menghadapi tantangan.
Kebiasaan ini bisa terlihat ketika anak mengatakan bahwa dirinya kesulitan memahami pelajaran, meminta ditemani saat merasa takut, atau bercerita kepada orang dewasa ketika mengalami masalah dengan teman. Anak juga dapat mulai menjelaskan bantuan seperti apa yang dibutuhkannya, misalnya ingin didengarkan terlebih dahulu sebelum menerima saran.
Sikap tersebut penting karena anak perlu memahami bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan. Orang tua dapat membangun rasa aman dengan mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi atau meremehkan masalah yang disampaikan. Ketika anak merasa pendapat dan perasaannya dihargai, ia memiliki ruang untuk belajar menyampaikan kebutuhan serta mencari solusi bersama orang yang dipercaya.
7. Mampu Menghadapi Kekecewaan dan Mencoba Kembali
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5565578/original/042058800_1777033613-pexels-ketut-subiyanto-4474016.jpg)
Kecerdasan emosional juga berkaitan dengan cara anak menghadapi kegagalan, penolakan, dan hasil yang tidak sesuai harapan. Anak yang sedang mengembangkan kemampuan ini perlahan belajar menerima rasa kecewa tanpa langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak mampu melakukan sesuatu.
Misalnya, ketika kalah dalam perlombaan, anak mungkin merasa sedih terlebih dahulu sebelum akhirnya bersedia mencoba kembali. Ketika hasil gambarnya tidak sesuai keinginan, ia bisa meminta masukan atau berlatih lagi setelah emosinya mereda. Perubahan dari rasa kecewa menuju usaha untuk memperbaiki diri merupakan proses yang patut didukung.
Namun, kemampuan menghadapi kekecewaan bukan berarti anak harus selalu terlihat kuat atau segera bangkit setelah mengalami kegagalan. Anak tetap membutuhkan waktu untuk menangis, beristirahat, dan mendapatkan dukungan emosional. Orang tua dapat membantu dengan menghargai usaha anak, bukan hanya hasil akhirnya, serta mengajarkan bahwa kegagalan merupakan bagian wajar dari proses belajar.
Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat mengembangkan kemampuan untuk mengenali emosi, mencari solusi, dan menghadapi tantangan secara bertahap. Kebiasaan tersebut akan berguna ketika anak menjalin pertemanan, menghadapi tuntutan sekolah, maupun membangun hubungan dengan orang lain saat tumbuh dewasa.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Kebiasaan Anak dengan Kecerdasan Emosi Tinggi
1. Apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional pada anak?
Kecerdasan emosional pada anak adalah kemampuan yang berkembang untuk mengenali dan memahami emosi, mengelola reaksi, serta merespons perasaan orang lain. Kemampuan ini membantu anak berkomunikasi, menjalin hubungan sosial, dan menghadapi situasi yang menimbulkan tekanan atau kekecewaan.
2. Apa saja ciri anak dengan kecerdasan emosi tinggi?
Beberapa perilaku yang dapat menunjukkan perkembangan keterampilan emosional antara lain mampu mengungkapkan perasaan, berusaha menenangkan diri, menunjukkan empati, mendengarkan sudut pandang orang lain, mengakui kesalahan, meminta bantuan, dan belajar menghadapi kegagalan. Perilaku tersebut perlu dipahami sesuai usia dan konteks perkembangan anak.
3. Apakah anak yang mudah menangis memiliki kecerdasan emosional rendah?
Tidak. Menangis merupakan respons emosional yang wajar dan tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan emosional. Hal yang lebih penting adalah bagaimana anak secara bertahap belajar mengenali perasaannya, mendapatkan dukungan untuk mengelolanya, dan memilih tindakan yang sesuai ketika menghadapi emosi yang kuat.
4. Apakah kecerdasan emosional lebih penting daripada kecerdasan akademik?
Keduanya memiliki peran yang berbeda dan sama-sama penting. Kemampuan akademik membantu anak memperoleh serta menggunakan pengetahuan, sedangkan keterampilan emosional mendukung pengelolaan perasaan, hubungan sosial, dan cara menghadapi tantangan. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keduanya tanpa harus dibandingkan secara berlebihan.
5. Bagaimana cara orang tua membantu meningkatkan kecerdasan emosional anak?
Orang tua dapat membantu dengan memberikan contoh pengelolaan emosi yang sehat, mendengarkan cerita anak, mengenalkan nama-nama emosi, mengajarkan empati, serta membimbing anak menyelesaikan konflik. Memberikan batasan yang konsisten dan menciptakan lingkungan yang aman untuk mengungkapkan perasaan juga membantu anak mempelajari keterampilan emosional secara bertahap.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485280/original/014174300_1769501374-IMG-20260127-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369365/original/034444800_1791519895-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-09T112039.867.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342535/original/041645600_1788773436-HOAX__11_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5078809/original/005995500_1736144544-Screenshot_20250106_121234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568602/original/011193500_1777364341-pexels-barbara-olsen-7879519.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358152/original/069001400_1790324455-01M3B1K2A7WQ7GNNJQ9ERZXDPP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369213/original/030698100_1791512101-Screenshot_2026-10-09_090154.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358154/original/057945500_1790324457-01M3B1KGCG3NPQM60EEGS9YK3D.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5073707/original/013559100_1735645381-Screenshot_2024-12-31_183146.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358150/original/095561300_1790324453-01M3B1NWY2QPE43KX1MA1811AT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365680/original/012310700_1791188933-pexels-vantik93-20646060.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5242713/original/083033500_1749039369-child-with-social-media-addiction.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4678238/original/063161000_1701955080-Ilustrasi_main_HP__tebak-tebakan_lucu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368761/original/049009800_1791447408-1049.jpg)