7 Ciri Orang yang Suka Kerja Mendekati Deadline Menurut Psikologi

Kenali ciri orang yang suka kerja mendekati deadline menurut psikologi, mulai dari prokrastinasi aktif, dorongan tekanan, sampai cara menyiasatinya.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 09:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kamu mungkin merasa santai saat tenggat masih lama, lalu tiba-tiba ngebut begitu deadline tinggal hitungan jam. Pola kerja seperti ini jauh lebih umum daripada yang kamu bayangkan.

Daripada buru-buru menyebutnya malas, lebih adil kalau kamu memahami ciri orang yang suka kerja mendekati deadline menurut psikologi. Kebiasaan ini berkaitan erat dengan cara otak menilai urgensi, emosi, sekaligus motivasi.

Untuk memahami ciri orang yang suka kerja mendekati deadline menurut psikologi, kamu perlu menengok sisi emosinya lebih dulu. Psikolog Tim Pychyl, dikutip dari Fast Company, menegaskan, "Prokrastinasi bukan masalah manajemen waktu, melainkan masalah pengelolaan emosi."

Apa Itu Kebiasaan Kerja Mepet Deadline dalam Kacamata Psikologi

Secara sederhana, kerja mepet deadline adalah kebiasaan menunda memulai tugas sampai tenggat nyaris habis, padahal tugas itu sebenarnya sudah bisa dikerjakan sejak jauh hari. Dalam psikologi, perilaku ini disebut prokrastinasi, yaitu penundaan yang kamu lakukan secara sukarela meski kamu tahu penundaan tersebut berpotensi merugikan.

Yang perlu kamu bedakan, menunda tidak sama dengan malas. Malas berarti tidak peduli, sedangkan penunda justru peduli pada tugasnya tetapi gagal mengeksekusinya tepat waktu. Contoh nyatanya gampang kamu temui, seperti mahasiswa yang baru menyusun kerangka skripsi tiga hari sebelum sidang, atau karyawan yang membiarkan laporan menumpuk sampai malam sebelum presentasi.

Manfaat memahami definisi ini sangat praktis. Begitu kamu tahu akar kebiasaannya, kamu bisa memilih strategi yang tepat, bukan sekadar menyalahkan diri sendiri setiap kali pekerjaan mendekati batas waktu.

Ciri Orang yang Suka Kerja Mendekati Deadline Menurut Psikologi

Ciri yang paling khas adalah keyakinan bahwa dirinya justru lebih tajam saat tertekan. Joseph Ferrari, pakar prokrastinasi dari DePaul University, dikutip dari Washington Post menuturkan,"Mereka akan berkata, 'Saya bekerja paling baik di bawah tekanan.' Mereka butuh saat-saat terakhir untuk bisa menyelesaikan sesuatu."

Menariknya, data justru menunjukkan mereka sebenarnya tidak benar-benar tampil lebih baik di bawah tekanan. Ferrari membagi penunda kronis ke dalam dua tipe, yaitu tipe penghindar yang menunda karena takut gagal, takut dinilai, bahkan takut sukses, serta tipe pencari sensasi yang menunggu detik-detik terakhir demi memburu ketegangan. Ia bahkan mencatat sekitar 20 persen orang dewasa tergolong penunda kronis, angka yang lebih tinggi daripada penderita depresi klinis.

Namun, tidak semua penggemar kerja mepet deadline berakhir buruk. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan Springer, sebagian dari mereka justru punya keyakinan diri yang kuat, manajemen waktu yang efektif, dan strategi menghadapi stres yang berorientasi pada tugas. Dalam kerangka kepribadian Big Five, kecenderungan menunda yang bersifat aktif ini berkaitan positif dengan kestabilan emosi dan ekstraversi.

Ciri lain yang sering muncul, urgensi seolah berperan sebagai saklar fokus. Saat tenggat mendekat, prioritas terasa lebih jelas dan gangguan lebih mudah kamu abaikan, sehingga muncul dorongan menyelesaikan semuanya sekarang juga.

Kenapa Deadline Justru Bikin Kamu Lebih Fokus

Penjelasan klasiknya datang dari Hukum Yerkes-Dodson yang dirumuskan Robert Yerkes dan John Dodson pada 1908. Intinya, performa naik seiring meningkatnya tekanan sampai titik optimal; bila tekanan terlalu rendah kamu kurang termotivasi, sementara bila terlalu tinggi kamu malah kewalahan. Ada pula prinsip populer bahwa pekerjaan cenderung memuai memenuhi waktu yang tersedia, sehingga tugas berjatah dua minggu kerap baru rampung di hari terakhir.

Piers Steel menjelaskannya lewat Teori Motivasi Temporal. Dalam buku The Procrastination Equation, ia merumuskan bahwa motivasimu ditentukan oleh harapan akan sukses dan nilai tugas, lalu dibagi tingkat impulsivitas dan jarak waktu menuju tenggat; begitu jarak ke tenggat mengecil, motivasi melonjak tajam sehingga membentuk pola kerja "sirip hiu".

Steel juga menuliskan, "Penunda yang memahami proses di balik kelambanan mereka bisa mengendalikannya, lebih tidak stres soal tenggat, dan lebih mampu memenuhinya." Mengacu pada ulasan Psychology Today, Steel mengidentifikasi sejumlah variabel yang erat kaitannya dengan prokrastinasi, seperti keyakinan diri, kecenderungan mudah bosan, gampang terdistraksi, dan impulsivitas. Faktor-faktor inilah yang menentukan seberapa cepat kamu tergoda untuk menunda.

Prokrastinasi Aktif vs Pasif: Tidak Semua Penunda Itu Sama

Riset membedakan dua wajah penundaan. Merujuk studi yang dimuat ScienceDirect, Chu dan Choi pada 2005 memperkenalkan konsep prokrastinasi aktif dengan empat ciri, yaitu menyukai tekanan, keputusan menunda yang disengaja, kemampuan memenuhi tenggat, dan kepuasan atas hasil.

Penunda pasif menunda karena sulit mengambil keputusan dan bertindak tepat waktu, sehingga sering berujung panik dan menyesal. Sebaliknya, penunda aktif sengaja memilih menunda, memanfaatkan motivasi kuat di bawah tekanan waktu, lalu tetap menyelesaikan tugas sebelum tenggat dengan hasil yang memuaskan.

Di sinilah pentingnya kamu jujur menilai diri. Kalau kamu konsisten menghasilkan pekerjaan berkualitas meski mepet, kamu mungkin condong ke tipe aktif; tetapi kalau penundaan justru meninggalkan tumpukan stres dan hasil seadanya, itu tanda pola pasif yang perlu kamu benahi.

Sisi Berisiko yang Sering Diabaikan

Meski terasa produktif, mengandalkan tekanan menit terakhir menyimpan ongkos tersembunyi. Kualitas kerja gampang menurun, jam tidur terpangkas, dan risiko kelelahan mental meningkat bila pola ini terus berulang. Dampaknya bahkan bisa menyentuh kesehatan fisik. Sebagaimana disampaikan Carleton University, peneliti Fuschia Sirois menemukan kaitan antara prokrastinasi dengan penyakit jantung koroner dan hipertensi.

Menariknya, yang menjadi masalah bukanlah penundaannya, melainkan rasa menyalahkan diri dan keterputusan emosi yang mengikutinya. Artinya, semakin sering kamu menghukum diri karena menunda, semakin berat pula beban psikologis yang kamu tanggung. Menyadari hal ini membantumu keluar dari lingkaran menunda lalu menyesal.

Cara Sehat Mengelola Kebiasaan Kerja Mepet Deadline

Langkah pertama, ubah satu tenggat besar menjadi beberapa tenggat kecil. Misalnya, laporan berjatah dua minggu bisa kamu pecah menjadi tahap mencari referensi, menyusun kerangka, menulis draf, lalu revisi, sehingga rasa urgensi muncul lebih sehat tanpa harus menunggu menit terakhir.

Kedua, tentukan waktu mulai, bukan cuma waktu selesai, dan singkirkan gangguan seperti notifikasi saat kamu mengerjakan bagian penting. Tips singkatnya, coba teknik Pomodoro dengan bekerja fokus 25 menit lalu istirahat 5 menit, karena target kecil membuat tugas terasa jauh lebih ringan.

Ketiga, berhenti menunggu mood. Dalam buku Solving the Procrastination Puzzle, Tim Pychyl menuliskan, "Kondisi motivasi saya saat ini tidak harus selaras dengan niat saya untuk bertindak."

Terakhir, perlakukan dirimu dengan lebih ramah. Alih-alih menyalahkan diri setiap kali menunda, akui pemicunya lalu mulai dari langkah terkecil, karena justru dari keberanian memulai itulah momentum dan fokus biasanya ikut mengalir.

Pertanyaan tentang Kebiasaan Kerja Mendekati Deadline

1. Mengapa seseorang lebih mudah fokus saat deadline sudah dekat?

Deadline yang semakin dekat dapat meningkatkan rasa urgensi sehingga seseorang lebih terdorong untuk segera bertindak. Tekanan waktu juga membantu sebagian orang memusatkan perhatian pada tugas yang paling penting, meskipun efeknya bisa berbeda pada setiap individu.

2. Apakah suka mengerjakan tugas mendekati deadline berarti seseorang malas?

Tidak selalu. Kebiasaan ini bisa berkaitan dengan kesulitan mengelola emosi, rasa takut gagal, tugas yang terasa membosankan, atau kecenderungan menunggu sampai tekanan meningkat. Namun, jika terus berulang dan mengganggu tanggung jawab, pola tersebut tetap perlu dievaluasi.

3. Apakah orang yang bekerja mendekati deadline bisa tetap produktif?

Bisa, terutama jika mereka mampu menentukan prioritas dan menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat. Namun, produktivitas sesaat tidak selalu berarti hasilnya optimal karena tekanan waktu dapat meningkatkan risiko kesalahan dan mengurangi kesempatan untuk melakukan revisi.

4. Apa hubungan prokrastinasi dengan pengelolaan emosi?

Prokrastinasi dapat terjadi ketika seseorang menunda tugas untuk menghindari perasaan tidak nyaman, seperti bosan, cemas, atau takut gagal. Menunda memberikan kelegaan sementara, tetapi tugas yang belum selesai dapat menimbulkan tekanan lebih besar ketika tenggat semakin dekat.

5. Apakah kebiasaan bekerja menjelang deadline bisa diubah?

Bisa. Salah satu caranya adalah membagi pekerjaan menjadi tugas-tugas kecil dengan tenggat internal yang lebih awal daripada deadline sebenarnya. Cara ini membantu mengurangi beban psikologis saat memulai pekerjaan sekaligus menyediakan waktu untuk memeriksa hasilnya.

6. Bagaimana membedakan kebiasaan kerja mendekati deadline yang masih terkendali dan yang bermasalah?

Kebiasaan tersebut masih relatif terkendali jika pekerjaan selesai tepat waktu, kualitasnya tetap terjaga, dan pola tidur maupun kesehatan tidak terganggu. Sebaliknya, jika penundaan berulang kali menyebabkan keterlambatan, hasil buruk, konflik, atau stres berlebihan, kamu perlu memperbaiki pola kerja dan mencari bantuan profesional jika diperlukan.