9 Cara Berhenti Membeli Barang yang Tidak Dibutuhkan, Anti Boros

Cara berhenti membeli barang yang tidak dibutuhkan bisa dimulai dari jeda 24 jam, daftar belanja, anggaran, dan kenali pemicunya agar uang tidak terbuang.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mencari cara berhenti membeli barang yang tidak dibutuhkan setelah sadar saldo rekening cepat menipis di akhir bulan. Kabar baiknya, kebiasaan belanja impulsif bisa dikendalikan dengan strategi sederhana yang konsisten.

Kemudahan belanja online, promo yang bertubi-tubi, dan emosi sesaat sering membuat kita mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Akibatnya, rumah penuh barang yang jarang dipakai, sementara tabungan dan tujuan keuangan jadi terhambat.

Artikel Liputan6.com ini membahas langkah praktis yang bisa langsung dicoba, mulai dari aturan jeda waktu hingga mencatat pengeluaran. Dengan pendekatan yang tepat, Anda tidak hanya lebih hemat, tetapi juga lebih tenang dan puas dengan apa yang sudah dimiliki, Kamis (8/10/2026).

1. Kenali Pemicu Belanja Anda

Sebelum mengubah kebiasaan, pahami dulu alasan Anda sering membeli. Laman Clever Girl Finance menyebutkan bahwa belanja impulsif bisa dipengaruhi emosi, stres, rasa bosan, tekanan sosial, dan budaya diskon. Catat situasi saat keinginan belanja muncul, misalnya ketika lelah, sedih, atau sedang scrolling marketplace tanpa tujuan. Setelah pola terlihat, siapkan pengalih yang lebih sehat seperti berjalan kaki, mengobrol dengan teman, atau menekuni hobi yang tidak menguras dompet sama sekali.

2. Terapkan Aturan Jeda 24 Jam

Aturan ini sederhana tetapi sangat ampuh. Consumers' Association of Penang menyarankan menetapkan masa tunggu, entah sehari, seminggu, atau sebulan, agar kita bisa menilai apakah barang itu masih diinginkan setelah dorongan awal reda. Masukkan barang ke keranjang, lalu tutup aplikasinya. Untuk barang murah, tunggu satu hari. Untuk barang mahal, tunggu lebih lama. Sering kali keinginan itu hilang dengan sendirinya tanpa perlu usaha berlebihan.

3. Buat Daftar Belanja dan Patuhi

Belanja tanpa daftar membuka peluang besar untuk pembelian tak terencana. Consumers' Association of Penang menganjurkan membuat daftar belanja dan menaatinya agar tidak membeli barang yang tidak perlu. Tulis kebutuhan harian atau bulanan sebelum berangkat ke toko atau membuka aplikasi belanja. Jika ada barang di luar daftar yang menarik perhatian, jangan langsung dibeli. Terapkan dulu aturan jeda waktu, lalu putuskan dengan kepala dingin.

4. Tetapkan Anggaran dan Catat Pengeluaran

Anggaran memberi batas yang jelas, sedangkan pencatatan membuat Anda sadar ke mana uang mengalir setiap bulan. Consumers' Association of Penang menyarankan membuat anggaran, membatasi jumlah barang yang dibeli, dan mencatat apa saja yang sudah dibeli. Namun Clever Girl Finance mengingatkan bahwa anggaran saja jarang cukup untuk menghentikan belanja impulsif. Karena itu, padukan kebiasaan ini dengan cara lain dalam daftar ini agar hasilnya lebih maksimal.

5. Jangan Belanja Saat Emosi Tidak Stabil

Belanja sering dijadikan pelarian dari rasa kesal, sedih, atau stres. Menurut Consumers' Association of Penang, naik turunnya emosi mengganggu penilaian sehingga mendorong pembelian yang tidak direncanakan dan tidak rasional. Saat sedang marah, kecewa, atau terlalu bersemangat, tunda dulu aktivitas belanja. Tunggu sampai kepala dingin, lalu pertimbangkan kembali apakah barang itu benar-benar Anda perlukan atau hanya pelampiasan perasaan sesaat yang akan disesali nanti.

6. Kurangi Paparan Iklan dan Promo

Semakin sering melihat penawaran, semakin besar godaan untuk membeli. Salah satu langkah sederhana dari Consumers' Association of Penang adalah berhenti berlangganan email pemasaran dan berhenti mengikuti akun yang berkaitan dengan belanja. Anda juga bisa mematikan notifikasi aplikasi e-commerce dan menghapus data kartu yang tersimpan. Dengan begitu, proses pembayaran tidak lagi terlalu instan, dan Anda punya waktu berpikir sebelum menekan tombol beli.

7. Hindari Tempat dan Teman Pemicu

Lingkungan sangat memengaruhi kebiasaan belanja kita. Clever Girl Finance menegaskan bahwa cara terbaik menghentikan pembelian impulsif adalah menjauhi tempat yang menjual barang yang Anda inginkan. Consumers' Association of Penang juga menyarankan menghindari belanja bersama teman yang gemar membeli secara impulsif. Jika tetap perlu bertemu, pilih lokasi alternatif seperti kafe, taman, atau tempat olahraga, sehingga godaan etalase dan diskon tidak ikut menemani.

8. Gunakan Wishlist sebagai Penahan

Daripada langsung membeli, simpan barang incaran dalam daftar keinginan. Clever Girl Finance menyarankan membuat aturan kecil, seperti menunggu 24 jam atau memiliki wishlist. Tinjau daftar itu setiap akhir pekan atau akhir bulan. Barang yang masih Anda inginkan setelah beberapa minggu biasanya lebih layak dipertimbangkan, dan Anda bisa menabung khusus untuk membelinya tanpa mengorbankan kebutuhan pokok maupun rencana keuangan jangka panjang lainnya.

9. Periksa Barang yang Sudah Ada dan Pertimbangkan Barang Bekas

Sebelum membeli, tanyakan pada diri sendiri: apakah saya sudah punya yang serupa? Banyak orang membeli baju, tas, atau peralatan dapur baru padahal yang lama masih layak pakai. Jika memang butuh, Consumers' Association of Penang menyarankan mencari versi bekasnya lebih dulu karena barang bekas masih bisa menjadi sumber barang berkualitas. Cara ini menghemat uang, memperpanjang usia pakai barang, sekaligus ikut mengurangi sampah.

Pertanyaan Seputar Cara Berhenti Membeli Barang yang Tidak Dibutuhkan

Berapa lama sebaiknya menunggu sebelum membeli barang yang diinginkan?

Mulailah dengan 24 jam untuk barang murah. Untuk barang yang lebih mahal, tunggu beberapa hari hingga sebulan. Jika setelah itu Anda masih menginginkannya dan sesuai anggaran, pembelian lebih aman dilakukan.

Apakah membuat anggaran saja cukup untuk menghentikan belanja impulsif?

Belum tentu. Anggaran membantu, tetapi sebaiknya dikombinasikan dengan jeda waktu, daftar belanja, dan pengendalian emosi agar hasilnya lebih efektif.

Bagaimana cara mengetahui bahwa saya baru saja melakukan pembelian impulsif?

Biasanya terasa mendesak saat membeli, tetapi terasa tidak perlu setelahnya. Tandanya antara lain barang tidak ada di daftar belanja, dibeli karena diskon atau suasana hati, dan jarang dipakai.

Apakah sering belanja impulsif berarti kecanduan belanja?

Tidak selalu. Belanja impulsif umum terjadi dan sering dipicu emosi, stres, atau diskon. Namun jika sudah mengganggu keuangan atau sulit dikendalikan, pertimbangkan berkonsultasi dengan profesional.