Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan orang tua mendidik anaknya di rumah menjadi fondasi utama bagi pembentukan karakter, kemampuan mengelola emosi, dan rasa percaya diri anak. Hal-hal kecil yang dilakukan berulang setiap hari justru paling lama membekas dalam ingatan anak.
Melansir dari HealthyChildren.org, situs resmi American Academy of Pediatrics (AAP), disiplin yang efektif berpijak pada aturan yang jelas dan konsisten serta perhatian orang tua pada perilaku baik anak. Di Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga menegaskan bahwa lingkungan keluarga menjadi sumber kebiasaan pertama dan utama yang dilihat dan ditiru anak.
Kabar baiknya, orang tua tidak harus sempurna untuk bisa mendidik anak dengan baik. Berikut adalah kebiasaan orang tua mendidik anaknya dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (8/10/2026).
Advertisement
1. Memberi Kesempatan Anak Berjuang hingga Mahir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360596/original/039044800_1790656430-vitaly-gariev-T6pS-Dr8ams-unsplash.jpg)
Salah satu kebiasaan yang membuat anak tangguh adalah membiarkan anak berjuang menuju kemahiran. Melansir dari Grazia Magazine, psikiater anak dan remaja lulusan Harvard dan Stanford, Suzan J. Song, MD, PhD, menyebut anak yang tangguh biasanya punya banyak kesempatan berisiko rendah untuk melakukan sesuatu dengan buruk, lalu perlahan menjadi lebih baik. Song adalah penulis buku Why We Suffer and How We Heal (2026) dengan pengalaman 18 tahun menangani anak dan remaja.
Orang tua dapat membantu anak memilih kegiatan yang cukup ia sukai agar mau menekuninya, seperti bermain piano, membuat kue, atau menggambar komik. Saat belum mahir, anak akan salah, kecewa, bahkan ingin berhenti. Di titik inilah peran orang tua penting, yaitu mendampingi tanpa langsung mengambil alih pekerjaannya.
Dari proses tersebut, anak belajar bahwa kemampuan tumbuh lewat latihan. Ia juga terbiasa menghadapi rasa tidak nyaman karena belum bisa, sebuah bekal penting untuk menghadapi tantangan di sekolah maupun pergaulan.
Advertisement
2. Mengajarkan Anak Memperbaiki Hubungan, Bukan Sekadar Menasihati
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5619392/original/087099800_1778207642-father-s-day-concept-with-father-drawing_1_.jpg)
Anak lebih mudah belajar dari apa yang ia lihat daripada dari ceramah panjang. Menurut Song, sebagaimana dimuat Grazia Magazine, anak perlu melihat langsung bagaimana orang dewasa memperbaiki hubungan, bukan hanya mendengar nasihat tentang hal itu.
Contohnya, setelah terlanjur membentak, orang tua dapat mendekati anak, mengakui bahwa nada bicaranya terlalu tinggi, lalu meminta maaf. Cara ini menunjukkan bahwa berbuat salah itu wajar dan selalu ada jalan untuk memperbaikinya.
Contoh nyata seperti ini memberi anak gambaran tentang cara meminta maaf dan menyelesaikan perselisihan dengan teman. Hubungan yang sehat pun dimulai dari kebiasaan kecil di rumah.
3. Menetapkan Aturan yang Jelas dan Konsisten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5672519/original/084900200_1778483014-pexels-ketut-subiyanto-4473774__1_.jpg)
AAP menganjurkan orang tua menetapkan aturan yang jelas dan konsisten agar anak tahu apa yang diharapkan darinya. Melansir dari HealthyChildren.org, aturan sebaiknya dijelaskan dengan bahasa yang sesuai usia sehingga mudah dipahami anak.
Konsistensi berlaku untuk semua orang dewasa di rumah. Sumber yang sama menyarankan orang tua berbicara dengan pasangan, anggota keluarga, dan pengasuh agar sepakat tentang aturan dasar yang berlaku. Anjuran ini berlaku untuk semua anak, termasuk bayi.
Aturan tidak perlu banyak. Beberapa aturan sederhana, misalnya jam tidur, waktu menggunakan gawai, dan kewajiban merapikan mainan, yang ditegakkan setiap hari lebih mudah diikuti anak daripada daftar panjang yang sering berubah.
Advertisement
4. Menjelaskan Akibat dengan Tenang, Tanpa Bentakan atau Kekerasan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5038399/original/043864800_1733462367-Gambar_WhatsApp_2024-12-06_pukul_11.16.11_c5ee6ee8.jpg)
Saat anak melanggar aturan, AAP menyarankan orang tua menjelaskan akibatnya dengan tenang dan tegas. Lembaga itu menekankan pentingnya mengajarkan perilaku yang baik, bukan sekadar menghukum perilaku yang buruk.
Melansir dari HealthyChildren.org, bentakan dan kata-kata kasar, bahkan dari orang tua yang penuh kasih, dapat membuat anak lebih sering berulah dan berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Dalam pernyataan kebijakan berjudul Effective Discipline to Raise Healthy Children (2018), AAP juga menilai memukul anak membuat anak lebih mungkin menjadi pembangkang dan agresif di kemudian hari, sebagaimana dilaporkan Medical University of South Carolina (MUSC) Children's Health.
Untuk pelanggaran aturan tertentu, AAP menyebut jeda singkat atau time-out dapat dipakai. Orang tua sebaiknya memberi peringatan lebih dulu, lalu mengingatkan kesalahan anak dengan kalimat singkat dan emosi sekecil mungkin.
5. Memberi Perhatian dan Pujian pada Perilaku Baik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823411/original/015105800_1714990585-IMG_2377.jpeg)
HealthyChildren.org menyebut perhatian sebagai alat paling kuat dalam disiplin yang efektif, baik untuk menguatkan perilaku baik maupun mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Karena itu, orang tua dianjurkan menangkap momen ketika anak berperilaku baik dan memujinya.
Pujian yang spesifik terasa lebih bermakna. Alih-alih hanya berkata "pintar", orang tua bisa mengatakan, "Terima kasih sudah merapikan tempat tidurmu sendiri." Kalimat seperti ini memberi tahu anak perilaku apa yang dihargai.
Perilaku buruk yang tidak berbahaya juga boleh diabaikan, sebab AAP menilai hal itu dapat membantu anak memahami akibat alami dari tindakannya. Meski begitu, perilaku yang membahayakan tetap harus dihentikan saat itu juga.
Advertisement
6. Merespons Anak dengan Hangat dalam Interaksi Sehari-hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2843891/original/018274600_1562156772-boy-child-childhood-235554.jpg)
Center on the Developing Child di Harvard University memperkenalkan konsep serve and return, yaitu interaksi timbal balik yang responsif antara anak dan orang yang merawatnya. Menurut lembaga itu, hubungan yang responsif dan penuh perhatian, dengan banyak interaksi bolak-balik, membangun fondasi yang kuat di otak anak untuk pembelajaran dan perkembangan di masa depan.
Caranya sederhana. Saat anak menunjuk burung di luar jendela, orang tua menoleh, tersenyum, lalu menyebutkan, "Itu burung." Harvard menguraikan lima langkahnya, yaitu memperhatikan ajakan anak, menanggapi dengan dukungan, menyebutkan apa yang dilihat atau dilakukan anak, bergantian bicara sambil menunggu, serta melatih awal dan akhir sebuah interaksi.
Konsep ini sering dikaitkan dengan anak kecil. Meski demikian, Harvard menyebut ada banyak cara cepat, mudah, dan gratis untuk membangun hubungan yang responsif dengan anak di segala usia.
7. Melibatkan Anak dalam Tugas Rumah dan Kegiatan Membantu Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325524/original/073170300_1756002900-front-view-beautiful-family-chatting.jpg)
Song juga menyoroti pentingnya membuat anak terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Melansir dari Grazia Magazine, salah satu caranya adalah menjadikan kegiatan berguna bagi orang lain sebagai ritual harian.
Tugas yang diberikan tidak perlu besar. Anak dapat menyiram tanaman, membantu menata meja makan, atau merawat hewan peliharaan. Dengan begitu, anak merasa dirinya punya peran di dalam keluarga.
Song menegaskan bahwa anak yang tangguh bukan anak yang menghindari rasa sakit. Mereka belajar bahwa dirinya mampu menanggung rasa sakit itu dan tetap bisa menjalani aktivitas.
Advertisement
8. Menjadi Teladan dan Membiasakan Kebiasaan Baik di Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488590/original/011623200_1769757751-Lifestylememory__2_.jpg)
Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen, I Gusti Made Ardana, mengatakan lingkungan keluarga menjadi sumber kebiasaan pertama dan utama yang dilihat dan ditiru anak. Peran orang tua sangat penting untuk memastikan kebiasaan baik benar-benar dijalankan dalam keseharian.
Pemerintah meluncurkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat pada Desember 2024. Gerakan ini dijalankan melalui Catur Pusat Pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Guru diharapkan menerapkannya di sekolah, sedangkan orang tua berperan membiasakannya di rumah. Tersedia pula buku panduan khusus bagi orang tua.
Artinya, anak akan lebih mudah mengikuti kebiasaan baik jika orang tua juga melakukannya. Misalnya, orang tua yang ingin anaknya bangun pagi dan aktif bermasyarakat perlu lebih dulu memberi contoh.
9. Menyeimbangkan Kehangatan dan Ketegasan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537552/original/023367100_1774426600-2827.jpg)
Psikolog perkembangan Diana Baumrind meneliti pola asuh lewat karya berjudul Effects of Authoritative Parental Control on Child Behavior (1966), dimuat di jurnal Child Development volume 37 nomor 4. Pola asuh yang menggabungkan tuntutan tinggi dengan kehangatan tinggi, disebut authoritative, dikaitkan dengan anak yang penyesuaiannya baik, percaya diri, dan mampu mengendalikan diri, sebagaimana dirangkum EBSCO Research Starters.
Klasifikasi empat gaya pengasuhan kemudian dikembangkan Eleanor Maccoby dan John Martin dalam bab Socialization in the Context of the Family: Parent-Child Interaction (1983). Perbedaan keempatnya dapat dilihat pada tabel berikut.
| Gaya pengasuhan | Ciri umum |
|---|---|
| Authoritative | Tegas tetapi tidak terlalu membatasi, hangat, dan memakai pujian untuk membimbing perilaku anak |
| Authoritarian | Aturan sangat ketat, menuntut kepatuhan, dan minim ruang berdiskusi |
| Permissive | Lebih ingin menjadi teman anak, memberi kebebasan mengambil keputusan, dan enggan menegakkan aturan |
| Uninvolved | Kurang terlibat, tuntutan dan kehangatan sama-sama rendah |
Bukan berarti orang tua harus mengikuti satu gaya secara kaku. Pesan utamanya, anak membutuhkan batasan yang jelas sekaligus pelukan dan percakapan yang hangat.
Advertisement
10. Mengelola Emosi Sendiri dan Menjaga Reaksi Tetap Dapat Ditebak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488589/original/000791000_1769757751-mom-comforting-her-upset-daughter.jpg)
Song mengingatkan bahwa aturan yang tidak dapat diprediksi dan reaksi orang tua yang meledak-ledak membuat anak sulit membangun rasa aman di dalam dirinya. Aturan yang hari ini dilarang tetapi besok dibolehkan akan membingungkan anak.
Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda emosinya mulai memuncak. Pakar yang dikutip MUSC menyarankan orang tua menjauh sejenak. Bila ada orang dewasa lain di rumah, mintalah ia mengambil alih sementara.
Setelah tenang, orang tua dapat kembali berbicara dengan anak. Jika merasa kewalahan, berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak dapat membantu menemukan cara yang lebih sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Setiap keluarga punya tantangannya sendiri, tetapi arah yang sama dapat ditempuh dengan langkah kecil yang konsisten. Mulailah dari satu kebiasaan yang paling mudah dijalankan, lalu tambahkan secara bertahap.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Orang Tua Mendidik AnaknyaÂ
1. Apa yang dimaksud dengan kebiasaan orang tua mendidik anaknya?
Kebiasaan orang tua mendidik anaknya adalah pola sikap dan tindakan yang dilakukan orang tua secara berulang dalam membimbing anak, seperti menetapkan aturan, memberi contoh, dan menanggapi kebutuhan anak.
2. Apakah orang tua harus selalu bersikap tegas?
Ketegasan penting, tetapi perlu diimbangi kehangatan. Menurut ringkasan penelitian Baumrind, pola asuh yang memadukan tuntutan dan kehangatan dikaitkan dengan anak yang percaya diri dan mampu mengendalikan diri.
3. Bolehkah orang tua memarahi anak dengan nada tinggi?
AAP menyarankan disiplin yang tenang dan fokus mengajarkan perilaku baik. Kata-kata kasar, bahkan dari orang tua yang penuh kasih, dapat memicu lebih banyak perilaku buruk dan masalah kesehatan mental pada anak.
4. Sejak usia berapa kebiasaan mendidik ini bisa dimulai?
Sejak bayi. AAP menyebut semua anak, termasuk bayi, memerlukan disiplin yang konsisten, sedangkan Harvard menekankan interaksi responsif sejak usia dini.
5. Bagaimana jika pasangan punya cara mendidik yang berbeda?
AAP menyarankan orang tua berbicara dengan pasangan, anggota keluarga, dan pengasuh untuk menyepakati aturan dasar yang diikuti bersama agar anak tidak bingung.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369365/original/034444800_1791519895-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-09T112039.867.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342535/original/041645600_1788773436-HOAX__11_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5078809/original/005995500_1736144544-Screenshot_20250106_121234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365046/original/083732600_1791097921-cek_fakta_sapi_bebek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369573/original/001480600_1791529397-pexels-karola-g-7296734.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358152/original/069001400_1790324455-01M3B1K2A7WQ7GNNJQ9ERZXDPP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369213/original/030698100_1791512101-Screenshot_2026-10-09_090154.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358154/original/057945500_1790324457-01M3B1KGCG3NPQM60EEGS9YK3D.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5073707/original/013559100_1735645381-Screenshot_2024-12-31_183146.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358150/original/095561300_1790324453-01M3B1NWY2QPE43KX1MA1811AT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365680/original/012310700_1791188933-pexels-vantik93-20646060.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5242713/original/083033500_1749039369-child-with-social-media-addiction.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4678238/original/063161000_1701955080-Ilustrasi_main_HP__tebak-tebakan_lucu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368761/original/049009800_1791447408-1049.jpg)