Liputan6.com, Jakarta - Setiap anak pernah melakukan kesalahan, baik karena belum memahami aturan, bertindak secara spontan, maupun kesulitan mengendalikan emosi. Dalam proses tumbuh kembangnya, respons orang tua terhadap kesalahan tersebut dapat memengaruhi cara anak belajar bertanggung jawab dan menyampaikan kebenaran.
Namun, ketika kesalahan selalu disambut dengan kemarahan, hukuman keras, atau kata-kata yang merendahkan, anak bisa merasa bahwa mengakui kesalahan justru akan membuat keadaan semakin buruk. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali kebiasaan yang berpotensi membuat anak takut berkata jujur agar komunikasi dalam keluarga tetap terbuka.
1. Langsung Memarahi Anak saat Mengetahui Kesalahannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5538410/original/084008900_1774514256-2150248226.jpg)
Memarahi anak secara berlebihan ketika mengetahui kesalahannya dapat membuat anak lebih berfokus pada reaksi orang tua daripada memahami akibat perbuatannya. Alih-alih belajar bertanggung jawab, anak mungkin justru sibuk memikirkan cara agar tidak dimarahi.
Ketika anak mengantisipasi kemarahan atau hukuman, ia dapat memilih menyembunyikan kesalahan demi menghindari konsekuensi yang tidak menyenangkan. Pendekatan disiplin yang terlalu keras juga berpotensi membuat anak lebih mementingkan keselamatan dirinya daripada memahami alasan suatu perilaku dianggap salah.
Orang tua tetap perlu memberikan batasan dan konsekuensi yang sesuai dengan usia anak. Namun, cobalah menenangkan diri sebelum berbicara, kemudian tanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan jelaskan mengapa perilaku tersebut perlu diperbaiki.
Advertisement
2. Membentak atau Berteriak ketika Anak Berbuat Salah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5548404/original/075129600_1775538580-portrait-surprised-boy.jpg)
Meninggikan suara setiap kali anak melakukan kesalahan dapat membuat suasana komunikasi terasa mengancam. Anak mungkin menjadi lebih sibuk mengantisipasi kemarahan daripada menjelaskan kejadian dengan jujur.
Pendekatan disiplin yang bersifat merugikan, termasuk membentak dan mempermalukan anak, tidak efektif untuk membangun perilaku positif dalam jangka panjang. Pendekatan tersebut juga dikaitkan dengan risiko dampak negatif pada perkembangan perilaku, emosi, dan psikososial anak.
Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat menyampaikan ketidaksetujuan dengan suara yang tenang dan tegas. Misalnya, daripada berteriak karena anak memecahkan barang, orang tua dapat mengatakan bahwa barang tersebut perlu dijaga dan mengajak anak membicarakan cara membereskan akibatnya.
3. Menghukum Anak secara Berlebihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308496/original/000226500_1785144671-IMG_2273.jpeg)
Hukuman yang terlalu berat dibandingkan dengan kesalahan yang dilakukan dapat membuat anak merasa tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Misalnya, anak yang tidak sengaja merusak barang justru mendapatkan hukuman yang jauh lebih besar daripada akibat perbuatannya, tanpa diberi kesempatan menjelaskan kejadian sebenarnya.
Ketika anak merasa bahwa pengakuan akan berujung pada hukuman yang berat, ia mungkin terdorong untuk menutupi kesalahannya. Sebaliknya, konsekuensi yang masuk akal dapat membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya tanpa menjadikan kejujuran sebagai sesuatu yang menakutkan.
Orang tua sebaiknya menerapkan konsekuensi yang berkaitan dengan kesalahan dan sesuai dengan usia anak. Jika anak merusak sesuatu, misalnya, ajak dia membantu membereskan atau memperbaiki kerusakan sesuai kemampuannya, alih-alih memberikan hukuman yang tidak berkaitan dengan perbuatannya.
Advertisement
4. Mempermalukan Anak di Depan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5299743/original/019521200_1753850285-caleb-woods-VZILDYoqn_U-unsplash.jpg)
Menegur anak di depan saudara, teman, atau anggota keluarga lain dengan tujuan membuatnya jera dapat menimbulkan rasa malu. Anak mungkin merasa bahwa mengakui kesalahan akan membuat dirinya menjadi bahan ejekan atau kehilangan penghargaan dari orang-orang di sekitarnya.
Tindakan disiplin yang mempermalukan atau merendahkan anak dapat berdampak buruk pada harga dirinya. Jika pengalaman tersebut terus berulang, anak berpotensi lebih memilih menyembunyikan kesalahan daripada menghadapi kemungkinan dipermalukan kembali.
Apabila anak melakukan kesalahan, orang tua sebaiknya membicarakannya secara pribadi, terutama jika persoalan tersebut bersifat sensitif. Sampaikan perilaku apa yang perlu diperbaiki tanpa menjadikan kesalahan sebagai bahan lelucon atau membandingkan anak dengan saudara dan teman-temannya.
5. Memberi Label Negatif kepada Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350565/original/074920800_1789622041-portrait-mother-son-happy-cuddle-together-park-family-concept.jpg)
Ucapan seperti "pembohong", "nakal", atau "tidak bisa dipercaya" dapat membuat anak merasa bahwa kesalahannya mencerminkan keseluruhan dirinya. Padahal, melakukan satu kesalahan tidak berarti anak akan selalu berperilaku buruk atau tidak mampu belajar menjadi lebih bertanggung jawab.
Tindakan menghina, merendahkan, dan mempermalukan anak dapat melukai harga dirinya serta mengalihkan perhatian dari perilaku yang sebenarnya perlu diperbaiki. Anak mungkin menjadi lebih sibuk mempertahankan diri atau menghindari cap negatif daripada memahami akibat tindakannya.
Orang tua dapat berfokus pada perilaku tertentu, bukan memberikan cap kepada anak. Sebagai contoh, daripada mengatakan "Kamu memang pembohong", orang tua dapat mengatakan, "Kamu tadi belum menceritakan kejadian yang sebenarnya. Sekarang, coba ceritakan lagi dengan jujur supaya kita bisa mencari solusinya."
Advertisement
6. Selalu Menyalahkan Anak Tanpa Mendengarkan Penjelasannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5548402/original/021820600_1775538580-view-child-suffering-from-being-bullied-school.jpg)
Ketika orang tua langsung menyimpulkan bahwa anak bersalah tanpa mendengarkan penjelasannya, anak bisa merasa tidak memiliki kesempatan untuk menyampaikan sudut pandangnya. Situasi ini dapat membuat anak enggan bercerita, terutama ketika ia merasa apa pun yang dikatakan tidak akan mengubah keputusan orang tua.
Pendekatan disiplin yang efektif seharusnya membantu anak memahami perilaku yang dapat diterima, belajar mengendalikan emosi, dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Jika anak merasa bahwa dirinya akan tetap disalahkan tanpa diberi kesempatan menjelaskan, ia mungkin memilih diam atau menyembunyikan informasi untuk menghindari konflik.
Karena itu, orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan kejadian sebelum mengambil keputusan. Mendengarkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan memastikan bahwa konsekuensi yang diberikan sesuai dengan situasi dan anak memahami alasan di baliknya.
7. Menuntut Anak Selalu Sempurna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327076/original/024795700_1787050135-IMG_2449.jpeg)
Orang tua yang terus-menerus menuntut nilai tinggi, kepatuhan tanpa cela, atau perilaku yang selalu benar dapat membuat anak merasa bahwa kesalahan merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima. Akibatnya, anak mungkin lebih takut mengecewakan orang tua daripada berusaha memahami apa yang perlu diperbaiki.
Ketika anak merasa harus selalu memenuhi harapan orang tua, ia dapat terdorong untuk menyembunyikan kegagalan atau memberikan jawaban yang dianggap akan menyenangkan orang tua. Sebaliknya, hubungan yang hangat dan suportif dapat membantu anak merasa lebih aman untuk membicarakan kesulitan yang dihadapinya.
Orang tua dapat menetapkan harapan yang realistis sesuai usia dan kemampuan anak. Apresiasi usaha, kejujuran, serta kesediaannya memperbaiki kesalahan, bukan hanya hasil akhir yang sempurna. Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar, sedangkan mengakui dan memperbaikinya adalah bentuk tanggung jawab.
Advertisement
8. Tidak Memberikan Contoh Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308494/original/080573400_1785144668-IMG_2271.jpeg)
Anak belajar bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang tua. Jika orang tua meminta anak selalu berkata jujur, tetapi justru berbohong untuk menghindari tanggung jawab atau menyuruh anak menyembunyikan sesuatu, anak dapat menerima pesan yang bertentangan mengenai pentingnya kejujuran.
Kebiasaan orang tua berbohong kepada anak untuk tujuan pengasuhan dapat berkaitan dengan perilaku berbohong anak kepada orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku orang tua dapat menjadi salah satu contoh yang diamati anak ketika belajar memahami kejujuran dan cara menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Orang tua dapat menjadi contoh dengan mengakui kesalahan sendiri secara terbuka. Misalnya, jika keliru menuduh anak, sampaikan permintaan maaf dan jelaskan bahwa kesimpulan tersebut dibuat tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Sikap ini menunjukkan bahwa mengakui kesalahan bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan bagian dari tanggung jawab.
Cara Membangun Kebiasaan Anak agar Berani Mengakui Kesalahan
Membangun kejujuran tidak cukup hanya dengan meminta anak berkata apa adanya. Anak juga perlu merasakan bahwa ia dapat menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa langsung menghadapi kemarahan yang berlebihan atau penghinaan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
- Dengarkan penjelasan anak terlebih dahulu. Berikan kesempatan untuk menceritakan kejadian sebelum menarik kesimpulan.
- Pisahkan perilaku dari identitas anak. Koreksi perbuatannya tanpa memberikan label negatif pada dirinya.
- Terapkan konsekuensi yang wajar. Pastikan konsekuensi berkaitan dengan kesalahan dan bertujuan mengajarkan tanggung jawab.
- Hargai keberanian berkata jujur. Akui upaya anak untuk mengungkapkan kebenaran, meskipun ia tetap perlu bertanggung jawab atas perbuatannya.
- Berikan contoh melalui tindakan. Tunjukkan bahwa orang dewasa juga dapat mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaikinya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan rekomendasi American Academy of Pediatrics mengenai disiplin positif, seperti memberikan penguatan terhadap perilaku baik, menetapkan batasan yang jelas, dan membantu anak memahami harapan orang tua.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Membuat Anak Takut Mengakui Kesalahan
Mengapa anak takut mengakui kesalahan kepada orang tua?
Anak bisa takut mengakui kesalahan karena khawatir dimarahi, dihukum secara berlebihan, dipermalukan, atau diberi label negatif. Pengalaman tersebut dapat membuat anak memilih menyembunyikan kesalahan agar terhindar dari konsekuensi yang tidak menyenangkan.
Apa kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak takut berkata jujur?
Beberapa kebiasaan yang berpotensi membuat anak takut berkata jujur antara lain langsung memarahi anak, membentak, memberikan hukuman berlebihan, mempermalukan anak di depan orang lain, memberi label negatif, dan tidak mendengarkan penjelasannya.
Bagaimana cara orang tua agar anak berani mengakui kesalahan?
Orang tua dapat membangun komunikasi yang hangat, mendengarkan penjelasan anak sebelum mengambil keputusan, serta memberikan konsekuensi yang wajar. Menghargai kejujuran dan memberikan contoh dengan mengakui kesalahan sendiri juga dapat membantu anak belajar bertanggung jawab tanpa merasa takut.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372384/original/088941600_1791878335-cek_fakta_BSU_Oktober_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366130/original/016498100_1791253536-033A5626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372163/original/076659600_1791870152-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-13T123856.209.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6363680/original/024922800_1779238711-Tugas__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5548403/original/052279600_1775538580-child-suffering-school-getting-bullied.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372428/original/066886200_1791879468-edefee.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3938818/original/005997700_1645185149-20220218-Pangsa_Pasar_KPR_Subsidi_BTN_Meleji-9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5121043/original/033748800_1738673437-julia-topp-kuIiEew8V-A-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372455/original/026260700_1791879925-HL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318918/original/090176000_1786170411-close-up-woman-applying-face-cream.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372280/original/051642500_1791875347-Gemini_Generated_Image_gqfzpbgqfzpbgqfz.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5015711/original/012748000_1732170744-1284510713_808510-5654.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4082648/original/052985800_1657258730-2012.i506.016_ramadan_charity_flat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372230/original/060792600_1791872223-01eec04e-741e-40b3-8db9-0043dfdfc033.jpg)