7 Ciri Orang yang Selalu Cek Email Kerja di Luar Jam Kerja Menurut Psikologi

Kenali ciri orang yang selalu cek email kerja di luar jam kerja menurut psikologi, mulai dari telepressure hingga dampaknya bagi kesehatan mental.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Sudah sampai di rumah, tetapi tangan masih gatal ingin membuka email kantor? Kebiasaan seperti ini lebih umum daripada yang Anda kira, dan sebenarnya menyimpan pola psikologis tertentu.

Memeriksa pesan pekerjaan saat waktunya beristirahat memang terasa sepele. Namun, ada ciri orang yang selalu cek email kerja di luar jam kerja menurut psikologi yang layak Anda pahami sebelum kebiasaan itu diam-diam menggerus ketenangan.

Mengacu pada riset yang dimuat dalam jurnal Occupational Health Science, kebiasaan menengok email di luar jam kantor berkaitan erat dengan kelelahan emosional, dengan pelepasan psikologis dan konflik kerja-keluarga memainkan peran penting dalam hubungan tersebut. 

Memahami ciri orang yang selalu cek email kerja di luar jam kerja menurut psikologi menjadi langkah awal untuk menjaga batas sehat antara pekerjaan dan hidup pribadi.

Apa Itu Kebiasaan Cek Email Kerja di Luar Jam Kerja?

Secara sederhana, kebiasaan ini adalah aktivitas membaca, membuka, atau membalas email pekerjaan ketika Anda seharusnya sedang beristirahat, entah pada malam hari, akhir pekan, atau saat cuti. Dalam psikologi kerja, perilaku ini bersinggungan langsung dengan konsep pelepasan psikologis (psychological detachment), yaitu kemampuan melepaskan pikiran dari pekerjaan saat berada di luar kantor.

Telepressure yang tinggi diketahui berhubungan dengan pengalaman pemulihan yang lebih rendah, khususnya berkurangnya pelepasan psikologis, yakni tidak adanya perenungan atau pikiran soal pekerjaan selama waktu di luar kerja.

Merujuk publikasi yang terindeks di PubMed Central, dorongan untuk selalu merespons pesan pekerjaan dengan cepat dikenal sebagai telepressure, yaitu keadaan psikologis ketika seseorang merasa terdorong mempertahankan koneksi yang terus-menerus dengan aktivitas kerjanya. Inilah mesin di balik jari yang otomatis membuka aplikasi email meski jam kerja sudah lama berakhir.

Para peneliti yang mempelajari fenomena ini, dikutip dari AOL, menuliskan, "Email terkenal sebagai penghambat proses pemulihan." Contoh sederhananya, bayangkan Anda sudah rebahan, tetapi satu notifikasi membuat otak kembali masuk mode kerja seolah tidak pernah meninggalkan meja kantor, sehingga tubuh gagal benar-benar beristirahat.

Ciri Orang yang Selalu Cek Email Kerja di Luar Jam Kerja Menurut Psikologi

Dari sudut pandang psikologi, orang dengan kebiasaan ini biasanya menunjukkan beberapa pola yang khas. Yang paling menonjol adalah telepressure tinggi, yaitu keterpakuan dan dorongan untuk segera menanggapi email pekerjaan begitu pesan itu masuk.

Pola berikutnya adalah mentalitas "selalu terhubung", di mana seseorang merasa wajib bisa dihubungi kapan saja sehingga kesempatan untuk benar-benar melepas penat nyaris hilang. Ciri lain yang kerap muncul adalah munculnya rasa cemas atau bersalah ketika belum sempat memeriksa kotak masuk, disertai kecenderungan memikirkan urusan kantor secara berulang.

Telepressure yang tinggi membuat perhatian seseorang terus bergeser ke informasi terkait pekerjaan, sehingga ia sulit melepaskan diri dari kerja dan mengalami penipisan sumber daya yang terus-menerus. Bagi banyak orang, ciri ini terasa seperti "tidak bisa tenang" sampai memastikan tidak ada pesan penting yang terlewat.

Menariknya, mereka yang justru paling menderita bukan yang cuek, melainkan yang sangat ingin memisahkan urusan kerja dan rumah. Studi menemukan bahwa karyawan yang paling terpukul oleh ekspektasi organisasi semacam ini adalah mereka yang sangat ingin memisahkan pekerjaan dan keluarga, yaitu orang dengan preferensi segmentasi yang kuat.

William Becker, peneliti dari Virginia Tech, dikutip dari Virginia Tech News, menyatakan, "Tuntutan kerja dan non-kerja yang bersaing menghadirkan dilema bagi karyawan, yang memicu kecemasan dan membahayakan pekerjaan serta kehidupan pribadi."

Jadi, jika Anda mendapati diri sulit lepas dari layar ponsel setiap kali teringat pekerjaan, merasa gelisah saat kotak masuk belum dibuka, atau terus memutar ulang isi email di kepala saat makan malam, kemungkinan besar Anda sedang menampilkan sebagian dari pola tersebut.

Penyebab Sulit Berhenti Memeriksa Email di Luar Jam Kerja

Kenapa banyak orang tetap membuka email meski tahu itu melelahkan? Salah satu akar utamanya adalah ekspektasi organisasi yang membuat karyawan merasa harus selalu siap sedia. Sebagaimana dilaporkan ScienceDaily,

karyawan sebenarnya tidak perlu benar-benar mengerjakan tugas di luar jam kerja untuk merasakan dampak buruknya, karena sekadar ekspektasi untuk selalu tersedia sudah meningkatkan tekanan bagi karyawan maupun orang terdekatnya. 

Liuba Belkin, salah satu peneliti studi tersebut, dikutip dari Human Resources Director, menuturkan, "Ekspektasi organisasi dapat mencuri sumber daya karyawan bahkan ketika waktu nyata tidak dibutuhkan." Tekanan ini sering kali tidak tertulis, melainkan berupa norma tak kasat mata: rekan cepat membalas, atasan mengirim pesan larut malam, atau budaya kantor yang menganggap "responsif" sebagai tanda dedikasi.

Faktor lain datang dari dalam diri, misalnya rasa takut kehilangan pekerjaan, takut dianggap malas bila menetapkan batas, atau sekadar kebiasaan menyentuh ponsel yang sudah mengakar. Situasi kerja dari rumah turut memperparah karena batas fisik antara ruang kerja dan ruang istirahat menjadi kabur.

Dampak bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Kebiasaan ini bukan tanpa konsekuensi. Berdasarkan laporan Business News Daily, sebanyak 81 persen pekerja jarak jauh mengaku memeriksa email di luar jam kerja, termasuk 63 persen pada akhir pekan dan 34 persen saat berlibur. Angka setinggi itu menandakan betapa mudahnya batas kerja jebol dan menyita waktu pemulihan.

Efek pertama yang paling sering dirasakan adalah kelelahan emosional dan risiko burnout. Samantha Conroy, peneliti dari studi yang sama, dikutip dari Colorado State University, mengatakan,

"Orang yang merasa harus membalas email di luar jam kerja menjadi kelelahan emosional karena tidak bisa lepas dari pekerjaan." Dari sisi tubuh, stres yang terus menyala turut mengganggu keseimbangan hormon. Seperti yang diberitakan TIME, sebuah studi menemukan kadar kortisol tetap meningkat ketika seseorang merasa harus siap dihubungi, dan kenaikan itu tetap terjadi bahkan saat ia tidak dituntut hadir secara fisik di kantor.

Bila dibiarkan menahun, stres kronis semacam ini dapat memicu gangguan tidur, sakit kepala, penurunan daya tahan tubuh, hingga masalah kardiovaskular.

Efeknya pada Otak dan Hubungan dengan Orang Terdekat

Otak juga ikut menanggung beban ketika kortisol terus diproduksi. Dr. Daryl Appleton, seorang psikoterapis, dikutip dari Moms.com, menjelaskan, "Dengan terlalu banyak kortisol yang tak terkendali di korteks prefrontal, kemampuan mengambil keputusan pun menurun."

Ia juga memaparkan bahwa pusat memori di hippocampus bisa menyusut dan mekanisme lawan-atau-lari di otak menjadi liar. Akibatnya, pengambilan keputusan cenderung lebih emosional daripada rasional, dan email yang biasa saja bisa terasa seperti ancaman.

Dampaknya pun tidak berhenti pada diri sendiri. Mengutip Forbes, temuan riset menunjukkan bukan hanya karyawan yang mengalami efek kesehatan negatif karena tak pernah bisa lepas dari pekerjaan, tetapi pasangan mereka pun merasakan dampak serupa.

Ketika Anda hadir secara fisik namun pikiran melayang ke kotak masuk, orang-orang terdekat akan merasa kurang diprioritaskan, dan kualitas hubungan pelan-pelan ikut terkikis.

Cara Melepaskan Diri dari Kebiasaan Cek Email Kantor

Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dilatih ulang. Langkah paling mendasar adalah menetapkan batas yang jelas: tentukan jam berhenti bekerja, lalu tutup laptop dan matikan notifikasi email di ponsel agar Anda tidak tergoda mengeceknya setiap saat. Alih-alih membalas pesan begitu masuk, sisihkan satu waktu khusus bila memang ada urusan mendesak, sehingga periode istirahat Anda tidak terpotong-potong.

Komunikasi juga sama pentingnya. Bicarakan ekspektasi ketersediaan dengan atasan dan rekan kerja agar semua pihak sepakat kapan Anda bisa dihubungi dan kapan tidak. Selain itu, melatih mindfulness atau kehadiran penuh saat bersama keluarga terbukti membantu meredakan kecemasan dan mengembalikan fokus pada momen yang sedang berlangsung. Manfaatkan pula akhir pekan untuk benar-benar beristirahat, bukan sebagai perpanjangan hari kerja.

Mencintai pekerjaan itu wajar, tetapi tubuh dan pikiran Anda tetap butuh ruang untuk pulih. Dengan mengenali ciri orang yang selalu cek email kerja di luar jam kerja menurut psikologi, Anda bisa lebih cepat menyadari kapan batas mulai kabur dan segera menariknya kembali demi kesehatan serta hubungan yang lebih sehat dalam jangka panjang.

Tanya Jawab Seputar Kebiasaan Mengecek Email Kerja

1. Mengapa seseorang sering mengecek email kerja di luar jam kantor?

Kebiasaan ini bisa dipicu oleh tuntutan pekerjaan, rasa tanggung jawab, atau kekhawatiran melewatkan informasi penting.

2. Apakah kebiasaan ini bisa menyebabkan kelelahan emosional?

Ya, kebiasaan tersebut dapat mengganggu waktu istirahat dan berkaitan dengan kelelahan emosional.

3. Apa ciri orang yang selalu mengecek email kerja?

Mereka mungkin sulit berhenti memikirkan pekerjaan, merasa harus selalu siap merespons, dan khawatir melewatkan pesan penting.

4. Apa itu pelepasan psikologis dari pekerjaan?

Pelepasan psikologis adalah kemampuan berhenti memikirkan pekerjaan saat waktu istirahat agar pikiran dapat pulih.

5. Bagaimana cara mengurangi kebiasaan mengecek email kantor?

Tetapkan batas waktu kerja, matikan notifikasi di luar jam kantor, dan luangkan waktu untuk beristirahat.