Bantu Anak Belajar Rendah Hati, Ini 9 Cara yang Bisa Diterapkan Mulai dari Rumah

Orang tua bisa bantu anak belajar rendah hati lewat kebiasaan kecil di rumah. Simak caranya, dari mendengarkan hingga bersyukur.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 18:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Orang tua mana pun tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang santun, tidak sombong, dan menghargai sesama. Namun, sikap ini tidak tumbuh dengan sendirinya. Karena itu, orang tua perlu bantu anak belajar rendah hati lewat kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijalani setiap hari di rumah.

Rendah hati adalah sikap menghargai orang lain, tidak congkak, dan tidak memandang remeh siapa pun. Makin dini anak mengenalnya, makin besar peluang sikap ini tertanam kuat. Anak dengan sikap ini juga cenderung lebih peka terhadap perasaan orang di sekitarnya.

Panduan ini Liputan6.com merangkum sembilan cara yang bisa dicoba orang tua, dengan merujuk dari berbagai sumber. Semuanya bisa dimulai tanpa alat khusus, cukup dengan konsistensi.

1. Latih Anak Mendengarkan Lebih Dulu

Langkah pertama adalah membiasakan anak mendengar sebelum bicara. Menurut Focus on the Family, anak perlu memahami bahwa setiap orang ingin dimengerti. Dari situ, mereka belajar menangkap apa yang sebenarnya dibutuhkan lawan bicara dan mengapa orang itu menceritakan sesuatu.

Anak mudah mendominasi obrolan dengan pendapatnya sendiri, dan itu wajar. Orang tua bisa melatihnya dengan memberi giliran bicara saat makan bersama, lalu meminta anak menyebutkan kembali apa yang ia dengar dari anggota keluarga lain. Dengan begitu, anak terbiasa menganggap pendapat orang lain sama berharganya.

2. Tumbuhkan Empati Sejak Kecil

Focus on the Family menyebut kerendahan hati bisa mulai dibentuk sejak bayi, yakni lewat cara orang tua memandang dan memperlakukan anak serta orang lain sebagai pribadi yang berharga. Dari sana, empati tumbuh dan membuat anak mampu menjalin hubungan yang tulus.

Salah satu latihan yang sederhana adalah merawat makhluk hidup. Mengurus hewan peliharaan atau menyiram taman membuat anak belajar peka terhadap kebutuhan pihak lain. Orang tua dapat memancing dengan pertanyaan ringan, misalnya "Menurutmu, kucing ini butuh apa sekarang?"

3. Lihat Kesempatan Membantu sebagai Undangan, Bukan Beban

Dalam ulasan yang sama, kesempatan membantu orang lain disarankan dipandang sebagai peluang, bukan gangguan. Permintaan tolong dari adik, tetangga, atau guru bisa diajarkan sebagai ajakan untuk berbuat baik, bukan pekerjaan tambahan yang melelahkan.

Cara orang tua merespons permintaan tolong akan ikut dicontoh anak. Jika orang tua menggerutu, anak ikut menganggap membantu sebagai beban. Sebaliknya, sikap senang hati dapat membentuk anak yang dermawan dan bertanggung jawab.

4. Biasakan Bersyukur Bersama

Focus on the Family menganjurkan keluarga rutin membicarakan hal-hal yang disyukuri tiap anggota. Contohnya, saat makan malam, setiap orang menyebut satu hal yang membuatnya berterima kasih hari itu. Kebiasaan kecil ini melatih anak menghargai apa yang ia miliki dan orang yang berjasa baginya.

Artikel Greater Good yang mengulas buku Making Grateful Kids karya Jeffrey Froh dan Giacomo Bono juga menyarankan agar anak aktif berterima kasih, misalnya lewat kartu ucapan untuk guru, teman, atau kakek-nenek. Menurut artikel itu, rasa syukur pada anak dikaitkan dengan kebahagiaan, optimisme, dan kepuasan hidup yang lebih baik.

5. Jadi Teladan dalam Menghargai Orang Lain

Anak belajar banyak dari apa yang ia lihat. Focus on the Family mengingatkan orang tua untuk menunjukkan cara menghargai ide, perasaan, dan minat orang lain, serta cara tetap akur meski berbeda pandangan. Contoh nyata biasanya lebih cepat ditiru dibandingkan nasihat panjang.

Greater Good menambahkan, orang tua bisa memberi contoh dengan berterima kasih kepada orang yang membantu dan menolong tetangga yang kesulitan. Orang tua juga dianjurkan mengucapkan terima kasih kepada anak, termasuk untuk tugas rumah yang memang menjadi kewajibannya.

6. Saling Menguatkan lewat Kata-kata

Anak bisa belajar membesarkan hati orang lain tanpa merasa nilai dirinya berkurang. Inilah poin yang ditekankan Focus on the Family. Pesannya, memuji atau mendukung teman dan saudara tidak membuat anak menjadi lebih rendah.

Orang tua dapat membiasakan anak mengucapkan kalimat penyemangat, misalnya kepada kakak yang sedang ujian atau teman yang kalah lomba. Orang tua pun bisa memberi kata-kata semangat kepada anak sebagai pengingat bahwa setiap orang punya kelebihan masing-masing.

7. Rayakan Kebiasaan Melayani

Focus on the Family mendorong keluarga mencari cara melayani, baik di rumah, sekolah, lingkungan sekitar, maupun masyarakat, lalu merayakannya bersama. Penulisnya berpendapat bahwa tindakan melayani layak mendapat apresiasi lebih besar daripada prestasi akademik.

Dalam keseharian, bentuknya bisa sesederhana membantu menyiapkan meja makan, ikut kerja bakti, atau berbagi mainan dengan teman. Orang tua dapat menceritakan kembali kebaikan itu di depan keluarga agar anak merasa usahanya dihargai.

8. Puji Usaha, Bukan Sekadar Bakat

Harvard Health mengulas studi terhadap 53 anak berusia 1 sampai 3 tahun. Peneliti merekam interaksi orang tua dan anak di rumah selama 90 menit, lalu memilah pujian menjadi dua jenis: pujian untuk usaha dan cara kerja anak, serta pujian untuk sifat bawaan atau bakat. Kelompok anak ini ditemui lagi saat berusia 7 atau 8 tahun. Temuan utamanya, pujian atas usaha berpotensi menumbuhkan motivasi lebih baik dibandingkan pujian atas bakat.

Bagi orang tua, pesan praktisnya adalah menyorot ketekunan dan proses, bukan melabeli anak sebagai yang paling pintar. Pujian seperti ini diharapkan membuat anak melihat keberhasilan sebagai hasil kerja keras, sehingga tidak mudah merasa lebih unggul dari orang lain.

9. Ajak Anak Menikmati Hal-hal Sederhana

Greater Good menyebut satu kebiasaan yang disebut savoring, yaitu menikmati pengalaman dan barang secara lebih penuh. Caranya antara lain menyimpan ponsel saat waktu bersama keluarga, mengulas momen baik hari itu, makan dengan pelan, dan mencari cara baru bermain dengan mainan lama.

Menurut para penulis buku tersebut, kebiasaan ini dapat menekan sikap konsumtif dan kecenderungan menganggap biasa hal-hal yang menyenangkan. Anak yang terbiasa menghargai hal kecil lebih mudah bersyukur, dan rasa syukur menjadi fondasi penting bagi sikap rendah hati.

Tanya Jawab Seputar Cara Bantu Anak Belajar Rendah Hati

1. Apa yang dimaksud rendah hati pada anak? Sikap tidak congkak, menghormati sesama, dan tidak memandang rendah siapa pun.

2. Sejak usia berapa anak bisa diajarkan rendah hati? Focus on the Family menyebut kerendahan hati bisa dimulai sejak bayi, lewat cara orang tua memperlakukan anak dan orang lain dengan penuh penghargaan.

3. Apakah rendah hati berarti anak harus merasa rendah diri? Tidak. Anak bisa mendukung dan memuji orang lain tanpa merasa nilai dirinya berkurang.

4. Pujian seperti apa yang sebaiknya diberikan? Pujilah usaha, ketekunan, dan cara anak bekerja, bukan hanya bakat atau kepintarannya.

5. Apa cara yang paling berpengaruh bagi anak? Keteladanan. Anak banyak belajar dengan meniru, sehingga sikap orang tua sehari-hari menjadi contoh paling nyata.