Liputan6.com, Jakarta - Notifikasi grup kantor yang terus bermunculan pada malam hari bisa membuat waktu istirahat terasa seperti perpanjangan jam kerja. Namun, ada orang yang memilih tidak membuka pesan pekerjaan setelah jam kerja selesai. Mereka baru kembali memeriksa komunikasi kantor ketika waktu kerja dimulai, kecuali ada kesepakatan khusus mengenai keadaan darurat.
Menurut psikologi, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan kemampuan menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Sikap ini juga berhubungan dengan konsep psychological detachment, yaitu kemampuan melepaskan diri secara mental dari pekerjaan saat sedang tidak bekerja. Meski demikian, seseorang yang tidak mengecek chat kantor belum tentu memiliki kepribadian tertentu atau kondisi mental yang lebih baik daripada orang lain. Maknanya bergantung pada alasan, situasi pekerjaan, dan kebiasaan masing-masing.
1. Mampu Memisahkan Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358152/original/069001400_1790324455-01M3B1K2A7WQ7GNNJQ9ERZXDPP.jpg)
Salah satu penjelasan psikologis yang relevan adalah kemampuan seseorang membangun batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dalam psikologi kerja, preferensi ini berkaitan dengan boundary management, yakni cara seseorang mengatur perpindahan antara peran profesional dan kehidupan di luar kantor.
Orang yang sengaja tidak membuka chat kantor setelah jam kerja mungkin merasa lebih nyaman ketika kedua area kehidupannya memiliki batas yang jelas. Mereka dapat berkonsentrasi pada keluarga, hobi, aktivitas sosial, atau waktu istirahat tanpa terus memikirkan tanggung jawab pekerjaan.
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Workplace Health Management pada 2016 menemukan bahwa ekspektasi untuk selalu tersedia setelah jam kerja dan penggunaan ponsel untuk urusan pekerjaan selama waktu luang berkaitan dengan lebih sulitnya seseorang melepaskan diri secara mental dari pekerjaan. Studi terhadap 2.876 pekerja tersebut juga menunjukkan pentingnya kendali individu atas batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Advertisement
2. Memahami Pentingnya Pemulihan Mental
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3245696/original/046788000_1600769901-pexels-andrea-piacquadio-3790797.jpg)
Bekerja membutuhkan energi fisik sekaligus sumber daya mental, seperti perhatian, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi. Setelah menghadapi tuntutan pekerjaan sepanjang hari, seseorang membutuhkan kesempatan untuk memulihkan energi tersebut sebelum kembali menghadapi aktivitas profesional.
Tidak membuka chat kantor bisa menjadi salah satu cara untuk memberi jarak dari tuntutan pekerjaan. Ketika tidak terus-menerus membaca pesan atau memikirkan tugas yang belum selesai, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk menikmati waktu luang tanpa gangguan pekerjaan.
Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2017 menelaah 86 publikasi dengan 91 sampel penelitian independen yang melibatkan total 38.124 pekerja. Hasilnya menunjukkan bahwa pelepasan mental dari pekerjaan berkaitan dengan sejumlah indikator kesejahteraan yang lebih baik, termasuk lebih sedikit kelelahan, kepuasan hidup lebih tinggi, dan kualitas tidur yang lebih baik.Â
Namun, pemulihan mental tidak hanya ditentukan oleh kebiasaan memeriksa pesan. Kualitas tidur, beban kerja, kondisi keluarga, dan kesempatan melakukan aktivitas yang menyenangkan juga berperan dalam pengalaman seseorang selama waktu istirahat.
3. Tidak Merasa Harus Selalu Responsif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5297459/original/038142000_1753685718-pexels-cottonbro-5052875.jpg)
Sebagian pekerja merasa perlu segera membalas setiap pesan yang masuk, bahkan ketika pesan tersebut dikirim pada malam hari atau akhir pekan. Ada pula orang yang merasa tidak nyaman ketika melihat notifikasi belum dibaca karena khawatir dianggap lambat, tidak profesional, atau kurang berdedikasi.
Dalam psikologi kerja, dorongan untuk segera merespons komunikasi pekerjaan terkadang dibahas melalui konsep telepressure. Istilah ini menggambarkan tekanan psikologis atau dorongan untuk segera menanggapi pesan yang berkaitan dengan pekerjaan.
Orang yang tidak mengecek chat kantor setelah jam kerja mungkin memiliki dorongan tersebut yang relatif rendah, atau telah membangun kebiasaan untuk tidak menanggapi tuntutan komunikasi di luar waktu kerja. Akan tetapi, perilaku yang sama juga bisa muncul karena aturan kantor, kesibukan pribadi, atau keputusan sederhana untuk mematikan notifikasi.
Penelitian mengenai penggunaan email pekerjaan di luar jam kerja yang diterbitkan dalam Journal of Occupational Health pada 2021 mengamati 58 pekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi selama satu bulan. Frekuensi mengirim email pekerjaan setelah jam kerja berkaitan dengan beberapa hasil yang dilaporkan pekerja, termasuk kemampuan melepaskan diri dari pekerjaan dan kelelahan yang terbawa ke waktu berikutnya. Peneliti menyarankan agar komunikasi pekerjaan setelah jam kerja diminimalkan untuk mendukung pemulihan.Â
Advertisement
4. Menghargai Waktu Istirahat Tanpa Merasa Bersalah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346002/original/021335700_1789103492-IMG_2657.jpeg)
Tidak semua pesan kantor harus dijawab saat itu juga. Ketika seseorang memahami bahwa waktu istirahat merupakan bagian penting dari keseimbangan hidup, ia mungkin lebih nyaman menunda respons hingga jam kerja berikutnya.
Sikap ini dapat mencerminkan pemahaman mengenai prioritas dan batas tanggung jawab. Seseorang tetap bisa menjadi pekerja yang teliti, disiplin, dan dapat diandalkan tanpa harus selalu tersedia setiap saat. Profesionalisme juga terlihat dari kualitas pekerjaan, konsistensi memenuhi tenggat, serta komunikasi yang jelas mengenai ketersediaan.
Meski begitu, kemampuan menghargai waktu istirahat tidak selalu berarti seseorang tidak pernah merasa bersalah. Pekerja yang terbiasa berada dalam lingkungan dengan ekspektasi respons cepat mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dan membangun batasan yang lebih sehat.
Dalam praktiknya, rasa nyaman ketika tidak memeriksa chat kantor biasanya lebih mudah terbentuk apabila aturan komunikasi di tempat kerja cukup jelas. Ketika atasan dan rekan kerja memahami kapan seseorang dapat dihubungi, pekerja tidak perlu terus menebak apakah setiap pesan membutuhkan respons segera.
5. Memiliki Kebiasaan Mengatur Prioritas
Orang yang tidak mengecek chat kantor di luar jam kerja mungkin telah menentukan kapan pekerjaan perlu mendapatkan perhatian dan kapan aktivitas pribadi harus menjadi prioritas. Mereka tidak otomatis menganggap setiap notifikasi sebagai sesuatu yang mendesak.
Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi perpindahan perhatian yang tidak perlu. Misalnya, ketika sedang makan malam bersama keluarga, seseorang bisa memilih untuk menikmati percakapan tanpa berulang kali memeriksa ponsel hanya karena ada pesan baru di grup kantor.
Namun, tidak memeriksa pesan bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Perencanaan yang baik justru dapat terlihat dari kebiasaan menyelesaikan tugas penting sebelum pulang, mencatat pekerjaan yang perlu dilanjutkan keesokan hari, dan memberi tahu rekan kerja mengenai hal-hal yang masih membutuhkan tindak lanjut.
Jika ada tugas yang belum selesai, seseorang bisa membuat daftar prioritas untuk hari berikutnya. Dengan begitu, pekerjaan tetap terorganisasi tanpa harus terus membuka komunikasi kantor selama waktu pribadi.
Advertisement
6. Tidak Mengukur Harga Diri dari Kesibukan
Dalam lingkungan kerja tertentu, kesibukan sering dianggap sebagai tanda produktivitas. Pekerja yang membalas pesan hingga larut malam terkadang terlihat sangat berdedikasi, sedangkan mereka yang berhenti merespons setelah jam kerja bisa disalahartikan sebagai orang yang kurang bersemangat.
Padahal, jumlah waktu yang dihabiskan untuk bekerja tidak selalu mencerminkan kualitas hasil kerja. Seseorang dapat memiliki komitmen profesional yang tinggi sekaligus menjaga waktu untuk beristirahat, berolahraga, belajar, atau menjalani kehidupan sosial.
Orang yang nyaman tidak mengecek chat kantor mungkin tidak menjadikan ketersediaan sepanjang waktu sebagai ukuran utama nilai dirinya. Ia dapat memahami bahwa tanggung jawab profesional memiliki batas dan bahwa waktu pribadi juga mempunyai fungsi tersendiri.
Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa orang yang sering memeriksa pesan kantor memiliki harga diri rendah atau ketergantungan pada pekerjaan. Ada pekerja yang memang harus menangani situasi mendesak, memiliki jadwal bergilir, atau menjalankan tanggung jawab yang membutuhkan kesiapsiagaan. Konteks pekerjaan tetap menjadi faktor penting.
7. Menyesuaikan Batasan dengan Tanggung Jawab Pekerjaan
Tidak mengecek chat kantor setelah jam kerja bukan aturan yang harus diterapkan secara mutlak oleh semua orang. Beberapa profesi, seperti tenaga kesehatan, petugas layanan darurat, tim operasional tertentu, atau pekerja dengan jadwal siaga, mungkin mempunyai kewajiban komunikasi di luar jam kerja yang telah disepakati.
Karena itu, kebiasaan yang sehat bukan sekadar menutup akses komunikasi, melainkan mengetahui kapan seseorang perlu tersedia dan kapan ia berhak menggunakan waktunya untuk kepentingan pribadi. Batasan yang jelas sebaiknya disesuaikan dengan kontrak kerja, kebijakan perusahaan, pembagian tugas, serta ketentuan yang berlaku.
Pekerja dapat mendiskusikan dengan atasan jenis pesan yang harus segera ditanggapi, saluran komunikasi untuk keadaan darurat, dan hal-hal yang dapat menunggu hingga hari kerja berikutnya. Kesepakatan tersebut membantu menghindari anggapan bahwa semua pesan memiliki tingkat urgensi yang sama.
Bagi pekerja yang tidak diwajibkan siaga, mengaktifkan mode fokus atau membisukan notifikasi grup kantor setelah jam kerja bisa menjadi pilihan praktis. Jika ada tanggung jawab yang harus diteruskan kepada rekan kerja, informasi tersebut sebaiknya disampaikan sebelum waktu kerja berakhir agar batasan pribadi tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab profesional.
Advertisement
Cara Menjaga Batasan Sehat dengan Chat Kantor
Bagi orang yang ingin mengurangi kebiasaan memeriksa pesan pekerjaan di luar jam kerja, beberapa langkah berikut dapat dicoba secara bertahap.
- Tentukan jam untuk berhenti bekerja. Tetapkan waktu yang realistis untuk menyelesaikan aktivitas profesional dan beralih ke kegiatan pribadi, dengan tetap memperhatikan jadwal kerja yang berlaku.
- Atur notifikasi ponsel. Gunakan fitur mode fokus atau pembisuan grup kantor jika pekerjaan tidak mengharuskan respons di luar jam kerja.
- Bedakan pesan mendesak dan pesan biasa. Sepakati dengan tim bagaimana keadaan darurat disampaikan agar pesan rutin tidak terus-menerus mengganggu waktu istirahat.
- Selesaikan pekerjaan dengan daftar prioritas. Catat tugas yang belum selesai dan tentukan waktu untuk menanganinya pada hari kerja berikutnya.
- Komunikasikan batasan secara profesional. Sampaikan kapan kamu dapat dihubungi dan kapan pesan akan ditanggapi, terutama jika pola komunikasi tim belum jelas.
- Berikan ruang untuk pengecualian yang masuk akal. Jika pekerjaan memang memiliki jadwal siaga atau kondisi darurat, atur mekanisme respons yang jelas alih-alih menganggap semua pesan harus selalu diabaikan.
Tujuan dari langkah-langkah tersebut bukan menghindari pekerjaan, melainkan menciptakan pola komunikasi yang memungkinkan tanggung jawab profesional dan kehidupan pribadi berjalan beriringan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang yang Tidak Pernah Mengecek Chat Kantor
1. Apa arti orang yang tidak mengecek chat kantor setelah jam kerja menurut psikologi?
Kebiasaan tersebut dapat menunjukkan preferensi untuk memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi serta memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat. Namun, perilaku ini tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang.
2. Apakah tidak membalas chat kantor setelah jam kerja termasuk sikap profesional?
Bisa saja. Selama seseorang memenuhi tanggung jawabnya dan mengikuti kesepakatan komunikasi yang berlaku, tidak membalas pesan di luar jam kerja tidak otomatis menunjukkan sikap tidak profesional.
3. Apakah orang yang tidak mengecek chat kantor memiliki mental lebih sehat?
Belum tentu. Kemampuan melepaskan diri dari pekerjaan berkaitan dengan sejumlah indikator kesejahteraan, tetapi kondisi mental seseorang dipengaruhi banyak faktor lain, termasuk beban kerja, dukungan sosial, dan kualitas istirahat.
4. Mengapa sebagian orang merasa cemas ketika tidak membalas chat kantor?
Kecemasan tersebut dapat berkaitan dengan tekanan untuk selalu responsif, kekhawatiran terhadap penilaian atasan, atau budaya kerja yang mengharapkan ketersediaan di luar jam kerja. Penyebabnya bisa berbeda pada setiap orang.
5. Bagaimana jika atasan sering mengirim chat setelah jam kerja?
Cobalah menyepakati batas waktu respons, membedakan komunikasi darurat dari pesan rutin, dan memastikan pembagian tanggung jawab jelas. Jika komunikasi di luar jam kerja menjadi tuntutan terus-menerus, diskusikan masalah tersebut dengan atasan atau bagian sumber daya manusia sesuai prosedur yang tersedia.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362168/original/042983100_1790759666-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_8.42.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485280/original/014174300_1769501374-IMG-20260127-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369365/original/034444800_1791519895-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-09T112039.867.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369473/original/069744900_1791524730-ec81b70f-129f-4474-a803-baa1310e53bf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358152/original/069001400_1790324455-01M3B1K2A7WQ7GNNJQ9ERZXDPP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4678238/original/063161000_1701955080-Ilustrasi_main_HP__tebak-tebakan_lucu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367638/original/070256600_1791359253-6d501315-12b7-486a-9bb4-74a2994ccf9b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366791/original/012556100_1791277332-1114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365505/original/026476500_1791180814-19a0b6d9-bc27-4bd4-b9cf-d36640cff1b6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365011/original/011917700_1791095090-6ecdc67d-b367-4f54-8208-50fa7a916902.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4564055/original/083994900_1693902510-calling-communication-connect-networking-concept.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4163304/original/068543100_1663574974-nylos-TEpcivXIa8I-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355803/original/063065800_1790142086-01M34AZNKW0QQF91EBP9MVK7VH.jpg)