Cara Kenali Orang Cerdas secara Emosional lewat Sikap dan Ucapannya Menurut Ahli

Simak cara kenali orang cerdas secara emosional lewat 10 ciri yang mudah dipahami, lengkap dengan rujukan pakar, Kemenkes, serta tips untuk melatihnya.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta -  Cara kenali orang cerdas secara emosional tidak selalu bisa dilihat dari nilai ujian atau jabatan. Kemampuan memahami perasaan sendiri dan orang lain justru tampak dari sikap sehari-hari.

Melansir dari jurnal Imagination, Cognition and Personality, Peter Salovey dan John D. Mayer (1990) menyebut kecerdasan emosional sebagai keterampilan menilai, mengungkapkan, dan mengatur emosi. Keterampilan itu juga dipakai untuk memotivasi diri serta mencapai tujuan hidup.

Menurut Kementerian Kesehatan RI lewat laman Ayo Sehat, orang yang sehat secara mental mampu menjalin hubungan positif dengan orang lain. Berikut adalah Cara kenali orang cerdas secara emosional dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (8/10/2026).

 

1. Mengenali Perasaan Sendiri dengan Jernih

Langkah pertama dalam mengenali orang yang cerdas secara emosional adalah melihat apakah ia paham apa yang sedang dirasakannya. Daniel Goleman, psikolog yang mempopulerkan istilah kecerdasan emosional, menempatkan kesadaran diri sebagai komponen pertama. Dalam artikel "What Makes a Leader?" di Harvard Business Review (1998), ia menjelaskan bahwa orang dengan kesadaran diri tinggi memahami bagaimana perasaannya memengaruhi dirinya sendiri dan orang lain.

Orang seperti ini cenderung menilai diri secara realistis. Mereka tidak terlalu keras mengkritik diri sendiri, tetapi juga tidak berharap berlebihan tanpa dasar. Sebagian dari mereka bahkan bisa menertawakan kekurangan sendiri tanpa merasa harga dirinya jatuh.

Kementerian Kesehatan RI lewat laman Ayo Sehat memberi contoh yang mudah dipraktikkan. Kenali kebiasaan saat tubuh sedang sehat, seperti lama waktu tidur, kebutuhan energi, dan seberapa sering merasa lapar. Perubahan drastis pada kebiasaan tersebut dapat menjadi tanda adanya tekanan emosi atau mental.

2. Mampu Menamai Emosi dengan Kata yang Tepat

Yale Center for Emotional Intelligence di Amerika Serikat mengembangkan pendekatan bernama RULER. Singkatan ini merujuk pada lima keterampilan, yaitu mengenali, memahami, menamai, mengungkapkan, dan mengatur emosi. Salah satu kuncinya adalah menamai emosi dengan kata yang akurat.

Orang yang cerdas secara emosional jarang berhenti pada kata "kesal" atau "suasana hati buruk". Ia bisa membedakan apakah dirinya sedang kecewa, cemas, lelah, atau merasa tidak dihargai. Ketepatan kata ini membantu mereka mencari penyebab perasaan dan menentukan langkah berikutnya.

Dalam percakapan, ciri ini terdengar jelas. Misalnya, ia berkata, "Saya bukan marah kepadamu, saya hanya kecewa karena rencana kita batal." Kalimat seperti itu membuat lawan bicara lebih mudah memahami maksudnya.

3. Tetap Tenang Saat Tertekan

Goleman menyebut pengaturan diri sebagai kemampuan mengendalikan atau mengarahkan ulang dorongan dan suasana hati yang mengganggu. Artinya, orang cerdas secara emosional bukan berarti tidak pernah marah atau sedih. Mereka hanya tidak membiarkan perasaan itu langsung mengambil alih tindakan.

Melansir dari Wisconsin Public Radio, Nicole Elbertson dari Yale Center for Emotional Intelligence mencontohkan cara sederhana mengatur emosi, yakni menarik napas sebelum bertindak. Jeda singkat seperti ini memberi ruang untuk berpikir lebih jernih.

Kementerian Kesehatan RI melalui Ayo Sehat juga menganjurkan belajar mengendalikan diri dan aktif mencari solusi. Aktivitas fisik, meditasi, dan teknik relaksasi disebut dapat membantu meredakan ketegangan emosi.

4. Menjadi Pendengar yang Baik

Empati adalah kemampuan memahami kondisi emosi orang lain. Goleman memasukkannya sebagai salah satu dari lima komponen kecerdasan emosional. Dalam artikelnya, ia juga menceritakan seorang eksekutif yang mendapat masukan bahwa dirinya kurang berempati, terutama dalam hal mendengarkan.

Orang yang cerdas secara emosional biasanya memberi perhatian penuh saat lawan bicara bercerita. Mereka tidak sibuk menyiapkan jawaban, tidak memotong pembicaraan, dan tidak tergesa-gesa menghakimi. Pertanyaan seperti "Apa yang paling berat buatmu?" sering menjadi tanda bahwa ia benar-benar ingin mengerti.

Kementerian Kesehatan RI lewat Ayo Sehat menyebut bahwa mendengarkan cerita orang lain dengan empati dan menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian merupakan bentuk dukungan bagi seseorang yang bergulat dengan masalah kejiwaan.

5. Terbuka terhadap Kritik dan Masukan

Cara kenali orang cerdas secara emosional yang lain terlihat saat ia menerima kritik. Goleman menulis bahwa orang dengan kesadaran diri rendah cenderung menganggap pesan untuk memperbaiki diri sebagai ancaman atau tanda kegagalan. Akibatnya, mereka mudah membela diri, menyalahkan orang lain, atau mencari alasan.

Sebaliknya, orang yang cerdas secara emosional memandang masukan sebagai bahan belajar. Mereka mungkin merasa tidak nyaman, tetapi tetap mau mendengar sampai selesai. Mereka juga berani mengakui kesalahan dan berterima kasih atas koreksi yang membangun.

Sikap ini berkaitan dengan penilaian diri yang realistis. Karena paham kelebihan dan kekurangannya, ia tidak merasa harga dirinya runtuh hanya karena ada yang menunjukkan kekeliruannya.

6. Berbicara Terbuka dan Tepat tentang Perasaan

Goleman menyebut orang dengan kesadaran diri tinggi mampu membicarakan emosinya secara akurat dan terbuka. Mereka tidak menutup-nutupi perasaan, tetapi juga tidak meluapkannya sembarangan. Di sinilah keterampilan mengungkapkan emosi, salah satu unsur RULER, berperan.

Menurut Yale Center for Emotional Intelligence, emosi perlu diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda sesuai situasi. Marah kepada atasan di ruang rapat tentu berbeda dengan bercerita kepada sahabat di waktu santai. Orang yang cerdas secara emosional memilih waktu, tempat, dan kata-kata yang sesuai.

Kementerian Kesehatan RI melalui Ayo Sehat juga menyarankan membuka diri kepada orang lain sebagai salah satu cara menghadapi masalah. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya dapat meringankan beban pikiran.

7. Punya Motivasi dan Tidak Mudah Menyerah

Motivasi menjadi komponen berikutnya dalam teori Goleman. Dalam ringkasan artikelnya di Harvard Business Review, motivasi digambarkan sebagai kesenangan meraih pencapaian demi pencapaian itu sendiri.

Dalam jurnal Medan Makna yang dimuat di laman Badan Bahasa Kemendikbud, Khairil Ansari (2007) merangkum pandangan Goleman tentang hal ini. Orang yang cerdas secara emosional mampu memotivasi diri, bertahan menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi, dan menunda kepuasan.

Ansari juga menulis bahwa emosi dikatakan berhasil dikelola jika seseorang mampu menghibur diri saat sedih, melepas kecemasan, lalu bangkit kembali dengan cepat. Jadi, ciri ini bukan soal tidak pernah jatuh, melainkan seberapa cepat dan sehat seseorang bangkit.

8. Pandai Membangun Hubungan dengan Orang Lain

Komponen kelima kecerdasan emosional menurut Goleman adalah keterampilan sosial, yaitu kemampuan membangun hubungan baik dan mengarahkan orang lain ke arah yang diinginkan. Orang yang memilikinya biasanya mudah menjaga komunikasi, menghargai perbedaan pendapat, dan menyelesaikan konflik tanpa merendahkan pihak lain.

Dalam jurnal Medan Makna, Ansari (2007) menulis bahwa tanpa keterampilan sosial, seseorang sering dianggap angkuh, mengganggu, atau tidak berperasaan. Dengan kata lain, kecerdasan emosional sangat terlihat dari cara seseorang memperlakukan orang lain, termasuk saat sedang berbeda pendapat.

Kementerian Kesehatan RI lewat Ayo Sehat menyebut orang yang sehat secara mental mampu menjalin hubungan positif dengan orang lain. Hubungan yang sehat juga menjadi sumber dukungan ketika menghadapi masa sulit.

9. Mengelola Stres dengan Cara yang Sehat

Stres tidak bisa dihindari, tetapi cara menyikapinya bisa dilatih. Laman Keslan Kementerian Kesehatan RI menyebut stres sebagai faktor risiko utama masalah kesehatan jiwa. Karena itu, keterampilan menghadapi tekanan atau koping menjadi penting, misalnya mengelola emosi, mengatur waktu, berbicara dengan orang terdekat, dan mengubah pola pikir negatif menjadi positif.

Orang yang cerdas secara emosional juga menghindari pelarian yang merugikan. Ayo Sehat Kemenkes mengingatkan bahwa banyak orang "mengobati" diri sendiri dengan minuman beralkohol atau obat penenang, padahal dampaknya hanya sementara dan akibat jangka panjangnya bisa lebih parah.

Mereka pun tahu kapan harus meminta bantuan. Kemenkes menyarankan berkonsultasi dengan dokter jika upaya mandiri tidak memberikan perubahan.

10. Tahu Batas Diri dan Tidak Sekadar Menyenangkan Orang Lain

Banyak orang mengira orang yang cerdas secara emosional selalu ramah dan mengalah. John D. Mayer, salah satu pencetus konsepnya, menegaskan dalam Psychology Today (2009) bahwa kecerdasan emosional bukan sama dengan sikap yang menyenangkan semua orang. Pemahaman itu sering keliru dalam pemberitaan populer.

Dalam praktiknya, mereka bisa berkata "tidak" dengan sopan dan jelas. Mereka paham bahwa menjaga perasaan orang lain tidak berarti mengorbankan kebutuhan sendiri. Sikap tegas yang disampaikan dengan tenang justru menunjukkan pengelolaan emosi yang baik.

Ayo Sehat Kemenkes juga menganjurkan menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan waktu pribadi untuk menjaga keseimbangan hidup dan mencegah kelelahan atau burnout.

Kecerdasan Emosional Bisa Dilatih

Kabar baiknya, kemampuan ini tidak bersifat tetap. Nicole Elbertson dari Yale Center for Emotional Intelligence mengatakan, melansir Wisconsin Public Radio, bahwa siapa pun dapat membangun dan memperbaiki keterampilan tersebut. Cara paling sederhana adalah mulai merenungkan emosi diri sendiri dan emosi orang lain.

Penelitian juga menunjukkan manfaatnya bagi kesehatan. Meta-analisis oleh Nicola Schutte dan kolega (2007) dalam jurnal Personality and Individual Differences terhadap 44 temuan dari 7.898 partisipan mendapati bahwa kecerdasan emosional yang lebih tinggi berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik. Analisis lanjutan oleh Alexandra Martins, Nelson Ramalho, dan Estelle Morin (2010) dengan 105 temuan dari 19.815 partisipan memperkuat hasil tersebut. Perlu dicatat, temuan ini menunjukkan keterkaitan, bukan bukti sebab-akibat.

Khairil Ansari (2007) juga mengingatkan bahwa kecerdasan emosional bukan lawan kecerdasan intelektual, karena keduanya berinteraksi secara dinamis. Karena itu, cara kenali orang cerdas secara emosional sebaiknya dipakai untuk memahami dan belajar, bukan untuk melabeli orang lain. Perilaku seseorang bisa berubah sesuai situasi dan waktu.

Informasi ini bukan pengganti konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan profesional. Jika tekanan emosi terasa berat atau berkepanjangan, mintalah bantuan tenaga profesional.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mengenali Orang Cerdas secara Emosional

1. Apa itu kecerdasan emosional?

Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali, memahami, dan mengatur emosi diri sendiri serta memahami emosi orang lain. Istilah ini diperkenalkan Peter Salovey dan John D. Mayer pada 1990 dan dipopulerkan Daniel Goleman lewat bukunya pada 1995.

2. Apakah orang ber-IQ tinggi pasti cerdas secara emosional?

Tidak otomatis. Kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual adalah dua hal berbeda yang saling memengaruhi, sehingga seseorang bisa unggul di satu sisi tetapi masih perlu belajar di sisi lain.

3. Apakah orang cerdas secara emosional tidak pernah marah?

Mereka tetap bisa marah, sedih, atau kecewa. Bedanya, mereka mampu mengelola perasaan itu dan menyampaikannya dengan cara yang tepat.

4. Apakah kecerdasan emosional bisa dilatih?

Bisa. Yale Center for Emotional Intelligence menyebut keterampilan ini dapat dibangun dan ditingkatkan, misalnya dengan rutin merenungkan perasaan diri sendiri dan orang lain.

5. Kapan perlu meminta bantuan profesional?

Jika tekanan emosi terasa berat, berkepanjangan, atau upaya mandiri tidak membuahkan perubahan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, psikolog, atau psikiater.