Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua orang memilih membalas ketika diremehkan. Ada yang langsung menyampaikan keberatan, ada pula yang memilih diam, mengamati situasi, dan melanjutkan aktivitas tanpa memperpanjang perdebatan. Sikap ini sering dikaitkan dengan kecerdasan dan kedewasaan emosional, terutama ketika seseorang sebenarnya mampu membela diri, tetapi merasa tidak semua perkataan perlu ditanggapi.
Dalam psikologi, respons seseorang terhadap perlakuan yang merendahkan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kemampuan mengelola emosi, penilaian terhadap situasi sosial, kepercayaan diri, dan cara menghadapi konflik. Karena itu, diam tidak selalu berarti takut atau kalah. Namun, sikap diam juga tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lebih cerdas daripada orang lain.
Lantas mengapa orang cerdas sering memilih diam saat diremehkan? Bagaimana penjelasan psikologinya? Melansir dari berbagai sumber, Senin (12/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Mampu Mengendalikan Emosi sebelum Bereaksi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4438102/original/031578900_1684843467-thisisengineering-raeng-TXxiFuQLBKQ-unsplash-min.jpg)
Salah satu alasan seseorang memilih diam ketika diremehkan adalah keinginan untuk mengendalikan respons emosionalnya. Perkataan yang menyakitkan dapat memicu kemarahan, rasa malu, atau keinginan untuk membalas. Namun, seseorang tidak harus langsung menuruti dorongan tersebut. Mengambil jeda sebelum berbicara dapat membantu seseorang menentukan respons yang lebih sesuai dengan situasi.
Psikolog James J. Gross dari Stanford University mengembangkan process model of emotion regulation, yaitu model yang menjelaskan bagaimana seseorang memengaruhi dan mengelola emosi yang dirasakan maupun cara mengekspresikannya. Salah satu strategi yang dibahas adalah cognitive reappraisal, yakni menilai kembali suatu situasi agar dampak emosionalnya dapat berubah. Dalam konteks diremehkan, seseorang bisa mencoba memahami apakah ucapan tersebut perlu ditanggapi atau justru lebih baik dilewati.
Meski demikian, pengendalian emosi bukan berarti harus memendam kemarahan selamanya. Memilih diam untuk menenangkan diri berbeda dengan menekan perasaan karena takut menyampaikan keberatan. Seseorang tetap dapat mengungkapkan ketidaknyamanan setelah pikirannya lebih jernih.
Advertisement
2. Tidak Merasa Harus Membuktikan Diri kepada Semua Orang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334180/original/027650900_1756708918-emosi_6.jpg)
Orang yang memilih diam saat diremehkan mungkin tidak menganggap setiap penilaian orang lain sebagai sesuatu yang harus segera dibantah. Mereka bisa mempertimbangkan apakah pendapat tersebut berasal dari orang yang memahami situasi atau hanya merupakan komentar sepintas.
Dalam teori self-determination, psikolog Edward L. Deci dan Richard M. Ryan menjelaskan pentingnya motivasi yang berasal dari dalam diri serta kebutuhan psikologis akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial. Teori ini tidak secara khusus menyatakan bahwa orang cerdas akan diam ketika diremehkan. Namun, konsep tersebut membantu menjelaskan mengapa seseorang dapat menentukan tindakannya berdasarkan nilai dan pertimbangannya sendiri, bukan semata-mata tekanan eksternal.
Sebagai contoh, seseorang yang diremehkan karena pekerjaannya mungkin memilih menyelesaikan tanggung jawabnya daripada menghabiskan waktu untuk berdebat. Ia tetap bisa memperbaiki diri jika kritik yang diterima memang beralasan, tetapi tidak merasa wajib membalas setiap komentar yang merendahkan.
3. Mempertimbangkan Apakah Perdebatan Layak Dilanjutkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3206405/original/058463600_1597208584-edvin-johansson-UGGinojhaC0-unsplash.jpg)
Tidak semua konflik menghasilkan penyelesaian yang bermanfaat. Ada situasi ketika percakapan dapat membantu meluruskan kesalahpahaman, tetapi ada pula keadaan ketika perdebatan justru memperpanjang ketegangan tanpa menghasilkan perubahan.
Psikolog dan peneliti komunikasi konflik Alexia Georgakopoulos, melalui artikelnya dalam jurnal Peace and Conflict Studies, membahas bagaimana diam dan menghindari konfrontasi dapat berfungsi sebagai strategi dalam menghadapi konflik interpersonal. Efektivitasnya bergantung pada konteks dan cara strategi tersebut digunakan. Artinya, memilih tidak membalas bisa menjadi keputusan yang masuk akal apabila seseorang menilai bahwa perdebatan tidak akan membawa hasil yang baik.
Misalnya, ketika seseorang sengaja melontarkan komentar untuk memancing kemarahan, membalas dengan emosi yang sama mungkin hanya memperburuk keadaan. Dalam situasi seperti ini, mengambil jarak atau mengakhiri percakapan dapat menjadi pilihan yang lebih produktif.
Namun, diam bukan selalu solusi terbaik. Jika perkataan merendahkan terjadi berulang kali di tempat kerja, lingkungan pertemanan, atau hubungan pribadi, menyampaikan keberatan secara tegas mungkin justru diperlukan.
Advertisement
4. Memiliki Kepercayaan terhadap Kemampuan Diri
![Memiliki Kepercayaan terhadap Kemampuan Diri [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/KRo5bJlAqpP2pGLiUfFmHZq6wPo=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5320476/original/073984200_1755596315-bussiness-people-working-team-office.jpg)
Sebagian orang tidak merasa perlu langsung membantah ketika kemampuannya diragukan. Mereka mungkin lebih memilih menunjukkan hasil kerja, menyelesaikan tugas, atau membiarkan waktu membuktikan kemampuannya.
Psikolog Albert Bandura dikenal melalui konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan guna mencapai hasil tertentu. Konsep ini berkaitan dengan motivasi, proses pengambilan keputusan, dan ketekunan ketika menghadapi tantangan.
Dalam konteks diremehkan, keyakinan terhadap kemampuan diri dapat membantu seseorang tetap berfokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan. Ia tidak harus memenangkan perdebatan untuk mengetahui apa yang mampu dilakukannya.
Meski begitu, kepercayaan diri tidak selalu membuat seseorang memilih diam. Orang yang yakin terhadap dirinya juga bisa membela pendapat, mengoreksi informasi yang keliru, dan menetapkan batasan. Perbedaannya terletak pada bagaimana ia memilih respons yang sesuai dengan keadaan.
5. Memilih Respons setelah Memahami Situasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4939271/original/009049700_1725776064-Ilustrasi_orang_konsisten__percaya_diri__sukses.jpg)
Diam sejenak dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menilai perkataan yang diterimanya. Apakah ucapan tersebut merupakan kritik yang bisa dipelajari? Apakah ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan? Atau, apakah orang tersebut memang sedang berusaha memancing reaksi?
Dalam kajian regulasi emosi, James J. Gross dan Kateri McRae menjelaskan bahwa seseorang dapat mengelola emosi melalui sejumlah strategi, termasuk mengubah cara menilai situasi. Proses tersebut menunjukkan bahwa respons emosional tidak selalu harus diikuti tindakan spontan. Memberi jeda dapat menjadi kesempatan untuk memilih respons yang lebih sesuai dengan tujuan seseorang.
Sebagai contoh, seorang karyawan yang menerima komentar merendahkan saat rapat mungkin memilih tidak langsung membalas di depan banyak orang. Ia dapat memeriksa kembali persoalan yang dibicarakan, kemudian menjelaskan posisinya secara pribadi atau menyampaikan fakta ketika situasi lebih kondusif.
Sikap ini bukan berarti seseorang harus selalu menunggu atau mengalah. Tujuannya adalah menghindari respons terburu-buru yang justru mengaburkan persoalan utama.
Advertisement
6. Menyadari bahwa Diam dan Ketegasan Bisa Berjalan Bersama
![Menyadari bahwa Diam dan Ketegasan Bisa Berjalan Bersama [Dok/freepik.com]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/D1aYmlkUNzcBdK_ywc4o8dabjP8=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5320477/original/033831100_1755596317-beautiful-japanese-girl-yellow-sweater-showing-ok-signs-smiling-looking-left-logo-rec-2.jpg)
Memilih diam bukan berarti seseorang tidak mampu mempertahankan pendapatnya. Dalam beberapa situasi, seseorang mungkin memutuskan untuk tidak menanggapi komentar tertentu, tetapi tetap tegas ketika perilaku merendahkan mulai mengganggu hak, pekerjaan, atau kenyamanannya.
American Psychological Association (APA) menjelaskan assertiveness sebagai gaya komunikasi adaptif ketika seseorang menyampaikan perasaan dan kebutuhannya secara langsung sambil tetap menghormati orang lain. Ketegasan berbeda dari agresivitas karena tidak mengharuskan seseorang merendahkan atau menyerang balik pihak lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tegas bisa ditunjukkan dengan mengatakan, "Saya bersedia menerima kritik, tetapi saya berharap disampaikan dengan cara yang menghormati saya." Kalimat seperti ini membantu memperjelas batasan tanpa harus membalas penghinaan dengan penghinaan lain.
Karena itu, kedewasaan dalam menghadapi perlakuan merendahkan bukan semata-mata soal memilih diam. Kemampuan menyampaikan keberatan secara jelas dan proporsional juga merupakan bagian penting dari komunikasi yang sehat.
7. Memahami bahwa Diam Tidak Selalu Berarti Kuat atau Cerdas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5203309/original/0_1745925301-business-finance-employment-female-successful-entrepreneurs-concept-confident-good-looking-female-office-manager-lady-white-jacket-smiling-looking-determined-win-case-court_1258-58834.jpg)
Ada satu hal yang tidak kalah penting: diam memiliki banyak kemungkinan makna. Seseorang bisa memilih diam karena mampu mengendalikan emosi, tetapi bisa juga karena merasa takut, bingung, lelah, tidak berdaya, atau tidak tahu bagaimana harus merespons.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2026 oleh Avni Dubey dan rekan-rekannya mengkaji faktor-faktor yang melatarbelakangi silent treatment dalam hubungan dekat. Tinjauan terhadap 15 artikel tersebut menemukan bahwa diam dapat berkaitan dengan pengelolaan emosi, karakteristik kepribadian, upaya menghindari konflik, hingga penggunaan diam sebagai alat untuk menghukum atau mengendalikan orang lain. Penelitian ini juga menyoroti potensi dampak negatif jika pola tersebut terus berlangsung dalam hubungan.
Temuan tersebut perlu dipahami secara proporsional karena silent treatment dalam hubungan dekat tidak selalu sama dengan keputusan untuk tidak membalas satu komentar yang merendahkan. Seseorang yang sengaja mendiamkan orang lain untuk menghukum atau memanipulasi berbeda dari seseorang yang mengambil jeda untuk menenangkan diri.
Dengan demikian, kecerdasan tidak dapat dinilai hanya dari seberapa sering seseorang diam. Cara seseorang memahami situasi, mengelola emosi, belajar dari kritik, dan berkomunikasi secara tepat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang perilakunya.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mengapa Orang Cerdas Sering Memilih Diam saat Diremehkan
1. Mengapa orang cerdas sering memilih diam saat diremehkan?
Sebagian orang memilih diam karena ingin mengendalikan emosi, menghindari perdebatan yang tidak produktif, atau mempertimbangkan respons yang paling tepat. Namun, alasan setiap orang bisa berbeda dan sikap diam tidak otomatis menunjukkan kecerdasan.
2. Apakah diam saat diremehkan berarti seseorang lebih dewasa secara emosional?
Belum tentu. Kedewasaan emosional berkaitan dengan kemampuan mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat. Diam bisa menjadi bentuk pengendalian diri, tetapi juga dapat muncul karena takut, bingung, atau kesulitan menyampaikan perasaan.
3. Apakah orang cerdas tidak suka membuktikan kemampuannya kepada orang lain?
Tidak selalu. Sebagian orang lebih memilih menunjukkan kemampuan melalui tindakan dan hasil kerja, sedangkan yang lain merasa perlu menjelaskan atau mempertahankan pendapatnya. Pilihan tersebut dipengaruhi oleh kepribadian, tujuan, dan situasi yang dihadapi.
4. Mengapa seseorang tidak membalas ketika dihina atau diremehkan?
Seseorang mungkin menilai bahwa membalas hinaan hanya akan memperpanjang konflik. Ia juga bisa memilih menenangkan diri terlebih dahulu agar tidak mengatakan sesuatu yang disesali. Meski demikian, menetapkan batasan tetap penting jika penghinaan terjadi berulang kali.
5. Apakah memilih diam berarti seseorang memiliki kepercayaan diri tinggi?
Tidak selalu. Orang yang percaya diri mungkin tidak merasa perlu menanggapi setiap penilaian negatif. Namun, seseorang juga bisa diam karena merasa tidak berdaya atau takut menghadapi konflik. Untuk memahami alasannya, perlu melihat situasi dan perilaku secara keseluruhan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296249/original/006576900_1784009127-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T124739.847.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2844337/original/009156800_1562219838-20190704-Ma_ruf-Amin-Temui-Jusuf-Kalla-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5341096/original/044527500_1757304695-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__63_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291533/original/094652600_1783567822-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T102907.971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4609674/original/098613000_1697188618-tim-gouw-bwki71ap-y8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5242716/original/083013200_1749039643-Sebagai_pemimpin-min__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3539343/original/084315200_1628838047-pexels-liza-summer-6383164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4733309/original/079855900_1706884503-pexels-liza-summer-6383200.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346090/original/074466100_1789109831-7674.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152215/original/037201300_1741241082-WhatsApp_Image_2025-03-06_at_1.04.13_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3484871/original/099810700_1623901041-adrian-swancar-imAfCYq7KH0-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326750/original/089813600_1787034686-59E33INg7VVS7EnJsABqMJW70N3EtEjYCBvA39Rd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327871/original/015475800_1787127473-137519.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323288/original/064602100_1786608194-238b5113-3dcb-4b6e-921c-08fd7ce42194.jpg)