7 Kebiasaan Orang Cerdas saat Mendapat Kritik dari Orang Lain, Tidak Semua Dibalas dengan Kata-Kata

Tidak semua kritik harus dibalas dengan kata-kata. Kenali 7 kebiasaan orang cerdas saat mendapat kritik dari orang lain.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kritik bisa menjadi kesempatan untuk belajar, tetapi juga dapat memancing emosi ketika disampaikan dengan cara yang menyakitkan. Dalam situasi seperti ini, kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, tetapi juga dengan cara seseorang mengelola respons, mempertimbangkan sudut pandang lain, dan menentukan tindakan yang tepat.

Orang yang mampu menghadapi kritik secara bijak tidak selalu diam atau menerima semua komentar begitu saja. Mereka dapat memilih untuk mendengarkan, meminta penjelasan, mengevaluasi diri, atau menetapkan batas ketika kritik berubah menjadi serangan pribadi. Kemampuan tersebut berkaitan dengan sejumlah konsep dalam psikologi, seperti regulasi emosi, keterbukaan terhadap pengalaman, dan pemikiran reflektif.

Kebiasaan ini bukan ukuran mutlak kecerdasan seseorang, melainkan keterampilan yang bisa dilatih untuk menghadapi masukan dengan lebih dewasa. Lantas apa saja kebiasaan orang cerdas saat mendapat kritik dari orang lain? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (13/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Memberi jeda sebelum merespons kritik

Rujukan psikologi: regulasi emosi dalam psikologi klinis

Salah satu kebiasaan yang bermanfaat saat mendapat kritik adalah tidak langsung bereaksi ketika emosi sedang memuncak. Seseorang mungkin merasa malu, marah, kecewa, atau tersinggung ketika mendengar komentar yang tidak menyenangkan. Namun, perasaan tersebut tidak harus langsung diwujudkan dalam bentuk bantahan atau kata-kata tajam.

American Psychiatric Association menjelaskan bahwa regulasi emosi merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan merespons emosi sesuai dengan situasi. Mengambil jeda sebelum menjawab komentar yang menyakitkan merupakan salah satu cara untuk mengurangi reaksi impulsif. Artinya, seseorang tidak harus menghilangkan emosinya terlebih dahulu, tetapi dapat belajar memilih respons yang lebih tepat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan ini bisa dilakukan dengan menarik napas perlahan, mendengarkan sampai lawan bicara selesai, atau meminta waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Jika kritik disampaikan dalam suasana panas, menunda pembicaraan sampai kedua pihak lebih tenang juga dapat membantu.

Orang yang mampu melakukan hal tersebut memberikan dirinya kesempatan untuk mempertimbangkan situasi sebelum bertindak. Diam sejenak bukan berarti kalah dalam perdebatan, melainkan memberi ruang agar respons tidak sekadar mengikuti emosi.

2. Mendengarkan kritik tanpa buru-buru membela diri

Rujukan psikologi: Claude M. Steele dan teori afirmasi diri

Ketika mendapat kritik, sebagian orang secara spontan berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Reaksi ini dapat muncul karena komentar negatif terasa mengancam gambaran seseorang tentang dirinya sendiri. Kritik terhadap pekerjaan, misalnya, bisa terasa seperti penilaian terhadap kemampuan atau harga dirinya secara keseluruhan.

Psikolog sosial Claude M. Steele mengembangkan teori afirmasi diri (self-affirmation theory), yang menjelaskan bagaimana ancaman terhadap persepsi diri dapat memicu upaya mempertahankan atau memulihkan pandangan positif tentang diri sendiri. Penelitian mengenai teori ini juga menunjukkan bahwa respons defensif dapat berkurang dalam kondisi tertentu ketika seseorang memiliki kesempatan untuk meneguhkan nilai-nilai dirinya.

Dalam praktiknya, mendengarkan kritik sampai selesai membantu seseorang memahami persoalan sebelum mengambil sikap. Ia bisa bertanya, bagian mana yang dianggap keliru, apa dampaknya, dan contoh seperti apa yang dimaksud oleh pemberi kritik.

Bukan berarti semua tuduhan harus diterima sebagai kebenaran. Sebaliknya, mendengarkan terlebih dahulu membuat seseorang memiliki informasi yang lebih lengkap untuk menentukan apakah kritik tersebut masuk akal. Kebiasaan ini juga mengurangi risiko perdebatan panjang yang sebenarnya muncul hanya karena kedua pihak ingin mempertahankan pendapat masing-masing.

3. Memilah kritik yang membangun dan komentar yang menjatuhkan

Rujukan psikologi: Carol S. Dweck dan konsep pola pikir bertumbuh

Orang yang terbuka terhadap perkembangan diri tidak harus menyetujui semua kritik yang diterimanya. Mereka dapat mempertimbangkan apakah komentar tersebut memuat informasi yang jelas, berkaitan dengan perilaku yang bisa diperbaiki, dan disampaikan berdasarkan situasi yang nyata.

Psikolog Carol S. Dweck dikenal melalui penelitian tentang growth mindset, yaitu pola pikir yang memandang kemampuan tertentu dapat dikembangkan melalui proses belajar dan usaha. Penelitian tentang pola pikir ini menekankan pentingnya memandang pembelajaran sebagai proses, bukan sekadar menilai kemampuan seseorang sebagai sesuatu yang tetap.

Sebagai contoh, komentar, "Laporanmu sulit dipahami karena data pendukungnya belum lengkap," memberikan petunjuk tentang hal yang dapat diperbaiki. Sebaliknya, komentar seperti, "Kamu memang tidak becus bekerja," menyerang pribadi tanpa menjelaskan langkah perbaikan yang diperlukan.

Perbedaan tersebut penting agar seseorang tidak membuang masukan yang berguna hanya karena merasa tersinggung, tetapi juga tidak menganggap hinaan sebagai evaluasi yang wajib dipercaya. Kritik yang spesifik dan relevan dapat dipelajari, sedangkan komentar yang merendahkan tidak harus dijadikan ukuran nilai diri.

Kuncinya adalah menilai isi kritik berdasarkan alasan dan bukti, bukan semata-mata berdasarkan siapa yang menyampaikannya atau seberapa menyakitkan kata-katanya.

4. Berani mengakui kesalahan tanpa merasa harga dirinya runtuh

Rujukan psikologi: Carol S. Dweck dan penelitian tentang pola pikir bertumbuh

Salah satu respons yang menunjukkan kedewasaan saat menghadapi kritik adalah kesediaan mengakui kesalahan ketika memang ada bukti yang mendukungnya. Seseorang tidak perlu selalu terlihat benar untuk tetap menghargai dirinya sendiri. Mengakui kekeliruan justru dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki keadaan.

Konsep growth mindset yang dikembangkan Carol S. Dweck relevan untuk memahami kebiasaan ini. Ketika kemampuan dipandang sebagai sesuatu yang masih dapat berkembang, kesalahan dapat digunakan sebagai bahan belajar, bukan semata-mata sebagai bukti bahwa seseorang tidak mampu. Penelitian tentang pola pikir bertumbuh juga menyoroti pentingnya proses belajar dalam membangun kemampuan.

Misalnya, seorang karyawan mendapat kritik karena beberapa data dalam laporannya tidak akurat. Alih-alih mencari alasan atau menyalahkan rekan kerja, ia memeriksa kembali laporan tersebut. Jika memang ditemukan kekeliruan, ia dapat mengakuinya, memperbaiki data, dan membuat sistem pemeriksaan yang lebih baik untuk pekerjaan berikutnya.

Meski demikian, mengakui kesalahan bukan berarti harus menerima seluruh tuduhan tanpa pemeriksaan. Orang yang bijak tetap membedakan kesalahan yang benar-benar dilakukan dari hal-hal yang berada di luar tanggung jawabnya. Dengan begitu, evaluasi diri dapat dilakukan secara jujur tanpa berubah menjadi kebiasaan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.

5. Berusaha memahami sudut pandang orang lain

Rujukan psikologi: Daniel Goleman dan konsep kecerdasan emosional

Kritik sering kali muncul karena adanya perbedaan sudut pandang. Sesuatu yang dianggap sudah cukup baik oleh seseorang mungkin belum memenuhi kebutuhan orang lain. Karena itu, mencoba memahami alasan di balik kritik dapat membantu seseorang melihat persoalan secara lebih luas.

Daniel Goleman, psikolog yang dikenal melalui karya-karyanya tentang kecerdasan emosional, menjelaskan bahwa kecerdasan emosional tidak sekadar berarti bersikap ramah atau menyenangkan orang lain. Kemampuan mengenali emosi, memahami orang lain, dan mengelola respons merupakan bagian penting dari cara seseorang berinteraksi.

Sebagai contoh, seorang teman mengkritik cara kita menyampaikan pendapat dalam diskusi kelompok. Kita mungkin merasa cara berbicara tersebut biasa saja. Namun, setelah mendengarkan penjelasannya, kita bisa mengetahui bahwa nada bicara atau kebiasaan memotong pembicaraan membuat orang lain kesulitan menyampaikan pendapat.

Memahami sudut pandang orang lain bukan berarti harus selalu setuju. Seseorang tetap boleh menjelaskan alasan dan mempertahankan pendapatnya jika memiliki dasar yang kuat. Hal terpenting adalah bersedia mempertimbangkan informasi yang sebelumnya mungkin tidak disadari.

Kebiasaan ini membantu seseorang menghindari anggapan bahwa hanya dirinya yang memiliki penilaian paling tepat. Dalam hubungan pribadi maupun lingkungan kerja, sikap tersebut dapat membuka ruang komunikasi yang lebih sehat.

6. Menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk merendahkan diri

Rujukan psikologi: Kristin D. Neff dan konsep self-compassion

Setelah menerima kritik, seseorang bisa terjebak dalam dua respons yang berlawanan. Ada yang langsung menolak semua masukan, tetapi ada pula yang menganggap satu kesalahan sebagai bukti bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan. Keduanya dapat menghambat proses evaluasi yang sehat.

Psikolog Kristin D. Neff, peneliti yang dikenal melalui kajiannya tentang self-compassion atau welas asih terhadap diri sendiri, menjelaskan pentingnya memperlakukan diri dengan dukungan dan pengertian ketika menghadapi kesulitan, kegagalan, atau kekurangan. Konsep ini bukan berarti membenarkan semua tindakan, melainkan menghadapi kekeliruan tanpa menambah penderitaan melalui penilaian diri yang terlalu keras.

Dalam praktiknya, seseorang dapat mengubah pertanyaan dari, "Mengapa aku selalu gagal?" menjadi, "Bagian mana yang perlu diperbaiki dan apa yang bisa kulakukan selanjutnya?" Perubahan cara berpikir tersebut membantu memusatkan perhatian pada tindakan yang dapat dilakukan, bukan pada label negatif terhadap diri sendiri.

Contohnya, seseorang mendapat kritik karena kurang teliti saat menyelesaikan pekerjaan. Ia dapat mengevaluasi kebiasaan memeriksa hasil, memperbaiki manajemen waktu, atau menggunakan daftar pengecekan sebelum menyerahkan tugas.

Dengan demikian, kritik tidak berhenti sebagai pengalaman yang menyakitkan. Masukan yang relevan dapat diterjemahkan menjadi langkah perbaikan yang konkret, sementara harga diri tetap dijaga.

7. Berani menetapkan batas ketika kritik berubah menjadi penghinaan

Rujukan psikologi: Daniel Goleman dan kecerdasan emosional

Tidak semua kritik disampaikan dengan niat membantu. Ada komentar yang berisi masukan spesifik, tetapi ada pula yang sengaja merendahkan, mempermalukan, atau menyerang seseorang secara pribadi. Karena itu, kemampuan menghadapi kritik secara bijak juga mencakup keberanian menentukan batas dalam berkomunikasi.

Pembahasan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosional menekankan pentingnya memahami emosi dan mengelola respons dalam interaksi sosial. Dalam konteks menerima kritik, kemampuan tersebut dapat diterapkan dengan membedakan respons yang membantu menyelesaikan persoalan dari reaksi emosional yang justru memperburuk konflik.

Misalnya, ketika seseorang mengkritik hasil pekerjaan dengan alasan yang jelas, kita dapat mendengarkan dan mengevaluasinya. Namun, jika pembicaraan berubah menjadi hinaan, kita bisa mengatakan, "Saya bersedia membahas kesalahan yang perlu diperbaiki, tetapi mari kita bicarakan tanpa saling merendahkan."

Jika situasinya tidak memungkinkan untuk berdiskusi secara sehat, menunda percakapan atau mengambil jarak juga dapat menjadi pilihan. Sikap ini bukan bentuk penolakan terhadap evaluasi, melainkan upaya menjaga agar pembicaraan tetap berfokus pada persoalan.

Orang tidak harus membalas setiap komentar untuk membuktikan dirinya kuat. Terkadang, respons yang paling tepat adalah menjelaskan batas dengan tenang, memperbaiki hal yang memang menjadi tanggung jawabnya, lalu tidak melanjutkan perdebatan yang tidak produktif.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Orang Cerdas

1. Apa kebiasaan orang cerdas saat mendapat kritik dari orang lain?

Orang yang mampu menghadapi kritik secara bijak cenderung memberi jeda sebelum merespons, mendengarkan masukan, mengevaluasi kebenarannya, dan mengakui kesalahan jika memang diperlukan. Mereka juga berusaha mengelola emosi tanpa mengabaikan harga diri.

2. Mengapa orang cerdas tidak selalu membalas kritik dengan kata-kata?

Tidak semua kritik membutuhkan jawaban langsung. Memberi jeda dapat membantu seseorang memahami situasi, menghindari reaksi impulsif, dan menentukan apakah kritik tersebut perlu dijawab, ditindaklanjuti, atau cukup diabaikan.

3. Apakah mudah tersinggung saat dikritik berarti seseorang tidak cerdas?

Tidak. Merasa tersinggung, marah, atau kecewa saat menerima kritik merupakan respons emosional yang wajar. Kecerdasan tidak dapat dinilai hanya dari reaksi terhadap kritik karena banyak faktor lain yang memengaruhi cara seseorang merespons situasi.

4. Bagaimana cara menghadapi kritik tanpa terbawa emosi?

Cobalah menarik napas perlahan, mendengarkan kritik sampai selesai, dan menghindari jawaban spontan ketika emosi sedang memuncak. Setelah lebih tenang, periksa apakah masukan tersebut memiliki alasan yang jelas dan tentukan langkah yang perlu dilakukan.

5. Bagaimana membedakan kritik yang membangun dan komentar yang menjatuhkan?

Kritik yang membangun biasanya menjelaskan masalah secara spesifik dan memberikan petunjuk tentang hal yang bisa diperbaiki. Sebaliknya, komentar yang menjatuhkan cenderung menyerang pribadi, merendahkan, atau mempermalukan tanpa memberikan masukan yang jelas.