Liputan6.com, Jakarta - Mudah stres, sulit menyampaikan perasaan, hingga terus memikirkan kesalahan masa lalu bisa menjadi ciri ciri kecerdasan emosionalmu rendah. Kebiasaan semacam ini sering tidak disadari karena sudah terasa biasa dalam keseharian.
Melansir dari Psychology Today, kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri sendiri serta emosi orang lain. Teori ini diperkenalkan oleh Peter Salovey dan John D. Mayer, lalu dipopulerkan Daniel Goleman lewat buku Emotional Intelligence (1995).
Travis Bradberry, Ph.D., penulis bersama buku Emotional Intelligence 2.0, menyebut kecerdasan emosional dapat dilatih sehingga kebiasaan yang kurang sehat bisa diperbaiki. Berikut adalah ciri ciri kecerdasan emosionalmu rendah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (15/10/2026).
Advertisement
Apa Itu Kecerdasan Emosional?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4438102/original/031578900_1684843467-thisisengineering-raeng-TXxiFuQLBKQ-unsplash-min.jpg)
Menurut Psychology Today, kecerdasan emosional mencakup tiga kemampuan utama. Pertama, menyadari dan menamai emosi sendiri. Kedua, memanfaatkan emosi untuk berpikir dan memecahkan masalah. Ketiga, mengelola emosi, baik emosi sendiri maupun emosi orang lain.
Psychology Today menyebut orang dengan kecerdasan emosional baik sadar akan kondisi emosinya sendiri, bahkan yang negatif, mulai dari frustrasi hingga kesedihan. Mereka juga peka terhadap emosi orang lain. Mampu menamai sebuah perasaan juga disebut membantu seseorang mengelolanya. Menurut Bradberry, kecerdasan emosional memengaruhi cara seseorang mengatur perilaku, menghadapi pergaulan yang rumit, dan mengambil keputusan pribadi. Karena itu, kesulitan pada salah satu kemampuan tersebut biasanya tampak dalam kebiasaan sehari-hari, seperti tujuh ciri berikut.
Advertisement
1. Mudah Merasa Stres
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7423742/original/048898800_1780200899-KamranAydinov_2__1_.jpg)
Tekanan kecil terasa berat ketika kamu kesulitan mengenali dan mengelola emosi. Menurut Travis Bradberry dalam artikel di laman TalentSmartEQ, perasaan yang terus dipendam dapat menumpuk menjadi ketegangan, stres, dan kecemasan.
Kementerian Kesehatan RI menyebut orang yang stres bisa merasa gelisah, mudah tersinggung bahkan karena hal sepele, dan sulit berkonsentrasi. Kemenkes juga mengutip data Riskesdas 2018 yang mencatat gangguan kesehatan mental emosional, yaitu depresi dan kecemasan, sebesar 9,8 persen di Indonesia.
Bradberry menambahkan bahwa orang yang tidak memakai keterampilan emosionalnya lebih mungkin beralih ke cara yang kurang efektif untuk mengatur suasana hati. Kecerdasan emosional membantu stres lebih mudah dikelola karena kamu dapat mengenali situasi sulit sebelum keadaan makin memburuk. Kemenkes menyarankan memperbaiki pola tidur dan berolahraga secara teratur untuk membantu mengurangi stres.
2. Sulit Menyampaikan Pendapat dan Menetapkan Batasan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3355479/original/097107300_1611214279-sam-farallon-Ij_wbhqjdrc-unsplash.jpg)
Orang dengan kecerdasan emosional baik mampu memadukan sopan santun, empati, dan kebaikan dengan sikap tegas dalam menetapkan batasan. Sebaliknya, orang yang kurang terlatih sering kesulitan menyatakan "tidak" atau menyampaikan ketidaksetujuan secara jelas.
Bradberry menjelaskan bahwa saat merasa tersinggung, kebanyakan orang cenderung bersikap pasif atau agresif. Kamu mungkin memilih diam demi menghindari konflik, lalu meledak di waktu lain ketika tekanan sudah terlalu besar. Sikap tegas yang tetap santun, menurut Bradberry, justru membantu menghadapi orang yang sulit tanpa membuat musuh.
Advertisement
3. Kesulitan Menjelaskan Perasaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368679/original/050966000_1791444768-pexels-alexander-suhorucov-6457544.jpg)
Saat ditanya tentang kondisi emosionalmu, kamu mungkin hanya menjawab sedang merasa tidak enak tanpa tahu sebabnya. Padahal, orang dengan kecerdasan emosional baik dapat membedakan apakah ia merasa kesal, kecewa, tertekan, atau cemas.
TalentSmartEQ menyebut hanya 36 persen orang yang mampu mengenali emosi secara akurat saat emosi itu muncul, berdasarkan penelitian mereka. Emosi yang tidak diberi nama cenderung disalahpahami sehingga memicu keputusan yang kurang tepat. Simply Psychology memberi contoh orang yang tidak menyadari bahwa rasa kesalnya berawal dari perasaan terluka, sehingga bereaksi secara tidak sesuai.
Mulailah dengan menambah kosakata perasaan, misalnya membedakan kesal, kecewa, dan cemas. Bradberry menilai semakin spesifik kata yang dipakai, semakin jelas pula penyebab perasaan itu dan langkah yang perlu diambil. Sebaliknya, kesulitan mengungkapkan perasaan secara tepat dapat memicu salah paham dalam percakapan.
4. Terburu-buru Menarik Kesimpulan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349632/original/000693500_1789537881-0e82990c-9572-49b3-8fc1-b9210e44c844.jpg)
Kamu cenderung cepat membentuk pendapat, lalu mencari bukti yang mendukungnya dan mengabaikan informasi yang bertentangan. Bradberry menyebut kebiasaan ini sebagai bentuk confirmation bias, yang sering berujung pada perdebatan panjang.
Bradberry mengingatkan bahwa kebiasaan ini berbahaya bagi pemimpin, sebab gagasan yang belum dipikirkan matang bisa menjadi strategi seluruh tim. Menurut Bradberry, reaksi pertama sering digerakkan oleh emosi. Orang dengan kecerdasan emosional baik memberi waktu agar pikirannya matang, mempertimbangkan akibat dan sudut pandang lain, baru menyampaikannya dengan cara yang tepat.
Advertisement
5. Sulit Melupakan Kesalahan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1555064/original/067752300_1491209313-pexels-photo-190168.jpeg)
Pengalaman buruk bisa terus teringat sehingga memengaruhi hubungan yang sedang berjalan. Bradberry menjelaskan bahwa rasa negatif akibat menyimpan dendam sebenarnya merupakan respons stres.
Hanya dengan memikirkan kejadian itu, tubuh dapat masuk ke mode siaga, padahal ancamannya sudah lama berlalu. Menurut Bradberry, menyimpan stres semacam ini dapat merugikan kesehatan jika berlangsung lama, sehingga melepaskan dendam bisa membuat suasana hati dan kesehatan membaik. Dalam pergaulan sehari-hari, dendam juga membuat kamu sulit memberi kesempatan kedua kepada orang yang pernah mengecewakan.
6. Terus Memikirkan Kesalahan Masa Lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497375/original/084561200_1770626731-pexels-felicity-tai-7964153.jpg)
Kesalahan yang pernah dilakukan bisa membuatmu terus cemas atau takut mencoba lagi. Bradberry menyebut orang dengan kecerdasan emosional baik tidak melupakan kesalahannya, tetapi menjaganya pada jarak yang aman.
Bradberry menyebut hal ini membutuhkan kesadaran diri yang tinggi, karena kita harus berjalan di antara dua sisi, yaitu terus meratapi dan sama sekali melupakan. Terlalu lama merenungi kesalahan membuat seseorang cemas dan ragu melangkah. Sebaliknya, melupakannya sama sekali membuat kesalahan yang sama mudah terulang. Kuncinya adalah mengubah kegagalan menjadi bahan perbaikan.
Advertisement
7. Sering Merasa Disalahpahami
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293957/original/052956700_1783765345-pexels-timur-weber-8560383.jpg)
Kamu mungkin merasa orang lain selalu salah menangkap maksud perkataanmu. Menurut Bradberry, hal ini bisa terjadi bila kamu sulit memahami bagaimana dirimu terlihat di mata orang lain atau pesanmu belum disampaikan dengan cara yang mudah dipahami.
Orang dengan kecerdasan emosional baik cepat menyadari ketika lawan bicaranya bingung. Mereka lalu menyesuaikan cara bicara dan mengulang pesannya dengan bahasa yang lebih mudah diterima. Orang dengan kecerdasan emosional rendah, kata Bradberry, sering kesulitan membaca dan menafsirkan isyarat sosial sehingga salah paham terjadi berulang.
Tanda Lain yang Juga Sering Muncul
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4936660/original/014509200_1725461002-Ilustrasi_refleksi_diri__introspeksi__merenung.jpg)
Selain ciri ciri kecerdasan emosionalmu rendah di atas, Simply Psychology mencatat beberapa tanda lain. Di antaranya sulit mengendalikan emosi, kurang empati, keterampilan sosial yang terbatas, serta kurang menyadari kelemahan diri sendiri.
Orang dengan kecerdasan emosional rendah juga bisa menolak atau menentang kritik karena sulit mengendalikan reaksinya. Simply Psychology menambahkan bahwa kondisi ini dapat menurunkan daya lenting atau resiliensi, sehingga seseorang lebih sulit bangkit dari kegagalan.
Kecerdasan Emosional Bisa Dilatih
Ciri-ciri di atas bukan vonis. Simply Psychology menyebut kecerdasan emosional rendah tidak menjamin hasil buruk, tetapi dapat meningkatkan risiko menghadapi berbagai masalah, termasuk dalam hubungan dengan orang lain.
Kabar baiknya, Bradberry menyatakan bahwa kecerdasan emosional jauh lebih mudah dibentuk dibandingkan IQ. Semakin sering kamu melatih perilaku yang lebih sehat, semakin kuat pula kebiasaan baru itu terbentuk di otak.
Psychology Today menyarankan memulai dengan belajar mengenali emosi yang sedang dirasakan dan memahaminya. Berhenti sejenak untuk berpikir sebelum bertindak atau menilai juga membantu mengatur emosi. Jika stres terus mengganggu aktivitas dan hubungan, konsultasikan dengan psikolog atau tenaga kesehatan. Informasi ini bukan pengganti pemeriksaan profesional.
Pada akhirnya, ciri ciri kecerdasan emosionalmu rendah bukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri. Mengenalinya justru menjadi langkah pertama untuk memperbaiki cara kamu mengelola emosi dan menjalin hubungan.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Ciri Ciri Kecerdasan Emosionalmu Rendah
1. Apa itu kecerdasan emosional?
Menurut Psychology Today, kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri sendiri serta emosi orang lain. Kemampuan ini mencakup kesadaran emosi, pemanfaatan emosi untuk berpikir, dan pengelolaan emosi.
2. Apa saja ciri ciri kecerdasan emosionalmu rendah?
Ciri-cirinya antara lain mudah stres, sulit menyampaikan pendapat dan menetapkan batasan, sulit menjelaskan perasaan, terburu-buru menarik kesimpulan, sulit melupakan kesalahan orang lain, terus memikirkan kesalahan masa lalu, dan sering merasa disalahpahami.
3. Apakah kecerdasan emosional yang rendah bisa diperbaiki?
Bisa. Travis Bradberry menyatakan kecerdasan emosional dapat dilatih. Semakin sering perilaku yang lebih sehat dipraktikkan, semakin kuat kebiasaan barunya.
4. Bagaimana cara melatih kecerdasan emosional?
Psychology Today menyarankan belajar mengenali dan memahami emosi yang dirasakan serta berhenti sejenak untuk berpikir sebelum bertindak atau menilai. Menambah kosakata perasaan juga membantu.
5. Kapan perlu berkonsultasi dengan psikolog?
Bila stres atau emosi terus mengganggu aktivitas dan hubungan, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan. Informasi ini bukan pengganti pemeriksaan profesional.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374518/original/013435400_1792054116-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-15T154739.817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374250/original/004232300_1792041603-HOAX__35_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374273/original/056682000_1792043129-cek_fakta_-_kejaksaan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3033050/original/073846700_1580099128-20200127--Melihat-Tes-SKD-CPNS-di-Jakarta-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5215985/original/076146200_1746934959-pexels-cottonbro-6566831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371531/original/001747900_1791793470-Event_08102026__5_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4609674/original/098613000_1697188618-tim-gouw-bwki71ap-y8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368679/original/050966000_1791444768-pexels-alexander-suhorucov-6457544.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152215/original/037201300_1741241082-WhatsApp_Image_2025-03-06_at_1.04.13_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535940/original/068601300_1774173694-pexels-jjagtenberg-103127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355946/original/054486000_1790148838-332__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4733309/original/079855900_1706884503-pexels-liza-summer-6383200.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339569/original/026865400_1788420100-01M1JQSG96E7PEFM3B34C0WGXM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340390/original/087807200_1788504640-FiLNlN0ENwwYVbfSGnrTm5OXmHxiT2XtSPmWccU5.jpg)