Liputan6.com, Jakarta - Obrolan yang terus terpotong di tengah jalan membuat pesan jadi tidak tersampaikan utuh. Rasa kesal pun muncul ketika giliran bicara diambil alih sebelum kalimat selesai, apalagi jika hal itu terjadi berulang di depan banyak orang. Cara menghadapi orang yang suka memotong pembicaraan perlu dipahami agar suasana diskusi tetap nyaman.
Kebiasaan menyela sering muncul tanpa disadari oleh pelakunya sendiri. Dorongan untuk segera menyampaikan ide, rasa antusias terhadap topik, atau kebiasaan lama yang terbawa sejak kecil bisa jadi penyebabnya. Memahami akar kebiasaan ini membantu menentukan respons yang tepat tanpa memperkeruh suasana.
Sikap tenang dan cara bicara yang jelas jadi kunci utama saat menghadapi situasi ini. Berikut delapan cara menghadapi orang yang suka memotong pembicaraan yang bisa diterapkan dalam berbagai situasi, mulai dari obrolan santai hingga rapat kerja, yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (7/10/2026).
Advertisement
Dengarkan Dulu Sebelum Merespons Kekesalan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367650/original/028721600_1791359549-1139.jpg)
Tetap dengarkan apa yang disampaikan lawan bicara sebelum merespons kekesalan yang muncul akibat terpotong. Reaksi terburu-buru justru berpotensi memicu perdebatan baru yang tidak perlu. Ambil jeda sejenak, pahami maksud dari orang yang memotong, baru lanjutkan kalimat yang sempat terhenti.
Sikap mendengarkan ini juga menunjukkan bahwa fokus tetap pada isi pembicaraan, bukan pada emosi sesaat. Dengan begitu, respons yang diberikan lebih terarah dan tidak terkesan reaktif. Kebiasaan ini membantu menjaga kualitas diskusi tetap produktif meski sempat terganggu.
Advertisement
Beri Jeda Sebelum Melanjutkan Kalimat
Beri jeda singkat sebelum melanjutkan kalimat yang terputus akibat sela dari lawan bicara. Jeda ini memberi ruang bagi orang lain untuk menyadari bahwa pembicaraan belum selesai. Lanjutkan kalimat dengan nada yang sama seperti sebelum terpotong agar alur pesan tetap tersampaikan.
Cara ini terbilang efektif dalam percakapan santai maupun diskusi formal. Jeda yang diambil tidak perlu lama, cukup beberapa detik untuk menunjukkan bahwa topik yang dibicarakan masih berlanjut. Kebiasaan ini lama-lama membentuk pola saling menunggu giliran bicara.
Gunakan Bahasa Tubuh sebagai Sinyal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367651/original/045115700_1791359549-71320.jpg)
Bahasa tubuh turut berperan dalam menunjukkan bahwa kalimat belum selesai disampaikan. Gerakan tangan ringan atau kontak mata yang stabil bisa memberi sinyal tanpa perlu mengucapkan kata apa pun. Sinyal nonverbal semacam ini sering kali cukup untuk membuat orang lain menahan diri sejenak.
Postur tubuh yang tetap menghadap lawan bicara juga membantu menegaskan posisi dalam percakapan. Sikap ini terasa lebih halus dibanding teguran langsung, sehingga cocok digunakan dalam suasana yang masih santai. Latihan kecil seperti ini membuat komunikasi nonverbal makin terasah.
Advertisement
Sampaikan Secara Langsung tanpa Menyudutkan
Sampaikan secara langsung ketika kebiasaan memotong pembicaraan mulai mengganggu jalannya diskusi. Gunakan kalimat yang fokus pada situasi, misalnya meminta kesempatan menyelesaikan kalimat terlebih dahulu. Hindari kalimat yang menyudutkan sikap pribadi orang tersebut agar suasana tetap kondusif.
Penyampaian langsung semacam ini lebih efektif dibanding memendam kekesalan dalam waktu lama. Pesan yang jelas membantu lawan bicara memahami batasan yang diinginkan tanpa merasa disalahkan. Pola komunikasi seperti ini juga membentuk kebiasaan saling menghargai giliran bicara ke depannya.
Tetapkan Aturan Bicara dalam Diskusi Kelompok
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367652/original/066159200_1791359549-2746.jpg)
Tetapkan aturan bicara yang jelas sebelum diskusi kelompok dimulai, terutama dalam rapat kerja atau forum dengan banyak peserta. Sampaikan bahwa setiap orang mendapat giliran menyampaikan pendapat tanpa disela, lalu sesi tanya jawab dibuka setelah semua selesai bicara. Aturan ini membantu mengurangi kebiasaan memotong pembicaraan secara kolektif.
Peran moderator atau pemimpin diskusi penting dalam menjaga aturan ini tetap berjalan. Pengingat singkat di awal sesi cukup membantu peserta mengatur giliran bicara masing-masing. Forum yang tertib semacam ini membuat setiap pendapat tersampaikan secara utuh.
Advertisement
Ulangi Poin yang Sempat Terpotong
Ulangi poin yang sempat terpotong setelah orang lain selesai menyampaikan selaannya. Pengulangan ini memastikan pesan utama tetap tersampaikan meski sempat terganggu di tengah jalan. Lakukan dengan nada wajar tanpa kesan menuntut perhatian secara berlebihan.
Kebiasaan mengulang poin penting juga membantu memastikan lawan bicara memahami inti pesan secara utuh. Cara ini cocok digunakan dalam diskusi yang membahas topik kompleks dengan banyak detail. Pengulangan yang tepat membuat informasi tidak hilang di tengah percakapan.
Jaga Nada Suara Tetap Tenang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367653/original/085372500_1791359549-1245.jpg)
Jaga nada suara tetap tenang saat menegur kebiasaan memotong pembicaraan, sekalipun rasa kesal sudah menumpuk. Nada suara yang stabil membuat teguran terdengar sebagai permintaan, bukan sebagai serangan pribadi. Hindari nada tinggi yang berpotensi memicu perdebatan baru di tengah diskusi.
Pengendalian nada suara ini butuh latihan, terutama saat situasi terasa menekan. Tarik napas sejenak sebelum merespons membantu menjaga suara tetap stabil. Sikap tenang semacam ini juga memengaruhi cara lawan bicara merespons teguran yang diberikan.
Advertisement
Beri Contoh Cara Berkomunikasi yang Baik
Beri contoh cara berkomunikasi yang baik lewat sikap sendiri saat terlibat dalam percakapan. Tunggu lawan bicara selesai menyampaikan pendapat sebelum memberikan tanggapan, sekecil apa pun dorongan untuk menyela muncul. Sikap ini lama-lama memengaruhi pola bicara orang di sekitar.
Kebiasaan baik yang ditunjukkan secara konsisten sering kali menular tanpa perlu disampaikan lewat kata-kata. Lingkungan yang terbiasa saling mendengarkan membuat kebiasaan memotong pembicaraan berkurang dengan sendirinya. Pola komunikasi semacam ini terbentuk secara bertahap melalui kebiasaan sehari-hari.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Menghadapi Orang yang Suka Memotong Pembicaraan
Kenapa seseorang suka memotong pembicaraan orang lain?
Kebiasaan ini biasanya muncul karena dorongan untuk segera menyampaikan ide sebelum lupa, kurang terbiasa menunggu giliran bicara, atau terbawa semangat saat terlibat dalam topik yang disukai.
Apakah wajar merasa kesal saat pembicaraan sering dipotong?
Wajar. Perasaan tidak didengar secara utuh memang bisa memicu kekesalan, apalagi jika kebiasaan itu berulang dalam percakapan yang sama.
Bagaimana cara menegur rekan kerja yang sering memotong pembicaraan saat rapat?
Sampaikan secara langsung dengan nada tenang, misalnya meminta kesempatan menyelesaikan kalimat terlebih dahulu, tanpa menyinggung sikap pribadi orang tersebut.
Apakah menegur orang yang memotong pembicaraan bisa merusak hubungan?
Jika disampaikan dengan cara yang sopan dan fokus pada situasi, bukan menyerang karakter orang tersebut, teguran justru membantu komunikasi menjadi lebih jelas ke depannya.
Apa yang sebaiknya dilakukan jika kebiasaan memotong pembicaraan terus berulang?
Tetapkan batasan yang konsisten, misalnya dengan mengulang permintaan untuk menyelesaikan kalimat setiap kali kebiasaan itu muncul, sampai pola bicara terbentuk lebih baik.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367654/original/007339100_1791359633-HOAX__32_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367806/original/093780900_1791362859-purbaya_KPK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4998321/original/035227900_1731211487-cek_fakta_undian_bpd_bali.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367418/original/016331900_1791348185-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-07T114242.118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367649/original/012668100_1791359549-19108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2556794/original/022014600_1545887098-daiwei-lu-621488-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308886/original/010999000_1785208118-pexels-budgeron-bach-6532738.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305210/original/080717400_1784787646-OEtfXSvQWlyixy5Ybvte8Jfr6PuQi6mv1awM068J.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305200/original/020092300_1784787635-6q3MMXVMfSwDgalT1vStGzKBBBz2rUXO3UvZJB9e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4142417/original/034346000_1661946775-priscilla-du-preez-8u9Kz4yZLgg-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4817827/original/014691700_1714478954-pexels-shvets-production-7176319.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5242716/original/083013200_1749039643-Sebagai_pemimpin-min__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4703523/original/048114600_1704086079-huangshunping-oxXdFZpFSW4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4916844/original/018693400_1723537819-pexels-h-thanh-131149238-10131971.jpg)