Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda melihat seseorang yang dikenal saat sedang berbelanja, tetapi justru memilih berbelok, menunduk, atau berpura-pura tidak melihat? Kepribadian orang yang memilih sembunyi saat tak sengaja bertemu kenalan sebenarnya tidak bisa langsung dinilai sebagai sikap sombong atau tidak ramah. Ada banyak alasan psikologis di balik keputusan sederhana tersebut.
Bagi sebagian orang, bertemu kenalan secara tidak sengaja berarti harus membuka percakapan ketika mereka sedang tidak siap. Pertanyaan sederhana seperti “Mau ke mana?” atau “Apa kabar?” bisa berkembang menjadi obrolan panjang yang tidak mereka inginkan. Dalam situasi lain, seseorang mungkin sedang lelah, terburu-buru, merasa canggung, atau sekadar ingin menikmati waktu sendirian. Karena itu, perilaku menghindar perlu dilihat dari konteks, frekuensi, dan hubungan antara kedua orang tersebut, bukan dari satu kejadian saja.
Memilih menghindar ketika bertemu kenalan secara tidak sengaja bisa menjadi bentuk pengelolaan diri. Menurut psikolog klinis Rachel Loftin, seperti dikutip Parade, seseorang mungkin tidak menyapa karena sedang sibuk, kelelahan secara sosial, tidak yakin apakah orang lain ingin berbicara, atau memang sedang tidak ingin melakukan percakapan.
Advertisement
Dalam konteks tersebut, menghindari interaksi bisa menjadi keputusan spontan untuk menjaga ruang pribadi. Namun, jika perilaku tersebut dilakukan terus-menerus, ada kemungkinan pola penghindaran justru memperkuat kecemasan atau membuat orang lain menganggapnya sebagai sikap tidak tertarik. Berikut beberapa karakter yang mungkin menjelaskan perilaku tersebut dirangkum Liputan6.com, Rabu (7/10/2026).
1. Cenderung membutuhkan ruang pribadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294509/original/070890100_1783840829-pexels-mikhail-nilov-7929420.jpg)
Sebagian orang merasa lebih nyaman ketika memiliki kendali atas kapan dan dengan siapa mereka berinteraksi. Ketika bertemu kenalan secara tiba-tiba, mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri secara mental.
Alih-alih menghentikan aktivitas untuk mengobrol, mereka memilih meneruskan perjalanan atau bahkan bersembunyi sebentar. Bagi mereka, keputusan tersebut bukan berarti membenci orang yang ditemui, melainkan cara sederhana untuk mempertahankan ruang pribadi.
Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Rachel Loftin dalam Parade bahwa seseorang dapat menghindari sapaan sebagai keputusan sederhana untuk menjaga personal space tanpa bermaksud merendahkan orang lain.
Orang dengan kecenderungan seperti ini biasanya cukup selektif dalam memberikan waktu dan perhatian. Mereka mungkin tetap bisa bersosialisasi dengan baik, tetapi tidak merasa harus selalu menyapa setiap orang yang mereka kenal.
2. Mudah merasa canggung dalam interaksi spontan
Pertemuan yang tidak direncanakan dapat membuat sebagian orang bingung menentukan respons yang tepat. Mereka mungkin bertanya-tanya apakah cukup tersenyum, berjabat tangan, mengobrol sebentar, atau justru harus meluangkan waktu lebih lama.
Rachel Loftin menjelaskan kepada Parade bahwa ketidakpastian terhadap ekspektasi sosial dapat membuat seseorang memilih menghindar. Dengan tidak melakukan kontak, situasi yang dianggap rumit terasa lebih mudah dilewati.
Pada orang yang memang mudah canggung, interaksi spontan dapat terasa lebih menegangkan dibandingkan percakapan yang sudah direncanakan. Mereka mungkin sebenarnya ingin tetap menjaga hubungan baik, tetapi tidak selalu mampu merespons secara nyaman dalam situasi mendadak.
Karena itu, perilaku sembunyi tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang tidak menghargai kenalannya.
3. Memiliki kecenderungan introvert atau cepat lelah secara sosial
Salah satu kemungkinan lain adalah seseorang sedang mengalami kelelahan sosial. Orang introvert bukan berarti tidak mampu bergaul. Mereka hanya dapat memiliki kebutuhan yang lebih besar terhadap waktu sendiri setelah berinteraksi dengan banyak orang.
YourTango mengaitkan kebiasaan menghindari kenalan di tempat umum dengan kecenderungan introvert, preferensi terhadap percakapan yang lebih bermakna, serta kesadaran terhadap kapasitas energi sosial.
Jika seseorang sedang berbelanja sendirian setelah menjalani hari yang padat, bertemu kenalan bisa terasa seperti tambahan tugas sosial. Mereka mungkin memilih menghindar karena ingin segera menyelesaikan urusan dan pulang.
Dalam kondisi ini, sembunyi sebentar dapat menjadi cara mempertahankan energi, bukan bentuk permusuhan.
Advertisement
4. Sedang terlalu fokus pada urusan pribadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/791254/original/053511000_1420609291-introextro.jpg)
Tidak semua penghindaran berkaitan dengan kepribadian. Kadang seseorang memang sedang sangat fokus pada sesuatu.
Menurut Rachel Loftin dalam Parade, seseorang yang sedang menjalankan tugas, memikirkan persoalan tertentu, atau terburu-buru dapat memilih tidak menghentikan aktivitasnya untuk berinteraksi. Bahkan, mereka mungkin tidak langsung menyadari adanya kenalan di sekitar.
Karakter task-oriented juga disebut dalam artikel YourTango sebagai salah satu kemungkinan yang membuat seseorang lebih memilih menyelesaikan urusannya daripada terlibat dalam percakapan spontan.
Misalnya, seseorang sedang mengejar waktu untuk membeli bahan makanan sebelum toko tutup. Ketika melihat teman lama di lorong supermarket, ia mungkin memilih berpindah ke lorong lain agar tidak terjebak dalam percakapan panjang.
Bukan berarti ia tidak menghargai teman tersebut. Prioritasnya saat itu memang berbeda.
5. Cenderung menghindari konflik atau hubungan yang terasa rumit
Situasinya berbeda ketika seseorang sengaja bersembunyi dari orang tertentu yang memiliki hubungan kurang baik dengannya.
Parade menjelaskan bahwa hubungan yang renggang, ambigu, atau penuh ketegangan dapat membuat penghindaran terasa lebih mudah daripada harus menghadapi percakapan yang tidak nyaman. Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin memilih tidak melakukan kontak mata karena ingin mencegah konflik.
Perilaku tersebut dapat dimengerti dalam situasi tertentu, terutama jika interaksi sebelumnya memang menimbulkan ketegangan. Namun, jika penghindaran menjadi satu-satunya cara menghadapi semua situasi sosial yang sulit, pola tersebut dapat membuat seseorang semakin terbiasa melarikan diri dari ketidaknyamanan.
Dengan kata lain, kepribadian orang yang memilih sembunyi saat tak sengaja bertemu kenalan bisa berkaitan dengan kecenderungan conflict-avoidant, terutama jika pola tersebut muncul secara konsisten dalam hubungan yang bermasalah.
6. Sedang merasa tidak nyaman dengan kondisi dirinya
Ada kalanya seseorang sebenarnya tidak ingin dilihat dalam kondisi tertentu. Misalnya, ia sedang berpakaian sangat santai, belum siap bertemu siapa pun, sedang terlihat lelah, atau merasa kurang percaya diri dengan penampilannya.
Rachel Loftin menjelaskan kepada Parade bahwa rasa tidak nyaman terhadap penampilan, citra tubuh, atau kondisi diri saat itu dapat membuat seseorang memilih menghindari perhatian.
Hal ini cukup manusiawi. Banyak orang memiliki momen ketika mereka hanya ingin pergi sebentar tanpa harus bertemu atau berbincang dengan siapa pun.
Dalam situasi seperti ini, bersembunyi bisa menjadi cara cepat untuk menghindari rasa rentan. Setelah situasi berlalu, orang tersebut mungkin kembali beraktivitas seperti biasa tanpa masalah apa pun.
7. Selektif dalam memberikan perhatian sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258475/original/050975900_1781346562-pexels-kampus-8813533.jpeg)
Ada pula orang yang memang tidak merasa perlu menjalin percakapan dengan setiap kenalan yang ditemuinya. Mereka lebih memilih hubungan yang dekat, percakapan yang bermakna, atau interaksi yang memang memiliki tujuan.
YourTango menggambarkan kecenderungan ini melalui karakter seperti menyukai percakapan mendalam, menghargai privasi, mandiri, mampu membaca situasi, dan berorientasi pada tugas. Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa kebiasaan tersebut otomatis merupakan tanda kecerdasan tinggi.
Klaim bahwa orang yang menghindari kenalan di tempat umum pasti memiliki “sifat sangat cerdas” lebih tepat diperlakukan sebagai interpretasi populer, bukan diagnosis psikologis. Tidak ada satu perilaku yang cukup untuk menentukan tingkat kecerdasan atau kepribadian seseorang.
Yang lebih masuk akal adalah melihat perilaku tersebut sebagai bentuk selektivitas sosial. Seseorang mungkin mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki energi untuk mengobrol dan memilih tidak memaksakan interaksi.
Menghindar Tidak Selalu Berarti Tidak Suka
Wendy L. Patrick dalam Psychology Today menjelaskan bahwa perilaku menghindari seseorang dapat memiliki berbagai alasan. Dalam konteks tertentu, seseorang mungkin menjaga jarak karena merasa lawan bicara menunjukkan ketertarikan romantis yang tidak diinginkan. Ada pula kemungkinan bahwa seseorang memang sedang menjaga batasan karena sudah memiliki pasangan atau tidak ingin menjalin hubungan lebih jauh.
Karena itu, orang yang merasa dihindari sebaiknya tidak buru-buru menyimpulkan bahwa dirinya tidak disukai. Konteks tetap penting.
Jika seseorang menghindari semua orang ketika sedang berada di tempat ramai, kemungkinan alasannya berbeda dengan seseorang yang hanya menghindari satu orang tertentu. Perbedaan pola tersebut dapat memberikan petunjuk yang lebih berguna daripada satu kejadian tunggal.
Patrick juga menekankan pentingnya memperhatikan apakah penghindaran tersebut memang selektif dan berulang. Seseorang yang berkali-kali menghindari interaksi tertentu mungkin sedang menetapkan batasan atau merespons sesuatu yang ia persepsikan dari hubungan tersebut.
Kapan Kebiasaan Sembunyi Perlu Diperhatikan?
Sesekali menghindari kenalan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Setiap orang memiliki hari ketika ingin sendirian, terburu-buru, lelah, atau tidak memiliki energi untuk mengobrol.
Namun, jika seseorang hampir selalu menghindari interaksi karena takut dinilai, takut salah bicara, atau merasa sangat tertekan ketika bertemu orang lain, situasinya layak diperhatikan. Rachel Loftin menjelaskan bahwa penghindaran yang terus-menerus dapat memperkuat pola avoidance, terutama ketika interaksi sosial memang sudah terasa berat.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang dapat mencoba jalan tengah. Tidak harus berhenti dan mengobrol panjang. Senyum, anggukan, lambaian tangan, atau sapaan singkat seperti “Hai” sudah cukup untuk menunjukkan bahwa keberadaan orang tersebut disadari.
Cara ini dapat membantu menjaga hubungan sosial tanpa mengorbankan kebutuhan terhadap ruang pribadi.
Advertisement
Tanya Jawab Seputar Orang yang Menghindari Kenalannya
1. Apakah orang yang suka bersembunyi saat bertemu kenalan berarti pemalu?
Belum tentu. Perilaku tersebut dapat muncul karena rasa malu, tetapi juga bisa disebabkan kelelahan sosial, sedang terburu-buru, ingin menjaga privasi, merasa canggung, atau tidak sedang ingin mengobrol.
2. Apakah menghindari kenalan berarti tidak menyukai orang tersebut?
Tidak selalu. Seseorang bisa menghindari percakapan karena kondisi dirinya saat itu, bukan karena tidak menyukai orang yang ditemui. Konteks dan pola penghindaran perlu diperhatikan.
3. Apakah introvert lebih sering melakukan hal tersebut?
Sebagian orang introvert mungkin lebih selektif dalam menggunakan energi sosial dan membutuhkan waktu sendiri. Namun, tidak semua introvert akan menghindari kenalan di tempat umum, sehingga perilaku tersebut tidak bisa dijadikan patokan tunggal.
4. Apakah kebiasaan menghindari orang bisa berkaitan dengan kecemasan sosial?
Bisa. Menurut penjelasan Rachel Loftin yang dikutip Parade, orang dengan kecemasan sosial dapat merasa khawatir terhadap kecanggungan atau salah bicara sehingga menghindari interaksi terasa lebih aman. Namun, menghindari seseorang sesekali tidak berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan sosial.
5. Apa yang sebaiknya dilakukan jika tidak ingin mengobrol dengan kenalan?
Tidak harus memaksakan percakapan panjang. Senyum, anggukan, lambaian tangan, atau sapaan singkat dapat menjadi jalan tengah untuk tetap menghargai orang lain sambil mempertahankan batas dan energi pribadi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367654/original/007339100_1791359633-HOAX__32_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367806/original/093780900_1791362859-purbaya_KPK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4998321/original/035227900_1731211487-cek_fakta_undian_bpd_bali.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367418/original/016331900_1791348185-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-07T114242.118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4142417/original/034346000_1661946775-priscilla-du-preez-8u9Kz4yZLgg-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367941/original/017834100_1791367473-Resep_Ikan_Goreng_Saus_Tomat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336126/original/042301200_1788137909-f1d96b08-f611-442a-975b-db1e2fdf778f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367912/original/025684900_1791367010-7f162e71-4c2e-493a-830b-1f15532ccddf.jpg)