Liputan6.com, Jakarta - Bullying di sekolah bukan sekadar pertengkaran biasa antaranak. Perilaku seperti mengejek, mengucilkan, mengancam, mempermalukan, hingga melakukan kekerasan fisik dapat membuat anak merasa tidak aman dan kesulitan menjalani aktivitas sekolah. Karena itu, ketika anak menunjukkan perubahan perilaku atau mulai bercerita tentang perlakuan tidak menyenangkan dari teman, orang tua perlu merespons dengan tenang dan serius.
Mengatasi bullying pada anak membutuhkan kerja sama antara anak, orang tua, sekolah, dan bila diperlukan tenaga profesional. Respons yang tepat bukan dengan menyalahkan anak atau mendorongnya membalas pelaku, melainkan membantu anak merasa aman, mendengarkan ceritanya, mendokumentasikan kejadian, serta mencari penyelesaian yang sesuai dengan kondisi.Â
Kenali Tanda Anak Mengalami Bullying di Sekolah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4095081/original/000633600_1658311465-pexels-kindel-media-8550841.jpg)
Tidak semua anak yang mengalami bullying langsung berani menceritakan apa yang terjadi. Sebagian anak mungkin merasa malu, takut dianggap lemah, khawatir masalah menjadi semakin besar, atau takut mendapat perlakuan yang lebih buruk setelah bercerita. Akibatnya, orang tua terkadang baru menyadari adanya masalah setelah melihat perubahan pada perilaku anak.
Beberapa perubahan yang patut diperhatikan antara lain anak mendadak enggan pergi ke sekolah, sering mencari alasan untuk tidak masuk, tampak cemas ketika membicarakan sekolah, menjadi lebih pendiam, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, atau mengalami perubahan pola tidur dan makan. Penurunan konsentrasi serta perubahan prestasi akademik juga dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
Orang tua juga sebaiknya memperhatikan tanda yang lebih konkret, seperti barang sekolah yang sering hilang atau rusak, luka yang tidak dapat dijelaskan dengan baik, pakaian yang rusak, atau anak tiba-tiba meminta uang lebih banyak tanpa alasan jelas. Satu tanda saja belum tentu berarti anak mengalami bullying, tetapi beberapa perubahan yang muncul bersamaan layak menjadi alasan untuk melakukan pendekatan secara hati-hati.
Advertisement
Dengarkan Cerita Anak Tanpa Menyalahkan atau Menghakimi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366905/original/061618900_1791280111-3.jpg)
Ketika anak akhirnya bercerita, respons pertama orang tua dapat menentukan apakah ia akan merasa cukup aman untuk melanjutkan ceritanya. Hindari langsung memotong pembicaraan, menyalahkan anak, atau mengatakan bahwa ia seharusnya dapat melawan sendiri. Kalimat seperti itu berisiko membuat anak merasa tidak dipahami dan memilih menyimpan masalahnya.
Berikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan caranya sendiri. Dengarkan tanpa buru-buru menyimpulkan, lalu ajukan pertanyaan sederhana untuk memahami siapa yang terlibat, apa yang dilakukan, kapan kejadian berlangsung, seberapa sering terjadi, dan apakah ada orang lain yang menyaksikannya. Jika anak belum siap menceritakan semuanya, jangan memaksanya memberikan seluruh detail dalam satu kesempatan.
Orang tua dapat menunjukkan dukungan melalui kalimat sederhana seperti, "Terima kasih sudah cerita," atau "Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu." Anak perlu memahami bahwa menceritakan bullying bukan berarti mengadu secara berlebihan. Ia sedang meminta bantuan untuk menghadapi situasi yang membuatnya merasa tidak aman.
Jangan Mendorong Anak Membalas dengan Kekerasan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152085/original/032986300_1741233556-pexels-julia-m-cameron-8841296.jpg)
Keinginan untuk membela anak secara spontan merupakan hal yang wajar, tetapi menyuruh anak membalas dengan kekerasan bukan solusi yang aman. Tindakan tersebut dapat membuat konflik semakin besar dan berpotensi menyebabkan anak terlibat dalam masalah lain di sekolah.
Anak justru perlu dibekali cara menghadapi situasi yang lebih aman, misalnya menjauh dari lokasi ketika situasi mulai mengancam, mencari guru atau orang dewasa yang dipercaya, serta tetap berada di lingkungan yang memiliki pengawasan. Jika terjadi ancaman atau kekerasan fisik, keselamatan anak harus menjadi prioritas dibandingkan keinginan untuk memenangkan konflik.
Dalam situasi tertentu, anak juga dapat dilatih menggunakan respons verbal yang tegas tanpa provokasi, misalnya mengatakan bahwa ia tidak menyukai perlakuan tersebut lalu segera mencari bantuan. Kemampuan untuk mengenali kapan harus meninggalkan situasi dan meminta pertolongan sama pentingnya dengan kemampuan mempertahankan diri secara verbal.
Advertisement
Catat dan Dokumentasikan Kejadian yang Dialami Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367432/original/000343200_1791348200-33ab848b-7fea-4f62-b364-fd49befcaecb.jpg)
Dokumentasi dapat membantu orang tua memahami pola bullying sekaligus memberikan gambaran yang lebih jelas ketika masalah dibicarakan dengan pihak sekolah. Catatan tidak harus dibuat secara rumit. Orang tua dapat menuliskan tanggal, lokasi, bentuk perlakuan yang terjadi, siapa saja yang terlibat, saksi yang ada, serta respons anak setelah kejadian.
Jika bullying berlangsung melalui pesan atau media sosial, simpan bukti yang relevan seperti tangkapan layar, pesan, unggahan, atau komentar yang menunjukkan tindakan tersebut. Jangan langsung menghapus bukti hanya karena ingin menghilangkan hal yang mengganggu anak.
Dokumentasi juga membantu menghindari pembahasan yang hanya didasarkan pada ingatan yang samar. Ketika orang tua bertemu guru atau pihak sekolah, informasi yang lebih terstruktur dapat membuat pembicaraan berfokus pada kejadian dan kebutuhan anak. Namun, bukti tersebut sebaiknya digunakan untuk mencari penyelesaian, bukan untuk mempermalukan anak lain di ruang publik.
Laporkan Bullying kepada Guru dan Pihak Sekolah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336107/original/092045800_1788129901-ChatGPT_Image_31_Agu_2026__05.38.35.jpg)
Setelah memperoleh gambaran mengenai kejadian, orang tua sebaiknya menghubungi pihak sekolah, terutama jika bullying berlangsung berulang, melibatkan ancaman, atau membuat anak merasa tidak aman. Sampaikan informasi secara faktual dan hindari langsung menuduh pihak tertentu sebelum sekolah memperoleh kesempatan melakukan pemeriksaan.
Orang tua dapat menjelaskan perubahan yang terlihat pada anak, menceritakan kejadian yang dilaporkan anak, serta menunjukkan dokumentasi yang relevan. Pertanyaan yang dapat diajukan antara lain bagaimana sekolah menangani kasus bullying, siapa pihak yang akan menangani laporan, dan langkah apa yang dapat dilakukan untuk menjaga keamanan anak selama berada di sekolah.
Jika masalah tidak berhenti setelah laporan pertama, orang tua dapat kembali berkomunikasi dengan pihak sekolah dan menanyakan perkembangan penanganannya. Komunikasi yang konsisten membantu memastikan bahwa masalah tidak berhenti hanya pada percakapan awal, terutama jika anak masih mengalami perlakuan yang sama.
Advertisement
Bantu Anak Membangun Kembali Rasa Aman dan Percaya Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362992/original/022379300_1790837150-IMG_2836.jpeg)
Bullying dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri. Anak mungkin mulai merasa berbeda, tidak disukai, tidak berharga, atau menganggap bahwa dirinya memang pantas mendapatkan perlakuan buruk. Karena itu, penyelesaian masalah tidak cukup hanya dengan menghentikan perilaku bullying, tetapi juga perlu membantu anak memulihkan rasa aman.
Orang tua dapat mengajak anak kembali melakukan aktivitas yang membuatnya nyaman dan merasa mampu. Kegiatan olahraga, hobi, seni, membaca, bermain bersama teman yang suportif, atau aktivitas keluarga dapat menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan pengalaman positif di luar situasi yang membuatnya tertekan.
Hindari menjadikan bullying sebagai satu-satunya topik pembicaraan di rumah. Anak tetap membutuhkan kehidupan yang normal, hubungan keluarga yang hangat, serta kesempatan untuk menikmati kegiatan sehari-hari. Dukungan yang konsisten dapat membantu anak memahami bahwa satu pengalaman buruk di sekolah tidak menentukan nilai dirinya secara keseluruhan.
Ajarkan Anak Membangun Lingkungan Pertemanan yang Sehat
Anak yang memiliki teman yang suportif dapat merasa lebih aman ketika menghadapi masalah sosial di sekolah. Karena itu, orang tua dapat membantu anak memahami seperti apa hubungan pertemanan yang sehat, termasuk adanya rasa saling menghormati, batasan pribadi, kemampuan mengatakan tidak, serta keberanian mencari bantuan ketika seseorang diperlakukan tidak adil.
Anak tidak harus memiliki banyak teman untuk mendapatkan dukungan. Satu atau beberapa teman yang dapat dipercaya sudah dapat menjadi bagian penting dari lingkungan sosial yang positif. Orang tua dapat mendorong anak untuk tetap dekat dengan teman yang membuatnya nyaman dan menghindari situasi yang membuatnya merasa terisolasi.
Selain itu, ajarkan anak bahwa menjadi saksi bullying juga membutuhkan keberanian dan tanggung jawab. Jika melihat temannya mengalami perlakuan buruk, anak tidak perlu menghadapi pelaku sendirian. Ia dapat mencari guru atau orang dewasa yang dipercaya dan menyampaikan apa yang dilihat.
Advertisement
Kenali Kapan Anak Membutuhkan Bantuan Profesional
Tidak semua dampak bullying dapat ditangani hanya dengan percakapan di rumah dan koordinasi dengan sekolah. Jika anak menunjukkan perubahan emosional yang berat, kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, terus-menerus merasa takut, menarik diri secara ekstrem, atau menunjukkan tanda bahwa dirinya tidak mampu menghadapi keadaan, orang tua sebaiknya mempertimbangkan bantuan profesional.
Psikolog anak atau tenaga profesional yang sesuai dapat membantu anak memahami emosi, membangun strategi menghadapi situasi sosial, dan memproses pengalaman yang membuatnya tertekan. Orang tua juga dapat memperoleh arahan mengenai cara memberikan dukungan yang tepat di rumah.
Jika anak berbicara tentang keinginan menyakiti diri sendiri, merasa tidak ingin hidup, atau berada dalam bahaya fisik yang segera, situasi tersebut harus diperlakukan sebagai kondisi serius. Jangan membiarkan anak sendirian dan segera cari bantuan darurat atau layanan profesional yang tersedia di wilayah tempat tinggal.
Hal yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua Saat Anak Mengalami Bullying
Respons orang tua yang terlalu terburu-buru dapat membuat keadaan menjadi lebih rumit. Beberapa tindakan berikut sebaiknya dihindari:
- Menyalahkan anak atas perlakuan yang diterimanya. Anak perlu mengetahui bahwa perilaku bullying merupakan tanggung jawab pelaku, bukan kesalahan korban.
- Menyuruh anak membalas dengan kekerasan. Cara tersebut dapat meningkatkan risiko cedera dan memperbesar konflik.
- Mengabaikan cerita anak. Menganggap bullying sebagai bagian biasa dari masa sekolah dapat membuat anak merasa tidak memiliki tempat untuk meminta pertolongan.
- Langsung menghubungi atau memarahi anak yang diduga sebagai pelaku. Penanganan sebaiknya dilakukan melalui jalur yang aman dan melibatkan pihak sekolah sesuai situasinya.
- Menyebarkan identitas atau bukti kasus di media sosial. Tindakan tersebut dapat memperluas masalah dan berpotensi mempermalukan anak-anak yang terlibat.
- Memaksa anak terus berhadapan dengan situasi yang membuatnya takut. Keselamatan dan kondisi emosional anak perlu dipertimbangkan sebelum menentukan langkah berikutnya.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Mengatasi Bullying pada Anak
1. Apa yang harus dilakukan orang tua jika anak tidak mau bercerita tentang bullying?
Berikan ruang dan kesempatan kepada anak untuk berbicara tanpa memaksanya. Orang tua dapat menunjukkan bahwa mereka siap mendengarkan kapan pun anak merasa nyaman dan tetap memperhatikan perubahan perilaku yang mungkin menunjukkan adanya masalah.
2. Apakah anak sebaiknya melawan pelaku bullying?
Anak tidak sebaiknya didorong untuk membalas dengan kekerasan. Ajarkan respons yang tegas dan aman, kemudian arahkan anak untuk menjauh dari situasi berbahaya serta mencari bantuan orang dewasa.
3. Kapan orang tua harus melaporkan bullying kepada sekolah?
Bullying sebaiknya segera dibicarakan dengan sekolah jika terjadi berulang, melibatkan ancaman, kekerasan, penghinaan serius, atau membuat anak merasa tidak aman berada di lingkungan sekolah.
4. Bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri anak setelah mengalami bullying?
Berikan dukungan yang konsisten, hargai perasaan anak, dorong aktivitas yang disukai dan dikuasainya, serta bantu anak membangun hubungan dengan orang-orang yang memberikan pengaruh positif.
5. Kapan anak perlu dibawa ke psikolog?
Pertimbangkan bantuan psikolog atau profesional terkait jika dampak bullying mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi emosional anak semakin berat, atau orang tua kesulitan membantu anak mengatasi pengalaman tersebut.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8267016/original/061315600_1782115624-Wayan_Koster_-_Cek_Fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5280875/original/081904900_1752290852-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__24_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367414/original/060438000_1791347641-4552ee9a-39cb-4acd-91bf-74ca8126b981.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367429/original/087607300_1791348180-2149607178.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355795/original/008242700_1790142079-01M34ATVVHJM12Y849T50MNEK2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367209/original/064423200_1791337144-Gemini_Generated_Image_b3blaxb3blaxb3bl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4942667/original/082011500_1726114940-portrait-happy-asian-girl-say-hi-stops-drawing-digital-tablet-with-graphic-pen-waving-hand.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152215/original/037201300_1741241082-WhatsApp_Image_2025-03-06_at_1.04.13_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978108/original/042143000_1648535623-pexels-alexander-suhorucov-6457544.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363072/original/073988800_1790838980-Depositphotos_839696924_L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4478705/original/047486500_1687510826-alexander-dummer-Em8I8Z_DwA4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5536767/original/038079400_1774341436-pexels-mikoto-3367850.jpg)