9 Ternak Hewan Mini di Ember untuk Perantau yang Tinggal di Kontrakan Petak

Ternak hewan mini di ember untuk perantau yang tinggal di kontrakan petak, bisa hobi atau sumber penghasilan.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 19:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ternak hewan mini di ember untuk perantau yang tinggal di kontrakan petak bisa menjadi pilihan menarik untuk mengisi waktu sekaligus mencoba kegiatan produktif. Tidak membutuhkan lahan luas, beberapa jenis hewan dapat dirawat menggunakan wadah sederhana sesuai kebutuhan.

Tinggal di ruang terbatas bukan berarti harus mengurungkan niat untuk beternak. Ternak hewan mini di ember untuk perantau yang tinggal di kontrakan petak dapat dilakukan dengan memilih jenis yang mudah dirawat, tidak membutuhkan banyak pakan, dan minim perawatan.

Sebelum memulai, perhatikan ukuran wadah, kebersihan, sirkulasi udara, serta kondisi lingkungan sekitar. Dengan persiapan yang tepat, ternak hewan mini di ember untuk perantau yang tinggal di kontrakan petak bisa tetap praktis dan tidak mengganggu kenyamanan sehari-hari.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang ternak hewan mini di ember untuk perantau yang tinggal di kontrakan petak, Rabu (26/8/2026).

1. Ikan Cupang

Ikan cupang (Betta splendens) menjadi salah satu pilihan paling praktis untuk perantau karena ukurannya kecil dan dapat dipelihara dalam wadah yang tidak memakan banyak tempat. Ember atau wadah khusus ikan bisa digunakan selama ukurannya memadai, bersih, dan tidak mudah bocor. Warnanya yang beragam juga membuat cupang menarik dijadikan penghias kamar atau teras.

Perawatannya relatif sederhana. Pakan diberikan secukupnya dan sebagian air perlu diganti secara berkala untuk menjaga kualitasnya. Hindari menempatkan terlalu banyak ikan dalam satu wadah karena cupang jantan cenderung agresif terhadap sesamanya.

2. Ikan Guppy

Guppy (Poecilia reticulata) cocok untuk penghobi pemula yang ingin memelihara ikan kecil di ruang terbatas. Tubuhnya mungil dengan warna dan pola yang beragam, sehingga beberapa ekor dapat membuat wadah terlihat lebih menarik. Ember atau akuarium kecil dapat digunakan selama kapasitasnya sesuai dengan jumlah ikan.

Guppy juga mudah berkembang biak sehingga jumlahnya perlu dipantau agar wadah tidak terlalu padat. Tanaman air dapat ditambahkan sebagai tempat berlindung bagi anakan. Pemberian pakan secukupnya dan penggantian sebagian air secara rutin membantu menjaga ikan tetap sehat.

3. Jangkrik

Jangkrik (Gryllus bimaculatus) bisa dibudidayakan dalam kotak plastik atau wadah berukuran cukup besar, meskipun untuk kontrakan petak sebaiknya jumlahnya dibatasi. Wadah perlu memiliki penutup dengan ventilasi agar udara tetap mengalir sekaligus mencegah jangkrik keluar.

Pakan seperti sayuran, buah, dan pakan khusus jangkrik cukup mudah diperoleh. Area budidaya harus dijaga tetap kering dan bersih karena kotoran yang menumpuk dapat menimbulkan bau. Jangkrik lebih cocok bagi perantau yang memang ingin membudidayakannya sebagai pakan atau untuk dijual.

4. Ulat Hongkong

Ulat Hongkong (Tenebrio molitor) termasuk pilihan yang lebih hemat tempat karena ukurannya kecil dan tidak memerlukan wadah tinggi. Kotak plastik bertutup atau wadah sejenis dapat digunakan untuk menampung koloni dalam jumlah terbatas.

Media seperti dedak atau bekatul dapat digunakan sebagai tempat hidup sekaligus sumber makanan. Potongan wortel atau sayuran tertentu bisa diberikan sebagai sumber kelembapan. Wadah sebaiknya diletakkan di tempat kering dan memiliki sirkulasi udara agar media tidak mudah berjamur.

5. Magot BSF

Magot BSF (Hermetia illucens) dapat menjadi pilihan bagi perantau yang ingin memanfaatkan sisa organik rumah tangga. Larvanya memakan berbagai bahan organik, sehingga sisa sayuran dan buah tertentu dapat dimanfaatkan sebagai pakan.

Budidayanya bisa dilakukan dalam ember atau wadah plastik yang memiliki drainase. Namun, jumlah larva perlu disesuaikan dengan kapasitas wadah agar tidak menimbulkan masalah kebersihan. Pilihan ini lebih tepat untuk perantau yang memiliki area luar seperti balkon atau teras karena pengelolaannya bisa menghasilkan aroma tertentu.

6. Kutu Air

Kutu air (Daphnia sp.) berukuran sangat kecil dan dapat dibudidayakan dalam ember atau wadah plastik. Hewan ini biasanya dimanfaatkan sebagai pakan alami untuk ikan, sehingga cocok bagi perantau yang juga memelihara cupang, guppy, atau ikan kecil lainnya.

Wadah dapat ditempatkan di area yang memperoleh cahaya tidak langsung. Kualitas air perlu diperhatikan dan pemberian pakan harus dilakukan secukupnya agar air tidak cepat rusak. Karena ukurannya mikroskopis, kutu air juga tidak membutuhkan banyak ruang.

7. Cacing Tanah

Cacing tanah merupakan pilihan yang lebih masuk akal jika konsep “ternak mini” diperluas ke budidaya hewan untuk menghasilkan kompos. Pemeliharaannya dapat dilakukan menggunakan ember atau wadah plastik yang telah diberi lubang drainase dan ventilasi.

Cacing memanfaatkan bahan organik sebagai sumber makanan dan menghasilkan kascing yang dapat digunakan sebagai pupuk. Wadah sebaiknya diletakkan di tempat teduh dan media dijaga tetap lembap. Jenis ini relatif tidak membutuhkan banyak ruang, tetapi tetap perlu diperhatikan agar media tidak terlalu basah atau menimbulkan bau.

8. Keong Darat

Keong darat berukuran kecil dapat dipelihara dalam wadah dengan ventilasi dan penutup yang aman. Pilihan ini lebih cocok untuk hobi atau pengamatan, bukan sebagai ternak konsumsi, terutama bagi perantau yang hanya memiliki ruang terbatas.

Wadah perlu memiliki lingkungan yang lembap dan bersih, sedangkan pakan dapat berupa sayuran tertentu. Jumlahnya sebaiknya dibatasi agar wadah tidak terlalu cepat kotor. Pastikan juga jenis keong yang dipelihara bukan spesies invasif atau hama yang dilarang untuk dipelihara.

9. Lebah Madu Tanpa Sengat

Untuk pilihan yang tetap berukuran kecil tetapi lebih produktif, lebah madu tanpa sengat (kelulut) dapat dipertimbangkan. Namun, jenis ini tidak cocok ditempatkan di dalam ember atau kamar kontrakan. Koloninya membutuhkan kotak sarang khusus dan sebaiknya diletakkan di area terbuka seperti halaman atau balkon yang aman.

Kelulut menarik bagi perantau yang memiliki sedikit ruang terbuka karena koloninya tidak membutuhkan lahan luas. Selain membantu penyerbukan tanaman, lebah ini juga dapat menghasilkan madu kelulut. Pilihan ini hanya layak jika lingkungan tempat tinggal memungkinkan dan tidak mengganggu penghuni sekitar.

Pertanyaan Seputar Ternak Hewan Mini di Ember untuk Perantau

Hewan apa yang cocok diternakkan di ember untuk perantau?

Beberapa pilihan yang relatif praktis antara lain ikan cupang, guppy, kutu air, ulat Hongkong, dan jangkrik. Pilih jenis yang sesuai dengan luas tempat, waktu perawatan, serta kondisi lingkungan kontrakan.

Apakah ternak hewan mini di ember membutuhkan banyak tempat?

Tidak selalu. Beberapa jenis berukuran kecil sehingga bisa dipelihara dalam wadah terbatas. Meski begitu, ukuran ember tetap harus disesuaikan dengan jumlah hewan agar tidak terlalu padat dan mudah dirawat.

Bagaimana cara mencegah bau dari ternak mini di kontrakan?

Kebersihan wadah menjadi kunci. Buang sisa pakan secara rutin, jangan memberikan makanan berlebihan, dan pastikan wadah memiliki ventilasi atau drainase yang baik. Untuk kontrakan petak, sebaiknya pilih hewan yang tidak menghasilkan banyak bau.

Apakah ternak hewan mini di ember bisa menghasilkan uang?

Bisa, tergantung jenis hewan dan skala budidayanya. Ikan hias, jangkrik, ulat Hongkong, atau kutu air misalnya, dapat memiliki nilai jual maupun dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan hewan peliharaan.

Apa yang perlu diperhatikan sebelum mulai beternak di kontrakan?

Pertimbangkan ukuran wadah, kebutuhan air dan pakan, kebersihan, sirkulasi udara, serta potensi bau atau suara. Sebaiknya mulai dari jumlah kecil terlebih dahulu agar lebih mudah mengetahui apakah jenis ternak tersebut cocok dengan kondisi tempat tinggal.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6