Liputan6.com, Jakarta - Di tengah kekayaan khazanah spiritual Islam Nusantara, dua jenis ratib, Ratib Al-Attas dan Ratib Al-Haddad, menjadi amalan yang tak asing di telinga umat Muslim, khususnya di kalangan pesantren dan majelis taklim. Kedua ratib ini merupakan kumpulan dzikir dan doa yang disusun oleh dua ulama besar dari Hadramaut, Yaman.
Meski sama-sama berasal dari tradisi tarekat Alawiyah dan memiliki tujuan mulia mendekatkan diri kepada Allah SWT, perbedaan ratib al-attas dan ratib al-haddad cukup signifikan. Mulai dari penyusun, susunan bacaan, waktu pembacaan, hingga keutamaan yang dijanjikan, keduanya memiliki karakteristik yang khas.
Di lain sisi, menilik sejarahnya, Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas merupakan guru dari Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, sehingga keberadaan Ratib al-Haddad pun dipengaruhi oleh adanya Ratib al-Attas yang lebih dahulu ada.
Advertisement
Namun begitu, banyak pula yang mengamalkan keduanya sekaligus. Di Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an Buaran Pekalongan, Ratib al-Attas dibaca setiap pagi setelah salat subuh, sementara Ratib al-Haddad dibaca setiap malam setelah salat maghrib.
Merangkum berbagai sumber berikut ini adalah Perbedaan Ratib Al-Attas Dan Ratib Al-Haddad
1. Perbedaan Penyusun (Pengarang)
Ratib al-Attas disusun oleh Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas. Beliau lahir di desa Lisk, Hadramaut, pada tahun 992 Hijriah (sekitar 1572 M) dan wafat pada 23 Rabiul Akhir 1072 H (sekitar 1652 M) dalam usia 80 tahun.
Al-Habib Umar adalah seorang ulama besar dan wali qutub yang dikenal sebagai sosok yang khumul (rendah hati) dan tidak menonjolkan diri. Menariknya, beliau tidak banyak meninggalkan karya tulis. Sebagaimana diungkapkan oleh muridnya, Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad: "Aku adalah salah satu karya beliau…".
Ratib al-Attas merupakan satu-satunya karya yang beliau susun, sebuah ratib agung yang diberi nama 'Azīzul Manāl wa Fatḥu Bābil Wiṣāl (Karunia yang Langka dan Pintu Mendekatkan Diri).
Ratib al-Haddad disusun oleh Al-Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad al-Haddad. Beliau lahir di Syubir, Hadramaut, pada tahun 1044 Hijriah dan wafat pada tahun 1132 Hijriah (sekitar 1720 M).
Beliau adalah murid dari Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas. Al-Habib Abdullah al-Haddad adalah seorang ulama Hadramaut yang sangat menonjol di abad ke-17 dan banyak menulis kitab-kitab yang sangat bagus. Ratib al-Haddad disusun pada malam Lailatul Qadr tahun 1071 H.
2. Perbedaan Hubungan Guru-Murid
Kedua ratib ini memiliki hubungan yang sangat erat secara spiritual dan historis. Ratib al-Attas disusun lebih dahulu oleh Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas, yang merupakan guru dari Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad. Keberadaan Ratib al-Haddad dipengaruhi oleh adanya Ratib al-Attas yang lebih terdahulu.
Dalam praktiknya, di banyak komunitas, sebelum membaca Ratib al-Haddad, umumnya didahului dengan membaca Ratib al-Attas. Sebagian ulama bahkan menganjurkan untuk membaca keduanya secara berurutan, dimulai dengan Ratib al-Attas.
3. Perbedaan Nama dan Julukan
Ratib al-Attas dikenal dengan dua nama lain, yaitu 'Azīzul Manāl (Karunia yang Langka) dan Fatḥu Bābil Wiṣāl (Pintu Mendekatkan Diri). Nama ini mencerminkan tujuan spiritual dari ratib tersebut, yaitu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ratib al-Haddad tidak memiliki nama lain yang populer selain dinisbatkan kepada nama penyusunnya. Namun, ratib ini sangat terkenal dan termasuk yang paling masyhur serta sering dibaca di kalangan masyarakat.
4. Perbedaan Isi dan Susunan Bacaan
Secara umum, susunan Ratib al-Attas sangat berbeda dengan Ratib al-Haddad.
Ratib al-Attas berisi kumpulan dzikir dan doa yang memuat:
• Ta'awudz (perlindungan)
• Basmalah
• Istighfar
• Asmaul Husna
• Dzikir (termasuk dzikir tauhid sebanyak 40 kali)
• Doa-doa
Ratib al-Attas memuat ta'awudz yang berasal dari ajaran Rasulullah SAW, yaitu a'ūdzu billāhis-samī'il-'alīm minasy-syayṭānir-rajīm dan a'ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq. Kedua ta'awudz ini datang dari Rasulullah SAW dan umatnya dianjurkan untuk mengamalkannya setiap hari.
Ratib al-Haddad juga merupakan kumpulan dzikir dan doa, namun dengan susunan yang berbeda. Menurut penjelasan dalam kitab Syarah Ratib al-Haddad, ratib ini terdiri dari 19 litani (bacaan) yang masing-masing memiliki sumber dari Al-Qur'an dan hadis Nabi.
Ada sedikit kesamaan antara keduanya, terutama pada lafadz ta'awudz yang sama-sama diajarkan Rasulullah SAW dan dimuat di kedua ratib. Namun, secara keseluruhan bacaan doanya sangat berbeda.
5. Perbedaan Dimensi Sufistik
Ratib al-Attas memiliki dimensi sufistik yang dominan, yaitu khawf (rasa takut) dan raja' (pengharapan). Dimensi khawf tercermin dalam bacaan ta'awudz dan basmalah yang merupakan permohonan perlindungan dari kemudharatan, serta istighfar yang menunjukkan kesadaran akan dosa dan ketakutan kepada Allah. Sementara dimensi raja' (pengharapan) tercermin dalam doa-doa permohonan ampunan dan rahmat Allah.
Ratib al-Haddad juga memiliki dimensi sufistik, namun dengan penekanan yang berbeda. Berdasarkan penjelasan dalam kitab Syarah Ratib al-Haddad, ratib ini lebih menekankan pada aspek perlindungan, ketenangan, dan pendekatan diri kepada Allah.
Salah satu bacaan khas dalam Ratib al-Haddad adalah: "Yā Dha'l Jalaali wa'l Ikraam amintnaa 'alaa Dini'l Islam" (Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, amanahkanlah kami atas agama Islam).
6. Perbedaan Waktu Pembacaan
Meskipun keduanya dapat dibaca kapan saja, terdapat tradisi waktu pembacaan yang berbeda. Ratib al-Attas umumnya dibaca pada waktu pagi, seperti setelah salat subuh atau setelah salat Isya.
Di Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an Buaran Pekalongan, ratib al-Attas dibaca setiap pagi setelah salat subuh. Di bulan Ramadan, pembacaan dilakukan sebelum salat Isya.
Ratib al-Haddad lebih sering dibaca pada waktu malam, seperti setelah salat maghrib. Di pesantren yang sama, ratib al-Haddad dijadwalkan setiap hari setelah salat maghrib.
7. Perbedaan Tingkat Popularitas
Di kalangan masyarakat, Ratib al-Haddad dianggap lebih masyhur dan sering dibaca dibandingkan Ratib al-Attas. Hal ini mungkin karena Al-Habib Abdullah al-Haddad memiliki banyak karya tulis dan pengaruh yang lebih luas.
Namun, Ratib al-Attas tetap memiliki kedudukan yang istimewa karena merupakan karya guru dari penyusun Ratib al-Haddad. Di Indonesia sendiri, terdapat tiga jenis ratib yang terkenal, yaitu Ratib al-Haddad, Ratib al-Attas, dan Ratib al-Aydrus.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5327298/original/085035000_1756177391-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__83_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316841/original/059462500_1785991327-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-06T113319.126.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334197/original/046223400_1787824544-HOAX__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528302/original/061463600_1773276398-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334700/original/052434900_1787893425-20260828_090121.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4731224/original/041843900_1706691977-lansia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334641/original/057315700_1787891503-f2d3ed6a-b3f5-43a8-a6ff-e5cae96f388d.jpg)