Liputan6.com, Jakarta - Memasuki bulan September 2026, umat Katolik dapat kembali mengikuti rangkaian perayaan liturgi dan bacaan Kitab Suci yang telah ditetapkan untuk setiap hari. Kalender liturgi menjadi salah satu panduan penting untuk mengetahui bacaan Misa harian, termasuk bacaan pertama, mazmur tanggapan, bacaan kedua pada hari-hari tertentu, serta bacaan Injil yang akan direnungkan dalam perayaan Ekaristi. Dengan mengetahui jadwalnya, umat dapat mempersiapkan diri dan mengikuti bacaan liturgi dengan lebih baik.
Selain memuat bacaan harian, Kalender Liturgi Bulan September 2026 juga dapat membantu umat mengetahui berbagai peringatan liturgis yang berlangsung sepanjang bulan. Beberapa tanggal memiliki perayaan atau peringatan khusus dalam kalender Gereja, sehingga nuansa liturginya dapat berbeda dari hari biasa. Informasi tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenal kembali kehidupan para santo dan santa serta makna perayaan yang dirayakan oleh Gereja Katolik.
Bagi umat yang ingin mengikuti bacaan Kitab Suci setiap hari, kalender liturgi dapat digunakan sebagai panduan untuk membaca dan merenungkan Sabda Tuhan secara lebih teratur. Namun, bacaan yang tercantum sebaiknya tetap disesuaikan dengan kalender liturgi resmi dan ketentuan keuskupan atau Gereja setempat. Lantas bagaimana Kalender Liturgi Bulan September 2026 lengkap dengan bacaan Injil dan renungan harian umat Katolik? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (28/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Selasa, 1 September 2026 — Hari Biasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110980/original/061627700_1783048699-pexels-masbet-1529344.jpg)
Bacaan: 1Kor 2:10b-16; Mzm 145:8-9.10-11.12-13ab.13cd-14; Luk 4:31-37. Bacaan Ofisi: 1Tim 6:11-21. Warna liturgi hijau.
Bacaan Injil mengisahkan Yesus mengajar di rumah ibadat di Kapernaum dan mengusir roh jahat dari seseorang. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu merasa takjub karena perkataan Yesus memiliki kuasa. Pesan ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya tentang mendengar ajaran, tetapi juga membuka diri terhadap kuasa Tuhan yang mampu mengubah kehidupan.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin menghadapi berbagai hal yang membuat hati gelisah, takut, atau kehilangan arah. Bacaan hari ini mengajak umat untuk tidak membiarkan kekhawatiran menguasai seluruh kehidupan. Ada saatnya manusia perlu berhenti mengandalkan kekuatannya sendiri dan memberikan ruang bagi Tuhan untuk bekerja.
Renungan hari ini dapat diarahkan pada pertanyaan sederhana: apa yang selama ini paling menguasai pikiran dan hati saya? Dengan membawa persoalan tersebut dalam doa, umat diajak untuk percaya bahwa Tuhan tidak jauh dari kehidupan manusia. Iman menjadi kekuatan untuk menghadapi berbagai pergumulan dengan lebih tenang.
2. Rabu, 2 September 2026 — Hari Biasa
Bacaan: 1Kor 3:1-9; Mzm 33:12-13.14-15.20-21; Luk 4:38-44. Bacaan Ofisi: 2Tim 1:1-18. Warna liturgi hijau.
Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon dan banyak orang sakit lainnya. Setelah menerima kesembuhan, ibu mertua Simon segera melayani mereka. Kisah ini memperlihatkan bahwa pengalaman menerima pertolongan Tuhan dapat mendorong seseorang untuk kembali hadir dan melayani orang lain.
Kesembuhan dalam bacaan ini tidak hanya dapat dipahami secara fisik. Dalam kehidupan manusia, ada banyak bentuk “sakit” seperti kelelahan batin, kekecewaan, rasa kehilangan, atau hubungan yang rusak. Tuhan hadir untuk memberikan kekuatan agar seseorang dapat bangkit dan menjalani kembali tanggung jawabnya.
Renungan hari ini mengajak umat melihat kembali berbagai berkat yang telah diterima. Jangan sampai pertolongan Tuhan hanya berhenti sebagai rasa syukur pribadi. Setelah mendapatkan kekuatan, seseorang juga dipanggil untuk menjadi sumber kebaikan bagi keluarga, teman, dan orang-orang yang membutuhkan.
3. Kamis, 3 September 2026 — Peringatan Wajib St. Gregorius Agung
Bacaan: 1Kor 3:18-23; Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6; Luk 5:1-11. Bacaan Ofisi: 2Tim 2:1-21. Warna liturgi putih.
Kisah panggilan Simon dan para murid menjadi pusat Injil hari ini. Setelah semalam bekerja tanpa hasil, Simon diminta Yesus menebarkan jala kembali. Secara manusiawi, perintah tersebut mungkin terasa tidak masuk akal karena mereka sudah berusaha sebelumnya. Namun, Simon memilih percaya dan akhirnya mengalami hasil tangkapan yang berlimpah.
Bacaan ini mengajarkan bahwa kegagalan tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang harus berhenti. Ada kalanya manusia sudah berusaha sekuat tenaga tetapi belum melihat hasil yang diharapkan. Dalam keadaan seperti itu, iman mengajak seseorang untuk tetap terbuka terhadap kemungkinan bahwa Tuhan memiliki jalan yang belum terlihat.
Renungan hari ini dapat menjadi kesempatan untuk membawa kegagalan dalam doa. Jangan buru-buru menganggap diri tidak mampu hanya karena suatu usaha belum berhasil. Seperti Simon yang akhirnya dipanggil mengikuti Yesus, kegagalan bahkan dapat menjadi pintu menuju panggilan dan tujuan hidup yang baru.
4. Jumat, 4 September 2026 — Hari Biasa
Bacaan: 1Kor 4:1-5; Mzm 37:3-4.5-6.27-28.39-40; Luk 5:33-39. Bacaan Ofisi: 2Tim 2:22–3:17. Warna liturgi hijau.
Dalam Injil, Yesus berbicara tentang kain baru dan anggur baru. Gambaran tersebut mengarah pada pentingnya keterbukaan terhadap pembaruan yang dibawa-Nya. Kehadiran Kristus bukan sekadar menambahkan sesuatu ke dalam kehidupan lama, tetapi mengundang manusia mengalami perubahan cara berpikir dan cara hidup.
Manusia sering kali merasa nyaman dengan kebiasaan lama karena sudah terbiasa menjalaninya. Padahal, tidak semua kebiasaan lama membawa kebaikan. Ada sikap, cara berpikir, atau pola hubungan yang perlu ditinggalkan agar seseorang dapat bertumbuh.
Renungan hari ini mengajak umat bertanya apakah ada bagian kehidupan yang terlalu dipertahankan meskipun sebenarnya sudah perlu diperbarui. Perubahan mungkin tidak selalu mudah, tetapi dengan iman dan keterbukaan, pembaruan dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih sesuai dengan kehendak Tuhan.
5. Sabtu, 5 September 2026 — St. Teresa dari Kalkuta, Hari Sabtu Imam
Bacaan: 1Kor 4:6b-15; Mzm 145:17-18.19-20.21; Luk 6:1-5. Bacaan Ofisi: 2Tim 4:1-22. Warna liturgi hijau.
Yesus memperlihatkan bahwa hukum tidak boleh dijalankan secara kaku sampai mengabaikan kebutuhan manusia. Ketika murid-murid memetik bulir gandum pada hari Sabat, Yesus mengingatkan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Pesannya bukan menghapus nilai aturan, melainkan menempatkan aturan dalam tujuan yang benar.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga dapat terjebak pada formalitas. Seseorang bisa sangat sibuk menjalankan kewajiban keagamaan tetapi kurang memperhatikan kasih, belas kasih, dan kepedulian kepada sesama. Padahal, iman seharusnya membuat hati semakin peka terhadap kebutuhan orang lain.
Renungan hari ini mengajak umat melihat apakah praktik iman sudah menghasilkan kasih yang nyata. Memperingati St. Teresa dari Kalkuta juga dapat menjadi pengingat bahwa pelayanan kepada mereka yang kecil dan menderita merupakan bentuk konkret dari kasih kepada Tuhan.
Advertisement
6. Minggu, 6 September 2026 — Hari Minggu Biasa XXIII, Hari Minggu Kitab Suci Nasional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110978/original/040972700_1783048697-grant-whitty-nbSTmhtg7p0-unsplash.jpg)
Bacaan: Yeh 33:7-9; Mzm 95:1-2.6-7.8-9; Rm 13:8-10; Mat 18:15-20. Bacaan Ofisi: 2Ptr 1:1-11. Warna liturgi hijau.
Bacaan Injil hari ini berbicara tentang bagaimana menghadapi saudara yang melakukan kesalahan. Yesus tidak mengajarkan agar kesalahan seseorang langsung dipermalukan di hadapan banyak orang. Sebaliknya, ada proses menegur secara pribadi, melibatkan orang lain jika diperlukan, dan membawa persoalan kepada komunitas.
Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan keluarga, pertemanan, maupun komunitas. Ketika terjadi konflik, manusia sering kali lebih mudah membicarakan kesalahan orang lain daripada berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan. Media sosial bahkan dapat membuat persoalan pribadi menyebar jauh sebelum diselesaikan.
Renungan hari ini mengajak umat belajar mengoreksi dengan kasih. Menegur bukan berarti merasa lebih suci, sementara menerima teguran juga membutuhkan kerendahan hati. Tujuannya bukan memenangkan pertengkaran, melainkan membantu hubungan kembali menuju kebaikan.
7. Senin, 7 September 2026 — Hari Biasa
Bacaan: 1Kor 5:1-8; Mzm 5:5-6.7.12; Luk 6:6-11. Bacaan Ofisi: 2Ptr 1:12-21. Warna liturgi hijau.
Yesus menyembuhkan seseorang yang tangannya mati sebelah pada hari Sabat. Para ahli Taurat dan orang Farisi justru mengamati Yesus untuk mencari kesalahan. Di tengah situasi tersebut, Yesus menunjukkan bahwa melakukan kebaikan dan menyelamatkan kehidupan tidak boleh dikalahkan oleh sikap kaku terhadap aturan.
Bacaan ini mengajak manusia melihat kembali prioritas hidup. Ada kalanya seseorang terlalu sibuk mempertahankan pendapat, aturan, atau gengsi sampai lupa melihat penderitaan orang yang berada di depannya. Iman yang hidup seharusnya membuat hati lebih peka terhadap kebutuhan sesama.
Renungan hari ini sederhana tetapi mendalam: ketika melihat seseorang membutuhkan pertolongan, apakah kita memilih bertindak atau hanya mencari alasan untuk tidak terlibat? Kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi wujud nyata kasih Tuhan.
8. Selasa, 8 September 2026 — Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria
Bacaan: Mi 5:1-4a atau Rm 8:28-30; Mzm 13:6ab.6cd; Mat 1:1-16.18-23 atau 1:18-23. Bacaan Ofisi: Kej 3:9-20 atau Sir 24:2-12.16-22. Warna liturgi putih.
Hari ini Gereja memperingati kelahiran Santa Perawan Maria. Bacaan Injil menampilkan silsilah Yesus dan kisah tentang Maria yang mengandung dari Roh Kudus. Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana karya keselamatan Allah hadir melalui sejarah manusia yang panjang dan melalui pribadi-pribadi yang bersedia mengambil bagian dalam rencana-Nya.
Kehidupan Maria mengingatkan bahwa seseorang tidak harus mengetahui seluruh masa depan sebelum mengatakan “ya” kepada Tuhan. Ada banyak hal yang mungkin tidak langsung dipahami, tetapi kepercayaan dapat membuat seseorang berani melangkah. Kesediaan Maria menjadi bagian penting dalam sejarah keselamatan.
Renungan hari ini dapat diarahkan pada kesediaan menerima kehendak Tuhan. Tidak semua jalan hidup mudah dipahami sejak awal. Namun, seperti Maria, manusia diajak belajar percaya bahwa kehidupan yang diserahkan kepada Tuhan dapat menjadi sarana hadirnya berkat bagi banyak orang.
9. Rabu, 9 September 2026 — St. Petrus Klaver
Bacaan: 1Kor 7:25-31; Mzm 45:11-12.14-15.16-17; Luk 6:20-26. Bacaan Ofisi: 2Ptr 2:9-22. Warna liturgi hijau.
Yesus menyampaikan sabda bahagia dan peringatan kepada mereka yang hidup dalam kelimpahan tetapi melupakan Tuhan. Bacaan ini membalik ukuran yang sering digunakan manusia untuk menilai kebahagiaan. Kekayaan, kenyamanan, dan pujian bukan satu-satunya tanda kehidupan yang baik.
Bukan berarti kemiskinan atau penderitaan harus dicari. Pesan Yesus lebih dalam, yaitu mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menjadikan kenyamanan duniawi sebagai pusat kehidupan. Hati yang bergantung sepenuhnya pada harta dan pengakuan manusia dapat kehilangan kepekaan terhadap Tuhan dan sesama.
Renungan hari ini mengajak umat memeriksa apa yang sebenarnya menjadi sumber kebahagiaan. Apakah kebahagiaan hanya muncul ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan? Ataukah ada kedamaian yang tetap dapat ditemukan ketika keadaan tidak sempurna?
10. Kamis, 10 September 2026 — Hari Biasa
Bacaan: 1Kor 8:1b-7.11-13; Mzm 139:1-3.13-14ab.23-24; Luk 6:27-38. Bacaan Ofisi: 2Ptr 3:1-10. Warna liturgi hijau.
Salah satu ajaran Yesus yang paling menantang muncul dalam Injil hari ini: mengasihi musuh, berbuat baik kepada orang yang membenci, serta mengampuni. Perintah tersebut tidak mudah dilakukan karena bertentangan dengan dorongan manusia untuk membalas ketika disakiti.
Mengasihi musuh bukan berarti membenarkan tindakan buruk atau membiarkan diri terus-menerus disakiti. Kasih Kristiani mengajak seseorang melepaskan keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Dalam situasi tertentu, kasih juga dapat diwujudkan melalui batas yang sehat sambil tetap tidak menyimpan kebencian.
Renungan hari ini dapat dimulai dengan mengingat seseorang yang sulit kita maafkan. Bawalah nama tersebut dalam doa, bukan untuk meminta orang itu mendapatkan hukuman, tetapi agar hati sendiri memperoleh kebebasan dari kebencian.
11. Jumat, 11 September 2026 — Hari Biasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110979/original/073435200_1783048698-pexels-mart-production-7219530.jpg)
Bacaan: 1Kor 9:16-19.22b-27; Mzm 84:3.4.5-6.12; Luk 6:39-42. Bacaan Ofisi: 2Ptr 3:11-18. Warna liturgi hijau.
Yesus mengingatkan tentang orang buta yang menuntun orang buta dan perumpamaan tentang selumbar serta balok di mata. Pesan tersebut mengarah pada pentingnya introspeksi sebelum menghakimi orang lain. Manusia sering kali sangat mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kekurangan diri sendiri.
Dalam kehidupan sosial, kecenderungan tersebut dapat menimbulkan konflik. Kita mungkin menuntut orang lain bersikap sabar ketika menghadapi kita, tetapi kehilangan kesabaran ketika menghadapi kesalahan mereka. Kita mengharapkan pengertian, tetapi tidak selalu memberikan pengertian yang sama.
Renungan hari ini mengajak umat melihat diri sendiri dengan jujur. Sebelum memperbaiki orang lain, tanyakan apakah ada sesuatu dalam diri yang juga perlu diperbaiki. Kerendahan hati bukan berarti menganggap diri buruk, melainkan berani mengakui bahwa kita pun masih terus bertumbuh.
12. Sabtu, 12 September 2026 — Nama Tersuci Maria
Bacaan: 1Kor 10:14-22a; Mzm 116:12-13.17-18; Luk 6:43-49. Bacaan Ofisi: Yud 1-25. Warna liturgi hijau.
Yesus menggunakan gambaran pohon dan buah untuk menjelaskan bahwa kualitas seseorang dapat terlihat dari apa yang keluar dari kehidupannya. Ia juga mengibaratkan orang yang mendengar dan melakukan perkataan-Nya seperti orang yang membangun rumah di atas dasar yang kuat.
Iman tidak berhenti pada pengetahuan. Seseorang dapat mengetahui banyak ajaran agama, tetapi pertanyaan pentingnya adalah apakah pengetahuan tersebut menghasilkan perubahan dalam cara berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain. Buah kehidupan menjadi cerminan dari apa yang berakar di dalam hati.
Renungan hari ini mengajak umat memeriksa “buah” yang selama ini dihasilkan. Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa lebih damai, dihargai, dan dikuatkan? Jika belum, mungkin ada bagian dalam diri yang perlu kembali dibangun di atas dasar iman yang lebih kokoh.
13. Minggu, 13 September 2026 — Hari Minggu Biasa XXIV
Bacaan: Sir 27:33–28:9; Mzm 103:1-2.3-4.9-10.11-12; Rm 14:7-9; Mat 18:21-35. Bacaan Ofisi: Est 1:1-3.9-16.19; 2:5-10.16-17. Warna liturgi hijau.
Injil hari ini menghadirkan perumpamaan tentang hamba yang menerima pengampunan besar tetapi tidak mau mengampuni sesamanya. Perumpamaan tersebut memperlihatkan ketidakseimbangan ketika seseorang ingin menerima belas kasih tetapi enggan memberikan belas kasih kepada orang lain.
Pengampunan memang tidak selalu mudah. Ada luka yang membutuhkan waktu panjang untuk diproses. Mengampuni juga tidak berarti melupakan kejadian atau menganggap kesalahan tidak pernah terjadi. Namun, pengampunan dapat menjadi langkah untuk melepaskan diri dari kebencian yang terus mengikat hati.
Renungan hari ini mengajak umat melihat kembali pengalaman menerima pengampunan. Jika Tuhan memberikan kesempatan untuk bangkit setelah kesalahan, kita pun diajak memberikan ruang bagi orang lain untuk berubah. Belas kasih bukan kelemahan, tetapi kekuatan untuk memutus lingkaran dendam.
14. Senin, 14 September 2026 — Pesta Pemuliaan Salib Suci
Bacaan: Bil 21:4-9 atau Flp 2:6-11; Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38; Yoh 3:13-17. Bacaan Ofisi: Gal 2:19–3:7,13-14; 6:14-18. Warna liturgi merah.
Hari ini Gereja merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Injil Yohanes mengarahkan perhatian kepada kasih Allah yang begitu besar sehingga Ia memberikan Putra-Nya bagi keselamatan manusia. Salib yang secara manusiawi merupakan simbol penderitaan justru menjadi tanda kasih dan pengorbanan.
Salib mengingatkan bahwa kasih tidak selalu hadir dalam bentuk kenyamanan. Ada saat ketika mencintai berarti berkorban, bertahan, dan memberikan diri bagi kebaikan orang lain. Namun, salib juga tidak berhenti pada penderitaan karena iman Kristiani selalu mengarah pada harapan dan kehidupan.
Renungan hari ini mengajak umat membawa salib masing-masing kepada Tuhan. Beban keluarga, pekerjaan, penyakit, kehilangan, atau persoalan lain tidak harus dihadapi sendirian. Dalam iman, penderitaan dapat diserahkan kepada Tuhan sambil tetap mencari jalan untuk bertumbuh dan berharap.
15. Selasa, 15 September 2026 — Perayaan Wajib SP Maria Berdukacita
Bacaan: Ibr 5:7-9; Mzm 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20; Yoh 19:25-27 atau Luk 2:33-35. Bacaan Ofisi: Est 4:1-16. Warna liturgi putih.
Gereja mengenang Santa Perawan Maria yang berdiri dekat salib Yesus. Maria bukan hanya hadir dalam sukacita kehidupan Yesus, tetapi juga menyertai-Nya dalam penderitaan. Kehadirannya memperlihatkan kesetiaan yang tidak menghilang ketika keadaan menjadi sangat berat.
Kehidupan manusia juga mengenal pengalaman mendampingi orang yang sedang menderita. Kadang-kadang seseorang tidak memiliki solusi untuk persoalan orang terdekatnya. Namun, kehadiran yang tulus, doa, dan kesediaan menemani dapat menjadi bentuk kasih yang sangat berarti.
Renungan hari ini mengajak umat belajar hadir bagi mereka yang sedang mengalami masa sulit. Tidak semua luka membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang hanyalah mengetahui bahwa ia tidak sendirian.
Advertisement
16. Rabu, 16 September 2026 — Perayaan Wajib St. Kornelius dan St. Siprianus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5190985/original/005461800_1744892323-20250417-Misa_Kamis_Putih-ANG_3.jpg)
Bacaan: 1Kor 12:31–13:13; Mzm 33:2-3.4-5.12.22; Luk 7:31-35. Bacaan Ofisi: Est 14:1-19. Warna liturgi merah.
Bacaan pertama menghadirkan salah satu bagian yang sangat dikenal dalam Kitab Suci tentang kasih. Paulus menegaskan bahwa berbagai kemampuan dan karunia tidak memiliki makna jika tidak disertai kasih. Kasih digambarkan sebagai sesuatu yang sabar, murah hati, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Pesan ini sangat relevan karena manusia sering mengukur keberhasilan berdasarkan kemampuan. Seseorang bisa pintar, sukses, terkenal, atau memiliki banyak talenta, tetapi semua itu dapat kehilangan makna jika digunakan tanpa kepedulian kepada sesama.
Renungan hari ini mengajak umat bertanya bukan hanya “apa yang sudah saya capai?”, tetapi juga “apa yang sudah saya berikan kepada orang lain?” Talenta yang disertai kasih dapat menjadi berkat, sementara kemampuan tanpa kasih berisiko hanya menjadi sarana untuk meninggikan diri.
17. Kamis, 17 September 2026 — St. Robertus Bellarminus dan St. Hildegardis dari Bingen
Bacaan: 1Kor 15:1-11; Mzm 118:1-2.16ab-17.28; Luk 7:36-50. Bacaan Ofisi: Est 5:1-14; 7:1-10. Warna liturgi hijau.
Injil mengisahkan perempuan berdosa yang datang kepada Yesus dan menunjukkan kasih yang besar. Sementara itu, Simon orang Farisi melihat perempuan tersebut berdasarkan masa lalunya. Yesus justru menunjukkan bahwa orang yang mengalami pengampunan dapat memberikan kasih yang besar.
Kisah tersebut mengingatkan bahwa manusia sering mudah memberi label berdasarkan masa lalu seseorang. Padahal, seseorang tidak selalu sama dengan kesalahan yang pernah dilakukannya. Setiap orang memiliki kesempatan untuk bertobat, berubah, dan menjalani kehidupan yang baru.
Renungan hari ini mengajak umat berhenti melihat orang lain hanya dari kekurangannya. Kita juga perlu belajar menerima bahwa diri sendiri pernah salah. Ketika menyadari betapa besar belas kasih yang telah kita terima, hati akan lebih mudah memberikan belas kasih kepada sesama.
18. Jumat, 18 September 2026 — Hari Biasa
Bacaan: 1Kor 15:12-20; Mzm 17:1.6-7.8b.15; Luk 8:1-3. Bacaan Ofisi: Bar 1:14–2:5; 3:1-8. Warna liturgi hijau.
Injil memperlihatkan sejumlah perempuan yang mengikuti Yesus dan membantu pelayanan-Nya dengan apa yang mereka miliki. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa karya pewartaan tidak hanya dilakukan oleh tokoh yang tampil di depan. Banyak orang mendukung karya tersebut melalui pelayanan yang mungkin tidak selalu terlihat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kontribusi yang tidak mendapatkan sorotan tetap memiliki nilai. Mengurus keluarga, membantu teman, mendukung kegiatan komunitas, menyediakan waktu, atau memberikan kemampuan secara tulus dapat menjadi bentuk pelayanan yang berarti.
Renungan hari ini mengajak umat tidak terlalu mengejar pengakuan. Tuhan melihat ketulusan yang mungkin tidak dilihat manusia. Kebaikan yang dilakukan tanpa tepuk tangan tetap menjadi kebaikan dan dapat memberikan dampak jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
19. Sabtu, 19 September 2026 — St. Yanuarius
Bacaan: 1Kor 15:35-37.42-49; Mzm 56:10.11-12.13-14; Luk 8:4-15. Bacaan Ofisi: Bar 3:9-15.24–4:4. Warna liturgi hijau.
Perumpamaan tentang penabur menggambarkan benih yang jatuh di berbagai tempat. Ada yang dimakan burung, tumbuh di tanah berbatu, terhimpit semak duri, dan ada yang jatuh di tanah yang baik. Yesus kemudian menjelaskan bahwa benih tersebut menggambarkan Sabda Tuhan yang diterima dengan tanggapan berbeda-beda.
Hati manusia juga dapat berubah-ubah. Ada masa ketika seseorang sangat terbuka terhadap nasihat dan Sabda Tuhan, tetapi ada masa ketika kekhawatiran, kesibukan, atau ambisi membuat hati menjadi tidak peka. Karena itu, menerima Sabda bukan hanya persoalan mendengar, tetapi juga memeliharanya agar menghasilkan buah.
Renungan hari ini mengajak umat melihat kondisi “tanah” dalam hati sendiri. Apa yang menjadi batu, duri, atau gangguan yang membuat iman sulit bertumbuh? Dengan membersihkan hati melalui doa, pertobatan, dan perbuatan kasih, benih Sabda dapat memiliki ruang untuk menghasilkan buah.
20. Minggu, 20 September 2026 — Hari Minggu Biasa XXV
Bacaan: Yes 55:6-9; Mzm 145:2-3.8-9.17-18; Flp 1:20c-24.27a; Mat 20:1-16a. Bacaan Ofisi: Tob 1:1-22. Warna liturgi hijau.
Perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur menunjukkan para pekerja yang datang pada waktu berbeda tetapi menerima upah yang sama. Mereka yang bekerja sejak pagi merasa keberatan karena menganggap dirinya lebih layak menerima lebih banyak. Yesus menggunakan kisah ini untuk menunjukkan kemurahan hati Allah yang tidak dapat diukur hanya dengan perhitungan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mudah membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat keberhasilan seseorang dan bertanya mengapa ia mendapat kesempatan yang lebih baik, padahal kita merasa telah berjuang lebih lama. Perbandingan seperti itu dapat membuat rasa syukur perlahan berubah menjadi iri hati.
Renungan hari ini mengajak umat mempercayai kemurahan hati Tuhan. Setiap orang memiliki perjalanan berbeda dan waktu yang berbeda pula. Daripada terus membandingkan berkat yang diterima orang lain, lebih baik mensyukuri jalan yang sedang kita jalani dan tetap setia melakukan kebaikan.
21. Senin, 21 September 2026 — Pesta St. Matius, Penginjil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5223783/original/084188400_1747566927-20250518-Paus_Cincin_Nelayan-AFP_7.jpg)
Bacaan: Ef 4:1-7.11-13; Mzm 19:2-3.4-5; Mat 9:9-13. Bacaan Ofisi: Ef 4:1-16. Warna liturgi merah.
Yesus memanggil Matius ketika ia sedang duduk di rumah cukai. Panggilan itu menunjukkan bahwa Yesus tidak menilai seseorang hanya berdasarkan pekerjaan atau reputasi masa lalunya. Matius kemudian bangkit dan mengikuti Yesus, menunjukkan respons nyata terhadap panggilan tersebut.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa perubahan selalu mungkin. Seseorang tidak harus menunggu menjadi sempurna sebelum mulai mendekat kepada Tuhan. Justru perjalanan bersama Tuhan dapat menjadi proses yang perlahan mengubah cara berpikir, sikap, dan tujuan hidup.
Renungan hari ini mengajak umat bertanya apakah ada panggilan baik yang selama ini diabaikan. Bisa berupa kesempatan memperbaiki hubungan, membantu seseorang, memperbaiki kebiasaan, atau kembali mendekat kepada Tuhan. Seperti Matius, keberanian untuk bangkit dan melangkah dapat menjadi awal perubahan besar.
22. Selasa, 22 September 2026 — Hari Biasa
Bacaan: Ams 21:1-6.10-13; Mzm 119:1.27.30.34.35.44; Luk 8:19-21. Bacaan Ofisi: Tob 3:7-17. Warna liturgi hijau.
Ketika diberi tahu bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya mencari-Nya, Yesus menjawab bahwa ibu dan saudara-Nya adalah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melakukannya. Perkataan tersebut menekankan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak cukup hanya berdasarkan kedekatan secara lahiriah.
Mendengar Sabda membutuhkan tindakan. Seseorang dapat mengetahui banyak ajaran, tetapi ukuran pentingnya adalah bagaimana ajaran tersebut diwujudkan dalam kehidupan. Kasih, pengampunan, kejujuran, dan kepedulian menjadi contoh konkret dari Sabda yang benar-benar dihidupi.
Renungan hari ini mengajak umat mengevaluasi keseimbangan antara doa dan tindakan. Jangan sampai kehidupan iman hanya berlangsung dalam kata-kata. Setiap hari selalu ada kesempatan untuk menerjemahkan Sabda Tuhan menjadi perbuatan nyata.
23. Rabu, 23 September 2026 — Perayaan Wajib St. Pius dari Pietrelcina
Bacaan: Ams 30:5-9; Mzm 119:29.72.89.101.104.163; Luk 9:1-6. Bacaan Ofisi: Tob 4:1-5.19-21; 5:1-16. Warna liturgi putih.
Yesus mengutus kedua belas murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit. Mereka juga diminta tidak bergantung pada banyak perlengkapan duniawi. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa perutusan membutuhkan kepercayaan kepada Tuhan dan kesediaan untuk melangkah.
Dalam kehidupan modern, manusia sering merasa harus memiliki semuanya terlebih dahulu sebelum mulai melakukan sesuatu. Kita menunggu kondisi sempurna, modal cukup, kemampuan lengkap, atau dukungan semua orang. Padahal, banyak kebaikan justru dimulai dari apa yang sudah tersedia.
Renungan hari ini mengajak umat menggunakan apa yang dimiliki sekarang. Tidak perlu menunggu menjadi orang hebat untuk membantu sesama. Waktu, perhatian, keterampilan, doa, bahkan kata-kata yang menguatkan dapat menjadi bekal untuk menghadirkan kebaikan.
24. Kamis, 24 September 2026 — Hari Biasa
Bacaan: Pkh 1:2-11; Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; Luk 9:7-9. Bacaan Ofisi: Tob 6:1-17. Warna liturgi hijau.
Injil menceritakan Herodes yang merasa penasaran tentang Yesus. Ia mendengar berbagai kabar tentang siapa Yesus sebenarnya dan ingin mengetahui-Nya. Rasa ingin tahu Herodes menunjukkan bahwa mendengar tentang Tuhan tidak otomatis berarti seseorang sungguh-sungguh mengenal dan mengikuti-Nya.
Hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan manusia. Seseorang bisa mengetahui banyak informasi tentang iman, tetapi belum tentu membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Pengetahuan adalah awal, sedangkan iman membutuhkan keterlibatan hati dan perubahan hidup.
Renungan hari ini mengajak umat tidak berhenti pada rasa ingin tahu. Jika ingin mengenal Tuhan lebih dalam, luangkan waktu untuk membaca Kitab Suci, berdoa, mengikuti perayaan Ekaristi, dan melakukan kasih. Pengenalan kepada Tuhan tumbuh melalui relasi yang dijalani secara nyata.
25. Jumat, 25 September 2026 — Hari Biasa
Bacaan: Pkh 3:1-11; Mzm 144:1a.2abc.3-4; Luk 9:18-22. Bacaan Ofisi: Tob 7:1.8b-17; 8:5-13. Warna liturgi hijau.
Pengkhotbah mengingatkan bahwa segala sesuatu memiliki waktunya. Sementara itu, dalam Injil, Yesus bertanya kepada murid-murid tentang siapa diri-Nya dan kemudian memberitahukan tentang penderitaan yang akan dihadapi-Nya. Kedua bacaan mengingatkan bahwa kehidupan memiliki tahap-tahap yang tidak selalu dapat kita kendalikan.
Manusia sering ingin mempercepat sesuatu yang sebenarnya membutuhkan waktu. Kita ingin segera berhasil, segera sembuh dari luka, segera mendapatkan jawaban, atau segera melihat hasil dari usaha. Namun, tidak semua proses dapat dipaksa mengikuti jadwal yang kita inginkan.
Renungan hari ini mengajak umat belajar percaya pada waktu Tuhan. Menunggu bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Kita tetap berusaha sambil belajar menerima bahwa ada hal-hal yang memang membutuhkan proses.
Advertisement
26. Sabtu, 26 September 2026 — St. Kosmas dan Damianus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455303/original/090641400_1766644470-6.jpg)
Bacaan: Pkh 11:9–12:8; Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; Luk 9:43b-45. Bacaan Ofisi: Tob 10:7c–11:15. Warna liturgi hijau.
Yesus memberitahukan kepada murid-murid bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Para murid tidak memahami perkataan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ada bagian dari rencana Tuhan yang tidak selalu langsung dapat dipahami manusia.
Kita juga sering mengalami situasi ketika sesuatu terjadi tanpa kita mengerti alasannya. Rencana yang sudah disusun bisa gagal, hubungan berubah, atau perjalanan hidup tiba-tiba mengambil arah berbeda. Ketidakpahaman dapat membuat seseorang takut dan mempertanyakan Tuhan.
Renungan hari ini mengajak umat tetap membuka hati ketika belum memahami semuanya. Iman tidak berarti selalu mengetahui jawaban. Iman juga berarti berani berjalan bersama Tuhan meskipun sebagian jalan masih belum terlihat jelas.
27. Minggu, 27 September 2026 — Hari Minggu Biasa XXVI
Bacaan: Yeh 18:25-28; Mzm 25:4bc-5.6-7.8-9; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32. Bacaan Ofisi: Ydt 2:1-6; 3:6; 4:1-2.9-15. Warna liturgi hijau.
Yesus menceritakan dua anak yang diminta bekerja oleh ayahnya. Anak pertama awalnya menolak tetapi kemudian pergi bekerja, sedangkan anak kedua menyatakan kesediaan tetapi tidak melakukannya. Pesan utamanya sangat jelas: tindakan memiliki bobot lebih besar daripada sekadar kata-kata.
Dalam kehidupan sehari-hari, janji mudah diucapkan. Seseorang dapat mengatakan akan berubah, membantu, atau melakukan sesuatu, tetapi perkataan tersebut baru memiliki makna ketika diwujudkan. Iman juga demikian; komitmen kepada Tuhan perlu terlihat melalui tindakan nyata.
Renungan hari ini mengajak umat melihat kembali janji-janji yang pernah dibuat. Apakah ada sesuatu yang terus kita katakan tetapi belum pernah sungguh-sungguh dilakukan? Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat untuk berhenti berbicara dan mulai mengambil satu langkah nyata.
28. Senin, 28 September 2026 — St. Wenseslaus, St. Laurensius Ruiz dan kawan-kawan
Bacaan: Ayb 1:6-22; Mzm 17:1.2-3.6-7; Luk 9:46-50. Bacaan Ofisi: Ydt 5:1-21. Warna liturgi hijau.
Murid-murid Yesus memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus kemudian menempatkan seorang anak di sisi-Nya dan menjelaskan bahwa orang yang menerima anak tersebut menerima Dia. Pesannya mengubah cara manusia memandang kebesaran.
Dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan jabatan, popularitas, atau pencapaian, Yesus menunjukkan ukuran yang berbeda. Kebesaran dalam Kerajaan Allah berkaitan dengan kerendahan hati dan kesediaan menerima mereka yang mungkin dianggap kecil.
Renungan hari ini mengajak umat memeriksa ambisi pribadi. Apakah kita ingin menjadi yang terbesar agar dapat melayani, atau ingin menjadi yang terbesar agar dikagumi? Tuhan mengajak manusia mengubah ambisi menjadi pelayanan.
29. Selasa, 29 September 2026 — Pesta St. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung
Bacaan: Dan 7:9-10.13-14 atau Why 12:7-12a; Mzm 138:1-2a.2bc-3.4-5; Yoh 1:47-51. Bacaan Ofisi: Why 12:1-18. Warna liturgi putih.
Gereja merayakan Pesta Tiga Malaikat Agung, yakni Mikael, Gabriel, dan Rafael. Bacaan Injil mengisahkan Natanael yang diperkenalkan kepada Yesus dan menerima pewahyuan tentang “langit terbuka” serta malaikat-malaikat Allah. Perayaan ini mengingatkan umat pada karya Allah yang melampaui apa yang dapat dilihat secara langsung.
Malaikat dalam tradisi iman menjadi tanda bahwa Tuhan bekerja dan mengutus para pelayan-Nya. Namun, fokus perayaan tetaplah Allah sendiri. Manusia diajak percaya bahwa kehidupan tidak hanya terbatas pada apa yang dapat dilihat dan diukur.
Renungan hari ini mengajak umat membangun kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan. Ketika menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya dapat dipahami, tetaplah berdoa dan melakukan bagian yang dapat dilakukan. Percaya kepada Tuhan bukan berarti pasif, tetapi menjalani hidup dengan keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendirian.
30. Rabu, 30 September 2026 — Perayaan Wajib St. Hieronimus
Bacaan: Ayb 9:1-12.14-16; Mzm 88:10bc-11.12-13.14-15; Luk 9:57-62. Bacaan Ofisi: Ydt 8:1a.10-14.28-33; 9:1-14. Warna liturgi putih.
Pada akhir bulan, Injil menampilkan beberapa orang yang ingin mengikuti Yesus tetapi masih memiliki berbagai alasan dan pertimbangan. Yesus menunjukkan bahwa mengikuti-Nya membutuhkan kesungguhan dan kesiapan untuk meninggalkan keterikatan yang menghambat.
Bukan berarti keluarga atau tanggung jawab harus diabaikan. Pesan Injil lebih menekankan prioritas hati. Ketika seseorang sungguh memilih jalan Tuhan, keputusan tersebut membutuhkan komitmen, bukan hanya keinginan sesaat yang mudah berubah ketika muncul kesulitan.
Renungan pada penghujung September dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan iman selama sebulan. Apa yang sudah berubah sejak awal September? Kebiasaan baik apa yang berhasil dibangun dan apa yang masih perlu diperbaiki? Bulan baru dapat menjadi kesempatan untuk kembali menetapkan hati agar lebih sungguh-sungguh mengikuti Tuhan.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Kalender Liturgi Bulan September 2026
1. Apa itu Kalender Liturgi?
Kalender Liturgi adalah panduan yang memuat rangkaian perayaan liturgi Gereja Katolik sepanjang tahun, termasuk hari biasa, hari Minggu, pesta, peringatan wajib, serta hari raya tertentu. Kalender ini juga membantu umat mengetahui bacaan Kitab Suci yang digunakan dalam perayaan Ekaristi pada setiap hari.
2. Kalender Liturgi September 2026 dimulai dari tanggal berapa?
Kalender Liturgi Bulan September 2026 dimulai pada Selasa, 1 September 2026 dan berlangsung hingga Rabu, 30 September 2026. Setiap tanggal memiliki bacaan dan ketentuan liturgi masing-masing.
3. Apa bacaan Injil pada 1 September 2026?
Bacaan Injil pada 1 September 2026 adalah Lukas 4:31-37. Bacaan tersebut mengisahkan Yesus mengajar dengan penuh kuasa dan mengusir roh jahat dari seseorang di rumah ibadat.
4. Apa saja perayaan khusus dalam Kalender Liturgi September 2026?
Beberapa perayaan khusus pada September 2026 antara lain Kelahiran Santa Perawan Maria pada 8 September, Pemuliaan Salib Suci pada 14 September, Pesta St. Matius Penginjil pada 21 September, serta Pesta St. Mikael, Gabriel, dan Rafael pada 29 September.
5. Kapan Pesta Pemuliaan Salib Suci dirayakan?
Pesta Pemuliaan Salib Suci dirayakan pada Senin, 14 September 2026. Bacaan Injil yang digunakan adalah Yohanes 3:13-17 atau, sesuai pilihan bacaan, teks lain yang tercantum dalam kalender liturgi. Warna liturgi pada perayaan tersebut adalah merah.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5327298/original/085035000_1756177391-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__83_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316841/original/059462500_1785991327-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-06T113319.126.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334197/original/046223400_1787824544-HOAX__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110977/original/002609100_1783048696-josh-applegate-g0WjhnQRTa8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3936592/original/061339600_1645054091-brady-rogers-ZGRB8TMT6zQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334616/original/072010300_1787889803-Gemini_Generated_Image_9r30aj9r30aj9r30__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329497/original/042062200_1787283646-gXj8FB7kG7c8OvNrw3sZEz7rJWUBy8TpMMQaEp5D.jpg)