Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 Tema Maulid Nabi, Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 tema Maulid Nabi, mengajak umat meneladani Rasulullah SAW. Simak penjelasannya berikut.

Diterbitkan 27 Agustus 2026, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Umat Islam akan melaksanakan ibadah salat Jumat pada 28 Agustus 2026, sebuah momen penting untuk merenungkan ajaran agama dan isu-isu kontemporer. Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 kali ini memiliki resonansi khusus karena bertepatan dengan periode setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H jatuh pada Selasa, 25 Agustus 2026, sementara Hari Kemerdekaan RI diperingati pada 17 Agustus 2026.

Kombinasi dua peristiwa besar ini menawarkan kesempatan emas bagi para khatib untuk menyampaikan pesan-pesan inspiratif. Pesan tersebut mencakup keteladanan Rasulullah dan pentingnya menjaga nilai-nilai kemerdekaan bangsa. Integrasi tema ini akan memperkuat pemahaman umat tentang pentingnya meneladani akhlak mulia Nabi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan mengisi pembangunan yang berlandaskan keadilan dan persatuan.

Dengan demikian, Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 akan menjadi medium efektif untuk mengingatkan jamaah tentang tanggung jawab mereka sebagai Muslim dan warga negara. Pesan-pesan yang disampaikan akan berfokus pada bagaimana ajaran Islam mendorong persatuan, keadilan, dan kemajuan, sejalan dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Khutbah Jumat: Meneladani Kelahiran, Akhlak, dan Sunah Nabi Muhammad SAW

Naskah khutbah ini disusun secara menyeluruh dengan menggabungkan empat sisi penting dari peringatan Maulid Nabi, yaitu sejarah kelahiran Rasulullah SAW, akhlak mulia yang beliau contohkan, sifat-sifat wajib sebagai seorang rasul, hingga keutamaan bersalawat kepadanya. Pendekatan ini dipilih agar jemaah mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang sosok Nabi Muhammad SAW, tidak hanya mengenal sejarah kelahirannya, tetapi juga terdorong untuk menghidupkan akhlak dan sunahnya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut naskah lengkapnya.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita, terutama nikmat iman dan Islam yang hingga hari ini masih Allah jaga dalam diri kita. Selawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, hingga kita selaku umatnya yang senantiasa berharap syafaatnya di hari akhir kelak.

Jemaah yang dirahmati Allah, pada bulan Rabiul Awal, umat Islam di seluruh dunia memperingati momen bersejarah, yaitu kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan awal mula tersebarnya cahaya petunjuk bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 107:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Wa mâ arsalnâka illâ raḫmatal lil-‘âlamîn.

Artinya, "Allah tidak mengutus Nabi Muhammad SAW melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS Al-Anbiya ayat 107).

Sebelum kelahiran Rasulullah SAW, jazirah Arab dikenal sebagai masa jahiliah, yakni masa kebodohan yang dipenuhi penyembahan berhala, perpecahan antarsuku, hingga ketidakadilan terhadap kaum lemah dan perempuan. Kehadiran Nabi Muhammad SAW kemudian membawa perubahan besar, menuntun manusia dari kegelapan menuju cahaya tauhid. Beliau lahir dalam keadaan yatim, kemudian tumbuh menjadi pribadi yang dikenal jujur dan dipercaya oleh masyarakat Makkah, jauh sebelum diangkat menjadi rasul.

Jemaah yang berbahagia,

Allah SWT juga menggambarkan besarnya kasih sayang Rasulullah kepada umatnya dalam surat At-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Laqad jâ'akum rasûlum min anfusikum ‘azîzun ‘alaihi mâ ‘anittum ḫarîshun ‘alaikum bil-mu'minîna ra'ûfur raḫîm.

Artinya, "telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keimanan bagi kalian, dan penuh kasih sayang kepada orang-orang mukmin (QS.  At-Taubah ayat 128).

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah, selain menelusuri sejarah kelahirannya, momentum Maulid Nabi juga sepatutnya menjadi kesempatan untuk merenungkan akhlak mulia yang beliau contohkan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

Laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatul limang kâna yarjûllâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâ.

"Artinya, pada diri Rasulullah terdapat teladan terbaik bagi siapa saja yang mengharap rahmat Allah, hari akhir, dan senantiasa mengingat-Nya." (QS. Al-Ahzab ayat 21).

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW merupakan sosok yang paling baik akhlaknya di antara manusia. Beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pula membalas keburukan dengan keburukan, melainkan senantiasa memilih untuk memaafkan. Dalam surat Al-Qalam ayat 4, Allah SWT bahkan menegaskan:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Wa innaka la‘alâ khuluqin ‘azhîm.

Artinya, "sesungguhnya Rasulullah berada di atas akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam ayat 4).

Jemaah yang dirahmati Allah,

Sebagai rasul pilihan Allah, Nabi Muhammad SAW juga memiliki empat sifat wajib yang menjadi bukti kesempurnaan risalahnya, yaitu shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas). Keempat sifat ini bukan sekadar teori keimanan, melainkan pedoman praktis yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 45-46:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا

Yâ ayyuhan-nabiyyu innâ arsalnâka syâhidaw wa mubasysyiraw wa nadzîrâ, wa dâ‘iyan ilallâhi bi'idznihî wa sirâjam munîrâ.

Artinya, "wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, dan sebagai cahaya yang menerangi."(QS. Al-Ahzab ayat 45-46).

Sifat shidiq tampak dari kejujuran Rasulullah dalam berdagang maupun menyampaikan wahyu, sehingga beliau dijuluki Al-Amin atau yang dapat dipercaya sejak sebelum diangkat menjadi rasul. Sifat amanah tecermin dari tanggung jawabnya menjaga titipan dan menjalankan tugas kenabian tanpa mengurangi sedikit pun. Sifat tabligh terlihat dari keberaniannya menyampaikan seluruh wahyu Allah tanpa ada yang disembunyikan, sementara sifat fathanah tampak dari kecerdasannya dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat pada masanya.

Jemaah Jumat yang berbahagia,

Di antara bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW yang paling utama dan paling mudah diamalkan adalah dengan memperbanyak selawat kepadanya. Allah SWT sendiri, bersama para malaikat-Nya, senantiasa bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 56:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Innallâha wa malâ'ikatahû yushallûna ‘alan-nabiyy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ.

Artinya, "sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab ayat 56).

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa barang siapa bersalawat kepadanya satu kali, maka Allah akan bersalawat kepadanya sepuluh kali. Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan yang Allah janjikan bagi siapa saja yang gemar bersalawat, sekaligus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW meski kita tidak hidup sezaman dengannya.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah, melalui khutbah Jumat 28 Agustus 2026 ini, marilah kita jadikan momentum Maulid Nabi bukan hanya sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai titik balik untuk kembali mengenal sejarah kelahiran Rasulullah, meneladani akhlak dan sifat-sifat mulianya, serta membiasakan lisan kita basah dengan selawat dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan begitu, kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada ucapan, tetapi benar-benar terwujud dalam sikap dan amal perbuatan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَاۤئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَنِعْمَةِ بَعْثَةِ رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ حَتّٰى نَلْقَاكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فِيْ كُلِّ حِيْنٍ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهٖ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

2. Khutbah Jumat: Meneladani Kepedulian Sosial dan Kehidupan Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW

Berbeda dari naskah pertama yang menyoroti sejarah dan akhlak secara umum, naskah kedua ini mengajak jemaah melihat sisi yang lebih dekat dari keseharian Rasulullah SAW, yaitu kepeduliannya terhadap anak yatim dan kaum duafa, serta kelembutannya dalam mengurus rumah tangga. Pendekatan ini dipilih agar peringatan Maulid Nabi tidak hanya dipahami sebagai sejarah besar, tetapi juga menyentuh hal-hal sederhana yang bisa langsung diamalkan jemaah dalam keluarga dan lingkungan sosial masing-masing.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلضُّعَفَاءِ وَالْأَيْتَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Jemaah Jumat rahimakumullah, di tengah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang baru saja kita lalui, penting bagi kita untuk tidak hanya mengenang sejarah kelahirannya, tetapi juga menghidupkan sisi-sisi kehidupan Rasulullah SAW yang begitu dekat dengan keseharian, khususnya kepeduliannya terhadap anak yatim dan kaum yang lemah.

Allah SWT berfirman dalam surat Ad-Dhuha ayat 9-11:

فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْۗ وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Fa ammal-yatîma falâ taqhar, wa ammas-sâ'ila falâ tanhar, wa ammâ bini‘mati rabbika faḫaddits.

Artinya, "adapun terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya, dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (bersyukur)."  (Ad-Dhuha ayat 9-11).

Jemaah yang dirahmati Allah, ayat ini diturunkan tidak lepas dari latar belakang kehidupan Rasulullah SAW sendiri yang lahir dalam keadaan yatim, kemudian ditinggal wafat ibunya sejak kecil, sehingga beliau tumbuh dengan pengalaman kehilangan yang mendalam. Pengalaman inilah yang kemudian membentuk kepribadian Rasulullah SAW menjadi sosok yang begitu lembut dan penuh perhatian kepada anak-anak yatim serta kaum duafa di sekitarnya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda bahwa kedudukan orang yang menyantuni anak yatim di surga kelak akan berdampingan dengan beliau, sebagaimana dekatnya jari telunjuk dan jari tengah. Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan yang Allah janjikan bagi siapa saja yang mau peduli dan menyantuni anak yatim.

Jemaah Jumat yang berbahagia, kepedulian Rasulullah SAW juga tampak nyata dalam kehidupan rumah tangganya. Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa ketika ditanya bagaimana keseharian Rasulullah SAW di rumah, beliau menjawab bahwa Nabi adalah sosok yang paling lembut dan mulia, senang bercanda dan tersenyum, bahkan turut membantu pekerjaan rumah tangga seperti menjahit pakaiannya sendiri dan memperbaiki sandal yang rusak. Riwayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di mata Allah tidak diukur dari jabatan atau status sosialnya, melainkan dari kelembutan sikap dan kepeduliannya terhadap orang-orang terdekat.

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al Fath ayat 29 tentang sifat para pengikut Rasulullah:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ

Muḫammadur rasûlullâh, walladzîna ma‘ahû asyiddâ'u ‘alal-kuffâri ruḫamâ'u bainahum.

Artinya, "Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang yang memusuhi mereka, tetapi berkasih sayang di antara sesama mereka sendiri." (QS. Al Fath ayat 29).

Jemaah yang dirahmati Allah,

Ayat ini mengajarkan bahwa sikap kasih sayang seorang muslim semestinya paling nyata terasa justru di lingkungan terdekat, yaitu keluarga, tetangga, dan sesama saudara seiman, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah, melalui khutbah hari ini, marilah kita jadikan momentum Maulid Nabi sebagai pengingat untuk lebih peduli kepada anak yatim dan kaum duafa di sekitar kita, sekaligus menghadirkan kelembutan Rasulullah SAW dalam keseharian rumah tangga masing-masing, mulai dari cara kita berbicara kepada pasangan, anak, hingga orang-orang yang kita cintai.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفٰى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، وَلْنَجْعَلْ بُيُوْتَنَا مَحَلًّا لِلرَّحْمَةِ وَالْمَوَدَّةِ كَمَا كَانَ بَيْتُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أَيْتَامَنَا وَضُعَفَاءَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ إِلَيْهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا فِيْ بُيُوْتِنَا وَمُجْتَمَعِنَا.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Khutbah Jumat 28 Agustus 2026

1. Mengapa khutbah Jumat 28 Agustus 2026 banyak mengangkat tema Maulid Nabi?

Karena peringatan Maulid Nabi 1448 Hijriah baru saja berlangsung pada 25 Agustus 2026, sehingga momentumnya masih relevan diangkat pada khutbah Jumat berikutnya.

2. Apa ayat Al-Qur'an yang menjadi dalil utama dalam kedua khutbah Maulid Nabi ini?

Naskah pertama menggunakan Al-Anbiya ayat 107, At-Taubah ayat 128, Al-Ahzab ayat 21 dan 45-46, Al-Qalam ayat 4, serta Al-Ahzab ayat 56, sedangkan naskah kedua menggunakan Ad-Dhuha ayat 9-11 dan Al-Fath ayat 29.

3. Apa saja sifat wajib Nabi Muhammad SAW yang diangkat dalam khutbah ini?

Sifat wajib tersebut adalah shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas).

4. Mengapa keutamaan bersalawat penting diangkat dalam khutbah Maulid Nabi?

Karena bersalawat merupakan wujud kecintaan umat kepada Rasulullah SAW yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 56.