8 Amalan 12 Rabiul Awal, Ringan Penuh Hikmah

Amalan 12 Rabiul Awal menjadi perhatian utama umat Islam di seluruh dunia saat memasuki bulan ketiga dalam kalender Hijriah ini.

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Amalan 12 Rabiul Awal menjadi perhatian utama umat Islam di seluruh dunia saat memasuki bulan ketiga dalam kalender Hijriah ini. Menurut jumhur ulama, tanggal 12 Rabiul Awal adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, momen yang penuh berkah dan menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah.

Memperingati Maulid Nabi diperbolehkan sebagai ungkapan syukur. Peringatan Maulid Nabi jadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani akhlak mulia Rasulullah.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Husnul Maqshid fi Amalil Mawlid menjelaskan bahwa syukur kepada Allah dapat diwujudkan dengan berbagai jenis ibadah, seperti shalat sunnah, puasa, sedekah, dan membaca Al-Qur'an.

Peringatan Maulid Nabi yang utama adalah mengambil pelajaran dan hikmah dari kelahiran Rasulullah, bukan semata meriahnya acara. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah amalan-amalan yang bisa dilakukan pada 12 Rabiul Awal, hari kelahiran Rasulullah SAW.

Amalan-Amalan yang Bisa Dilakukan di Tanggal 12 Rabiul Awal

Berikut adalah amalan-amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awal dan sepanjang bulan Rabiul Awal:

1. Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Membaca shalawat merupakan amalan utama yang paling dianjurkan di bulan Rabiul Awal. Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali dalam kitab Kanzun an-Najah wa al-Surur menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan kelahiran beliau.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Keutamaan memperbanyak shalawat sangat besar. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya 10 kali" (HR Muslim).

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa pahala shalawat berlipat ganda karena di dalamnya terkandung banyak kebaikan, mulai dari memperbarui iman, mengagungkan Rasulullah SAW, hingga memohonkan kemuliaan untuk beliau.

2. Berpuasa Sunnah

Berpuasa di bulan Rabiul Awal menjadi salah satu cara terbaik untuk mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah. Dalam kitab Kanzun-Najah was-Surur disebutkan bahwa memperbanyak puasa dan membaca shalawat pada bulan Rabiul Awal merupakan cara mengekspresikan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Beberapa jenis puasa sunnah yang bisa dikerjakan di bulan Rabiul Awal:

• Puasa Senin – Karena hari Senin adalah hari kelahiran Rasulullah SAW

• Puasa Senin-Kamis – Puasa sunnah yang rutin dikerjakan Rasulullah

• Puasa Ayyamul Bidh – Puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan

Dalil puasa di hari Senin disebutkan dalam hadits riwayat Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ

Artinya: "Nabi SAW ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab: Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus, dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu."

3. Membaca dan Mengkaji Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Rabiul Awal. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Husnul Maqshid fi Amalil Mawlid menyebutkan bahwa syukur kepada Allah terwujud dengan pelbagai jenis ibadah, salah satunya adalah membaca Al-Qur'an.

Membaca Al-Qur'an di bulan Maulid tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga menjadi sarana untuk merenungkan ayat-ayat Allah dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW.

4. Mempelajari dan Membaca Sirah Nabawiyah

Membaca dan mengkaji sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Orang Indonesia pada umumnya mengisi peringatan Maulid dengan pembacaan kitab rawi (buku riwayat Nabi Muhammad) melalui atau tanpa iringan tabuhan rebana.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Al-Wasail fi Syarhis Syamail menegaskan keutamaan membaca kisah kelahiran Nabi. Mengenang perjalanan hidup Nabi Muhammad akan membuat umat semakin memahami akhlak mulia dan teladan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Memperbanyak Zikir dan Doa

Berzikir dan berdoa merupakan amalan yang tidak pernah terlewatkan dalam peringatan Maulid Nabi. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengajak seluruh warga NU untuk memperbanyak zikir berupa istighfar dan shalawat pada malam-malam di bulan Rabiul Awal.

Beberapa bacaan zikir yang bisa diamalkan:

• Istighfar: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ (Astaghfirullâhal-'adhîm) — "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung"

• Tahlil: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ (Lâ ilâha illallâh) — "Tiada Tuhan selain Allah"

• Tasbih: سُبْحَانَ اللهِ (Subhânallâh) — "Maha Suci Allah"

6. Bersedekah dan Berbagi Makanan

Bersedekah dan berbagi makanan dengan sesama merupakan wujud syukur dan kepedulian sosial di bulan Maulid. Masyarakat Indonesia pada umumnya mengisi peringatan Maulid dengan makan bersama atau pembagian makanan yang biasa disebut "berkat".

Imam As-Suyuthi menekankan bahwa amalan pada hari Maulid seyogianya mencakup aktivitas yang dipahami sebagai bentuk syukur kepada Allah, seperti membaca Al-Qur'an, memberi makan, dan bersedekah.

Bulan penuh berkah ini menjadi saat yang tepat untuk memperbanyak amal kebaikan, seperti memberi sedekah kepada fakir miskin, menjenguk orang sakit, hingga membantu sesama yang tengah kesulitan.

7. Menghidupkan Sunnah Nabi

Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW adalah amalan yang sangat dianjurkan di bulan Rabiul Awal. Sunnah Nabi mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari ibadah, muamalah, hingga akhlak. Mengamalkan sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk cinta dan penghormatan kepada beliau.

Beberapa contoh menghidupkan sunnah Nabi:

• Membaca doa sebelum dan sesudah makan

• Menjaga kebersihan

• Berbuat baik kepada sesama

• Memperbanyak shalat sunnah

8. Muhasabah Diri dan Memperbaiki Akhlak

Bulan Rabiul Awal juga menjadi momen yang tepat untuk melakukan muhasabah diri (introspeksi) dan memperbaiki akhlak. Peringatan Maulid Nabi menjadi pengingat untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Maulid Nabi mengandung hikmah agar seorang Muslim senantiasa mendekat kepada apa yang Rasulullah SAW ajarkan. Momentum ini mendorong umat Islam untuk memperbaiki diri dan menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik).

Hikmah Amalan 12 Rabiul Awal

1. Meningkatkan Kecintaan kepada Rasulullah SAW

Mengisi tanggal 12 Rabiul Awal dengan berbagai amalan seperti shalawat dan membaca sirah Nabi menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Rasulullah SAW. Kecintaan ini merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan akan mendorong seseorang untuk meneladani akhlak mulia beliau.

2. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda

Amalan di bulan Rabiul Awal, terutama shalawat dan puasa, memiliki keutamaan pahala yang berlipat ganda. Setiap satu kali shalawat dibalas dengan sepuluh kali shalawat dari Allah. Puasa di hari Senin juga memiliki keutamaan karena bertepatan dengan hari kelahiran dan diutusnya Rasulullah.

3. Menguatkan Keimanan dan Ketakwaan

Memperbanyak ibadah seperti shalawat, puasa, dan membaca Al-Qur'an meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini karena amalan-amalan tersebut merupakan bentuk pujian dan doa kepada Nabi Muhammad SAW, utusan Allah SWT.

4. Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah

Mempelajari sirah dan menghidupkan sunnah Nabi mendorong umat Islam untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Maulid Nabi menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan.

5. Mempererat Silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah

Kegiatan berbagi makanan, sedekah, dan majelis pengajian dalam peringatan Maulid menjadi ajang berkumpulnya umat Islam, mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah dan kepedulian sosial.

 

Pertanyaan Seputar 12 Rabiul Awal

1. Apa saja amalan yang dianjurkan pada tanggal 12 Rabiul Awal?

Amalan yang dianjurkan pada tanggal 12 Rabiul Awal antara lain: memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, berpuasa sunnah (terutama puasa Senin), membaca dan mengkaji Al-Qur'an, mempelajari sirah Nabawiyah, memperbanyak zikir dan doa, bersedekah dan berbagi makanan, menghidupkan sunnah Nabi, serta muhasabah diri dan memperbaiki akhlak.

2. Apakah ada dalil tentang puasa di hari Maulid Nabi?

Ya, dalilnya adalah hadits riwayat Muslim. Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari Senin, beliau menjawab: "Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus, dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu." Beliau pun berpuasa pada hari itu sebagai bentuk syukur atas kelahirannya.

3. Bagaimana hukum memperingati Maulid Nabi menurut para ulama?

Mayoritas ulama dari Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali membolehkan peringatan Maulid Nabi. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Husnul Maqshid fi Amalil Mawlid menyatakan bahwa syukur kepada Allah dapat diwujudkan dengan berbagai jenis ibadah, termasuk yang dilakukan dalam peringatan Maulid.

4. Mengapa shalawat menjadi amalan utama di bulan Rabiul Awal?

Shalawat menjadi amalan utama karena sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 yang memerintahkan umat Islam untuk bershalawat kepada Nabi. Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali dalam kitab Kanzun an-Najah wa al-Surur juga menganjurkan untuk memperbanyak shalawat pada bulan kelahiran Nabi ini.

5. Apakah peringatan Maulid Nabi harus dilakukan dengan cara yang meriah?

Tidak. Peringatan Maulid Nabi yang terpenting adalah mengambil pelajaran dan hikmah dari kelahiran Rasulullah, bukan semata kemeriahan acara. Amalan seperti memperbanyak shalawat, berpuasa, dan membaca sirah Nabi jauh lebih utama daripada perayaan yang bersifat seremonial belaka.