8 Ayat Al-Quran Tentang Kelahiran Nabi Muhammad yang Cocok Dibaca saat Maulid, Bacaan dan Maknanya

Ayat-ayat ini tidak hanya menjadi bacaan indah, tetapi juga mengandung pesan-pesan fundamental tentang kecintaan, kebahagiaan, dan penghormatan kepada Nabi.

Diterbitkan 22 Agustus 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi kesempatan istimewa bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Rasulullah melalui lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Berbagai ayat tentang kelahiran Nabi Muhammad yang cocok dibaca saat Maulid memiliki kedalaman makna yang luar biasa, mengingatkan umat akan kemuliaan dan misi pembawa risalah akhir zaman ini.

Ayat-ayat ini tidak hanya menjadi bacaan indah, tetapi juga mengandung pesan-pesan fundamental tentang kecintaan, kebahagiaan, dan penghormatan kepada Nabi.

Mayoritas ulama lintas mazhab berpendapat bahwa Maulid Nabi sangat dianjurkan. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Husnul Maqshid fi Amalil Maulid menyatakan bahwa perayaan Maulid termasuk bid'ah hasanah (bid'ah yang baik) karena mengandung nilai-nilai positif seperti menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah dan sebagai bentuk syukur atas diutusnya beliau.

Merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan kelahiran dan diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah amalan yang tidak pernah diperselisihkan keutamaannya. Ayat-ayat ini mengandung kabar gembira, perintah untuk bersyukur, serta penegasan tentang kedudukan agung Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ayat-Ayat Al-Quran tentang Kelahiran Nabi Muhammad yang Cocok Dibaca saat Maulid

1. Surah Yunus Ayat 58: Perintah Bergembira atas Karunia Allah

Arab: قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.'” (QS. Yunus: 58)

Ayat ini menjadi landasan utama bagi mereka yang merayakan Maulid Nabi. Para ulama menafsirkan bahwa "karunia Allah" dalam ayat ini merujuk pada Islam, sedangkan "rahmat-Nya" merujuk pada Al-Qur'an dan Nabi Muhammad SAW sendiri. Imam Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud 'rahmat' dalam ayat tersebut adalah Rasulullah SAW.

Kegembiraan atas kelahiran Rasulullah hakikatnya merupakan bagian dari kegembiraan atas datangnya Islam dan turunnya Al-Qur'an. Ayat ini menjadi dalil bahwa bergembira atas kelahiran Nabi adalah perintah Allah.

2. Surah Ali Imran Ayat 164: Anugerah Diutusnya Rasulullah

Arab: لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya: “Sungguh, Allah telah menganugerahkan (kebaikan yang besar) kepada orang-orang mukmin ketika Dia mengutus seorang rasul (Nabi Muhammad) dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunah). Dan sesungguhnya sebelum itu mereka pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)

Ayat ini menegaskan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah nikmat terbesar bagi umat beriman. Rasulullah diutus dari kalangan mereka sendiri—sehingga ajaran yang dibawanya mudah dipahami dan diamalkan.

Beliau memiliki empat misi utama: membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, mengajarkan Kitab, dan mengajarkan Hikmah. Ayat ini sangat tepat dibaca saat Maulid untuk mengingatkan umat akan besarnya anugerah yang telah Allah berikan melalui kehadiran Rasulullah.

3. Surah Al-Anbiya Ayat 107: Nabi sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam

Arab: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Inilah ayat yang paling sering dikaitkan dengan peringatan Maulid Nabi. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, "Allah Ta'ala memberitahukan bahwasanya Dia mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam dan nikmat bagi manusia, maka barangsiapa yang menerimanya dan mensyukurinya ia akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat".

Kelahiran dan diutusnya Nabi Muhammad adalah anugerah terbesar bagi manusia dan semesta, rahmat yang tidak terbatas hanya bagi kaum Muslim, tetapi mencakup seluruh umat manusia, bahkan alam dan makhluk hidup lainnya. Ayat ini menjadi inti dari esensi Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin.

4. Surah Al-Ahzab Ayat 40: Nabi sebagai Penutup Para Nabi

Arab: مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Ayat ini menegaskan status kenabian Muhammad SAW sebagai khatam an-nabiyyin—penutup para nabi. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setelah Nabi Muhammad, tidak akan lahir lagi nabi sesudahnya. Ayat ini mengingatkan umat akan kemuliaan dan keistimewaan Rasulullah sebagai nabi terakhir, menjadikannya bacaan yang sangat bermakna saat memperingati kelahiran beliau.

5. Surah Al-Ahzab Ayat 45-46: Nabi sebagai Cahaya yang Menerangi

Arab: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

Artinya: “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan sebagai penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 45-46)

Ayat ini menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai sirajan muniran—pelita yang menerangi. Dalam Tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa esensi diturunkannya ayat ini adalah untuk menghibur Nabi Muhammad dan seluruh kaum mukminin, serta menegaskan bahwa Nabi merupakan saksi bagi umatnya.

Nabi diutus dengan lima fungsi mulia: sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah, dan cahaya penerang. Ayat ini mengingatkan bahwa kelahiran Nabi membawa cahaya yang menghapus kegelapan jahiliyah dan menjadi pedoman sepanjang masa.

6. Surah Al-Ahzab Ayat 56: Perintah Bershalawat kepada Nabi

Arab: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini adalah seruan langsung dari Allah kepada umat Islam untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks Maulid, ayat ini menjadi bacaan yang sangat dianjurkan karena peringatan kelahiran Nabi adalah momen yang tepat untuk memperbanyak shalawat dan salam kepada beliau.

Segala sesuatu yang menjadi dorongan untuk melakukan perbuatan yang dianjurkan oleh syara' berarti dianjurkan pula dalam syara'.

7. Surah Al-Baqarah Ayat 119: Nabi sebagai Pembawa Kabar Gembira

Arab: إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

Artinya: “Sungguh, Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqarah: 119)

Ayat ini menegaskan dua fungsi utama kenabian: membawa kabar gembira bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, serta memberikan peringatan bagi mereka yang ingkar. Kelahiran Nabi Muhammad adalah kabar gembira terbesar bagi umat manusia, karena melalui beliau petunjuk dan rahmat Allah tersebar ke seluruh penjuru dunia.

8. Surah At-Taubah Ayat 128: Rasul dari Kalangan Umat

Arab: لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan dia sangat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Ayat ini menggambarkan sifat-sifat mulia Rasulullah, beliau adalah utusan dari kalangan umat sendiri, sehingga memahami betul kondisi dan penderitaan mereka. Beliau sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya, dan memiliki sifat rahmat (belas kasih) serta ra'uf (penyayang). Ayat ini mengingatkan bahwa kelahiran Nabi adalah anugerah kasih sayang Allah yang tiada tara.

Hikmah Memahami Ayat-Ayat Terkait dengan Maulid Nabi SAW

1. Meningkatkan Rasa Syukur atas Nikmat Terbesar

Ayat-ayat tentang kelahiran Nabi mengingatkan bahwa diutusnya Rasulullah adalah nikmat terbesar bagi umat manusia (QS. Ali Imran: 164). Memahami ayat-ayat ini menumbuhkan kesadaran bahwa tanpa kehadiran Nabi, manusia akan tetap berada dalam kesesatan yang nyata. Kegembiraan atas Maulid adalah bentuk syukur yang diajarkan dalam QS. Yunus: 58.

2. Menumbuhkan Kecintaan Sejati kepada Rasulullah

Perintah bershalawat dalam QS. Al-Ahzab: 56 adalah wujud kecintaan kepada Nabi. Semakin sering membaca dan merenungkan ayat-ayat tentang kemuliaan beliau, semakin dalam pula rasa cinta yang tumbuh dalam hati. Kecintaan ini bukan sekadar perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk mengikuti sunnah dan meneladani akhlak beliau.

3. Memahami Misi Agung Kenabian

Ayat-ayat seperti QS. Al-Anbiya: 107 dan QS. Al-Ahzab: 45-46 menjelaskan dengan jelas misi agung Nabi Muhammad SAW: sebagai rahmat bagi seluruh alam dan cahaya yang menerangi. Memahami ayat-ayat ini membantu umat Islam untuk menghayati bahwa kelahiran Nabi bukan sekadar peristiwa historis, tetapi membawa misi transformasi peradaban yang masih terus berlanjut hingga hari ini.

4. Menguatkan Keyakinan akan Kemuliaan dan Keistimewaan Nabi

QS. Al-Ahzab: 40 menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para nabi—sebuah kedudukan yang tiada tandingnya. Ayat-ayat lain juga menggambarkan berbagai keistimewaan beliau, mulai dari sifat-sifat mulia (QS. At-Taubah: 128) hingga fungsi-fungsi kenabian (QS. Al-Baqarah: 119). Memahami ayat-ayat ini menguatkan keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia paling mulia sepanjang masa.

5. Menjadikan Maulid sebagai Momentum Introspeksi dan Perbaikan Diri

Ayat-ayat tentang Maulid bukan sekadar bacaan seremonial, tetapi mengandung pesan-pesan moral yang mendalam. Membaca dan merenungkan ayat-ayat ini saat Maulid seharusnya mendorong umat untuk melakukan introspeksi: sudahkah kita meneladani akhlak Rasulullah? Sudahkah kita menyebarkan rahmat sebagaimana yang diajarkan beliau? Maulid menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan Seputar Ayat Maulid Nabi

1. Apakah ada ayat Al-Qur'an yang secara khusus memerintahkan perayaan Maulid Nabi?

Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara eksplisit memerintahkan perayaan Maulid Nabi. Namun, para ulama mengaitkan beberapa ayat seperti QS. Yunus: 58 yang memerintahkan bergembira atas karunia dan rahmat Allah, serta QS. Al-Anbiya: 107 yang menyebut Nabi sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagai landasan untuk merayakan Maulid sebagai bentuk syukur.

2. Apa dalil dari Al-Qur'an yang mendasari peringatan Maulid Nabi?

Dalil utama dari Al-Qur'an adalah QS. Yunus ayat 58 yang memerintahkan umat Islam untuk bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, serta QS. Al-Ahzab ayat 56 yang memerintahkan bershalawat kepada Nabi. Selain itu, QS. Al-Anbiya ayat 107 menegaskan bahwa Nabi adalah rahmat bagi seluruh alam, sehingga kelahirannya patut disyukuri.

3. Surah apa yang paling sering dibaca dalam peringatan Maulid Nabi?

Surah yang paling sering dibaca dalam peringatan Maulid Nabi antara lain Surah Yunus ayat 58, Surah Ali Imran ayat 164, Surah Al-Anbiya ayat 107, dan Surah Al-Ahzab ayat 56. Ayat-ayat ini dibaca karena mengandung pesan tentang kegembiraan atas kelahiran Nabi, anugerah diutusnya Rasulullah, serta perintah bershalawat kepada beliau.

4. Bagaimana penafsiran ulama tentang QS. Yunus ayat 58 dalam konteks Maulid?

Para ulama menafsirkan bahwa "karunia Allah" dalam QS. Yunus: 58 merujuk pada Islam, sedangkan "rahmat-Nya" merujuk pada Al-Qur'an dan Nabi Muhammad SAW. Imam Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud 'rahmat' adalah Rasulullah SAW. Dengan demikian, ayat ini menjadi landasan untuk bergembira atas kelahiran Nabi sebagai bagian dari karunia dan rahmat Allah.

5. Apakah membaca ayat-ayat Al-Qur'an saat Maulid termasuk ibadah yang dianjurkan?

Membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an adalah ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam kapan pun dan di mana pun. Khususnya ayat-ayat yang berkaitan dengan kelahiran dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW, membaca dan mengkajinya saat Maulid menjadi sarana untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah serta mengambil pelajaran dari kisah dan misi kenabian beliau.