Qadarullah Artinya Apa dan Contoh Penerapannya dalam Kehidupan? Simak Penjelasan Lengkapnya

Dalam ajaran Islam, istilah ini merujuk pada keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kita sering mendengar istilah qadarullah, terutama ketika ada kejadian di luar dugaan, baik itu musibah maupun keberhasilan yang tak terduga. Tak heran jika muncul pertanyaan di sebagian umat, qadarullah artinya apa dan contoh penerapannya dalam kehidupan?

Dalam ajaran Islam, istilah ini merujuk pada keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik dalam skala besar maupun kecil, baik yang dianggap baik maupun buruk oleh manusia, telah ditetapkan oleh Allah SWT sesuai dengan ilmu, kehendak, dan kebijaksanaan-Nya. Ini merupakan bagian dari rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada qada dan qadar.

Sayangnya, pemahaman tentang qadarullah sering kali keliru. Sebagian memahami takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan meninggalkan ikhtiar. Sebagian lain justru menolak konsep takdir karena menganggapnya bertentangan dengan keadilan Allah. Padahal, pemahaman yang tepat tentang qadarullah justru akan melahirkan sikap hidup yang seimbang antara tawakal dan ikhtiar.

Merujuk buku Kupas Tuntas Qadha dan Qadar karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Buku Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia karya Mujtaba Musawi Lari, dan literatur lainnya, berikut ini adalah ulasan mengenai makna qadarullah, contoh penerapannya dalam kehidupan, serta perbedaannya dengan istilah takdir.

Pengertian dan Makna Qadarullah

Secara bahasa, kata qadara pada awalnya bermakna kemampuan, kadar, atau kekuatan yang dimiliki. Kemudian, dalam bahasa Arab dikenal kata berimbuhan qaddara yang memiliki makna menentukan kemampuan atau keadaan. Dari kata qaddara inilah kemudian muncul istilah taqdir (takdir) dalam bahasa Indonesia.

Qadarullah (قَدَرُ اللَّهِ) secara bahasa berarti ketetapan, hukum, perintah, atau kehendak Allah SWT. Kata ini merupakan gabungan dari qadar (takdir) yang dinisbatkan kepada Allah. Secara harfiah, qadarullah berarti "takdirnya Allah".

Secara istilah, qadarullah memiliki arti takdir atau keputusan Allah SWT. Ungkapan ini merujuk pada keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta telah ditetapkan oleh Allah sesuai dengan ilmu, kehendak, dan kebijaksanaan-Nya.

Kalimat lengkap yang sering diucapkan adalah:

قَدَرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ (Qadarallāhu wa mā syā'a fa'ala)

Artinya: "Allah telah menetapkan (takdir) dan apa yang Dia kehendaki, itulah yang Dia lakukan".

Makna yang lebih luas dari kalimat ini adalah: segala sesuatu terjadi karena sudah ditentukan dan dikehendaki Allah. Tidak ada yang kebetulan. Apa pun yang menimpa kita, baik yang kita sukai maupun yang kita benci, semuanya adalah kehendak dan ketetapan Allah Yang Maha Bijaksana.

Tingkatan Iman kepada Qadar

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Lum'atul I'tiqad, iman kepada qadar mencakup empat tingkatan pokok:

Pertama, iman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara umum dan terperinci. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah: "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah" (QS. Al-Hajj: 70).

Kedua, iman bahwa Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk di Lauh Mahfuzh. Segala sesuatu telah ditulis sebelum diciptakan. Allah berfirman: "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya" (QS. Al-Hadid: 22).

Ketiga, iman bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan keinginan Allah. Tidak ada yang terjadi di langit dan di bumi kecuali dengan izin dan kehendak-Nya.

Keempat, iman bahwa segala sesuatu di langit dan bumi adalah ciptaan Allah. Tidak ada pencipta selain Dia.

Contoh Penerapan Qadarullah dalam Kehidupan

1. Saat Menghadapi Musibah atau Kejadian Tidak Diinginkan

Ungkapan qadarullah paling tepat diucapkan ketika seseorang mendapatkan musibah atau kejadian yang tidak diinginkan, seperti kegagalan usaha, kehilangan orang yang dicintai, sakit, kecelakaan, atau rezeki yang tertunda.

Contoh penerapan: "Saya tidak diterima menjadi mahasiswa baru, qadarullah mungkin ada hal baik yang lain", atau "Qadarullah laptop saya hilang, semoga Allah bisa ganti dengan yang lebih baik".

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Jika suatu musibah menimpamu, maka janganlah berkata 'Andai aku berbuat demikian tentu hasilnya tidak akan begini dan begini'. Namun, (jika suatu musibah datang), ucapkanlah: قَدَّرَ اللهُ وَمَاشَاءَ فَعَلَ (Qaddarallāhu wa mā syā'a fa'ala)."

Hadits ini menunjukkan bahwa mengucapkan qadarullah saat tertimpa musibah merupakan bentuk kepasrahan dan penerimaan terhadap ketetapan Allah, sekaligus menghindarkan diri dari penyesalan yang sia-sia.

2. Saat Rencana Berubah Total di Luar Dugaan

Ketika rencana yang sudah disusun dengan matang berubah total—misalnya sudah melamar pekerjaan tapi ditolak, sudah mau menikah tapi batal, atau perjalanan yang dibatalkan mendadak—mengucapkan qadarullah menjadi pengingat bahwa semua berada dalam kendali Allah.

Contoh penerapan: Seorang mahasiswa baru yang sudah terlanjur mengontrak rumah di sekitar kampus, tiba-tiba terjadi pandemi dan pemerintah memberlakukan larangan perjalanan. Akibatnya, ia tidak bisa safar menuju kota tempat studinya. Dalam kasus ini, ia bisa mengucapkan qadarullah sebagai bentuk penerimaan bahwa semua telah diatur oleh Allah.

3. Saat Melihat Orang Lain Ditimpa Musibah

Kita juga bisa mengucapkan qadarullah ketika melihat orang lain tertimpa musibah, sebagai pengingat bahwa itu semua adalah takdir Allah.

Contoh penerapan: "Qadarullah, bayi yang terjebak di dalam rumah saat kebakaran terjadi tidak lecet dan kurang satu apapun".

4. Saat Mendapat Keberhasilan atau Nikmat

Meskipun lebih sering diucapkan saat musibah, qadarullah juga dapat diucapkan saat mendapat nikmat atau keberhasilan, sebagai pengingat bahwa semua capaian juga berasal dari ketetapan Allah dan bukan semata hasil kemampuan manusia.

Contoh penerapan: "Qadarullah setelah 10 tahun menikah, akhirnya Allah SWT memberikan momongan kepada Bapak dan Ibu Anton".

5. Saat Hampir Mengalami Kecelakaan atau Bahaya

Contoh penerapan: "Saat di jalan, saya hampir kecelakaan dan qadarullah Allah masih melindungi saya".

Perbedaan Qadarullah dan Takdir dalam Ajaran Islam

1. Perbedaan Redaksi dan Bentuk Kata

Qadarullah merupakan gabungan dua kata (mudhaf-mudhaf ilaih): qadar (takdir) yang dinisbatkan kepada Allah. Secara harfiah berarti "takdirnya Allah". Sementara takdir (taqdir) adalah bentuk masdar (kata benda dasar) dari fi'il qaddara yang berarti proses penentuan atau penetapan.

Qadarullah secara spesifik merujuk pada ketetapan Allah, sedangkan takdir dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas, termasuk untuk menyebut proses penetapan takdir oleh Allah maupun hasil penetapan tersebut.

2. Perbedaan Cakupan Makna

Qadarullah memiliki cakupan makna yang lebih spesifik karena langsung dinisbatkan kepada Allah. Istilah ini menegaskan bahwa semua ketetapan berasal dari Allah semata. Sementara takdir memiliki cakupan yang lebih luas dan dapat digunakan untuk merujuk pada ketetapan Allah secara umum, proses penetapan takdir oleh Allah, atau hasil dari penetapan tersebut yang terwujud dalam kehidupan.

3. Perbedaan dalam Konteks Penggunaan

Nabi menganjurkan untuk mengucapkan qadarullah saat seseorang terkena musibah. Beliau juga memberikan contoh penggunaan qadarullah yang kurang tepat, seperti "Qadarullah Ustaz, ana ketemu antum" karena ini dianggap sebagai musibah padahal seharusnya mengucapkan alhamdulillah saat bertemu.

Sementara itu, takdir digunakan dalam konteks yang lebih umum, baik dalam pembahasan teologis maupun dalam percakapan sehari-hari untuk menyebut ketetapan Allah secara luas.

4. Perbedaan dari Segi Sifat: Mu'allaq dan Mubram

Para ulama membagi takdir menjadi dua jenis: takdir mubram dan takdir mu'allaq.

• Takdir Mubram adalah ketetapan Allah yang bersifat mutlak dan tidak dapat diubah sama sekali, seperti ajal, jenis kelamin, dan ketentuan ilahi yang bersifat azali. Takdir ini telah tertulis di Lauh Mahfuz dan tidak akan berubah.

• Takdir Mu'allaq adalah takdir yang masih bisa berubah karena diikuti oleh sebab-sebab tertentu, seperti doa, amal saleh, atau silaturahim. Ini adalah takdir yang belum terjadi dan masih bisa diubah.

Qadarullah mencakup kedua jenis takdir ini, baik yang mubram maupun yang mu'allaq, karena semuanya merupakan ketetapan Allah. Namun dalam penggunaan sehari-hari, qadarullah lebih sering diucapkan ketika seseorang menghadapi takdir mubram yang telah terjadi, sebagai bentuk penerimaan dan kepasrahan kepada Allah.

Hikmah Memahami Qadarullah

1. Menumbuhkan Rasa Sabar dalam Menghadapi Ujian

Dengan memahami bahwa setiap musibah adalah ketetapan Allah, seorang Muslim akan lebih mudah bersabar. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah: 155). Pemahaman ini mengajarkan bahwa di balik setiap cobaan pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya.

2. Melahirkan Sikap Tawakal kepada Allah

Iman kepada qadarullah mendorong seseorang untuk bertawakal setelah berikhtiar maksimal. Ia menyadari bahwa hasil akhir sepenuhnya di tangan Allah. Mujtaba Musawi Lari dalam Buku Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah dengan teguh meyakini qada' dan qadar merasakan bahwa ada berbagai tujuan bijak yang sedang bekerja dalam penciptaan manusia dan alam semesta. Dengan demikian, ia akan lebih yakin dan penuh harap atas berbagai hasil dari aktivitasnya.

3. Menghilangkan Rasa Cemas dan Takut Berlebihan

Dengan meyakini bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, seorang Muslim tidak akan gelisah berlebihan menghadapi masa depan. Hatinya menjadi tenang karena ia tahu bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset dan apa yang luput darinya tidak akan menimpanya. Rasulullah SAW bersabda: "Ketahuilah, apa yang tidak ditakdirkan menimpamu maka tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang ditakdirkan menimpamu maka tidak akan pernah meleset darimu" (HR. At-Tirmidzi).

4. Menumbuhkan Rasa Syukur atas Nikmat Allah

Memahami qadarullah membuat seseorang lebih bersyukur atas nikmat yang diterima, karena ia sadar bahwa semua itu adalah karunia Allah, bukan semata hasil usahanya sendiri. Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh luar biasa urusan seorang Mukmin itu. Seluruh urusannya itu baik. Jika mendapat nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika mendapat musibah dia sabar dan itu baik baginya" (HR Muslim).

5. Menghindarkan dari Sifat Sombong dan Putus Asa

Keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah mencegah seseorang dari sifat sombong saat berhasil dan putus asa saat gagal. Ia menyadari bahwa keberhasilan adalah karunia Allah dan kegagalan adalah ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran.

6. Mendorong Sikap Husnudzan (Berprasangka Baik) kepada Allah

Ungkapan qadarullah membuat diri seseorang bersikap husnudzan terhadap rencana Allah. Meskipun manusia menilai suatu peristiwa sebagai buruk, bisa jadi terdapat hikmah dari Allah SWT yang belum terlihat.

7. Memberikan Ketenangan Hati

Dengan menyadari bahwa semua berada di kendali Allah SWT, seorang Muslim diharapkan dapat menjaga ketenangan hati, baik saat menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Ini membawa kedamaian dalam hidup dan mencegah kecemasan berlebihan.

8. Mendorong Semangat Berdoa dan Beramal Saleh

Pemahaman bahwa ada takdir mu'allaq yang dapat berubah melalui doa dan amal saleh mendorong seorang Muslim untuk memperbanyak doa dan kebaikan. Sebagaimana firman Allah: "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuz)" (QS. Ar-Ra'd: 39).

9. Menjadikan Takdir sebagai Motivasi, Bukan Alasan

Pemahaman yang benar tentang qadarullah menjadikan takdir sebagai motivasi untuk berusaha, bukan alasan untuk bermalas-malasan. Rasulullah SAW bersabda: "Berusaha keraslah untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat untukmu dan memohonlah pertolongan kepada Allah serta jangan menjadi orang yang lemah".

Pertanyaan Seputar Arti Qadarullah

1. Apa arti qadarullah secara bahasa dan istilah?

Secara bahasa, qadarullah (قَدَرُ اللَّهِ) berarti ketetapan, hukum, perintah, atau kehendak Allah SWT. Secara istilah, ungkapan ini memiliki arti takdir atau keputusan Allah SWT, yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi telah ditetapkan oleh Allah sesuai dengan ilmu, kehendak, dan kebijaksanaan-Nya.

2. Kapan sebaiknya mengucapkan qadarullah?

Qadarullah sebaiknya diucapkan saat menghadapi musibah atau kejadian tidak diinginkan, saat rencana berubah total di luar dugaan, saat melihat orang lain ditimpa musibah, serta sebagai pengingat bahwa semua nikmat dan capaian juga berasal dari ketetapan Allah.

3. Apa perbedaan qadarullah dan takdir?

Qadarullah adalah bentuk penyebutan takdir yang dinisbatkan langsung kepada Allah (takdir-Nya Allah), sedangkan takdir adalah istilah yang lebih umum untuk menyebut proses dan hasil penetapan Allah. Qadarullah memiliki cakupan makna yang lebih spesifik, sementara takdir lebih luas penggunaannya.

4. Apakah qadarullah sama dengan qudratullah?

Tidak. Qadarullah berasal dari kata qadara yang berarti takdir atau ketetapan, sedangkan qudratullah berasal dari kata qudrah yang berarti kemampuan atau kekuasaan Allah. Qadarullah merujuk pada apa yang telah Allah tetapkan, sedangkan qudratullah merujuk pada kemampuan Allah untuk menetapkan.

5. Bagaimana cara menerapkan qadarullah dalam kehidupan sehari-hari?

Penerapannya antara lain: mengucapkan qadarullah saat tertimpa musibah sebagai bentuk penerimaan, tetap berikhtiar maksimal lalu bertawakal, bersabar dan bersyukur atas segala ketetapan Allah, serta tidak menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan atau meninggalkan kewajiban.