Tata Cara Tawasul kepada Nabi dan Orang Saleh Sesuai Sunnah, Panduan Lengkap

Tawasul merupakan salah satu amalan spiritual yang telah dipraktikkan oleh umat Islam dengan fadhilah yang besar.

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tawasul merupakan salah satu amalan spiritual yang telah dipraktikkan oleh umat Islam dengan fadhilah yang besar. Oleh sebab itu, tata cara tawasul kepada nabi dan orang saleh sesuai sunnah perlu dipahami agar doa atau amalan yang dilakukan mustajab.

Perlu dipahami, tawasul bukanlah meminta kepada selain Allah, melainkan menjadikan para nabi dan orang saleh sebagai wasilah atau perantara dalam berdoa kepada Allah SWT.Dalil tawasul terdapat dalam firman Allah SWT Surat Al-Maidah ayat 35: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Nya." Dalil lainnya disebutkan dalam Surat An-Nisa ayat 64 yang menjelaskan tentang memohon ampun melalui perantara Rasulullah SAW .

Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah telah sepakat tentang kebolehan tawasul. Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidiin halaman 297 dijelaskan, tawasul kepada para nabi serta wali, semasa hidup maupun setelah wafat, hukumnya mubah (boleh) secara syara sebagaimana keterangan hadits sahih.

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam Mafahim Yajibu an Tushahhah juga menegaskan bahwa tawasul adalah salah satu cara doa dan pintu tawajjuh kepada Allah, di mana yang dijadikan tawasul hanyalah jembatan dan wasilah untuk taqarrub kepada-Nya.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tata cara tawasul lengkap dengan bacaannya.

Tata Cara Tawasul

Secara bahasa, tawasul berasal dari kata wasilah yang berarti perantara atau jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam tradisi keislaman, tawasul dipahami sebagai berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh, nama-nama Allah (Asmaul Husna), atau memohon kepada Allah melalui kemuliaan para nabi dan orang-orang saleh, tanpa meyakini mereka memiliki kekuasaan selain izin Allah.

Tawasul secara sederhana dapat diartikan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui media, baik media itu berupa amal saleh yang kita lakukan atau orang-orang yang kita anggap saleh di hadapan Allah.

Para ulama menyebutkan bahwa tawasul dengan diri orang mulia seperti Nabi dan orang saleh ada tiga macam:

Pertama, memohon kepada Allah dengan perantara syafaat mereka, seperti mengucapkan: "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu dengan Nabi-Mu" atau "Dengan haknya kepada-Mu" atau "Aku menghadap kepada-Mu dengan beliau untuk permintaan ini."

Kedua, memohon kepada orang yang dibuat tawasul agar mendoakan kepada Allah dalam memenuhi hajatnya, seperti berkata: "Ya Rasulallah, berdoalah kepada Allah agar Ia memberi hujan pada kami."

Ketiga, memohon hajatnya kepada orang yang dibuat tawasul dengan maksud agar orang tersebut menjadi sebab tercapainya hajat dari Allah dengan syafaat dan doanya.

Tawasul dengan amal saleh juga memiliki landasan yang kuat. Dalam hadits shahih dikisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua, masing-masing bertawasul dengan amal salehnya sehingga Allah membukakan pintu gua dari batu besar yang menghalanginya. Kisah ini menjadi dalil kebolehan bertawasul dengan amal saleh ketika seseorang menghadapi kesulitan.

Tata Cara Tawasul Kepada Nabi dan Orang Saleh

Berikut adalah urutan tata cara tawasul yang benar sesuai sunnah yang lazim diamalkan oleh Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya dalam rangkaian tahlilan, yasinan, dan ziarah kubur. Setiap tahap tawasul diakhiri dengan pembacaan Surat Al-Fatihah.

1. Niat dalam Hati

Sebelum memulai tawasul, hadirkan niat dalam hati untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menghadiahkan pahala bacaan kepada para nabi, wali, dan ahli kubur yang dituju. Niat ini cukup dalam hati, tidak perlu dilafalkan secara khusus. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan karena Allah semata.

2. Tawasul kepada Nabi Muhammad SAW

Bacaan pertama dan paling utama ditujukan kepada Rasulullah SAW beserta keluarga, istri, dan para sahabatnya.

Arab: اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وصَحْبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Latin: Ilā hadratin-nabiyyi shallallāhu 'alaihi wasallama wa ālihi wa shahbihi syai'un lillāhi lahumul fātihah.

Artinya: "Untuk yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, dan para sahabatnya. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua."

Setelah membaca tawasul ini, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah.

3. Tawasul kepada Para Nabi, Rasul, Wali, Syuhada, dan Orang Saleh

Arab: ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Latin: Tsumma ilā hadrati ikhwānihi minal anbiyā'i wal mursalīna wal-awliyā'i wasy-syuhadā'i wash-shālihīna wash-shahābati wat-tābi'īna wal-'ulamā'il-'āmilīna wal-mushannifīnal-mukhlisīna wa jamī'il-malā'ikatil-muqarrabīna, khushūshan sayyidinā syaikh 'Abdil Qādir al-Jailāni radhiyallāhu 'anhu.

Artinya: "Kemudian kepada saudara-saudaranya dari kalangan para nabi, rasul, wali, syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi'in, ulama yang mengamalkan ilmunya, para penulis yang ikhlas, dan semua malaikat yang didekatkan (kepada Allah), khususnya kepada junjungan kami Syekh Abdul Qadir al-Jailani, semoga Allah meridhainya."

Setelah bacaan ini, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah.

4. Tawasul kepada Semua Ahli Kubur

Arab: ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا

Latin: Tsumma ilā jamī'i ahlil-qubūri minal-muslimīna wal-muslimāti wal-mu'minīna wal-mu'mināti min masyāriqil-ardi ilā maghāribihā barrihā wa bahrihā.

Artinya: "Kemudian kepada semua ahli kubur dari kaum muslimin laki-laki dan perempuan, mukminin laki-laki dan perempuan, dari timur bumi hingga baratnya, baik di darat maupun di laut."

Setelah bacaan ini, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah.

Doa Tawasul Singkat yang Mustajab

Selain rangkaian tawasul di atas, terdapat pula doa tawasul singkat yang sering diamalkan:

Arab: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Latin: Allāhumma innī atawassalu ilaika binabiyyika muhammadin shallallāhu 'alaihi wa sallam.

Artinya: "Ya Allah, aku bertawasul kepada-Mu melalui kemuliaan nabi-Mu, Nabi Muhammad SAW."

Atau

Arab: يَا رَبِّ بِالمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الكَرَمِ

Latin: Yā rabbi bil mushthafā, balligh maqāshidanā, waghfir lanā mā madhā, yā wāsi'al karami.

Artinya: "Tuhanku, berkat kemuliaan kekasih pilihan-Mu Rasulullah, sampaikanlah hajat kami. Ampunilah dosa kami yang telah lalu, wahai Tuhan Maha Pemurah."

Hikmah Tawasul kepada Nabi dan Orang Saleh

1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT

Tawasul merupakan salah satu pintu tawajjuh (menghadap) kepada Allah SWT. Dengan menyertakan nama para nabi dan orang saleh dalam doa, seseorang mendekatkan diri kepada-Nya melalui wasilah yang mulia, sebagaimana diperintahkan dalam Surat Al-Maidah ayat 35.

2. Mempercepat terkabulnya doa

Tawasul adalah cara mencari wasilah kepada Allah agar doa yang dipanjatkan lekas diijabah. Dalam tradisi di Indonesia, tawasul diyakini bisa melancarkan doa agar segera dikabulkan oleh Allah SWT.

3. Mengikuti jejak para sahabat

Praktik tawasul telah dilakukan oleh para sahabat Nabi, seperti Sahabat Umar bin Khattab RA yang bertawasul melalui Sayyidina Abbas RA saat kemarau panjang. Ini menunjukkan bahwa tawasul adalah amalan yang memiliki teladan dari generasi terbaik umat Islam.

4. Menjaga kemurnian tauhid

Dalam tawasul, tujuan hakiki adalah Allah semata. Sesuatu yang dijadikan tawasul hanyalah jembatan dan wasilah untuk taqarrub kepada-Nya. Siapa saja yang meyakini di luar pengertian ini tentu jatuh dalam kemusyrikan.

5. Menghidupkan kecintaan kepada para nabi dan orang saleh

Tawasul menjadi sarana untuk mengingat dan mencintai para nabi serta orang-orang saleh, sekaligus meneladani akhlak dan perjuangan mereka dalam beribadah kepada Allah SWT.

Pertanyaan Seputar Tawasul

1. Apa yang dimaksud dengan tawasul kepada nabi dan orang saleh?

Tawasul kepada nabi dan orang saleh adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara (wasilah) berupa kemuliaan para nabi dan orang-orang saleh, dengan tetap meyakini bahwa hanya Allah-lah yang memberi manfaat dan mudarat. Tawasul bukan berarti meminta kepada selain Allah, melainkan menjadikan mereka sebagai perantara dalam doa kepada Allah SWT.

2. Apakah tawasul kepada nabi setelah wafat diperbolehkan?

Ya, tawasul kepada para nabi serta wali, baik semasa hidup maupun setelah wafat, hukumnya mubah (boleh) secara syara' sebagaimana keterangan hadits sahih. Dalil tentang kebolehan ini terdapat dalam kitab Bughyatul Mustarsyidiin halaman 297 dan diperkuat oleh praktik para sahabat serta ijma' ulama Ahlussunnah.

3. Apa dalil tawasul dalam Al-Qur'an dan Hadits?

Dalil utama tawasul dalam Al-Qur'an adalah Surat Al-Maidah ayat 35 yang memerintahkan untuk mencari wasilah (perantara) kepada Allah. Dalil lainnya adalah Surat An-Nisa ayat 64 tentang memohon ampun melalui perantara Rasulullah SAW. Dalam hadits, terdapat kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua dan bertawasul dengan amal saleh mereka , serta praktik tawasul Sahabat Umar bin Khattab RA yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari.

4. Bagaimana cara bertawasul yang benar?

Cara bertawasul yang benar adalah dengan memulai doa kepada Allah, menyebut nama orang yang dijadikan perantara (seperti Nabi Muhammad SAW, para wali, atau orang saleh), lalu memohon kepada Allah agar doa dikabulkan. Dalam praktiknya, tawasul diawali dengan menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada Rasulullah SAW, para nabi, sahabat, wali, ulama, dan ahli kubur. Yang terpenting adalah meyakini bahwa tujuan hakiki adalah Allah semata.

5. Apakah tawasul termasuk amalan yang disyariatkan?

Ya, tawasul adalah amalan yang disyariatkan dan telah dipraktikkan oleh para sahabat serta generasi salaf. Tawasul merupakan salah satu cara doa dan pintu tawajjuh kepada Allah SWT. Namun, seorang muslim yang bertawasul wajib meyakini bahwa permohonan hajatnya harus senantiasa ditujukan hanya kepada Allah semata dan Allah-lah yang akan menjawab doanya.