Liputan6.com, Jakarta - Nyanyian "Ole, ole, ole, ole" hampir selalu terdengar ketika suporter merayakan kemenangan tim kesayangan. Di balik nyanyian yang tampak sederhana itu, sejarah lagu ole ole yang sering dinyanyikan suporter sepak bola ternyata bermula dari lagu klub asal Belgia.
Melansir dari situs resmi klub RSC Anderlecht , melodi tersebut berasal dari lagu "Anderlecht Champion" yang dibuat pada 1985. Lagu itu kemudian digubah menjadi versi "Olé" untuk Piala Dunia 1986 di Meksiko dan menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Adapun kata "olé" sendiri jauh lebih tua karena lazim diteriakkan penonton adu banteng dan pertunjukan flamenco di Spanyol. Berikut adalah sejarah lagu ole ole yang sering dinyanyikan suporter sepak bola dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (7/10/2026).
Advertisement
Kisah Lahirnya "Anderlecht Champion" pada 1985
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367564/original/057452700_1791355327-2.jpg)
Versi nyanyian "Ole, ole, ole, ole" yang kini dipakai suporter di seluruh dunia berasal dari lagu "Anderlecht Champion", lagu perayaan gelar juara klub RSC Anderlecht pada 1985. Pada awalnya, bagian refrain lagu itu dinyanyikan dengan kata "Allez" dalam bahasa Prancis. Kata tersebut berubah menjadi "Olé" pada versi yang dibuat untuk Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Dibuat untuk Merayakan Gelar Juara Liga Belgia
Menurut situs resmi RSC Anderlecht, pada 1985 klub asal Brussel itu menjadi juara Liga Belgia untuk ke-18 kalinya. Untuk merayakan gelar tersebut, penyanyi lokal Jules Jean Vanobbergen yang dikenal sebagai Grand Jojo diminta menciptakan sebuah lagu. Ia kemudian merekamnya bersama sejumlah pemain bintang klub, seperti Enzo Scifo, Morten Olsen, dan Franky Vercauteren, serta pelatih Paul Van Himst.
Dalam catatan Wikipedia tentang lagu tersebut, permintaan membuat lagu datang dari Hans Kusters, pimpinan sebuah label musik Belgia. Ia menggandeng produser Roland Verlooven dan Grand Jojo untuk menulisnya. Lagu bertajuk "Anderlecht Champion" itu ditulis di rumah Grand Jojo di Groot-Bijgaarden, lalu direkam dalam bahasa Prancis dan bahasa Belanda.
Inspirasi Irama dari Suara Mesin Cuci
Ada cerita unik di balik irama lagu ini. Situs resmi RSC Anderlecht mengisahkan bahwa Grand Jojo sempat kesulitan menemukan ketukan yang pas. Saat mencari ide di ruang tamu, ia mendengar bunyi mesin cuci yang berputar di ruangan lain, dan ketukan itulah yang menjadi dasar lagunya.
Hasilnya adalah lagu yang mudah dinyanyikan bersama-sama. Karena itulah lagu ini cepat diterima oleh para suporter, bahkan sebelum menyebar ke luar Belgia.
Mengenal Sosok Grand Jojo
Grand Jojo, yang dalam bahasa Belanda disebut Lange Jojo, lahir pada 1936. Lembaga penyiaran Belgia, Sporza, menyebut ia mulai dikenal pada 1970-an lewat lagu "Chef, un p'tit verre, on a soif". Ia juga dikenal sebagai pendukung setia Anderlecht yang sering hadir di stadion dan memanaskan suasana sebelum laga penting.
Pada 2015, menurut Wikipedia, Grand Jojo dinobatkan sebagai warga kehormatan Kota Brussel. Ia meninggal dunia pada akhir 2021 dalam usia 85 tahun. Sporza mencatat bahwa semasa hidup ia kerap mengatakan bahwa dirinya mungkin tidak akan abadi, tetapi nyanyian "Olé, Olé" pasti akan terus terdengar.
Advertisement
Dari "Allez" Menjadi "Olé" di Piala Dunia 1986
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4564416/original/005317300_1693912757-20230905-Serbia_vs_Lituania-AP_6.jpg)
Perubahan penting terjadi setahun kemudian. Saat tim nasional Belgia berangkat ke Piala Dunia 1986 di Meksiko, Grand Jojo membuat versi baru lagu itu. Menurut RSC Anderlecht, kata "Allez" diganti menjadi "Olé" sehingga cocok dengan suasana negara tuan rumah yang berbahasa Spanyol.
Wikipedia mencatat bahwa versi baru tersebut berjudul "E Viva Mexico". Versi bahasa Belanda dinyanyikan oleh Walter Capiau bersama De Oranje Duivels, sedangkan Grand Jojo tetap dipercaya membawakan versi bahasa Prancis. Situs arsip musik Belgia, originals.be, mencatat bahwa Belgia berhasil mencapai semifinal pada turnamen tersebut.
Sejak saat itu, kata situs resmi Anderlecht, nyanyian "Olé, Olé, Olé" mulai diadopsi suporter dari negara lain. Lagu itu juga diputar dalam versi musik dansa di kelab malam dan sempat menduduki tangga lagu di Jepang setelah dipakai sebagai pembuka sebuah acara sepak bola.
Tonggak Sejarah Lagu Ole Ole dari Waktu ke Waktu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258639/original/042157800_1781395836-AP26164834638106-Vinicius.jpg)
Agar lebih mudah dipahami, berikut rangkuman perjalanan nyanyian ini berdasarkan sumber yang telah disebutkan.
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1958 | Teriakan "olé" diyakini pertama kali dipakai di sepak bola Brasil untuk memuji aksi Garrincha |
| 1982 | Suporter Real Sociedad menyanyikan "Campeones, hobe, hobe, hobe" saat klub itu juara Liga Spanyol |
| 1985 | Lagu "Anderlecht Champion" dibuat untuk perayaan gelar juara RSC Anderlecht |
| 1986 | Versi "Olé" dipakai untuk Piala Dunia di Meksiko |
| 1990 | Nyanyian ini populer di Irlandia saat negara itu tampil di Piala Dunia Italia |
| 2015 | Grand Jojo menjadi warga kehormatan Kota Brussel |
| 2025 | Anderlecht memperingati 40 tahun lagu tersebut dengan versi remix Stromae |
Advertisement
Arti dan Asal Kata "Olé"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4276647/original/080430600_1672323954-Saksikan_Laga_Kualifikasi_AFF_2022__Suporter_Padati_Tribun_Gelora_Bung_Karno_Jakarta-Helmi-2.jpg)
Seruan Pujian dari Arena Adu Banteng dan Flamenco
Menurut Wikipedia, "olé" adalah kata seru dalam bahasa Spanyol yang dipakai untuk menyemangati atau memuji sebuah penampilan. Kata ini sangat lekat dengan penonton adu banteng dan pertunjukan tari flamenco. Dalam adu banteng, penonton biasanya berseru "olé" setiap kali matador menyelesaikan satu rangkaian gerakan dengan baik.
Itu sebabnya, ketika suporter sepak bola meneriakkan kata tersebut, maknanya adalah pujian atas permainan yang indah. Namun, dalam konteks tertentu kata ini juga bisa dipakai untuk mengejek lawan yang tampak tidak berdaya.
Asal Katanya Masih Diperdebatkan
Para ahli belum sepakat tentang asal-usul kata "olé". Salah satu dugaan populer menyebut kata itu berasal dari kata Arab "Allah", tetapi dugaan ini dibantah. Ahli bahasa Arab asal Spanyol, Federico Corriente, menyebut asal-usul tersebut sebagai "arabisme palsu", dan kamus resmi bahasa Spanyol telah menghapus keterangan itu sejak 2001.
Persoalan ini juga dibahas dalam jurnal ilmiah. Alan S. Kaye menulis artikel berjudul "Two Alleged Arabic Etymologies" (2005) di Journal of Near Eastern Studies yang menelaah dugaan asal kata Arab tersebut. Sementara itu, ahli bahasa Joan Coromines mengaitkan "olé" dengan kata sapaan "hola" dan "hala" dalam bahasa Spanyol.
Nyanyian Serupa yang Muncul Sebelum 1985
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367565/original/064531300_1791355327-3.jpg)
Perlu dicatat bahwa dalam sejarah lagu ole ole yang sering dinyanyikan suporter sepak bola, teriakan "olé" sudah ada jauh sebelum lagu Belgia itu lahir. Wikipedia menyebut teriakan tersebut diyakini pertama kali dipakai di dunia sepak bola Brasil pada 1958 untuk memuji aksi Garrincha. Selain itu, bentuk nyanyian yang mirip pernah terdengar di Spanyol pada 1982.
Saat Real Sociedad menjuarai Liga Spanyol 1982, suporter di San Sebastian menyanyikan "Campeones, hobe, hobe, hobe". Kata "hobe" berarti "yang terbaik" dalam bahasa Basque. Di bagian lain Spanyol, nyanyian serupa dilantunkan dengan kata "Oé, Oé, Oé". Meski demikian, melodi yang kini dikenal luas, menurut Wikipedia, adalah versi dari lagu "Anderlecht Champion".
Mengapa Nyanyian Ini Mudah Menyebar?
Sejumlah pakar menilai kesederhanaan menjadi kunci penyebaran lagu ini. Komposer dan musikolog dari Dublin City University, Dr Seán Doherty, menjelaskan dalam tulisan di RTÉ Brainstorm bahwa nyanyian suporter jarang diciptakan dari nol. Menurut dia, orang biasanya mengambil lagu yang sudah ada, lalu mengganti liriknya. Sumber lagunya beragam, mulai dari jingle iklan, lagu populer, lagu anak, hingga lagu kebangsaan.
Doherty juga menilai daya tahan nyanyian "Ole, Ole, Ole" ditopang oleh sifatnya yang mudah, melodinya mudah ditebak, dan gampang diingat. RTÉ Brainstorm mencatat bahwa nyanyian ini melekat kuat di benak masyarakat Irlandia sejak Piala Dunia Italia 1990. Bahkan, nyanyian itu kini juga terdengar di konser, acara penyambutan, dan berbagai perayaan di luar stadion.
Dinyanyikan di Luar Lapangan Hijau
Nyanyian ini tidak lagi dimiliki sepak bola saja. Menurut situs resmi RSC Anderlecht, melodi tersebut pernah dinyanyikan pada momen-momen penting sejarah dunia, termasuk saat runtuhnya Tembok Berlin. Wikipedia juga mencatat bahwa suporter hoki es Montreal Canadiens dan penggemar rugbi Wales memakai nyanyian serupa di stadion mereka.
Karena melodinya mudah ditiru, suporter di mana saja bisa menyelipkan nama klub atau pemain kesayangan mereka. Di Indonesia, nyanyian bernada serupa pun lazim terdengar di lingkungan penggemar sepak bola.
Warisan 40 Tahun dan Remix Stromae
Perjalanan panjang sejarah lagu ole ole yang sering dinyanyikan suporter sepak bola mencapai usia 40 tahun pada 2025. Untuk memperingatinya, RSC Anderlecht merilis versi remix karya musisi asal Brussel, Stromae. Klub menyebut ini pertama kalinya Stromae membuat remix dari lagu yang sudah ada.
Produser lagu aslinya, Hans Kusters, menanggapi hasil remix itu dengan mengatakan bahwa Lange Jojo pasti akan menyukainya. Kisah ini menunjukkan bahwa lagu yang lahir dari perayaan sebuah klub kecil di Brussel masih dikenang, dihormati, dan dinyanyikan hingga kini.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Lagu Ole Ole
1. Siapa pencipta lagu ole ole yang dinyanyikan suporter?
Versi populernya ditulis oleh Roland Verlooven dan Grand Jojo dalam lagu "Anderlecht Champion" pada 1985, menurut Wikipedia.
2. Kapan lagu ole ole mulai mendunia?
Lagu ini mendunia setelah dibuat ulang untuk Piala Dunia 1986 di Meksiko dengan kata "Olé".
3. Apa arti kata "olé"? "Olé" adalah seruan bahasa Spanyol untuk memuji atau menyemangati, terutama di adu banteng dan flamenco.
4. Apakah kata "olé" berasal dari bahasa Arab?
Dugaan itu ada, tetapi dibantah oleh sejumlah ahli bahasa. Asal katanya hingga kini belum pasti.
5. Apakah ada nyanyian serupa sebelum 1985?
Ada. Pada 1982, suporter Real Sociedad menyanyikan "Campeones, hobe, hobe, hobe" saat klubnya juara.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367418/original/016331900_1791348185-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-07T114242.118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5421569/original/046140800_1763950258-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-24T082534.482.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/4040605/original/014414500_1654161007-20220601IQ_Timnas_Indonesia_Vs_Bangladesh_35.JPG)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367589/original/077600600_1791356656-23da8_kira01_1790067094_3991694380552804334_23005512112.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367550/original/067968300_1791354008-IMG_0042.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338633/original/080991800_1788335992-0L5A7119.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367488/original/000469700_1791350828-WhatsApp_Image_2026-10-07_at_12.21.28.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367561/original/058560400_1791354518-New_Project__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365981/original/090982700_1791211967-5c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367556/original/094549200_1791354301-IMG-20261006-WA0005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367485/original/099622200_1791350745-WhatsApp_Image_2026-10-07_at_12.20.40.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1821750/original/063722100_1515148699-063_844430882.jpg)