24 Warga Keracunan Makanan Korea di Restoran Bandung

Kasus dugaan keracunan usai makan di 88 Seoul, 23 Paskal, Bandung, mencuat di Threads. Dinkes Bandung menerima 24 laporan dan menginspeksi restoran.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 12:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kabar keracunan makanan Korea di Bandung mencuat di media sosial Threads. Sejumlah pengguna melaporkan gejala setelah menyantap hidangan di restoran 88 Seoul di kawasan 23 Paskal, Kota Bandung, pada rentang 2–4 Oktober 2026.

Keluhan yang diungkap bervariasi, mulai dari diare, mual, muntah, demam tinggi, hingga menggigil. Beberapa warganet menyebut gejalanya muncul tak lama setelah makan di lokasi tersebut.

Salah satu pengguna Threads mengaku mengalami diare selama dua hari usai makan bersama suaminya pada 3 Oktober. Suaminya disebut demam lebih dari 39 derajat Celsius hingga perlu infus dan obat. Pengguna itu juga menyampaikan dirinya sedang hamil trimester pertama dan mengalami mual, muntah, serta diare.

Ada pula laporan diare hingga belasan kali disertai demam dan menggigil. Pengguna lain menyebut dirinya, anak, dan anggota keluarganya mengalami mual, diare, dan demam setelah menyantap makanan di restoran yang sama.

24 Orang Lapor Dinkes Bandung

Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kota Bandung menyatakan telah menerima aduan warga yang mengalami gejala usai makan di restoran 88 SEOUL di kawasan 23 Paskal. Total 24 orang melapor melalui berbagai kanal ke Dinkes Pemkot Bandung.

"Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pemkot Bandung, Dewi Primasari dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (7/10/2026).

Dewi menambahkan, kanal pelaporan masyarakat tetap dibuka sehingga jumlah aduan dimungkinkan bertambah seiring proses pendataan.

Gejala Dialami Konsumen

Menurut laporan yang diterima Dinkes, gejala yang muncul pada konsumen mencakup sakit perut, mual, muntah, hingga diare. Instansi tersebut menyampaikan pemantauan kesehatan terhadap mereka yang melapor sedang berlangsung.

"Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat," jelas Dewi.

Dari data awal, keluhan itu dialami setelah mengonsumsi makanan di restoran 88 SEOUL pada periode yang sama sebagaimana dilaporkan ke Dinkes.

Temuan Dinkes

Dinkes Pemkot Bandung telah melakukan inspeksi ke restoran 88 SEOUL. Pemeriksaan awal menemukan sejumlah aspek higiene dan sanitasi yang perlu dibenahi oleh pihak pengelola.

"Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran," kata Dewi.

Aspek yang diperiksa mencakup penataan lokasi, peralatan, bahan makanan, hingga penerapan prosedur operasional standar (SOP). Penataan ruang dan pemisahan area kerja menjadi perhatian, mengingat luas tempat yang terbatas.

"Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang," kata Dewi.

Selain itu, penyimpanan dan penggunaan bahan makanan diminta menerapkan sistem first in first out (FIFO) maupun first expired first out (FEFO). Dinkes juga menyoroti perilaku penjamah makanan, termasuk penggunaan alat pelindung diri seperti masker serta hair net bagi yang tidak berkerudung atau laki-laki.

"Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net," tutur Dewi.

Dinkes menyebut rekomendasi perbaikan telah disampaikan dan akan dipantau tindak lanjutnya oleh pengelola restoran.

"Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya," kata Dewi.