Bacaan, Arti dan Kandungan Surah Al Maidah Ayat 48

Al-Qur'an sebagai penyempurna sekaligus pembenar atas kitab-kitab suci yang telah diturunkan Allah SWT sebelumnya.

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memahami kandungan surah al maidah ayat 48 sangat penting bagi umat Islam sebagai pedoman beragama. Ayat ini menegaskan posisi Al-Qur'an sebagai penyempurna sekaligus pembenar atas kitab-kitab suci yang telah diturunkan Allah SWT sebelumnya.

Dalam lintas sejarah syariat, umat manusia dibekali aturan yang berbeda-beda sesuai zamannya. Namun, secara esensi, ajaran tauhid yang dibawa tetaplah satu, yakni mengesakan Allah SWT.

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah hakim sekaligus parameter kebenaran atas semua kitab terdahulu. Pandangan ini sejalan dengan dalil sabda Nabi Muhammad SAW tentang kewajiban umat manusia beriman pada Al-Qur'an (HR. Ahmad).

Oleh karena itu, umat Islam di seluruh penjuru dunia saat ini sangat dianjurkan untuk terus berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan (fastabiqul khairat). Sikap mulia tersebut menjadi wujud nyata dalam menyikapi ragam ujian, aturan syariat, serta perbedaan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta kepada segenap hamba-Nya.

Bacaan, Arab, Latin, dan Arti Surah Al Maidah Ayat 48

Berikut adalah kelengkapan teks Arab, bacaan Latin, dan terjemahan resmi untuk surah Al-Ma'idah ayat 48:

Arab: وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

Latin: Wa anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi muṣaddiqal limā baina yadaihi minal-kitābi wa muhaiminan 'alaihi faḥkum bainahum bimā anzalallāhu wa lā tattabi' ahwā'ahum 'ammā jā'aka minal-ḥaqq(i), likullin ja'alnā minkum syir'ataw wa minhājā(n), wa lau syā'allāhu laja'alakum ummataw wāḥidataw wa lākil liyabluwakum fī mā ātākum fastabiqul-khairāt(i), ilallāhi marji'ukum jamī'an fa yunabbi'ukum bimā kuntum fīhi takhtalifūn(a).

Arti: "Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur'an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). Maka, putuskanlah (perkara) mereka menurut aturan yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan (meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan."

Tafsir Surah Al-Ma'idah Ayat 48

Dalam memaknai kata muhaiminan pada ayat ini, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Mishbah menafsirkan bahwa Al-Qur'an hadir sebagai penjaga, saksi, sekaligus pengontrol yang mengamankan kemurnian ajaran dari kitab-kitab terdahulu.

Apabila terdapat perselisihan sejarah atau hukum dari kitab Taurat, Zabur, maupun Injil pada masa kini, maka Al-Qur'an adalah rujukan final untuk meluruskan dan menentukan hukumnya.

Kandungan Makna Surah Al Maidah Ayat 48

Terdapat beberapa pesan inti yang menjadi kandungan makna dari Surah Al-Ma'idah ayat 48:

1. Al-Qur'an sebagai Muhaimin

Kitab suci Al-Qur'an berfungsi sebagai barometer kebenaran yang membenarkan ajaran tauhid kitab-kitab suci pendahulunya, sekaligus menghapus aturan yang sudah tidak relevan atau yang telah diselewengkan oleh manusia.

2. Kewajiban Berhukum dengan Syariat Islam

Manusia pada zaman sekarang diperintahkan secara tegas untuk menjadikan hukum-hukum Allah yang terdapat dalam Al-Qur'an sebagai pedoman pemecahan perkara, bukan menggunakan hawa nafsu atau hukum buatan belaka yang bertentangan.

3. Pluralitas sebagai Ujian

Allah SWT menetapkan syariat yang berbeda untuk setiap masa dan nabi (seperti Taurat untuk Nabi Musa, Injil untuk Nabi Isa) demi menyesuaikan kondisi sosial zamannya. Pluralitas umat dan hukum pada masanya adalah cara Allah menguji hamba-hamba-Nya atas karunia yang diturunkan.

4. Perintah Fastabiqul Khairat

Karena umat manusia sedang berada dalam ujian dari Allah, maka kewajiban utamanya adalah saling memotivasi dan berlomba-lomba mencetak amal kebaikan.

5. Kepastian Hari Akhir dan Penghakiman

Semua manusia dari berbagai zaman dan syariat akan dikembalikan kepada Allah SWT. Dialah yang nantinya akan menjelaskan serta mengadili secara adil seluruh perselisihan pandangan dan keyakinan yang terjadi di dunia.

5 Hikmah Memahami Kandungan Surah Al Maidah Ayat 48

Menelaah secara mendalam pesan yang ada di dalam surah ini akan mendatangkan kebijaksanaan. Berikut adalah 5 hikmah memahaminya:

• Memperkokoh Akidah dan Keimanan pada Al-Qur'an: Memahami ayat ini menyadarkan umat Muslim bahwa ajaran Al-Qur'an bersifat mutlak dan sempurna. Ini menjadikan seorang mukmin tidak lagi bimbang terhadap pedoman hidup yang dibawanya.

• Menumbuhkan Toleransi Melalui Pemahaman Sosiologis Syariat: Dengan mengetahui bahwa setiap umat diutus dengan syariat (syir'ah) masing-masing pada masanya, seseorang akan lebih bijaksana dalam melihat lintasan sejarah agama-agama sebelum datangnya risalah pamungkas.

• Menggeser Paradigma Hidup Menjadi Kompetisi Positif: Perintah fastabiqul khairat mengajarkan agar manusia tidak membuang waktu untuk berdebat kusir, melainkan mengubah energinya untuk berlomba menciptakan inovasi, karya, ibadah, dan kemanfaatan sosial.

• Membentuk Karakter Pemimpin yang Adil: Ayat ini menuntut para pengambil keputusan untuk menetapkan hukum bersandarkan pada keadilan ilahi (hukum Allah), bukan karena dorongan hawa nafsu politik, suap, maupun tekanan mayoritas semata.

• Menanamkan Rasa Tanggung Jawab (Akuntabilitas): Adanya penegasan bahwa semua manusia pasti akan kembali dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah membuat seseorang senantiasa mawas diri dan berhati-hati dalam berperilaku.