Nestapa Kakak Beradik di Sidikalang, Hidup Dalam Bayang-Bayang Siksaan

Meski pelaku sudah ditangkap, keberadaan ibu korban belum diketahui.

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 07:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bocah bertubuh kurus itu berdiri di tengah-tengah kebun sebuah daerah di Sidikalang, Dairi, Sumatera Utara. Sekujur badannya penuh lebam dan luka. Tangannya bergetar ketika ditanya perihal kejadian dialami. Seolah ingin menangis, tetapi ketakutan lebih menghantui wajahnya.

Bocah 7 tahun itu terbata-bata menceritakan hari-hari pahitnya. Bertahan dalam siksaan bertubi-tubi.

AGP adalah korban perilaku keji orang dewasa. Dia tidak melakukan kesalahan. Hanya imbas dari kemarahan. Mirisnya lagi, kejadian serupa juga dialami sang adik yang berusia 6 tahun. Kekerasan yang mereka alami terbongkar setelah warga menemukan AGP dalam keadaan kebingungan dan penuh luka di belakang Gedung Nasional Djauli Manik, Kecamatan Sidikalang.

 

Kronologi Kejadian

Beberapa waktu terakhir, dua bocah ini dititipkan kepada seorang wanita berinisial ES yang bertempat tinggal di Sidikalang. ES adalah pedagang mie gomak yang biasa mereka sapa dengan mamak tua. Keduanya terpaksa dititipkan karena sang ibu, R Sianturi (53), bekerja di Kota Balige. Sementara ayahnya di penjara karena kasus narkoba. Mereka menempati bangunan bekas penjara yang merupakan aset milik Kemenkum.

Sebelum pergi ke Balige, R menjanjikan upah pengasuhan pada ES sebesar Rp 500 ribu yang dibayarkan setiap pekan. Sampai waktu ditentukan, janji itu tak ditepati. Merasa kesal, ES menjadikan anak-anak R sebagai tempat pelampiasan.

“Merasa tidak terima dengan masalah pembayaran tersebut, pelaku RS akhirnya melampiaskan kekesalannya secara brutal kepada kedua anak yang tidak berdaya itu,” kata Kasat Reskrim Polres Dairi, Iptu Darman Lumbanraja, Senin (24/8/2026).

Kemarahan ES tampaknya sudah di ubun-ubun. Tak cukup sekali dia menyiksa anak-anak tak berdosa itu. Keduanya menjadi bulan-bulanan kemarahan ES dengan berbagai benda yang ada di rumah. Seperti dipukul menggunakan sapu, hanger (gantungan baju), sandal, hingga kayu. Korban juga dibenturkan ke tembok dan lantai hingga telinganya berdarah. Bahkan paling sadis, bagian bibir korban dibakar menggunakan korek.

Penyiksaan yang dialami dari hari ke hari membuat tubuh kecil kakak beradik itu tak berdaya. Lengan sebelah kiri korban patah akibat didorong secara kasar oleh pelaku, disertai luka lebam parah di sekujur tubuh, perut, hingga kaki.

 

Pelaku Ditangkap

Setelah video pengakuan AGP ramai di media sosial, polisi bergegas memburu pelaku dan melakukan penangkapan. ES tak berkutik saat kedua tangannya terikat kabel tis dan digiring ke kantor polisi.

"Dia dijemput dari rumah," kata Kasie Humas Polres Dairi, AKP Syahril Ramadhan.

Meski pelaku sudah ditangkap, keberadaan ibu kandung kedua bocah tersebut tidak diketahui. Belakangan diketahui, ES dan keluarga korban memang tidak punya hubungan keluarga.

Sementara terhadap kedua korban sudah dirujuk ke RSU Haji Medan. Kondisi kedua korban dilaporkan sudah mulai membaik, tetapi intensitas luka parah yang diderita membuat tim medis mengambil langkah lanjutan.

 

 

Wagub Dairi Turun Tangan

Kejadian pilu dua bocah mengetuk hati Wakil Bupati Kabupaten Dairi, Wahyu Daniel Sagala. Dia langsung turun tangan menjenguk korban pada Sabtu (22/8/2026) kemarin. Dia menegaskan bahwa pemerintah daerah menaruh atensi serius demi pemulihan fisik dan mental korban.

“Kita memberi atensi khusus guna pemulihan dan penyembuhan anak korban penganiayaan,” ujar Wahyu.

Wahyu menyatakan bahwa pihak pemerintah saat ini masih memfokuskan penuh perhatian pada proses penyembuhan medis dan mental. Mengingat korban masih memiliki orang tua, penentuan pengasuhan selanjutnya akan didiskusikan secara kekeluargaan. Pemerintah menegaskan tidak akan mengambil alih pengasuhan secara sepihak tanpa adanya persetujuan dari pihak keluarga.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6