Bacaan dan Arti Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhraja Lengkap dengan Tafsirnya, Ayat Seribu Dinar Pembuka Rezeki

Di dalamnya terdapat pesan tentang ketakwaan, tawakal, dan keyakinan terhadap pertolongan Allah

Diterbitkan 27 Agustus 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah kesibukan hidup dan dinamika ekonomi modern, persoalan rezeki kerap menjadi sumber kecemasan bagi banyak umat Islam. Karena itu, memahami bacaan dan arti wa man yattaqillaha yaj'al lahu makhraja beserta tafsirnya menjadi penting. Sebab, ayat yang dikenal luas sebagai ‘Ayat Seribu Dinar’ ini memuat janji Allah bagi orang-orang yang bertakwa.

Di dalamnya terdapat pesan tentang ketakwaan, tawakal, dan keyakinan terhadap pertolongan Allah, termasuk datangnya jalan keluar dari persoalan yang dihadapi. Ayat tersebut merupakan bagian dari Surah At-Talaq yang secara umum membahas persoalan perceraian dan ketentuan dalam kehidupan rumah tangga.

Namun, di tengah uraian mengenai hukum keluarga, Allah menyampaikan pesan yang cakupannya jauh lebih luas. Ketakwaan menjadi landasan dalam menjalani kehidupan, sementara tawakal mengajarkan seorang Muslim untuk menyerahkan hasil kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Rezeki yang dijanjikan tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga dapat berupa kemudahan, ketenangan hati, perlindungan, dan jalan keluar dari berbagai persoalan.

Meski sangat populer di tengah masyarakat, khususnya di Asia Tenggara, istilah ‘Ayat Seribu Dinar’ tidak secara khusus digunakan oleh sejumlah mufasir seperti Ibnu Katsir, Quraish Shihab, dan Hasbi ash-Shiddieqy dalam karya tafsir mereka. Sebutan tersebut lebih berkembang dalam tradisi masyarakat yang mengaitkan ayat ini dengan harapan memperoleh kelapangan dan kemudahan rezeki.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah bacaan lengkap dan arti Wa man yattaqillaha yaj'al lahu makhraja lengkap dengan tafsirnya

Bacaan Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhraja Teks Arab, Latin, Arti serta Tafsirnya

Ayat yang dimaksud terdapat dalam Surat At-Thalaq ayat 2 (bagian akhir) dan ayat 3. Berikut adalah teks lengkapnya beserta bacaan latin dan terjemahannya:

Arab: وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًۭا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍۢ قَدْرًۭا (٣)

Latin: Wa man yattaqillāha yaj'al lahū makhrajā (2) Wa yarzuqhu min ḥaythu lā yaḥtasib, wa man yatawakkal 'alallāhi fa huwa ḥasbuh, innallāha bālighu amrih, qad ja'alallāhu likulli syai'in qadrā (3)

Artinya: "Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."

Penafsiran Para Ulama terhadap Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhraja

1. Tafsir Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim menafsirkan bagian akhir ayat 2 sebagai berikut:

"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka bagi orang tersebut akan diberikan jalan keluar oleh Allah SWT."

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "jalan kelar" (makhrajan) adalah Allah akan menyelamatkan seseorang dari setiap kesulitan di dunia maupun di akhirat. Bahkan, beliau secara khusus menafsirkan bahwa jalan keluar tersebut juga mencakup kemudahan menghadapi sakaratul maut (saat kematian).

Adapun pada awal ayat 3 (wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib), Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Allah akan memberikan rezeki bagi orang yang bertakwa dari arah yang tidak pernah terbesit di hatinya dan tidak pernah diharapkannya sebelumnya.

2. Tafsir Imam Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari dalam kitab Tafsir Ath-Thabari (jilid 23, halaman 43-47) mengutip pendapat Masruq bin Abdillah mengenai makna makhrajan (jalan keluar). Menurutnya, jalan keluar yang dimaksud adalah:

"Bahwa seorang hamba mengetahui bahwa Allah Tabaraka wa Ta'ala jika Dia berkehendak, Dia akan memberinya, dan jika Dia berkehendak, Dia akan mencegahnya."

Penafsiran ini menekankan dimensi keyakinan (ma'rifah) bahwa segala sesuatu berada di tangan Allah, dan ketakwaan adalah kunci untuk menerima ketetapan-Nya dengan lapang dada.

3. Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah memberikan penafsiran yang kontekstual dan mudah dipahami. Beliau menjelaskan bahwa:

"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah (dengan melaksanakan tuntunan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya) niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dari aneka kesulitan hidup, termasuk hidup rumah tangga, yang dihadapinya. Dan memberinya rezeki, yakni sebab-sebab perolehan rezeki duniawi dan ukhrawi, dari arah yang dia tidak duga sebelumnya. Karena itu jangan khawatir akan menderita atau sengsara karena menaati perintah Allah."

Quraish Shihab juga meluruskan potensi kesalahpahaman terhadap ayat ini. Beliau menegaskan bahwa ayat ini tidak menjanjikan kekayaan materi secara instan. Rezeki tidak hanya berbentuk materi; kepuasan hati adalah kekayaan yang tidak pernah habis.

Beliau memberikan contoh: seseorang yang berpenghasilan lima juta rupiah tetapi keluarganya sakit-sakitan, dibandingkan dengan orang yang berpenghasilan dua juta tetapi sehat dan hatinya tenang. Yang terakhir justru lebih kaya dalam hakikat rezeki.

4. Tafsir Tarjuman Al-Mustafid Karya Abdurrauf As-Singkili

Sebagai ulama Nusantara pertama yang menulis tafsir 30 juz lengkap, Abdurrauf As-Singkili dalam Tarjuman Al-Mustafid menafsirkan ayat ini dengan bahasa Melayu klasik yang mudah dicerna:

"Dan barang siapa takut akan Allah ta'ala niscaya dijadikannya baginya keluasan daripada picik (sempit) di dunia dan di akhirat. Dan diberi rezeki akan dia dan diberikan dia dari pihak (arah) yang tiada dicita-citanya (disangka)."

Penafsiran As-Singkili ini menunjukkan bahwa ketakwaan melahirkan kelapangan (makhrajan) yang bersifat komprehensif, mencakup kemudahan di dunia maupun di akhirat.

Kenapa Disebut sebagai ‘Ayat Seribu Dinar’?

Istilah "ayat seribu dinar" merujuk pada potongan akhir ayat 2 hingga seluruh ayat 3 dari Surat At-Thalaq. Penamaan ini lahir dari keyakinan populer di masyarakat bahwa ayat ini memiliki khasiat istimewa: jika dibaca secara rutin dan dihayati, maka Allah akan membuka pintu rezeki dan memberikan kemudahan dalam mencari nafkah.

Keyakinan ini, sebagaimana dijelaskan oleh para peneliti, berakar pada pemahaman bahwa pada tingkat konotasi, ayat ini menggambarkan pembukaan rezeki dengan cara yang tidak terduga, kemudahan di tengah kesulitan, kejelasan dalam pengambilan keputusan, dan kelancaran dalam urusan perdagangan.

Menariknya, secara historis, tidak ditemukan bukti tertulis yang valid mengenai asal-usul penamaan ini dalam kitab-kitab tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir, Al-Misbah, maupun An-Nur. Istilah-istilah seperti "ayat seribu dinar" adalah buatan sebagian orang untuk memudahkan penghafalan dan pengamalan.

Diyakini bahwa semua ayat Al-Qur'an memiliki kelebihan dan khasiatnya masing-masing. Yang menjadi tolak ukur utama bukanlah nama atau istilah, melainkan ketakwaan yang dihasilkan dari membaca dan mengamalkan ayat-ayat tersebut.

Fadhilah Membaca Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhraja

1. Mendapatkan Jalan Keluar dari Setiap Kesulitan

Fadhilah pertama dan paling fundamental adalah janji Allah untuk memberikan makhrajan—jalan keluar—bagi setiap masalah dan kesempitan hidup. Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ini mencakup keselamatan dari kesulitan duniawi dan juga kemudahan saat menghadapi kematian. Ini adalah jaminan spiritual yang menenangkan hati.

2. Dibukanya Pintu Rezeki dari Arah yang Tidak Disangka

Allah berjanji akan memberikan rezeki dari arah yang tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia. Ini mengajarkan bahwa rezeki bukan semata-mata hasil perhitungan logis, melainkan karunia Allah yang diberikan sebagai bentuk kasih sayang-Nya.

3. Mendapatkan Kecukupan dari Allah (Hasbunallah)

Pada potongan ayat wa man yatawakkal 'alallahi fa huwa hasbuh, Allah menjanjikan kecukupan bagi orang yang bertawakal kepada-Nya. Ini bukan berarti kekayaan melimpah, melainkan perasaan cukup dan ridha dengan apa yang diberikan Allah, yang merupakan kekayaan hakiki.

4. Ketenangan Hati dan Jiwa yang Tenang

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa rezeki yang dijanjikan tidak terbatas pada materi. Ketenangan jiwa, kesehatan, dan kepuasan batin adalah bentuk rezeki yang jauh lebih berharga dan kekal daripada harta benda.

5. Mendapatkan Pertolongan dalam Segala Urusan

Ayat ini mengajarkan bahwa ketakwaan dan tawakal akan mendatangkan pertolongan Allah dalam setiap urusan. Hal ini relevan tidak hanya dalam konteks ekonomi, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk rumah tangga, pendidikan, dan karir.

Pertanyaan Seputar Ayat Seribu Dinar

1. Apa arti dari wa man yattaqillaha yaj'al lahu makhraja secara perkata?

Secara perkata, wa man berarti "dan barang siapa", yattaqillaha berarti "bertakwa kepada Allah", yaj'al berarti "Dia (Allah) akan menjadikan", lahu berarti "baginya", dan makhraja berarti "jalan keluar". Secara keseluruhan, frasa ini berarti "Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar".

2. Di surat dan ayat berapakah wa man yattaqillaha yaj'al lahu makhraja ditemukan?

Frasa ini ditemukan pada Surat At-Thalaq ayat 2 (bagian akhir) dan bersambung dengan ayat 3. Surat At-Thalaq adalah surat ke-65 dalam Al-Qur'an dan termasuk golongan surat Madaniyah.

3. Apa perbedaan tafsir ayat seribu dinar menurut ulama klasik dan kontemporer?

Ulama klasik seperti Ibnu Katsir dan Ath-Thabari cenderung menekankan aspek teologis dan janji Allah secara literal. Sementara ulama kontemporer seperti M. Quraish Shihab lebih menekankan aspek kontekstual dan psikologis, menjelaskan bahwa rezeki tidak terbatas pada materi dan ketakwaan adalah kunci ketenangan jiwa. Hasbi ash-Shiddieqy memadukan keduanya dengan pendekatan rasional-kontekstual.

4. Apakah benar ayat seribu dinar bisa mendatangkan rezeki secara instan?

Para ulama sepakat bahwa ayat ini adalah janji Allah, tetapi bukan jaminan instan. Rezeki yang dijanjikan adalah konsekuensi dari ketakwaan dan tawakal yang tulus, bukan sekadar bacaan ritual. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ayat ini tidak menjanjikan kekayaan materi, melainkan kecukupan dan ketenangan.

5. Apa saja syarat agar ayat seribu dinar membawa keberkahan?

Syarat utamanya adalah ketakwaan yang sejati, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu, harus diiringi dengan tawakal setelah berusaha maksimal, serta keyakinan bahwa Allah adalah pemilik segala rezeki. Buya Yahya menekankan bahwa membaca ayat ini hendaknya mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar mencari "khasiat" materi