Kemampuan Berbohong pada Bayi: Begini Cara Orang Tua Meresponsnya

Bayi ternyata bisa menunjukkan tanda berbohong sejak usia dini. Pahami kemampuan berbohong pada bayi dan cara menyikapinya.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 21:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang bayi berusia delapan bulan pura-pura menangis, lalu berhenti seketika begitu digendong. Perilaku sederhana ini ternyata menyimpan makna besar dalam ilmu perkembangan anak. Penelitian terbaru mengungkap bahwa kemampuan berbohong pada bayi muncul jauh lebih awal daripada yang selama ini dipahami banyak orang tua, bahkan sebelum usia satu tahun.

Selama ini, orang tua sering mengaitkan kebohongan hanya dengan anak yang sudah bisa bicara lancar atau bersekolah. Padahal, tanda-tanda awal perilaku ini bisa terlihat jauh sebelum anak mengucapkan kalimat pertamanya. Sebuah studi bahkan mencatat satu dari empat bayi mulai memahami konsep menipu pada usia sepuluh bulan, dan angka ini melonjak drastis pada bulan-bulan berikutnya.

Fakta ini membuat banyak orang tua bertanya-tanya, apakah wajar jika bayi mereka mulai menunjukkan tanda berbohong sejak dini. Artikel ini akan mengulas kemampuan berbohong pada bayi secara menyeluruh, yang telah dilansir oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (11/8/2026). Mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Apa Itu Kemampuan Berbohong pada Bayi?

Kemampuan berbohong pada bayi bukan kebohongan yang direncanakan seperti pada anak besar atau orang dewasa. Peneliti menegaskan bahwa niat dan perilaku bayi sangat sulit dipastikan secara pasti, sehingga istilah "berbohong" di usia ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari eksperimen sosial anak terhadap lingkungan sekitarnya, bukan tindakan menipu yang disengaja.

Sebagian besar perilaku yang tampak seperti kebohongan pada bayi sebenarnya adalah asumsi orang tua semata. Bayi belum memiliki kemampuan berpikir kompleks untuk merancang cerita palsu. Yang terjadi adalah reaksi spontan terhadap situasi, seperti pura-pura menangis agar mendapat perhatian, tanpa pemahaman moral tentang benar atau salah di baliknya. Perilaku ini murni naluriah.

Secara definisi, berbohong berarti menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Pada bayi dan balita, definisi ini bergeser menjadi proses kreatif mengarang sesuatu yang berbeda dari kenyataan. Proses ini justru menandai lahirnya kesadaran bahwa pikiran orang lain berbeda dari pikirannya sendiri, sebuah tonggak penting dalam perkembangan sosial anak.

Kapan Kemampuan Ini Mulai Muncul

Usia delapan bulan ternyata sudah cukup bagi bayi untuk mulai memahami konsep menipu, jauh lebih awal dari yang selama ini diperkirakan. Sekitar satu dari empat bayi sudah menunjukkan pemahaman ini pada usia sepuluh bulan, dan angka tersebut melonjak menjadi separuh populasi bayi ketika mereka berusia tujuh belas bulan. Temuan ini berasal dari riset University of Bristol yang dipimpin Profesor Elena Hoicka.

Memasuki usia dua hingga tiga tahun, anak mulai menunjukkan apa yang disebut peneliti sebagai kebohongan primer, yakni menyembunyikan pelanggaran kecil yang mereka lakukan. Pada rentang usia ini pula, kemampuan kognitif anak berkembang pesat sehingga mereka mulai bisa mengarang alasan sederhana, meski belum sepenuhnya memahami konsep benar dan salah.

Saat anak menginjak usia tiga tahun, mereka umumnya sudah cukup mahir merangkai cerita untuk menutupi kesalahan. Kemampuan ini terus berkembang seiring anak semakin memahami cara kerja pikiran orang di sekitarnya. Semakin dini kebohongan pertama muncul, semakin matang pula kemampuan berpikir anak dalam menyusun cerita yang lebih kompleks.

Tanda-Tanda Bayi atau Balita "Berbohong"

Meski belum disengaja, ada sejumlah perilaku yang bisa dikenali orang tua sebagai tanda awal kemampuan berbohong pada bayi dan balita. Mengenali pola ini membantu orang tua merespons dengan tepat tanpa perlu khawatir berlebihan. Berikut beberapa tanda yang umum ditemukan pada anak usia dini.

Pura-Pura Menangis untuk Mendapat Perhatian

Bayi sering menangis lalu berhenti seketika begitu digendong. Pola ini muncul karena bayi belajar bahwa tangisan mengundang respons cepat dari orang tua. Bukan tipu daya yang disengaja, melainkan cara sederhana bayi berkomunikasi dan menguji reaksi lingkungan sekitarnya.

Menyembunyikan Barang saat Orang Tua Mendekat

Balita kerap cepat-cepat menyembunyikan permen atau mainan begitu melihat orang tua datang. Perilaku ini menunjukkan anak mulai sadar bahwa tindakannya bisa dinilai orang lain, meski ia belum sepenuhnya memahami konsekuensi dari apa yang disembunyikannya. Ia hanya mengikuti naluri.

Membantah Fakta yang Terlihat Jelas

Anak usia dua tahun dengan mulut penuh sisa cokelat tetap bersikeras mengatakan tidak memakannya. Contoh ini menggambarkan bagaimana anak mencoba mengubah kenyataan lewat kata-kata, meski buktinya ada di depan mata orang tua sendiri. Sikap ini justru wajar terjadi.

Melebih-lebihkan atau Mengarang Cerita

Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengarang cerita seperti mengaku menghabiskan semua sayurnya padahal hanya sedikit yang dimakan. Ada pula anak yang menyalahkan tokoh khayalan seperti hantu atas kejadian yang sebenarnya dilakukan sendiri. Kemampuan bahasa mereka mendukung hal ini.

Balita yang lebih besar mulai menyembunyikan sebagian fakta, misalnya mengaku dipukul saudaranya tanpa menyebutkan bahwa ia memukul lebih dulu. Pola ini menandakan anak mulai memahami bagaimana informasi bisa disusun untuk melindungi dirinya sendiri. Ini adalah bentuk perlindungan diri yang alami.

Apakah Ini Tanda Kecerdasan?

Anak yang pandai berbohong ternyata bukan sekadar nakal, melainkan menunjukkan kerja otak yang lebih matang dibandingkan anak seusianya. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science oleh Association for Psychological Science menemukan bahwa anak yang diajarkan memahami keadaan mental orang lain lebih cenderung menggunakan strategi menipu untuk mencapai tujuan tertentu, menandakan keterkaitan erat antara kecerdasan sosial dan kebohongan.

Kemampuan ini erat kaitannya dengan theory of mind, yaitu kesadaran bahwa pikiran orang lain berbeda dari pikiran diri sendiri. Semakin baik anak memahami sudut pandang orang lain, semakin kompleks pula cara mereka menyusun cerita. Kemampuan menahan dorongan untuk jujur dan menyimpan dua versi cerita sekaligus juga menuntut kerja otak yang matang.

Meski begitu, kemampuan berbohong bukan berarti anak harus dibiarkan begitu saja. Kecerdasan yang muncul di baliknya tetap perlu diarahkan agar anak tumbuh menjadi pribadi jujur. Orang tua bisa memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan konsep kejujuran sejak dini, tanpa membuat anak merasa dihakimi atas rasa ingin tahunya.

Cara Orang Tua Sebaiknya Merespons

Langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah tetap tenang saat mendapati anak berbohong. Reaksi berlebihan seperti marah atau membentak justru bisa membuat anak semakin tertutup dan enggan berterus terang di kemudian hari. Tarik napas sejenak dan ingat bahwa perilaku ini bagian wajar dari proses tumbuh kembang anak.

Sampaikan fakta yang terlihat, bukan tuduhan langsung. Jika anak membantah menumpahkan susu padahal buktinya jelas, orang tua cukup mengatakan sudah melihat tumpahan tersebut dan mengajak anak membersihkannya bersama. Cara ini menghindarkan anak dari perasaan terpojok sekaligus tetap menegakkan kejujuran. Anak pun belajar tanpa merasa disalahkan.

Hindari melabeli anak sebagai pembohong meski mereka mengulangi perilaku itu beberapa kali. Label semacam ini bisa menempel pada citra diri anak dan justru mendorongnya untuk terus berbohong di masa depan. Sebaliknya, apresiasi setiap kali anak berani mengakui kesalahan, sekecil apa pun bentuknya. Pujian kecil ini membangun kepercayaan jangka panjang.

Jika kebohongan terjadi terus-menerus tanpa alasan jelas dan disertai kurangnya rasa bersalah, ada baiknya orang tua berkonsultasi dengan psikolog anak. Namun secara umum, kemampuan berbohong pada bayi dan balita adalah tahap normal yang akan berkurang seiring anak belajar memahami pentingnya kejujuran dari lingkungan sekitarnya. Peran orang tua di sini sangat menentukan.

Tanya Jawab Seputar Kemampuan Berbohong pada Bayi

Apakah wajar jika bayi sudah menunjukkan tanda berbohong?

Wajar. Penelitian menunjukkan bayi mulai memahami konsep menipu sejak usia delapan bulan, dan ini bagian normal dari perkembangan kognitif, bukan tanda masalah perilaku.

Pada usia berapa anak mulai benar-benar berbohong dengan sengaja?

Anak umumnya mulai berbohong dengan niat menipu sekitar usia enam hingga tujuh tahun, saat kemampuan sosial dan komunikasinya sudah cukup matang.

Apakah anak yang suka berbohong berarti cerdas?

Kemampuan berbohong berkaitan dengan perkembangan kognitif dan theory of mind, sehingga sering dianggap tanda kecerdasan sosial, meski bukan berarti kebohongan harus dibiarkan.

Bagaimana cara membedakan kebohongan dan imajinasi anak?

Pada usia di bawah lima tahun, anak sering sulit membedakan fantasi dan kenyataan, sehingga cerita mereka biasanya murni imajinasi, bukan usaha menipu yang disengaja.

Kapan orang tua perlu membawa anak ke psikolog karena sering berbohong?

Jika kebohongan terjadi terus-menerus tanpa alasan jelas, disertai minimnya rasa bersalah, atau muncul bersama perilaku agresif lain, konsultasi ke psikolog anak dianjurkan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6