Liputan6.com, Jakarta - Menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan stabil merupakan salah satu tugas paling mendasar bagi orang tua. Ketika anak merasa aman bersama orang tuanya, mereka akan lebih berani mengeksplorasi lingkungan sekitar, mencoba hal-hal baru, belajar dari kekeliruan, dan berkembang menjadi pribadi yang percaya diri.
Hal ini sejalan dengan penjelasan di laman Raising Children, yang menyebutkan bahwa anak mengenal dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya melalui hubungan dengan orang tua, anggota keluarga, dan pengasuh. Interaksi serta komunikasi yang terjalin memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri, baik lewat tangisan, tawa, maupun rasa ingin tahu yang diutarakan dalam bentuk pertanyaan.
Sebaliknya, ketika rasa aman itu tidak terpenuhi, anak cenderung lebih mudah diliputi rasa takut dan cemas. Oleh sebab itu, menjaga anak agar merasa nyaman bukan sekadar melindunginya dari bahaya fisik, melainkan juga memastikan ia merasa dicintai, didengar, dan diterima apa adanya. Berikut sembilan cara yang dapat dilakukan orang tua agar anak merasa lebih nyaman dan aman sebagaimana dilansir Liputan6.com dari laman All Pro Dad, Jumat (25/9/2026).
Advertisement
1. Tunjukkan Kasih Sayang secara Nyata
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2843891/original/018274600_1562156772-boy-child-childhood-235554.jpg)
Anak perlu merasakan kasih sayang lewat tindakan yang konkret, bukan sekadar diasumsikan. Pelukan hangat, genggaman tangan, ciuman di kening, atau usapan lembut di kepala mampu membuat anak merasa dicintai dan dihargai keberadaannya.
Sentuhan-sentuhan kecil semacam ini turut memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Jangan menganggap anak sudah otomatis mengetahui bahwa dirinya disayangi—sesekali, ungkapkan secara langsung dan tunjukkan lewat perbuatan.
Anak yang tumbuh dengan rasa nyaman dan aman biasanya tidak segan menunjukkan kasih sayangnya kembali. Maureen Healy, penulis buku The Emotionally Healthy Child, menyebutkan bahwa anak yang secara spontan mengekspresikan kasih sayang sesungguhnya telah membangun fondasi rasa aman dalam hubungannya dengan orang tua. Ucapan sederhana seperti "Aku sayang Bunda" atau keinginan untuk duduk berdekatan bisa menjadi tanda bahwa anak merasa nyaman berada di dekat orang tuanya.
Advertisement
2. Sediakan Waktu Berkualitas untuk Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598468/original/048272600_1696412875-pexels-ketut-subiyanto-4473774.jpg)
Perhatian dan waktu yang diberikan orang tua adalah bentuk kasih sayang yang sangat berarti bagi anak. Tidak perlu selalu berupa kegiatan besar, mengobrol santai, bermain bersama, makan satu meja, tertawa bareng, atau sekadar menyimak cerita mereka sudah cukup menumbuhkan kedekatan. Ketika waktu bersama diberikan secara konsisten, anak akan merasa dirinya penting dan memiliki tempat yang aman untuk berbagi apa pun yang ia rasakan.
3. Berikan Pujian yang Proporsional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4097677/original/048213700_1658486784-pexels-agung-pandit-wiguna-1128318.jpg)
Saat anak melakukan sesuatu dengan baik, apresiasi yang tulus dapat membantunya mengenali usaha dan kemampuan yang ia miliki. Namun, pujian sebaiknya diberikan untuk hal-hal yang memang layak, seperti kerja keras, keberanian mencoba hal baru, kejujuran, atau upaya memperbaiki kesalahan. Dengan cara ini, anak belajar menghargai proses yang dijalani, bukan semata-mata terpaku pada hasil akhir.
Advertisement
4. Terapkan Batasan secara Konsisten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5127522/original/043081500_1739175235-Humoris.jpg)
Anak membutuhkan aturan dan batasan yang jelas agar mereka tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Meski terkadang mereka mencoba melanggarnya, konsistensi orang tua dalam menegakkan aturan justru memberi rasa aman karena anak memahami batasan yang berlaku. Batasan yang diterapkan dengan tegas dan stabil membantu anak memahami bahwa aturan dibuat demi menjaga keselamatannya, sekaligus melatihnya untuk bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.
5. Jadilah Pendengar yang Baik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5210013/original/047970100_1746461605-family-spending-time-together_23-2149290054.jpg)
Anak memiliki banyak hal untuk diceritakan, termasuk hal-hal yang mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa. Berusahalah menjadi pendengar yang penuh perhatian setiap kali mereka ingin berbicara.
Tanyakan tentang keseharian mereka di sekolah, teman bermain, permainan favorit, atau hal-hal yang membuat mereka penasaran. Kebiasaan mendengarkan sejak dini akan membuat anak merasa nyaman terbuka kepada orang tua, bahkan ketika menghadapi masalah yang lebih serius di kemudian hari.
Advertisement
6. Bangun Suasana Rumah yang Hangat dan Menyenangkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5127519/original/022432200_1739175235-Calm_Parenting.jpg)
Tawa dan suasana santai dapat mempererat hubungan orang tua dengan anak. Sisihkan waktu untuk bermain, bercanda, atau melakukan aktivitas ringan bersama.
Orang tua tidak harus selalu tampil serius, sesekali bersikap konyol dan tertawa lepas bersama anak justru dapat menciptakan kenangan yang positif. Rumah yang dipenuhi kehangatan dan kegembiraan menjadi tempat di mana anak merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
Â
7. Kenali dan Dukung Minat serta Bakat Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4096665/original/032090000_1658410272-pexels-emma-bauso-2253879.jpg)
Setiap anak memiliki karakter, minat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Orang tua sebaiknya tidak hanya fokus pada kekurangan anak, tetapi juga membantu menemukan kekuatan yang dimilikinya.Perhatikan aktivitas yang membuat anak antusias.
Jika ia menunjukkan ketertarikan pada menggambar, olahraga, musik, membaca, atau bidang lainnya, berikan kesempatan untuk mengembangkan potensi tersebut. Dukungan semacam ini membuat anak merasa diterima dan dihargai apa adanya.
Advertisement
8. Seimbangkan Ketegasan dan Kasih Sayang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5110626/original/086902500_1737976278-Kontrol_anak.jpg)
Anak perlu memahami bahwa setiap tindakan membawa konsekuensi. Ketika mereka melakukan kesalahan, orang tua dapat memberikan teguran atau konsekuensi yang sesuai dengan porsinya.
Meski begitu, ketegasan tidak berarti menghilangkan kasih sayang. Anak juga perlu diyakinkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk kehilangan cinta dari orang tuanya. Keseimbangan antara aturan dan kasih sayang inilah yang membuat anak merasa nyaman meski sedang dikoreksi.
9. Tanamkan Nilai dan Tujuan Hidup
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496618/original/061235800_1688959403-mother-prepare-little-daughter-school_1_.jpg)
Selain kebutuhan fisik dan emosional, anak juga membutuhkan nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam menjalani hidupnya. Orang tua dapat mengenalkan nilai seperti kejujuran, kebaikan, rasa syukur, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Bagi keluarga yang memiliki keyakinan agama, nilai spiritual juga bisa menjadi bagian dari pendidikan anak, misalnya lewat kebiasaan berdoa bersama atau membicarakan makna kebaikan dalam keseharian.
Dengan menerapkan kesembilan cara di atas secara konsisten, orang tua dapat membangun fondasi yang kuat agar anak merasa nyaman tumbuh dan berkembang di tengah keluarganya.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Orang Tua agar Anak Merasa Nyaman
1. Mengapa penting bagi anak untuk merasa nyaman di rumah?
Rasa nyaman membuat anak lebih berani bereksplorasi, belajar dari kesalahan, dan berkembang tanpa dibayangi rasa takut atau cemas.
2. Apa cara paling sederhana menunjukkan kasih sayang pada anak?
Sentuhan fisik seperti pelukan, genggaman tangan, atau ciuman di kening sudah cukup membuat anak merasa dicintai.
3. Apakah pujian selalu baik untuk anak?
Pujian baik jika diberikan secara wajar dan tepat sasaran, misalnya atas kerja keras atau kejujuran, bukan sekadar hasil akhir.
4. Bagaimana cara menyeimbangkan aturan dan kasih sayang?
Terapkan konsekuensi yang sesuai saat anak salah, tetapi tetap yakinkan bahwa kasih sayang orang tua tidak berkurang karenanya.
5. Apa peran mendengarkan cerita anak dalam membangun kenyamanan?
Mendengarkan sejak dini membuat anak terbiasa terbuka pada orang tua, termasuk saat menghadapi masalah yang lebih serius.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322276/original/052969300_1786524029-IMG_2901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264387/original/067811000_1782109347-PLN_-_cek_fakta_lip6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259429/original/010721900_1781500706-cek_fakta_cpns_PUPR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357854/original/064380600_1790310156-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-25T112030.995.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823411/original/015105800_1714990585-IMG_2377.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358017/original/064603500_1790319501-bottom_watering_3.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358099/original/069896200_1790323014-upin_ipin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358050/original/031022600_1790320715-Gemini_Generated_Image_rhj4o6rhj4o6rhj4__1_.jpg)