Harga Emas Antam 26 September 2026 Melonjak Rp 23.000

Harga emas Antam melonjak Rp 23.000 menjadi Rp 2.613.000 per gram pada Sabtu (26/9/2026). Simak rincian harga beli dan buyback terbarunya di sini.

Diterbitkan 26 September 2026, 11:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik tinggi pada perdagangan hari ini, Sabtu (26/9/2026). Harga emas Antam hari ini melambung Rp 23.000 per gram.

Mengutip laman resmi logammulia.com, harga emas Antam dibanderol Rp 2.613.000 per gram. Sementara pada hari sebelumnya, harga emas Antam dipatok Rp 2.590.000 per gram.

Kenaikan juga terjadi pada harga buyback (beli kembali) emas Antam. Hari ini, harga buyback naik Rp 23.000 menjadi Rp 2.438.000 per gram. Sebagai informasi, harga buyback merupakan nominal yang diterima pemilik emas ketika menjual kembali emas batangannya ke Antam, sedangkan harga yang tercantum pada awal perdagangan merupakan harga jual Antam kepada konsumen.

Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram.

Harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga emas dunia serta kondisi pasar.

Rincian Harga Emas Antam, Sabtu (26/9/2026):

  • 0,5 gram: Rp 1.356.500
  • 1 gram: Rp 2.613.000
  • 2 gram: Rp 5.166.000
  • 3 gram: Rp 7.724.000
  • 5 gram: Rp 12.840.000
  • 10 gram: Rp 25.625.000
  • 25 gram: Rp 63.927.000
  • 50 gram: Rp 127.795.000
  • 100 gram: Rp 255.512.000
  • 250 gram: Rp 638.515.000 (pre-order)
  • 500 gram: Rp 1.276.820.000 (pre-order)
  • 1.000 gram: Rp 2.553.600.000 (pre-order).

Harga Emas Dunia Kembali Melemah

Harga emas kembali mengakhiri pekan di zona merah. Pasar terus berupaya mempertahankan level US$ 4.300 per ons di tengah berbagai risiko penurunan. Meski demikian, sejumlah analis menilai harga emas masih cukup tangguh.

Tekanan jual emas sepanjang pekan ini relatif terbatas, meski imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam dua dekade, yakni 5,20%.

Mengutip Kitco, Sabtu (26/9/2026), harga emas spot terakhir diperdagangkan di kisaran US$ 4.292 per ons, turun lebih dari 2% dibandingkan posisi Jumat pekan lalu.

“Pasar semakin memperhitungkan kenaikan suku bunga di AS yang lebih cepat dari perkiraan. Hal ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan pada akhirnya meningkatkan suku bunga riil,” kata Analis Komoditas Commerzbank Barbara Lambrecht.

“Hal ini meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas,” lanjutnya.

Namun, Commerzbank mengingatkan bahwa harga emas saat ini masih relatif tinggi. Dua bulan lalu, emas masih berjuang mempertahankan level US$ 4.000 per ons ketika imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga jauh lebih rendah.

Pembelian Emas oleh Bank Sentral

Lambrecht menilai kondisi tersebut menunjukkan investor jangka panjang masih mempertahankan kepemilikan emas melalui exchange-traded fund (ETF).

“Hal yang menggembirakan adalah investor dengan orientasi jangka panjang masih berinvestasi pada ETF emas. Oleh karena itu, kami menilai potensi koreksi akan terbatas,” ujarnya.

Kepala Logam Britannia Global Markets Neil Welsh mengatakan pasar emas masih memiliki penyangga struktural meski tekanan jual meningkat. Faktor tersebut antara lain pembelian emas oleh bank sentral yang kuat, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung, serta kekhawatiran fiskal yang semakin dalam.

Sementara itu, Joy Yang, Global Head of Index Product Management di MarketVector Indexes, mengatakan emas juga mendapat dukungan dari rendahnya volatilitas pasar saham.

Indeks S&P 500 masih berada di dekat rekor tertinggi, yakni di atas 7.000 poin, meski inflasi meningkat dan imbal hasil obligasi berada di level tinggi.

“Sepertinya investor saham terlalu percaya diri terhadap risiko yang meningkat di pasar obligasi. Namun, saya menduga sebagian investor menggunakan emas sebagai lindung nilai dan hanya menunggu untuk melihat apakah tekanan inflasi mulai mereda,” kata Yang.

Masih Hadapi Tekanan Jual

Meski sejumlah analis melihat risiko penurunan emas relatif terbatas, logam mulia tersebut masih berpotensi menghadapi tekanan jual pekan depan jika imbal hasil obligasi tetap di atas 5%.

Ole Hansen, Head of Commodity Strategy Saxo Bank, akan memperhatikan level support baru di US$ 4.235 per ons.

“Penembusan level tersebut dapat membuka peluang koreksi lebih dalam dan berpotensi kembali mengarahkan perhatian ke area Juni-Juli di sekitar US$ 4.000,” katanya.

Sebaliknya, Waleed Said, Market Analyst GivTrade, menilai US$ 4.000 per ons masih menjadi target yang mungkin dicapai.

“Selama imbal hasil tetap setinggi ini, saya melihat risikonya cenderung ke bawah. Jika The Fed melanjutkan kenaikan suku bunga dan imbal hasil tetap tinggi, pergerakan menuju US$ 3.800 merupakan skenario yang tidak akan saya kesampingkan,” ujarnya.

Namun, sejumlah analis melihat pelemahan emas sebagai peluang beli jangka panjang. Data inflasi dan ketenagakerjaan AS pekan depan akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga.

Jika data ekonomi melemah, imbal hasil obligasi dan dolar AS berpotensi turun sehingga memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6