Liputan6.com, Jakarta - Pernah melihat orang yang lebih suka mencari jalan paling mudah untuk menyelesaikan pekerjaan, tidak betah melakukan tugas monoton, atau memilih menghabiskan waktu sendirian? Sekilas, kebiasaan tersebut mungkin membuat seseorang terlihat malas.
Namun, psikologi memberikan gambaran yang lebih menarik. Beberapa perilaku yang tampak seperti kemalasan sebenarnya dapat berkaitan dengan cara seseorang mengatur usaha mental, memilih prioritas, dan memproses informasi.
Bahkan, penelitian tentang mental effort avoidance menemukan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk menghindari tugas yang membutuhkan banyak usaha mental jika tersedia pilihan yang lebih ringan. Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara kemampuan intelektual yang lebih tinggi dan kecenderungan memilih tugas dengan tuntutan kognitif lebih rendah.
Advertisement
Artinya, seseorang yang terlihat seperti “mencari jalan gampang” belum tentu sedang bermalas-malasan. Bisa saja ia sedang mempertimbangkan apakah usaha yang dikeluarkan sepadan dengan hasil yang diperoleh. Lantas, kebiasaan apa saja yang sering disalahartikan sebagai kemalasan?
1. Suka Mencari Cara Paling Mudah Menyelesaikan Pekerjaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4845604/original/2700_1716902848-sad-female-workaholic-keeps-hands-chin-busy-making-project-work-studies-papers-wears-elegant-white-shirt-sits-desktop-unknown-people-stretch-hands-with-notes-alarm-clock-smartphone.jpg)
“Kenapa harus dilakukan dengan cara yang ribet kalau ada cara yang lebih sederhana?” Pertanyaan semacam ini mungkin terdengar seperti alasan untuk malas bekerja. Padahal, mencari metode yang lebih sederhana dapat menjadi bagian dari pemecahan masalah.
Penelitian dalam Scientific Reports menjelaskan konsep law of least mental effort, menunjukkan bahwa manusia memang cenderung memilih pilihan yang membutuhkan lebih sedikit energi kognitif ketika hasil yang diperoleh tidak jauh berbeda.
Jadi, ketika seseorang membuat template, menggunakan fitur otomatis, menyusun sistem kerja, atau menemukan jalan pintas yang tetap menghasilkan pekerjaan berkualitas, perilaku tersebut tidak selalu berarti malas. Justru, ia mungkin sedang berusaha menghemat energi mental untuk pekerjaan yang dianggap lebih penting.
Jalan pintas yang membuat pekerjaan lebih efisien berbeda dengan jalan pintas yang membuat hasil pekerjaan menjadi asal-asalan.
2. Tidak Suka Pekerjaan yang Terlalu Monoton
Ada orang yang cepat kehilangan minat ketika harus mengerjakan pekerjaan yang sama berulang kali.
Dari luar, orang seperti ini mungkin dianggap malas atau tidak memiliki etos kerja. Namun, rasa bosan tidak selalu berkaitan dengan kemauan bekerja.
Pekerjaan yang terlalu mudah dan repetitif memang dapat memberikan stimulasi mental yang lebih rendah dibandingkan aktivitas yang menantang. Karena itu, seseorang bisa saja jauh lebih bersemangat ketika diberi tugas yang membutuhkan pemecahan masalah dibandingkan pekerjaan administratif yang berulang.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian tentang usaha mental yang menunjukkan bahwa manusia cenderung mempertimbangkan “biaya” kognitif sebelum memutuskan apakah sebuah tugas layak dilakukan.
Dengan kata lain, tidak menyukai pekerjaan monoton bukan bukti seseorang cerdas, tetapi perilaku tersebut dapat memiliki penjelasan yang lebih kompleks daripada sekadar malas.
3. Sering Diam dan Tidak Banyak Bicara
Orang yang tidak banyak bicara terkadang dianggap tidak aktif atau tidak memiliki banyak ide. Padahal, diam tidak selalu berarti tidak berpikir.
Sebagian orang lebih suka mengamati keadaan terlebih dahulu sebelum memberikan respons. Mereka mungkin membutuhkan waktu untuk menyusun informasi, mempertimbangkan pilihan, atau memastikan apa yang ingin disampaikan. Karena itu, jangan langsung menyamakan banyak bicara dengan kecerdasan, begitu pula sebaliknya.
Pendiam bukan berarti cerdas, tetapi juga bukan berarti tidak cerdas. Kepribadian dan situasi sosial turut memengaruhi bagaimana seseorang berkomunikasi.
Advertisement
4. Lebih Suka Menghabiskan Waktu Sendirian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647573/original/048909500_1699930802-pexels-maisie-kane-4590202.jpg)
Gemar menyendiri juga sering mendapatkan label negatif. Seseorang yang lebih memilih membaca buku, menonton film, mengerjakan hobi, atau sekadar berada di rumah daripada menghadiri banyak acara sosial bisa dianggap malas bergaul.
Padahal, waktu sendirian dapat digunakan untuk beristirahat sekaligus memberi ruang bagi seseorang untuk berpikir tanpa banyak gangguan.
Dalam konteks ini, penting membedakan antara memilih kesendirian dan tidak mampu bersosialisasi. Keduanya merupakan hal yang berbeda.
Jadi, jika seseorang sesekali memilih membatalkan kegiatan sosial karena ingin memiliki waktu sendiri, kebiasaan tersebut tidak otomatis menunjukkan kemalasan.
5. Suka Rebahan Setelah Beraktivitas
Kebiasaan rebahan mungkin merupakan gambaran paling mudah ketika seseorang disebut malas.
Namun, tubuh dan pikiran memang membutuhkan waktu istirahat setelah melakukan aktivitas yang menguras energi.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa terlihat tidak melakukan apa-apa selama beberapa waktu, padahal sebelumnya ia telah menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Karena itu, melihat seseorang sedang rebahan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa ia malas.
Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan sebelum dan sesudahnya.
Jika seseorang mampu menyelesaikan tanggung jawab, tetapi sengaja menyediakan waktu untuk beristirahat, perilaku tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pengelolaan energi.
6. Sering Mempertanyakan “Kenapa Harus Dilakukan?”
Pernah bertemu orang yang selalu bertanya, “Memangnya harus begitu?”
Dalam situasi tertentu, kebiasaan mempertanyakan prosedur bisa dianggap merepotkan. Orang tersebut mungkin dicap tidak mau mengikuti aturan atau mencari alasan untuk menghindari pekerjaan.
Namun, mempertanyakan suatu prosedur juga bisa menjadi bagian dari berpikir kritis. Misalnya, seseorang menemukan bahwa satu proses membutuhkan lima langkah, kemudian bertanya apakah sebenarnya bisa diselesaikan dengan dua langkah.
Pertanyaan tersebut bukan selalu bentuk kemalasan. Bisa saja ia sedang mencoba menemukan cara kerja yang lebih efisien. Hal yang perlu diperhatikan adalah hasil akhirnya. Jika pertanyaan tersebut menghasilkan metode yang lebih baik, tentu berbeda dengan mempertanyakan segala sesuatu hanya untuk menghindari tanggung jawab.
7. Sering Menunda Pekerjaan yang Tidak Menarik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311557/original/045967800_1785406031-pexels-gustavo-fring-3873853.jpg)
Inilah bagian yang perlu dibedakan secara hati-hati. Prokrastinasi atau kebiasaan menunda pekerjaan memang sering dikaitkan dengan kemalasan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi memiliki hubungan dengan berbagai faktor psikologis, termasuk motivasi, pengaturan diri, keyakinan terhadap kemampuan diri, dan karakter kepribadian.
Jadi, suka menunda bukan ciri khusus orang cerdas. Seseorang yang cerdas tetap bisa melakukan prokrastinasi, sama seperti orang dengan kemampuan kognitif berbeda juga bisa mengalaminya.
Bahkan, penelitian tentang prokrastinasi menunjukkan bahwa hubungan antara kebiasaan menunda dan kecerdasan tidak sesederhana anggapan “orang pintar suka menunda”.
Karena itu, apabila seseorang sering menunda pekerjaan tetapi selalu berhasil menyelesaikannya tepat waktu, jangan langsung menyimpulkan bahwa ia cerdas. Sebaliknya, jika penundaan membuat pekerjaan terbengkalai, perilaku tersebut memang perlu diperbaiki.
8. Suka Mengotomatiskan Pekerjaan Berulang
Ada orang yang begitu menemukan pekerjaan repetitif langsung berpikir, “Bagaimana supaya besok tidak perlu mengerjakannya dari awal lagi?”
Ia kemudian membuat template, menggunakan spreadsheet, memasang pengingat, atau memanfaatkan teknologi.
Bagi orang lain, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti mencari cara untuk bekerja lebih sedikit. Padahal, mengurangi pekerjaan berulang justru bisa menjadi bentuk efisiensi.
Penelitian mengenai usaha mental membantu menjelaskan mengapa manusia cenderung mempertimbangkan seberapa besar energi yang harus dikeluarkan untuk sebuah tugas. Jika pekerjaan yang sama dapat dilakukan dengan lebih sedikit usaha tanpa mengurangi kualitas hasil, memilih metode tersebut tentu masuk akal.
9. Tidak Terburu-buru Mengambil Keputusan
Orang yang membutuhkan waktu lama untuk mengambil keputusan terkadang dianggap lambat. Padahal, tidak semua keputusan perlu dibuat secara spontan. Seseorang mungkin sedang mempertimbangkan risiko, keuntungan, konsekuensi, dan berbagai kemungkinan sebelum menentukan pilihan.
Menariknya, penelitian mengenai delay discounting menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan kognitif dan kecenderungan untuk tidak terlalu mengutamakan imbalan yang bisa diperoleh segera.
Sederhananya, kemampuan berpikir yang lebih baik dalam konteks tertentu dapat membantu seseorang mempertimbangkan manfaat jangka panjang dibandingkan sekadar mengejar kepuasan sesaat. Karena itu, orang yang tidak buru-buru mengambil keputusan belum tentu lambat berpikir. Bisa saja ia justru sedang mempertimbangkan lebih banyak hal.
10. Tidak Terlihat Sibuk, tetapi Pekerjaannya Selesai
Ada orang yang sepanjang hari tidak terlihat sangat sibuk. Ia tidak terus-menerus berpindah dari satu tugas ke tugas lain dan tidak selalu terlihat tergesa-gesa. Namun, ketika waktunya tiba, pekerjaan sudah selesai.
Perilaku seperti ini sering bertentangan dengan anggapan bahwa orang produktif harus selalu terlihat sibuk. Padahal, produktivitas tidak selalu dapat diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat.
Seseorang mungkin sengaja mengurangi aktivitas yang tidak penting, memprioritaskan pekerjaan utama, kemudian menggunakan sisa waktunya untuk beristirahat.
Advertisement
Jadi, Apakah Orang Cerdas Memang Cenderung Malas?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4845605/original/004207200_1716902855-young-female-doctor-white-coat-sleeping-table-with-laptop-documents-orange-wall.jpg)
Jawabannya tidak sesederhana itu. Penelitian memang memberikan petunjuk bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menghindari usaha mental yang tidak perlu. Bahkan, terdapat penelitian yang menemukan hubungan antara kemampuan intelektual dan kecenderungan memilih tugas dengan tuntutan kognitif lebih rendah.
Namun, temuan tersebut tidak berarti semakin cerdas seseorang, semakin malas ia. Justru, ada perbedaan penting antara malas dan efisien.
Orang malas cenderung menghindari tanggung jawab meskipun pekerjaan tersebut perlu dilakukan. Sementara itu, orang yang bekerja secara efisien mungkin berusaha mengurangi langkah yang tidak diperlukan agar energi dan waktunya dapat digunakan untuk hal yang lebih penting.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kecerdasan tidak otomatis membuat seseorang lebih suka menunda. Dalam konteks delay discounting, kemampuan kognitif yang lebih tinggi justru berkaitan dengan kecenderungan yang lebih rendah untuk memilih imbalan kecil yang bisa diperoleh segera dibandingkan imbalan yang lebih besar di kemudian hari.
Karena itu, rebahan, mencari jalan pintas, menyendiri, atau tidak terlihat sibuk bukanlah bukti seseorang cerdas. Yang lebih menarik adalah alasan di balik perilaku tersebut.
Jika seseorang mencari cara yang lebih sederhana tetapi tetap bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya, perilaku itu mungkin lebih tepat disebut efisiensi, bukan kemalasan.
Pertanyaan Seputar Kebiasaan Malas Orang Cerdas
1. Apakah orang cerdas memang lebih malas?
Tidak selalu. Kecerdasan tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan seseorang malas atau rajin. Beberapa penelitian menunjukkan orang dapat cenderung menghindari usaha mental yang dianggap tidak perlu, tetapi hal tersebut lebih tepat dikaitkan dengan efisiensi dalam menggunakan energi kognitif daripada kemalasan.
2. Apakah suka mencari jalan pintas berarti seseorang cerdas?
Belum tentu. Mencari jalan pintas bisa menunjukkan kemampuan menemukan solusi yang lebih efisien, tetapi tidak otomatis menjadi tanda kecerdasan. Yang penting adalah apakah cara tersebut tetap menghasilkan pekerjaan yang baik dan tidak mengabaikan tanggung jawab.
3. Apakah suka menunda pekerjaan merupakan ciri orang cerdas?
Tidak. Prokrastinasi dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti motivasi, kemampuan mengatur diri, tingkat kesulitan tugas, dan kepribadian. Orang cerdas juga bisa menunda pekerjaan, tetapi kebiasaan tersebut bukan bukti bahwa seseorang memiliki kecerdasan tinggi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481050/original/073182400_1769075263-Gubernur_Jawa_Barat_Dedi_Mulyadi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335137/original/038803100_1787912353-cek_fakta_-_bantuan_bibit_ayam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3484871/original/099810700_1623901041-adrian-swancar-imAfCYq7KH0-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334121/original/083799800_1787821021-Gemini_Generated_Image_xu9pmmxu9pmmxu9p.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5112075/original/077947000_1738105547-WhatsApp_Image_2025-01-29_at_05.54.02.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332890/original/040086800_1787722137-pexels-rdne-5756655.jpg)