Liputan6.com, Jakarta - Memahami cara menjaga kualitas air kolam nila di bawah hidroponik penting bagi siapa saja yang menerapkan sistem akuaponik di rumah. Air bukan hanya menjadi tempat hidup ikan, tetapi juga membawa nutrisi dari limbah ikan menuju tanaman yang tumbuh di atasnya.
Kolam nila dan instalasi hidroponik dalam sistem akuaponik sebenarnya saling terhubung. Sisa pakan dan kotoran ikan menghasilkan senyawa nitrogen yang kemudian diolah bakteri menjadi bentuk nutrisi yang dapat dimanfaatkan tanaman. Karena itu, perubahan kondisi air dapat memengaruhi ikan sekaligus pertumbuhan tanaman.
Air yang terlihat jernih pun belum tentu memiliki kualitas yang ideal. Kadar oksigen terlarut, pH, amonia, nitrit, nitrat, suhu, serta penumpukan padatan perlu diperhatikan secara berkala agar ekosistem tetap seimbang. Berikut ulasan Liputan6.com, Minggu (30/8/2026).
Advertisement
1. Pantau pH Air secara Berkala
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335551/original/026508500_1787995365-Screenshot_2026-08-29_162114.jpg)
pH merupakan salah satu parameter paling penting dalam akuaponik karena memengaruhi ikan, tanaman, dan bakteri nitrifikasi sekaligus. New Mexico State University (NMSU) menjelaskan bahwa pH merupakan variabel penting yang turut menentukan tingkat toksisitas amonia dan kinerja bakteri nitrifikasi.
Dalam sistem akuaponik nila, NMSU mencantumkan kisaran pH optimal sekitar 6,5–7. Secara umum, kisaran 6,4–7,4 masih dapat ditoleransi oleh ikan, tanaman, dan bakteri nitrifikasi. Kisaran ini menjadi titik kompromi karena kebutuhan ketiga komponen tersebut tidak sepenuhnya sama.
Pengecekan pH sebaiknya dilakukan secara rutin menggunakan pH meter atau alat uji air. Perubahan pH yang berlangsung perlahan juga perlu dicatat sehingga peternak dapat mengetahui kecenderungan air dari waktu ke waktu.
NMSU menjelaskan bahwa proses nitrifikasi secara alami dapat menurunkan pH. Karena itu, pH yang terus menurun perlu menjadi perhatian. Penyesuaian sebaiknya dilakukan secara perlahan, bukan dengan menambahkan bahan pengubah pH dalam jumlah besar sekaligus. Perubahan mendadak dapat menyebabkan stres pada ikan dan mengubah keseimbangan amonia di dalam air.
2. Pastikan Oksigen Terlarut Tetap Tinggi
Oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) sangat penting bagi kolam nila yang terhubung dengan hidroponik. Ikan membutuhkannya untuk bernapas, sementara bakteri nitrifikasi juga memerlukannya untuk mengubah limbah nitrogen menjadi senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman.
Menurut NMSU, kadar DO dalam sistem akuaponik dianjurkan berada pada 5 ppm atau lebih. Tilapia memang cukup toleran terhadap kadar oksigen rendah, tetapi pertumbuhannya dapat terganggu. Ketika DO sangat rendah, ikan dapat terlihat lebih sering berada di permukaan untuk mencari air yang lebih kaya oksigen.
Cara sederhana untuk membantu menjaga kadar oksigen adalah menggunakan aerator, batu aerasi, atau pompa yang mampu menghasilkan pergerakan air. Sirkulasi juga membantu mencegah terbentuknya area air yang terlalu stagnan.
Suhu air turut berhubungan dengan oksigen terlarut. NMSU menjelaskan bahwa air yang semakin hangat memiliki kemampuan menahan oksigen yang semakin rendah. Kondisi tersebut membuat pengelolaan aerasi semakin penting, terutama ketika suhu air meningkat.
3. Kendalikan Amonia dari Kotoran dan Sisa Pakan
Amonia merupakan salah satu parameter yang perlu mendapat perhatian khusus. Senyawa ini berasal dari limbah metabolisme ikan dan proses pembusukan bahan organik. Dalam konsentrasi tertentu, bentuk amonia yang tidak terionisasi atau NH3 bersifat sangat toksik bagi ikan.
NMSU merekomendasikan Total Ammonia Nitrogen (TAN) kurang dari 1 ppm dalam sistem akuaponik. Tingkat toksisitas amonia tidak hanya ditentukan oleh jumlah TAN, tetapi juga dipengaruhi pH dan suhu air. Semakin tinggi pH dan suhu, proporsi amonia dalam bentuk NH3 yang beracun dapat meningkat.
Pengendalian amonia dapat dimulai dari kebiasaan pemberian pakan. Jangan memberikan pakan secara berlebihan karena makanan yang tidak termakan akan terurai menjadi bahan organik dan menambah beban sistem.
Padatan dari kotoran ikan dan sisa pakan juga sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk. NMSU menjelaskan bahwa proses pembusukan padatan menggunakan oksigen sekaligus dapat menghasilkan amonia. Padatan yang terbawa menuju area tanaman juga dapat menempel pada akar dan mengganggu penyerapan air serta nutrisi.
Advertisement
4. Jaga Biofilter dan Bakteri Nitrifikasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5549611/original/038566200_1775624848-nila_hidroponik_2.jpeg)
Salah satu kunci cara menjaga kualitas air kolam nila di bawah hidroponik adalah memastikan proses biofiltrasi berjalan dengan baik. Sistem akuaponik tidak hanya mengandalkan tanaman untuk membersihkan air. Ada koloni bakteri nitrifikasi yang berperan penting dalam mengolah limbah ikan.
Menurut NMSU, proses nitrifikasi berlangsung dalam dua tahap. Bakteri Nitrosomonas mengubah amonia menjadi nitrit, kemudian bakteri Nitrobacter mengubah nitrit menjadi nitrat. Nitrat inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi oleh tanaman pada bagian hidroponik.
Proses tersebut membutuhkan oksigen. Ketika kadar oksigen terlalu rendah atau bahan organik terlalu banyak, proses nitrifikasi dapat melambat bahkan berhenti. Akibatnya, amonia dan nitrit dapat menumpuk di dalam air.
Biofilter menjadi tempat bagi bakteri menguntungkan untuk berkembang. Pada sistem tertentu, permukaan media tanam, dinding kolam, atau komponen instalasi juga dapat menjadi tempat kolonisasi bakteri. Meski demikian, NMSU menjelaskan bahwa biofilter tambahan sering tetap digunakan untuk membantu proses penguraian limbah.
5. Perhatikan Kadar Nitrit dan Nitrat
Amonia bukan satu-satunya bentuk nitrogen yang harus dipantau. Setelah amonia diubah oleh bakteri, senyawa tersebut menjadi nitrit. Nitrit juga dapat bersifat toksik bagi ikan sehingga keberadaannya perlu dikendalikan.
NMSU menyebutkan bahwa untuk sistem akuaponik nila, kadar nitrit sebaiknya kurang dari 1 ppm. Sementara itu, nitrat merupakan hasil akhir proses biofiltrasi yang justru dibutuhkan tanaman. Dalam tabel parameter optimal NMSU, kadar nitrat untuk sistem akuaponik nila berada pada kisaran 5–150 ppm.Kadar nitrat yang terlalu tinggi dapat menjadi tanda bahwa jumlah tanaman belum cukup untuk menyerap nitrogen yang tersedia. NMSU menyebutkan bahwa kadar nitrat di atas 150 ppm dapat menjadi indikasi perlunya meningkatkan kapasitas tanaman atau mengurangi sumber nitrogen dari bagian kolam.
Artinya, keseimbangan jumlah ikan, pakan, air, media biofilter, dan tanaman perlu diperhatikan secara bersama-sama.
6. Singkirkan Padatan dan Sisa Pakan dari Kolam
Air kolam yang digunakan untuk mengalirkan nutrisi ke tanaman sebaiknya tidak dipenuhi kotoran dan sisa pakan. Padatan yang terlalu banyak dapat menyebabkan beberapa persoalan sekaligus, mulai dari penyumbatan pipa hingga penurunan oksigen.
NMSU menyarankan agar limbah padat seperti feses ikan, sisa pakan, dan bahan organik yang mengendap dipisahkan atau diendapkan sebelum air masuk ke biofilter atau area tanam. Jika dibiarkan, bahan tersebut akan terus terurai dan mengonsumsi oksigen.
Praktiknya dapat dilakukan dengan memeriksa bagian dasar kolam secara rutin. Jika terlihat banyak endapan, lakukan pembersihan menggunakan metode yang sesuai dengan sistem yang digunakan. Hindari membersihkan seluruh komponen biologis secara berlebihan karena koloni bakteri yang membantu proses nitrifikasi juga perlu dipertahankan.
Sumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng juga menekankan pentingnya mengurangi akumulasi kotoran dan pakan di dasar kolam karena bahan tersebut dapat menjadi sumber peningkatan amonia. Pemeriksaan amonia secara berkala menjadi bagian penting dalam pemeliharaan akuaponik.
7. Pertahankan Suhu Air agar Stabil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5462219/original/027398000_1767516013-Persiapan_Bibit_Unggul_dan_Kolam_Ember_yang_Ideal.jpg)
Suhu air memengaruhi ikan, tanaman, bakteri nitrifikasi, dan kadar oksigen. Karena itu, perubahan suhu yang terlalu ekstrem sebaiknya dihindari.
Menurut NMSU, suhu optimal untuk sistem akuaponik nila berada sekitar 81–84°F atau sekitar 27–29°C. Suhu yang sesuai membantu mendukung pertumbuhan nila sekaligus menjaga kinerja biofilter.
Peternak rumahan dapat menggunakan termometer air untuk memantau perubahan suhu. Penempatan kolam juga perlu diperhatikan. Kolam yang terkena panas matahari secara langsung sepanjang hari dapat mengalami peningkatan suhu yang cukup besar.
Pemberian naungan sebagian dapat membantu mengurangi pemanasan berlebihan. Pada saat yang sama, jangan membuat kolam tertutup sepenuhnya sehingga pertukaran udara dan pencahayaan tanaman terganggu.
8. Gunakan Sumber Air yang Aman
Kualitas air yang digunakan sejak awal juga menentukan kondisi sistem akuaponik. Air baru sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke kolam tanpa memperhatikan kandungannya.
NMSU menjelaskan bahwa air sumber dapat berasal dari berbagai sumber, tetapi kualitasnya perlu diperiksa. Air perpipaan umumnya telah melalui proses pengolahan dengan klorin atau kloramin sehingga perlu ditangani terlebih dahulu sebelum digunakan dalam sistem akuaponik. Air permukaan juga memiliki risiko kontaminasi yang lebih sulit dikendalikan.
Karena itu, sebelum melakukan penggantian atau penambahan air dalam jumlah besar, perhatikan kondisi air sumber. Pastikan air aman bagi ikan dan tidak membawa bahan kimia yang dapat mengganggu bakteri maupun tanaman.
9. Lakukan Pengujian dan Catat Hasilnya
Menjaga kualitas air tidak cukup hanya dengan mengandalkan warna atau kejernihan air. Beberapa parameter penting tidak dapat diketahui hanya melalui pengamatan visual.
NMSU merekomendasikan pemantauan yang lebih sering pada sistem yang baru dibangun. Pada tahap awal, pengujian dapat dilakukan setiap hari sehingga perubahan dapat segera diketahui. Setelah siklus nutrisi dan sistem menjadi stabil, pengujian mingguan umumnya dapat dilakukan. Hasil pengukuran juga sebaiknya dicatat untuk membantu melihat pola perubahan kualitas air.
Untuk pemeliharaan sehari-hari, catatan sederhana dapat berisi tanggal, suhu, pH, TAN, nitrit, nitrat, kondisi ikan, jumlah pakan, serta kondisi tanaman. Dari catatan tersebut, perubahan yang sebelumnya tampak kecil dapat lebih mudah dikenali.
Advertisement
Parameter yang Perlu Dipantau
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564003/original/063480600_1776923153-Cara_Menanam_Hidroponik_di_Atas_Kolam_Ikan.jpg)
Sebagai panduan dari NMSU untuk akuaponik nila, beberapa angka penting yang dapat menjadi acuan adalah:
-
Suhu: sekitar 81–84°F atau 27–29°C.
-
pH: sekitar 6,5–7.
-
TAN: kurang dari 1 ppm.
-
Nitrit (NO2): kurang dari 1 ppm.
-
Nitrat (NO3): 5–150 ppm.
-
Oksigen terlarut (DO): lebih dari 5 ppm.
Angka tersebut merupakan pedoman kondisi optimal, bukan berarti ikan akan langsung mati ketika nilai sedikit menyimpang. NMSU juga menekankan bahwa nila termasuk ikan yang cukup tangguh terhadap perubahan kualitas air. Meski demikian, menjaga parameter mendekati kondisi optimal tetap membantu menciptakan sistem yang lebih sehat dan produktif.
Tanya Jawab Seputar Kualitas Air Kolam Hidroponik
1. Berapa pH yang ideal untuk kolam nila yang terhubung dengan hidroponik?
Menurut NMSU, sistem akuaponik nila memiliki kisaran pH optimal sekitar 6,5–7. Kisaran tersebut menjadi titik kompromi bagi kebutuhan ikan, tanaman, dan bakteri nitrifikasi.
2. Mengapa ikan nila sering naik ke permukaan air?
Salah satu kemungkinan adalah kadar oksigen terlarut yang rendah. NMSU menjelaskan bahwa nila dapat naik ke permukaan untuk mendapatkan air yang lebih kaya oksigen ketika DO turun sangat rendah. Sistem akuaponik dianjurkan mempertahankan DO di atas 5 ppm.
3. Apakah air yang jernih berarti kualitasnya sudah baik?
Belum tentu. Air yang tampak jernih tetap dapat memiliki kadar amonia, nitrit, atau pH yang tidak sesuai. Karena itu, kualitas air perlu diperiksa menggunakan alat uji, bukan hanya berdasarkan penampilan visual.
4. Apa penyebab amonia di kolam hidroponik meningkat?
Amonia dapat meningkat ketika produksi limbah ikan lebih besar daripada kemampuan sistem biofilter untuk mengolahnya. Pemberian pakan berlebihan, kepadatan ikan yang terlalu tinggi, aerasi yang kurang, serta penumpukan bahan organik dapat meningkatkan beban amonia.
5. Seberapa sering kualitas air kolam hidroponik harus diperiksa?
Frekuensinya bergantung pada kondisi sistem. NMSU menyarankan sistem yang baru dibangun diperiksa setiap hari. Setelah sistem dan siklus nutrisi stabil, pengujian mingguan umumnya sudah memadai. Parameter tertentu tetap dapat diperiksa lebih sering jika terjadi perubahan pada kondisi ikan, tanaman, pakan, atau kualitas air.
Â
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335137/original/038803100_1787912353-cek_fakta_-_bantuan_bibit_ayam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572964/original/041797700_1777876963-cek_fakta_-_cpns_kejaksaan_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260220/original/000470100_1781582229-kebun_dan_ternak2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335936/original/075492800_1788078371-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329507/original/070970500_1787283657-zVuCmZpTzIllvNiBrlebkLmBHLUmpsu2yW6U6mtE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311217/original/041764800_1785393105-9786d4da-2d1f-4662-8b41-195a03ad493a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335955/original/082806400_1788080197-pexels-karola-g-7281696.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335949/original/016057000_1788079988-HL_alpukat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335910/original/083591500_1788076828-pexels-capturavisualmoment-36547516.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335900/original/086938100_1788076534-Cluttered_Terrace_with_Pots.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335960/original/064344900_1788080479-pexels-cottonbro-6862836.jpg)